Suami Vampirku

Suami Vampirku
28. Bukit Dan Bintang (Revisi)


__ADS_3

"Kau tidak menyembunyikan sesuatu kan dariku?" tanya Gavriel yang masih penasaran.


Kehilangan kata-kata Olivia tidak bisa menjawab pertanyaan Gavriel, karena bagaimanapun juga itu adalah hal yang tidak masuk akal jika manusia lain tahu.


"Begini.. jadi White itu artinya.. suci, bagi keluargaku nama itu hanya boleh mereka saja yang menyebutnya" ujarnya menyakinkan Gavriel.


"Jadi begitu.. kalau begitu aku akan memanggilmu Olive! Bagaimana?" mendengar itu Olivia bisa bernafas lega.


"Terserah kau saja" jawab Olivia.


"Kalian disini?" panggil seseorang.


Saat menoleh siapa yang datang ternyata Viona guru dikelas mereka, karena penasaran apa yang sedang kedua muridnya perbincangkan Viona duduk disamping Olivia.


"Kalian sedang bicarakan apa? Sepertinya serius sekali" ujarnya matanya masih fokus pada wajah Olivia.


"Ini lho bu ternyata.. Olive ini punya nama panggilan yang khusus untuk keluarganya" seperti yang Olivia duga temannya ini sangat tidak bisa menjaga rahasianya.


"Benar begitu?" tanya Viona.


Olivia menggerutu dalam hati Benar-benar bocah ini tidak bisa menjaga rahasiaku.


"Hahaha.. ya begitulah.." jawabnya sambil cengengesan didepan Viona dan Gavriel.


Semakin hari Olivia semakin merasakan bahwa memiliki hubungan yang lebih dengan Viona, bukan hanya sekedar murid dan guru melainkan anak dan ibu.


Apakah.. bu Viona ini reinkarnasi ibu? Tapi kenapa ayah dan K2 tidak tahu sama sekali hal ini? batin Olivia.


"Kalian seperti anak dan ibu" ujarnya sambil mengunyah makanan.


"Masa? Benarkah begitu?" tanyanya dengan polos menatap Gavriel.


"Kau tidak percaya? Sungguh kalian mirip sekali" ucapnya meyakinkan Olivia.


Tangan Viona tiba-tiba mengusap kepala Olivia dengan lembut seperti sedang mengusap kepala sang anak.


"Ibu sudah menganggap Olivia seperti anak ibu sendiri, karena dari dulu ibu ingin sekali mempunyai anak perempuan seperti Olivia" kata katanya membuat Olivia malu.


"Beruntung sekali, coba saja kalian itu anak ibu sungguhan" jawabnya yang masih menatap Olivia dan Viona.


Ibu.. sungguh.. dimana ibuku yang sesungguhnya? batin Olivia.


"Sepertinya ibu harus pergi sekarang, kalian lanjutkanlah" ujarnya lalu pergi meninggalkan Olivia dan Gavriel yang masih di kantin.


"Aduh! Sepertinya aku harus ke toilet, kau tunggulah aku disini" ucapnya segera pergi ke toilet.


"Omong-omong, apa Rendra sudah selesai? Eh? Mengapa menanyakan si iblis itu?" gerutunya kesal.


**********


Dilain Tempat.


--Bugh--


Kenzo yang mendorong saudaranya itu sampai terpental ke tembok karena saat ini ia sedang haus akan darah, akibat Kenzo sering berpuasa untuk tidak meminum darah manusia ataupun binatang selama ratusan tahun.


"Aareghh! Cepat berikan lenganmu!" ujarnya dengan tidak sabaran.


"Ini.. hisaplah.. cepat!" jawab Kelvin segera menyodorkan lengannya.


Seperti merebut ayam dari pemiliknya, begitu juga dengan Kenzo yang merebut lengan Kelvin untuk ia hisap sampai ia puas dengan darah.


"Ugh.. Jangan terburu-buru, kau ganas sekali" gumam Kelvin.


"Aku ingin lenganmu yang satunya" pintanya.


"Baiklah baiklah" jawab Kelvin menurut saja.


Kelvin yang hanya bisa pasrah dengan saudaranya itu ia tidak bisa apa apa, karena memang wajar baginya Kenzo begini.


Gavriel yang saat itu juga ingin masuk ke toilet namun seperti mendengar samar-samar suara seseorang didalam toilet pria, ia mencoba menguping dari celah pintu namun....


"Gavriel!! Kau tidak ke toilet?" tanyanya sambil melihat pintu toilet pria.


"Ini aku ingin ke toilet, tapi aku seperti mendengar sesuatu didalam, apa jangan-jangan.." segera Olivia memotong perkataannya.

__ADS_1


"Kau lihat, ini toilet pria apa kau salah masuk?" tanya Olivia sambil melipat kedua tangannya.


"Aarrghhh! cepatlah" teriak Kelvin dari dalam toilet pria.


Mendengar suara teriakan Kelvin ia bisa tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam, apalagi jika bukan memberikan si Kenzo darah untuk pembukaannya.


"Tuh kan!? Ini aku kenal suara siapa ini" ucapnya yang hendak pergi.


Bagaimana sekarang? Dua orang itu benar-benar ceroboh. batin Olivia.


"Tadi itu suaraku, aku kesakitan tadi maaf ya membuat kalian terkejut" ujar Rendra yang tiba-tiba muncul.


Ini kedua kalinya Rendra menolongnya dari kecurigaan manusia terhadap kelakuan K2, kemarin membantunya dari kecurigaan Ansel sekarang membantunya lagi dari kecurigaan temannya ini.


"Tapi kok--" terpotong oleh Olivia.


"Sudah sana ke toilet, bye bye" Olivia langsung mendorong temannya.


"Apa kau tidak ingin berterimakasih padaku?" tanya Rendra.


"Terimakasih, apa kau puas?" jawab Olivia dengan wajah masam.


"Jalan denganku, baru aku akan puas" ucapnya.


"Tidak, aku tidak mau jangan kau pikir setelah ini aku akan memaafkanmu" ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi dingin ketika mengingat Rendra adalah anak seorang pembunuh.


"Kau tidak akan meninggalkan aku lagi kan sendirian di bukit seperti hari itu? Kau meninggalkanku sendirian setelah aku dan kau.. melihat bintang-bintang" ucapnya yang membuat kepala Olivia tiba-tiba merasa nyeri.


Jelas Olivia tidak mengingat apapun tentang ia bagaimana bisa bertemu dengan Rendra dan melihat bintang di bukit tinggi.


"Bukit? Bintang..? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?! Kapan aku bertemu denganmu?" Olivia masih bertanya-tanya.


"Kelvin benar-benar menyegel ingatanmu? Hebat sekali dia setelah ratusan tahun aku mencarimu dan sekarang menemukanmu, tapi kau tidak ingat siapa aku?" kesalnya.


Kepala Olivia semakin terasa sakit sekali seperti tertusuk paku yang tertancap di kepalanya.


"Shut up! Ah!.." teriaknya sambil memegangi kepalanya yang sakit.


Dengan cepat Ansel menghampiri keduanya, ia juga sempat mendengar percakapan mereka walaupun tidak banyak yang ia dengar.


"Ada apa ini? White kau kenapa? Rendra! Apa yang kau lakukan?" tanya Ansel dengan penuh penekanan.


"Ansel..." ingin mengatakan sesuatu namun ia tidak bisa lagi menopang tubuhnya.


Untung saja Ansel menahan tubuhnya agar jatuh ke lantai, Ansel yang panik ketika melihatnya pingsan akibat Rendra terus berbicara tentang masa lalunya.


"White! Bangunlah!" ujarnya lalu menggendong tubuh Olivia yang pingsan.


Rendra yang tidak rela jika Ansel yang membawa wanitanya segera ia menghalangi Ansel.


"Biarkan aku yang membawanya" ucap Rendra.


"Disaat seperti ini kau masih memikirkan perasaanmu? Aku tahu kau mencintainya tapi.. kau tidak bisa egois seperti ini, belajarlah dari sikapmu yang sebelumnya" jelasnya.


"Menyingkirlah dari hadapanku!" lanjutnya yang masih menggendong Olivia.


"Ibu... apa benar dia membunuhmu.." keduanya terkejut mendengar Olivia mengigau.


Sekarang wajah Rendra tampak seperti merasa bersalah karena ibunya telah merenggut nyawa ibu Olivia, apalagi ia belum pernah melihat ibunya sama sekali itu lebih membuat hatinya merasa sakit.


Akhirnya ia memberikan jalan pada Ansel agar membawa Olivia ke UKS, Rendra sedikit sadar bahwa yang dikatakan pria tadi benar ia memang harus merubah sikapnya.


"Jika Olivia tidak bisa merasakan kasih sayang ibu, maka aku juga tidak akan pernah... ibu kau memang ibuku tapi jika kau sudah membunuh orang, kau benar-benar harus membayarnya!" gumamnya.


Ia rela tidak merasakan kasih sayang ibu asalkan Olivia senang, jika ia membunuh ibunya karena perbuatan ibunya sendiri.


**********


Kastil Kediaman Xendrick.


Ini janji Rendra untuk wanitanya ia kembali ke kastil kediaman keluarga Xendrick menemui sang ibunda, Rendra tahu nyawa dibalas dengan nyawa tapi ia tidak ingin ibunya mati dengan begitu mudah.


Sesuai instruksi dari K2 jika ia ingin mendapatkan maaf dari Olivia, namun ia harus membunuh ibunya dengan kejam lagi seperti ibunya membunuh ibu Olivia.


"Richard, sementara kau gantikan aku disekolah jika Olivia dalam bahaya bisa kau lindungi dia untukku?" pintanya pada Richard.

__ADS_1


"Tidak masalah, kau akan disini? Untuk apa?" tanyanya sambil mengangkat alisnya.


"Aku akan menyusun beberapa rencana untuk membunuh ibuku" jawab Rendra dengan santai.


"Demi putri raja vampir kau melakukan ini? Apa kau tidak sayang ibumu?" ujarnya untuk menyakinkan Rendra kembali.


"Olivia menderita karena tidak bisa bertemu dengan ibunya, dia juga tidak bisa merasakan bagaimana rasanya disayangi oleh sang ibu, sedangkan ibuku bahagia diatas penderitaan orang lain. Apakah itu pantas? Harusnya.. sekarang wanitaku bahagia" jelasnya tatapannya seperti menyesal.


"Jika dia tidak akan memaafkanmu?" tanya Richard.


"Tidak masalah untukku, yang penting kejadian dimasa lampau tidak akan terjadi lagi kalau sampai ini terjadi lagi kebencian diantara keluargaku dan Sagara akan terus seperti ini" ucap Rendra sambil menulis surat izin.


Sementara waktu Rendra meminta Richard untuk menggantikannya selama disekolah, karena selama tiga hari ini ia tidak akan masuk sekolah ataupun melihat wanitanya.


"Ini berikan surat pada guruku" ujarnya lalu memberikan surat kepada Richard.


"Kalau begitu ini aku terima, bereskan urusanmu dengan cepat" jawab Richard.


"Ingat lindungi dia untukku" pintanya.


"Aku tahu" setelah mengatakan itu ia pergi meninggalkan kastil kediaman Xendrick.


Tunggu aku Olivia, aku akan kembali. batin Rendra.


**********


Entah berapa lama Olivia pingsan namun saat ia terbangun ada sebuah tangan yang memegang erat tangannya sosok pria itu menyandarkan kepalanya di sampingnya.


Ansel? Ah ya benar saja, aku tadi berdebat lagi dengan Rendra. batin Olivia.


Olivia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ansel namun ia malah menarik tangannya dan berkata...


"Jangan pergi, kumohon jangan pergi lagi"


Tidak berkata apapun ia justru berusaha mencoba lagi untuk melepaskan genggaman tangan Ansel yang sangat erat sekali.


"Pergi..? Ansel apa maksudmu"


Dengan tiba-tiba Ansel terbangun begitu mendengarnya berbicara tak lupa ia juga melepaskan genggamannya dari tangan Olivia.


"Maaf, aku tadi khawatir denganmu"


Ansel segera mengalihkan pandangannya.


"Kau ini, aku tidak apa-apa hanya saja.. kepalaku sakit sekali" ujar Olivia sambil memegangi kepalanya.


"Mari ku antar kau pulang, ini sudah malam" Ansel menjulurkan tangannya.


Seketika langsung melihat kearah jendela dan benar saja ini sudah pukul 20.00 Olivia mematung ketika tahu ia pingsan sudah begitu lama.


"Ternyata aku pingsan begitu lama, yasudah deh mau bagaimana lagi" ucapnya sambil meletakkan tangannya di atas telapak tangan Ansel.


Ketika mereka hendak pergi tiba-tiba segerombolan vampir mengepung mereka yang membuat Olivia dan Ansel terjebak di tengah-tengah mereka, vampir vampir itu nampak mengerikan bahkan kuku-kuku hitamnya muncul dan ingin mengambil jantung Olivia.


"Awas!"


Ansel menendang vampir yang hendak mengambil jantung Olivia, ia mendekapnya agar para vampir itu tidak bisa melukainya.


"Ansel di belakangmu"


Ia hanya bisa membulatkan matanya ketika melihat Ansel naik ke bahu vampir yang ingin menyerangnya dari belakang lalu memutar kepala vampir itu dan memutuskannya.


Hanya mengibaskan satu tangannya mereka langsung terkapar dan menjadi abu.


"Ayo kita lari dulu" ajaknya sambil menggandeng tangan Olivia.


Alhasil mereka pun mereka kejar-kejaran dengan para vampir yang terus mengikuti mereka berdua sampai terperosok kedalam hutan terlarang.


Lagi-lagi mereka terjebak di tengah-tengah vampir seperti tadi, Ansel yang masih melindungi Olivia dengan mendekapnya karena mereka sedang dikelilingi oleh pasukan vampir yang entah darimana datangnya.


"Serahkan gadis suci itu!" ujar salah satu dari mereka.


"Tidak! Jangan pernah kalian menyentuh dia! Sehelai rambut pun!"


Pelukan Ansel masih terasa sangat erat ia juga mengusap kepalanya sebagai isyarat untuk tetap tenang.

__ADS_1


Saat salah satu dari vampir itu ingin maju selangkah namun....


"Berhenti! Siapa yang berani menyentuh, wanitaku!"


__ADS_2