
"White hilang ayah!? Aku tidak tahu dimana dia," Kenzo yang panik setelah melihat ke kamar adiknya.
"Cari dia sampai ketemu! jika dia berada di dunia manusia, kalian lindungilah dia jangan sampai vampir lain menyakitinya," perintahnya kepada kedua putranya.
"Baiklah ayah," ucap ayahnya.
Kenzo dan Kelvin mulai mencari Oliva dari mulai tempat yang biasanya dikunjungi olehnya, bahkan hutan terlarang, namun sayangnya adiknya tidak ada dimana pun.
"Sial! kemana lagi kita harus mencarinya?" kesal Kenzo yang mulai frustasi.
"Jika dia tidak ada disini, apa benar .... dia berada di dunia manusia?" tanya Kelvin.
"Ayo kita cari dia, jangan sampai vampir lain mendekatinya maupun itu dari klan lain," mereka pun memutuskan untuk pergi ke dunia manusia.
Mungkin mereka akan menetap di dunia manusia demi Olivia untuk melindungi adiknya dari bahaya apapun.
********
Rumah Olivia White.
Sekarang hidup Oliva benar-benar sudah seperti manusia normal tapi sayangnya dirinya belum mencoba makanan manusia, meski sudah merasakan makanan manusia sebelumnya di kastil hanya saja keraguan muncul dipikirannya saat ingin mencicipinya.
Aku tidak yakin makanan ini sama seperti di kastil, apa aku bisa makan makanan manusia tanpa harus meminum darah? Batin Olivia.
"Sudahlah, dan hari ini aku harus mendaftar sekolah di high school college. Aku akan bersiap," ucap Olivia berjalan menuju kamar mandi.
Olivia juga mendaftarkan dirinya di High School College, sekolah yang sangat populer dan elit. Ini pertama kalinya dirinya merasakan bersekolah seperti orang normal lainnya.
Sudah selesai bersiap Olivia dengan rambut terurai dan baju yang begitu feminim berwarna cream, tidak seperti biasanya yang hanya mengenakan baju serba hitam kini gaya penampilannya pun ikut berubah.
Berjalan keluar sambil menyeret kopernya, Olivia tak lupa untuk mengunci pintu rumah sebelum berangkat menuju sekolahnya.
"Rendra kemana? Kenapa jadi memikirkan dia? Tidak tidak! Lebih baik sekarang berangkat daripada memikirkannya." ucap Olivia melihat sekitarnya.
Olivia menaiki taksi seperti kemarin saat pertama kali sampai di dunia manusia. Dirinya berharap saat sekolah nanti bisa cepat beradaptasi dengan manusia lainnya.
********
High School College.
Sesampainya di High School College Olivia dibuat kagum oleh gedung sekolah yang ada dihadapannya, tanpa kesabaran dirinya masuk kedalam gedung dan mencari ruangan kepsek.
Tanpa diduga saat sedang mencari kantor guru Olivia dipertemukan lagi dengan pria yang menolongnya pada hari itu.
"Kau Nona yang kemarin kan?" tanya pria itu sambil mengerutkan dahinya.
"T-tentu bisa antarkan aku ke kantor guru?"
"Oh? Kantor guru ya? Ikuti aku," Olivia dengan bahagianya mengekori pria itu.
Sepanjang perjalanan ke ka kantor guru diantara keduanya tidak mengatakan apapun, apalagi Olivia baru pertama kali menginjakkan kakinya di dunia manusia tentu tidak boleh sembarangan berdekatan dengan orang lain.
"Sudah masuklah," tanpa ragu Olivia masuk ke ruang guru.
Kepsek itu menatap kearahnya dari atas sampai ke bawah karena pakaian Olivia yang terlalu feminim, pak kepsek langsung memberi seragam sekolah terlebih dahulu.
"Namamu Olivia White?" tanya kepala sekolah.
"Ya," singkat Olivia yang tidak bisa banyak tanggap.
"Baiklah, kau masuk ke kelas sejarah," ujar kepala sekolah itu dengan ramah.
"Terimakasih pak," jawab Olivia lalu berjalan keluar kantor guru dan segera mencari kelasnya.
Gadis yang akhirnya bisa merasakan seperti manusia lainnya kini juga sudah ia rasakan, merasakan bagaimana berada disekolah dan melihat langit yang biru namun hanya satu yang belum pernah tercapai merasakan kasih sayang ibu.
Melihat anak kecil bermain bersama ibunya membuat Olivia sangat iri sekali karena mereka bisa merasakan bagaimana rasanya bercanda dengan seorang ibu.
Olivia kau tidak boleh .... menangis suatu saat nanti kau pasti akan bertemu dengan ibu.
Kelas Sejarah.
Menunggu guru mempersilahkannya masuk Olivia yang mengintip sedikit ke kelasnya seketika merasa kagum karena banyak sekali teman sekelasnya. Namun Olivia masih ingat perkataan ayahnya bahwa ia tidak boleh sembarang menilai baik atau jahat meskipun ayahnya sangat kejam tapi selalu menasehati putrinya tentang kebaikan.
__ADS_1
'Selamat siang pak guru.'
"Hari ini kita kedatangan murid baru bapak harap kalian bisa berteman dengan baik ya," ujar pak guru yang mengumumkan bahwa adanya murid baru.
"Ayo sini masuklah, tidak apa-apa," setelah dipersilahkan masuk akhirnya Olivia menampakkan dirinya.
Dengan senyuman manis Olivia melangkah masuk kedalam kelasnya lalu berdiri di samping pak guru.
"Hai! namaku Oliva White a-ku pindahan dari London, aku berharap kita bisa menjadi teman baik," ujarnya sambil tersenyum manis.
'cantik sekali dia'
'sepertinya orang kaya'
'duduk disini denganku, bangkuku kosong ni'
Mereka semua antusias melihat kehadiran Olivia dikelas, namun berbeda dengan beberapa murid yang menatapnya dengan tatapan tajam bahkan gayanya seperti mengendus-endus aroma tubuhnya.
"Baiklah, kau duduk di .... sana disebelah Ansel," Kepala sekolah pun menunjuk kearah bangku yang ada dibarisan ketiga.
Ternyata laki-laki itu bernama Ansel?. Batin Olivia.
Olivia berjalan ke arah tempat dimana dirinya duduk tepat membelakangi murid yang selalu bersikap aneh.
"Ternyata nama Nona adalah Olivia, kenalkan aku--" terpotong karena Olivia langsung menyergah ucapannya.
"Ansel, kan?" ucap Olivia yang memastikan.
"Y-a, benar," tiba-tiba Ansel menjadi gugup.
Ansel Anderson pria berumur 20 tahun ini adalah murid paling populer dulunya banyak gadis-gadis yang mengejarnya, namun dengan sengaja Ansel merusak reputasinya sendiri dan kini dia tidak lagi populer seperti dulu dia juga dikenal dingin terhadap wanita.
Murid yang ada dibelakang Oliva bukanlah manusia melainkan vampir yang sedang menyamar menjadi manusia, dirinya merasakan nafas dilehernya sangat jelas sekali. Saat Olivia menoleh kebelakang kedua murid itu bersikap seperti tidak melakukan apapun.
"Ada apa?" tanya murid yang ada dibelakangnya.
Kenapa aku seperti merasa .... mereka aneh, bahkan leherku seperti merasakan nafas yang berhembus. Batin Olivia.
"Tidak," sangat singkat namun jelas.
"Aku!" teriaknya langsung mengangkat tangan.
"Dengarkan pertanyaan bapak, hewan apa yang beraktivitas dimalam hari?" tanya guru.
"Vampir!" jawabnya.
Semua melihat Olivia dengan tatapan bingung ketika dirinya menjawab vampir yang lain langsung tertuju padanya.
"Maksud sa--ya kelelawar," lanjutnya.
"Benar sekali," kata pak guru.
"Kau tahu tentang vampir?" tanya Ansel.
"Ak--u suka membaca tentang sejarah, apalagi vampir," jawabnya sambil tersenyum lebar.
Ansel hanya mengangguk ketika mendengar jawaban dari Olivia.
Kedua murid dibelakangnya merasa bingung dengan jawabannya tadi, bahkan mereka berniat untuk mengintrogasi Olivia.
'apa dia tahu tentang vampir?'
'aku tidak yakin, tapi.. ku rasa dia tahu banyak tentang vampir'
'sepertinya kita harus mengintrogasinya'
'baiklah'
Keduanya melakukan telepati hanya dengan bertatap muka, bahkan merencanakan sesuatu untuk Oliva.
********
Kantin Sekolah.
__ADS_1
Pukul 13:20 semua murid pun beristirahat dan berbondong-bondong ke kantin sekolah untuk makan, melihat orang-orang duduk dan makan di kantin membuat Olivia sangat iri.
Olivia juga membeli makanan untuk makan siangnya namun ia tidak tahu bagaimana reaksi lidahnya nanti.
"Apa aku bisa seperti mereka?" gumam Olivia.
"Sendirian saja?" tanya Ansel tiba-tiba mengejutkannya.
Ansel yang dikenal dingin terhadap wanita tapi sepertinya tidak, ia bahkan santai-santai saja duduk didepan Olivia.
"Mau coba makananku?" lanjutnya pria itu mencondongkan pizza yang dibelinya.
"Baiklah," jawab Olivia agak sedikit gugup.
Karena tidak enak hati menolak tawaran Ansel ia mengiyakannya saja, mereka juga makan bersama di kantin.
"Cobalah, ini enak aku yakin kau akan ketagihan memakannya," Ansel meyakinkan Olivia.
"B-baiklah," ucapnya.
Olivia mulai menggigit pizza yang dipesannya dan mengunyahnya dengan perlahan. Tiba-tiba Rendra datang menyuruhnya memuntahkan makanannya.
"Muntahkan makanannya! cepat!" Rendra yang tiba-tiba datang.
"Huh?" terkejutnya Olivia.
Olivia menurut saja dengan Rendra, dirinya benar-benar memuntahkan makanannya kedalam kantong plastik.
"Ini minum," Olivia tidak menyangka bahwa pria yang memberikan darah kepadanya akan senekat ini.
Darah? Apa Rendra tahu kalau aku tidak bisa memakan makanan manusia tanpa darah? batin Olivia.
Sebotol darah terpaksa di minumnya sampai habis, Ansel yang tidak suka jika ada orang yang menggangu makan siangnya.
"Siapa kau?! Kenapa bisa bisanya orang luar masuk ke area sekolah!" Bentak Ansel.
"Aku yang harus menanyakan itu kepadamu, kau siapa? Dan kau tidak tahu kan kalau Olivia alergi terhadap pizza!" ucapan Rendra membuat Olivia membulatkan matanya.
Apa-apaan dia? Alergi pizza? Bapakmu yang alergi pizza. Gumam Olivia.
Ansel tidak tahu jika Olivia alergi terhadap pizza lalu dirinya merasa bersalah karena pizza itu, namun saat Rendra ingin menarik lengan Olivia ia melihat lengan pria lain juga ikut menarik wanitanya.
"Apa-apaan nih?" tanya Olivia lalu melirik keduanya.
"Kau harus tetap disekolah," ucap Ansel sambil menarik tangan Olivia.
"Lepaskan tangan dia! Dia harus ikut denganku," Rendra pun ikut menarik tangan Olivia.
Sesaat dirinya berdebat dengan pikirannya sendiri.
'kau harus ikut Rendra, dia itu suamimu, pasti dia ingin membicarakan hal yang penting'
'jangan! kau harus memberikan kesan baik saat pertama masuk sekolah jadi kau harus tetap disini'
'tidak boleh! Rendra lebih penting!'
'Ansel yang lebih penting!'
'Rendra!'
'Ansel!'
"CUKUP! Semuanya bikin ribet!" Olivia menghentakkan kakinya lalu pergi dengan kesal.
"Olivia!" teriak keduanya.
Olivia tidak memperdulikan mereka berdua yang memanggil namanya, saat dirinya menjauh dari Ansel dan Rendra.
Kedua murid sekelasnya tiba-tiba menghampirinya seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka.
"Gadis yang sangat istimewa, bahkan darahnya juga," vampir ini menatap intens Olivia.
"Ka--lian tern--yata ...." ucap Olivia sambil terbata-bata.
__ADS_1
"Kami adalah.. vampir pemburu."
Perlahan memundurkan langkahnya tapi Olivia seperti menabrak seseorang dibelakangnya, ternyata bukan hanya dua orang melainkan tiga orang vampir yang mengepungnya.