
Kamar Olivia White.
Kenzo membaringkan tubuh adiknya yang pingsan karena Rendra, Kenzo juga melihat darah disisi bibir Olivia. Kali ini gilirannya yang berhadapan dengan darah.
Hampir tidak terkendali akibat nalurinya sendiri, Kenzo berniat untuk menggigit leher Olivia namun seketika Kenzo teringat bagaimana dulu adiknya membiarkan darahnya dihisap olehnya.
FLASHBACK.
Saat itu tubuh Kenzo terkena racun liar dari hutan terlarang, sudah berbagai cara untuk menghilangkan racun itu tapi hasilnya nihil.
"Aarghh... Ayah aku tidak tahan sakit sekali tubuhku!" lirih Kenzo yang menahan sakit.
"Sayang sekali penawar racun itu sangatlah langka, ayah akan memcoba untuk membuat pil penawar racun untukmu" ujar Vernon.
Olivia yang masih berumur 6 tahun pada saat itu dan sedang mengintip dari balik pintu mendengar kakaknya kesakitan karena racun, Olivia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Kenzo.
"White! masuklah" ujarnya.
"Kakak, apa itu sakit sekali?" tanya Olivia.
"..ugh.. tidak kok, kau jangan khawatirkan aku ini hanya racun biasa" jawabnya sambil mengelus rambut adiknya.
"Tapi.. tapi.. kata ayah penawar racunnya sangat langka, kakak tidak boleh meninggalkan aku kakak harus tetap hidup" Olivia memberi semangat kepada sang kakak untuk bertahan hidup.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu" ucapnya dengan lembut.
Olivia menjulurkan lengannya kepada Kenzo, entah dari mana idenya muncul untuk menyembuhkan kakaknya dari racun menggunakan darahnya.
"Kak Kenzo boleh hisap darahku, mungkin dengan begitu racun didalam tubuh kakak hilang" pinta Olivia.
"Tidak White.. kau kan tahu dari awal sampai akhir aku tidak akan melukaimu" tolaknya.
"Ayolah kakak.. tidak apa, hanya sekali ini saja" sekarang Olivia memohon.
"Kau yakin adik kecil?" tanyanya sambil mendongakkan kepala Olivia.
"Tentu saja" jawab Olivia.
Karena permintaan adiknya Kenzo tanpa ragu mengeluarkan taringnya dan menggigit lengan Olivia dengan perlahan, Olivia hanya menatap kakaknya yang sedang menikmati darahnya walaupun rasanya sakit tapi baginya asalkan Kenzo bisa sembuh seperti sedia kala apapun ia lakukan.
FLASHBACK END.
Mengurungkan niatnya untuk menghisap darah Olivia, Kenzo memilih untuk menyelimuti tubuh adiknya dan meminta maaf karena hampir melukainya.
"Maaf White, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri, tidurlah dengan nyenyak" ujarnya sambil tersenyum.
Kenzo menutup kembali jendela yang terbuka dan menguncinya dari dalam dan segera meninggalkan kamar adiknya.
*****
Kastil Kediaman Xendrick
"Bagaimana perkembangan gadis itu?" tanya seorang wanita yang duduk santai seperti ratu.
"Saat ini dia sedang kembali ke tempat asalnya" jawab Angel.
"Begitu rupanya, cobalah berteman dengannya, setelah hubungan kalian sudah seperti sahabat ambil jantung gadis itu, karena aku membutuhkannya untuk membangkitkan suamiku" jelasnya.
"Baik yang mulia ratu" ucap Angel dengan mengangguk.
Calista Xendrick ratu vampir dari Klan timur, vampir yang pendendam dengan sifat ambisinya untuk membunuh putri Vernon Sagara, setelah ratusan tahun membiarkannya hidup dengan damai kini saatnya Calista membuat Olivia menderita perlahan.
Ketika mengetahui bahwa Olivia sudah tumbuh dewasa Calista dengan antusias sangat menginginkan sekali jantungnya, untuk membangkitkan suaminya yang telah tiada karena terbunuh oleh seseorang akibat berani menculik anak dari seseorang itu.
"Sudah lama tidak melihat gadis itu, terakhir kali melihatnya bersama putraku, kali ini tidak akan kubiarkan kau lolos! Sebarkan beberapa vampir untuk mengawasi gadis itu" perintahnya.
"Baik yang mulia ratu"
******
Ruang Baca.
Seperti hari sebelumnya Olivia sedang mempelajari banyak sejarah bersama guru Zian, hari ini Olivia agak sedikit berbeda dengan biasanya. Rambutnya yang terkuncir dan memperlihatkan leher putihnya seketika aroma didalam ruangan jadi dipenuhi dengan aroma tubuhnya.
"Sejarah peperangan bangsa vampir? Tunggu! Ini kan.. sejarah yang pernah diceritakan oleh Ansel" Olivia berantusias untuk membaca buku sejarah yang diceritakan oleh Ansel.
guru Zian yang tidak tahan dengan aroma yang dipenuhi oleh Olivia, memutuskan untuk keluar sebentar mencari udara segar.
"Guru Zian kenapa?" tanya Olivia.
"Putri.. saya pamit sebentar untuk mencari udara segar, putri lanjutkanlah dulu" jawabnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Olivia.
"Aneh.. kenapa aku sangat tidak asing dengan guru Zian? Siapa dia sebenarnya? Oh atau jangan-jangan.. dia.." gumamnya.
*********
Di Tempat Lain.
Guru Zian yang berhasil lolos dari aroma Olivia yang sangat menyengat membuatnya menjadi hilang kendali.
__ADS_1
Kecurigaan Olivia memang tidak bisa diragukan guru Zian adalah Rendra yang sedang dalam misi penyamaran sebagai guru pembimbing Olivia, bermula dari ide seseorang yang baik hati ingin membantunya agar bisa terus di sisi wanitanya.
"Richard keluarlah aku tahu kau ada disini" ujarnya sambil melepaskan kacamatanya.
"Bagaimana penyamaranmu? jangan sampai ketahuan oleh ayahnya, sekali kau masuk kau tidak bisa keluar hidup-hidup" jawab Richard diringi lawakannya.
"Masih aman, tapi.. sepertinya Olivia sudah mulai curiga tadi saja aku hampir hilang kendali karena dia menguncir rambutnya" ucapnya dengan gelisah.
"Hanya karena itu? Kau tinggal menarik ikat rambutnya.. masa begitu saja tidak bisa" ujar Richard meremehkan.
"Benar juga sih, bagaimana keadaan dunia manusia?" tanyanya.
"Untuk sekarang masih aman, tapi kalau kedepannya aku tidak tahu, jangan sampai Zona merah kembali terjadi hanya karena jantung ratu vampir" jawab Richard yang masih berpikir.
Zona merah adalah zona dimana para vampir beraksi untuk mencari targetnya, 500 tahun yang lalu juga pernah terjadi sebelum peperangan diantara sesama bangsa vampir muncul.
Membunuh beberapa bayi manusia dan mengambil jantungnya untuk ritual pembangkitan seseorang yang sudah tiada, namun tidak ada salah satu jantung yang cocok untuk dijadikan ritual, kecuali jantung ratu vampir itulah mengapa disebut Zona Merah.
"Dengar-dengar 500 tahun yang lalu pernah terjadi, manusia itu memiliki keturunan berdarah vampir dan dia adalah..." tebak Rendra.
"Olivia!" keduanya sama-sama bersuara.
"Aku punya firasat buruk, kau kembalilah ke kastil" ujar Richard segera pergi meninggalkannya.
"Ah, benar juga.. semoga bisa mengendalikan diri, semangat Rendra!" menyemangati dirinya sendiri.
******
Kelas Sejarah.
Dua hari tanpa melihat gadis yang biasa duduk disebelahnya kini duduk sendiri dan mengerjakan tugas pun sendiri. Siapa lagi jika bukan Ansel yang sedang bersaing dengan Rendra untuk mendapatkan cintanya Olivia.
"Kenapa dia lama sekali kembali ke sekolah" gelisah Ansel sambil menatapi ponselnya.
"Siapa yang kau maksud?" jawab seseorang.
Ansel menoleh kebelakang dan ternyata yang menjawab kegelisahannya adalah Kelvin, kemudian Kelvin mengerjainya dengan mengaku jika Olivia adalah wanita yang disukainya.
"Murid yang bernama Olivia White" santainya menjawab.
"Kau membicarakan wanita yang kusukai?" bohong Kelvin.
"Wanita yang kau sukai?" tanyanya terkejut dengan pengakuan Kelvin.
"Kau benar" sangat puas melihat reaksi Ansel yang terkejut seperti tidak percaya.
"Itu artinya.. sainganku bukan Kenzo, tapi kau!?" Ansel hanya menelan ludah ketika Kelvin mengangguk.
Ansel hanya menggerutu didalam hati.
Sial! Sainganku bertambah satu! mengumpat dalam hati.
******
Ruang Baca.
Masih setia membaca bukunya Olivia yang sngat serius memahami isi dari buku yang dibacanya, seorang pelayan masuk ke ruang baca untuk merapihkan buku-buku yang tidak tertata rapih.
"Putri, saya izin ingin merapihkan susunan buku yang berantakan" ujarnya.
"Oh, silahkan" mata Olivia masih fokus pada buku.
Namun alih-alih ingin merapihkan buku, mata sang pelayan mengarah kepada leher Olivia seperti ada sesuatu yang menariknya untuk menggigit leher majikannya.
Tidak ada orang kan? hisap sedikit tidak apa apa kan? batin si pelayan.
Kebetulan sekali Rendra yang sudah kembali ke ruang baca langsung membulatkan matanya melihat aksi sang pelayan yang berniat menghisap darah Olivia.
"Berhenti di sana!" teriak Rendra lalu menarik Olivia menjauh dari pelayan itu.
"Eh!?" bingung Olivia.
Dengan cepat Rendra melepaskan ikat rambut Olivia dan membuangnya ke sembarang tempat.
"Ampun putri! Saya bersalah maafkan saya" ucapnya sambil berlutut.
"Ada apa ini?" Olivia yang masih kebingungan.
"Dia hampir menggigit leher putri tadi" jawab Rendra.
"Apa!? Berani sekali kau, kupikir kau melakukan pekerjaanmu tapi kau malah punya niat lain!" teriak Olivia yang memenuhi kastil.
"Saya bersalah putri, saya pantas mati" ucapnya masih memohon kepada Olivia.
Amarah Olivia sampai terdengar oleh para pelayan yang sedang melakukan pekerjaannya, begitu pula dengan Kenzo dan Vernon yang mendengar Olivia mengamuk karena perbuatan jahat pelayannya.
'putri sepertinya sedang marah'
'siapa yang membuat putri marah besar sampai begitu murka'
__ADS_1
'tidak biasanya putri mengamuk begini'
Amor selaku kepala pelayan langsung menghentikan gosip para pelayan.
"Tangan yang berkerja bukan mulut" sindir Amor.
'ini bukan gosip, kau tidak dengar putri mengamuk?'
"Apa? Putri mengamuk?" tanya Amor.
Ayah dan kakaknya menghampiri suara keributan yang terjadi di ruang baca, begitu melihat seorang pelayan yang sedang berlutut dihadapan Olivia, Vernon langsung menjauhkan putrinya dari pelayan itu.
"Apa yang terjadi?!" tanya Vernon.
"Begini yang mulia, pelayan ini berani ingin menggigit leher putri disaat sedang membaca buku" jelas Rendra.
"Yang dikatakan guru Zian benar, dia hampir membunuhku" ujar Olivia sambil menatap si pelayan yang masih berlutut diam.
"Bagaimana kau akan menghukumnya?" tanya ayahnya.
Hanya karena kesalahan satu pelayan orang-orang kastil menjadi heboh, akhirnya pelayan itu dipenggal kepalanya oleh Amor selaku kepala pelayan.
"Amor, Penggal kepalanya!" perintah Olivia sambil menggepalkan tangan.
"Baik putri" jawabnya.
Amor mengeluarkan pedang yang selalu dibawanya dan mulai menebaskan pedangnya ke leher pelayan itu, Kenzo yang melihatnya berbidik ngeri saat membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada diposisi itu.
"Zian bawa putriku ke taman, kalian belajarlah di sana" perintahnya.
"Baik yang mulia" jawab Rendra sambil menuntun Olivia menjauh dari ruang baca.
*******
Taman Belakang Kastil.
Olivia berusaha meredamkan emosinya karena kejadian hari ini dengan mengibaskan tangannya pada wajahnya, Rendra pun mengikuti apa yang dilakukan Olivia.
"Guru Zian?" panggil Olivia.
"Ya, kenapa?" sahutnya.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Olivia.
"Agar emosimu cepat meredam" ketika Rendra menjawab pertanyaannya Olivia hanya bisa tertegun.
"Sudahlah, mari selesaikan hari ini. Hari ini hari terakhir guru karena.. besok aku akan kembali ke sekolah" ujar Olivia.
"Baiklah.." jawabnya sambil tersenyum manis.
Melihat Rendra tersenyum membuat Olivia teringat akan seseorang namun sayangnya Olivia tidak bisa mengingat orang itu.
Senyumannya.. aku seperti pernah melihatnya. Batin Olivia.
Dering ponsel membuat Olivia tersadar karena sejak tadi dirinya menatap Rendra begitu lama, lagi-lagi yang meneleponnya adalah Ansel.
Olivia! Kau kapan kembali?
"Besok aku sudah kembali" jawab Olivia.
Benarkah? omong-omong kau sedang apa?
Rendra teringat jika dia dan Ansel sedang sama-sama bersaing, karena sedang menyamar sebagai guru bimbingan Olivia, ia memancingnya dengan bersuara.
"Putri, cepat kita selesaikan hari ini" Rendra yang sengaja bersuara.
Kau sedang bersama si brengsek itu?
"Si brengsek? Maksudmu siapa?" tanya Olivia dengan kebingungan.
Rendra maksudku, dia juga sudah dua hari tidak masuk kelas
"Sudah dua hari tidak masuk kelas? bagaimana..." tiba-tiba Olivia teringat sesuatu.
Aku juga tidak tahu, apa kau tahu dia kemana? Olivia! apa kau mendengarku?
"Nanti ku telepon kembali" kini tatapannya tertuju pada Rendra.
Sekarang Olivia menyadari sesuatu yang sangat aneh, untuk memastikan jika kecurigaannya benar Olivia bertanya kepada guru bimbingannya dengan serius.
"Guru Zian, jawab aku dengan sejujur-jujurnya" sekarang Olivia mengintimidasi gurunya sendiri.
"Silahkan ajukan pertanyaan" santainya.
"Apakah... guru Zian ini.. orang yang sama seperti dugaanku?" tanya Olivia lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat.
Penyamaran Rendra terancam terbongkar karena Olivia terus mengintimidasinya, Rendra hanya mengalihkan pandangannya ke sudut lain.
"Kenapa diam? Takut ketahuan? Rendra Xendrick.." bisik Olivia sampai terdengar di telinganya.
__ADS_1
Insting Olivia mengatakan bahwa pria yang dikenalnya sebagai guru bimbingannya ternyata adalah Rendra Xendrick.