Suami Vampirku

Suami Vampirku
Di Hapus


__ADS_3

Di Tempat Lain.


K2 yang mencoba untuk mencari jejak adiknya itu namun sayang sekali mereka tidak menemukan apapun, tapi mereka mencium aroma darah Olivia yang terbentur dibatu besar tepatnya dijurang.


Kenzo mencoba memegang darah itu dan mulai menerawang apa yang sebenarnya terjadi ditempat ini dengan cara mencium darah yang dipegangnya.


"Darah suci.. Argh!.. Ternyata Leon masih belum menyerah" kesal Kenzo sambil menghancurkan batu besar itu.


"Sekarang biar aku yang mengurus Leon, kau carilah White" ujarnya yang langsung disetujui oleh Kenzo dengan anggukan kepala.


Mereka pun akhirnya berbagi tugas Kenzo mencari Olivia sedangkan Kelvin akan membunuh pelaku yang telah melukai adiknya.


Kelvin yang mencari-cari keberadaan Leon namun tidak menemukan penampakan wajahnya sedikit pun, tapi ia tahu tempat yang paling sering di kunjungi olehnya.


Sungai.


Benar saja Leon sedang berada duduk di jembatan sambil menatap sungai dengan tatapan yang kosong, setelah menggigit adiknya tingkah Leon seperti ada yang tidak wajar.


"Sudah melukai orang tapi pergi begitu saja! Ck.. Pengecut sekali dirimu" ujarnya menyindir Leon.


"Oh? Kelvin? Hahaha! Mencari adikmu? Sepertinya kau terlambat dia sekarang sudah pergi menyusul ibunya" dengan kegilaannya Kelvin berhasil terpancing olehnya.


Mendengar itu Kelvin langsung berdiri dihadapan Leon dan mencekiknya dengan sekuat tenaga.


"Jadi kau tahu tentang kematian ibunya? Apa kau utusan dari keluarga Mahesa? Jawab!!" Kelvin mengencangkan cengkraman tangannya.


"Argh.. Sepertinya aku sudah ketahuan ya" jawabnya.


"Kau benar-benar cari mati denganku, katakan! Siapa lagi yang mengutusmu selain Calista?" ujarnya dengan penuh penekanan.


"P-pangeran.. vampir.. Apa kau puas sekarang?" ucapnya sambil memiringkan kepalanya.


Tidak segan-segan membuatnya mati terbakar dengan koin peraknya yang turun temurun dari keluarga Saga, koin itu dimasukkan kedalam mulut Leon dan membiarkan mulutnya kepanasan.


"Lebih baik kau enyah saja dari muka bumi ini" ujar Kelvin yang mengeluarkan koin peraknya lalu meletakkannya didalam mulut Leon.


"Aarrgghh.. Tidak.. kau mengapa.." Leon sudah mulai terbakar mulutnya karena koin perak itu.


"Sekarang kau yang menderita ya? Baiklah para buaya disini akan memakanmu hidup-hidup, SELAMAT TINGGAL PENGKHIANAT!!" Kelvin tersenyum puas melihat orang yang melukai adiknya mati.


--BYUURR--


Dengan kakinya Kelvin mendorong tubuh Leon yang mulai melepuh dan kulitnya menciut, tidak lupa juga Kelvin memanggil para buaya untuk memakannya.


"Itulah akibatnya jika kau bermain denganku" ucap Kelvin dengan melipat kedua tangannya.


"Kelvin! Sialan kau!" teriaknya.


--PYUUITT--


"Makanan untuk kalian, makan sampai kenyang ya jangan sampai ada daging yang tersisa" ujar Kelvin yang sangat puas.


Benar saja para buaya itu berdatangan ketika dipanggil olehnya, dan mulai mendekati tubuh Leon yang berusaha berenang ke daratan. Melihatnya mati begitu mudah membuat Kelvin belum cukup puas untuk menyiksanya.


"Kalian para buaya, pergi saja tidak usah memakannya dagingnya sangat tidak enak untuk dimakan" dengan kibasan tangannya para buaya itu langsung menyingkir dari Leon.


Kelvin menjentikkan jarinya untuk memanggil Amor asisten sang ayah "Amor! bawa Zoey kemari" pintanya.


"Baik tuan" jawab Amor.


"Kau memanggil siapa lagi hah?" teriaknya yang sudah naik ke daratan.


"Tidak, hanya memberi kucingku makan, kebetulan disini ada makanan.. Tapi kalau dagingmu itu beracun dan membuat kucingku mati kau akan tahu akibatnya" ancam Kelvin.

__ADS_1


Akhirnya Amor membawakan Zoey kucing yang dikatakan Kelvin.


"Ini tuan, kebetulan sekali anda memberinya makan disaat dia sedang lapar" ucapnya seperti tahu maksud tuannya.


"Inikah kucing yang kau bilang?!" jawab Leon sedikit takut.


"Zoey, ini sangat pendendam dia tidak suka jika ada orang yang mengusik ketenangan majikannya, ayo Zoey kecil makan dia sampai habis" aura mematikan terpancar dari wajah Kelvin.


--ROAAGGHH--


Harimau peliharaan Kelvin mulai menggerogoti tubuh Leon yang melepuh tadi akibat koin, akhirnya sekarang ia benar-benar mengucapkan selamat tinggal kepada pengkhianat licik itu.


"Kalau sudah selesai bawa Zoey kembali" perintahnya.


"Aku mengerti tuan" jawab Amor.


Di Sisi Lain.


Kenzo sudah berusah menemukan keberadaan adiknya namun hasilnya nihil, ia hanya sia-sia membuang tenaganya untuk membunuh para vampir pemburu itu, tiba-tiba ada dua ekor serigala mendatanginya dan memberitahu bahwa Olivia baik-baik saja di kediaman Anderson.


"Kami serigala dari utusan keluarga Anderson yang ingin memberi tahu bahwa adikmu baik-baik saja, hanya saja dia sedikit terkena racun" Kenzo yang membulatkan matanya.


"Racun? Apa ada penawarnya?" jawab kenzo.


"Tenang saja, pangeran sudah memberikan gigitan kedua untuk putri" ucap seekor serigala itu.


"Baiklah, sementara aku biarkan dia menjaganya" dirinya akhirnya bisa bernafas lega.


"Baik, jika begitu kami permisi" dua ekor serigala itu segera pergi meninggalkannya.


"Apa benar serigala itu tidak ada niatan jahat kepada White?" Kenzo yang kebingungan.


Kenzo memutuskan untuk kembali ke asrama kediaman Saga, untuk memberitahu sang ayah.


*******


Terlihat Vernon sedang mondar-mandir dengan kepanikannya begitu K2 sampai ia langsung menghampiri kedua putranya.


"Bagaimana? White sudah ditemukan?" panik sang ayah.


"Dia aman sekarang ayah, White sedang berada di kediaman Anderson" jawab Kenzo.


"Anderson..? biarkan dia disana aku lega jika White berada disana" ujar Vernon.


Amor datang untuk mengantarkan Zoey kucing peliharaan Kelvin yang sangat penurut bahkan vampir pemburu pun mudah dikalahkan oleh binatang peliharaannya.


"Tuan, Leon sudah benar-benar musnah Zoay menggerogoti habis tubuhnya" ujar Amor yang baru datang.


"Habisi keluarga Albert, jangan sampai ada yang tersisa!" perintahnya dengan tegas.


Diwaktu Yang Sama.


Tidak bisa mendekati Olivia dengan menjadi dirinya sendiri kini ia terpaksa menggunakan penyamarannya untuk mendekatinya, tapi siapa sangka Rendra mendengar pembicaraan antara putra dan ayah itu sedang membicarakan tentang keberadaan Olivia.


Jadi.. Olivia sedang bersama Ansel sekarang? batin Rendra.


"Aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini" ujarnya segera pergi menjauh dari asrama kediaman Saga.


Rendra memang sudah berjanji tidak akan mendekati Olivia lagi, tapi ia hanya ingin melihat wanitanya benar-benar dalam keadaan baik-baik saja tanpa lecet sedikit pun.


*********


Kastil Kecil Kediaman Ansel.

__ADS_1


Olivia yang sudah sadar dari pingsannya juga langsung menyadari bahwa Ansel tidak pernah pergi meninggalkannya sendiri, ia sampai tertidur pulas di kursi karena menjaganya.


Masih terlihat sama dengan wajah setengah serigalanya karena ia tidak mau jika Olivia mengetahui identitasnya yang sebenarnya.


"Dia.. menungguku? Wajahnya benar-benar lucu" Olivia yang tertawa pelan.


Tidak ada rasa takut ketika berada didekatnya dengan wujudnya yang begitu aneh, namun Olivia merasa aman disini tidak akan ada vampir yang menemukannya.


Ingin menyentuh rambutnya tapi Noah berhasil menangkap basah tangan si gadis.


--GREB--


"Apa putri sudah sadar?" tanyanya tangannya masih memegangi lengan Olivia.


"Jangan memanggilku begitu.. panggil aku Ivi saja" ujar Olivia sambil tersenyum.


"Ivi? Nona Ivi?" panggilnya.


"Aish! Jangan pake Nona.. panggil saja IVI, I V I" Olivia menyadari bahwa wajahnya sedang ditatap oleh serigala yang ada di hadapannya.


"Ivi.." bisiknya yang mencondongkan tubuhnya.


--KRYUUKK--


Bukan mulutnya yang menjawab namun perutnya yang menjawab Ansel.


"Oh, kau lapar?" tanyanya.


"Hehehe, sepertinya.." ujar Olivia.


"Tunggu aku akan segera kembali" jawabnya yang langsung pergi ke dapur.


Olivia...


Begitu mendengar namanya terpanggil Olivia menoleh kearah sumber suara tapi tidak ada siapapun di sekitarnya, merasa ada yang memperhatikannya Olivia segera menoleh lagi ke sudut lain.


Setelah menemukan pelaku yang memanggilnya tadi matanya kini tertuju pada Rendra yang berada diluar jendela.


Ternyata kau disini.. ayo pulanglah bersamaku. batin Rendra.


Pergilah aku lebih nyaman disini. batin Olivia.


Dari batin ke batin begitulah mereka mempunyai kemampuan komunikasi yang spesial yang tidak dimiliki oleh orang lain.


Tubuh Olivia seketika melemas karena racun itu kembali beraksi dan membuat wajahnya semakin pucat dari sebelumnya.


Rendra yang melihatnya berinisiatif untuk membantu sayangnya Ansel sudah lebih dulu muncul.


"Ivi! Kau kenapa? Ada apa?" paniknya yang baru datang.


"Jantungku sakit.." ujar Olivia yang menahan sesak di dadanya.


"Jantung? Ini tidak boleh, tanpa jantung kau tidak bisa hidup" gumamnya.


Dengan cepat Rendra menunjuk-nunjuk kearah Ansel agar memintanya untuk menghisap racun itu, jika tidak Olivia akan mati karena jantungnya habis digerogoti oleh racun yang ada di dalam tubuhnya.


Jantung? Olivia dengarkan aku.. suruh dia gigit tanganmu, sebelum racun itu menggerogoti jantungmu! umpatnya dalam hati.


Sekilas Olivia melirik kearah Rendra ia hanya mengangguk untuk meyakinkannya.


"Apa kau bisa mengeluarkan racun ini? Argh.. aku mohon ini sakit sekali" mata Olivia berkaca-kaca membuatnya tidak tega.


"Jangan menangis, aku akan berusaha" ucapnya sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


Sesuai keinginan Olivia dengan dua tangannya, Ansel memegang lengan mungil Olivia itu lalu menggigitnya sambil menatap matanya.


Rendra memilih untuk mundur dari sana karena merasa hatinya sakit ketika pria lain yang ada di sana dan bukan dirinya.


__ADS_2