Suami Vampirku

Suami Vampirku
Reinkarnasi Ibu


__ADS_3

Markas Rahasia.


Angel tahu apa yang harus dilakukannya untuk membuat salah satu orang diantara kedua keluarga itu menderita, karena Angel tidak mau musuhnya mati dengan begitu mudah.


"Leon, kau menyukai putri raja vampir kan? Jika ingin aku membantumu untuk mendapatkan gadis itu, kau harus berkerja sama denganku" jelasnya.


Leon yang masih hidup karena berhasil lolos dari lahar panas yang hampir membakarnya, kini Leon kembali untuk membawa gadis yang dicintainya selama ratusan tahun.


"Bagaimana caranya?" tanya Leon.


"Jadikan dia.. pelayan darahmu agar dia tidak bisa pergi dari sisimu" Angel yang berusaha memprovokasinya.


"Ide yang bagus" dirinya berhasil terprovokasi oleh Angel.


Tanpa berpikir panjang Leon langsung menyetujui untuk berkerja sama dengan Angel, karena ia tahu bahwa Leon sudah menyukai Olivia sejak lama.


*********


Toliet Pria.


Noah yang saat itu tidak sempat mengejar Olivia karena gejolak serigalanya muncul disaat-saat yang tidak tepat, habis kaca wastafel pecah akibat amarah yang Noah timbulkan.


"Aarrgghh!.. T-tidak.. jangan disini, bahaya jika ada murid lain yang tahu Aarrgghh.." Noah yang bersusah payah menahan gejolaknya.


--PRAAKK--


Emosinya yang meluap-luap membuat kaca di hadapannya pecah begitu saja, Noah juga membuat kegaduhan di toilet pria dengan memukul-mukul tembok menggunakan tangan kosongnya.


"Aarrghh! Rendra! Kau hanya bisa membuat Olivia terancam!" gerutunya.


--BUGH--


--BRAAKK--


--KRAAKK--


Melampiaskan kekesalannya dengan membanting pintu toilet, memecahkan kaca, membanting ember dan meninju pintu masuk toilet sampai akhirnya amarahnya benar-benar meredam.


Di Waktu Yang Sama.


Olivia yang saat itu tidak sengaja melewati toilet pria dan mendengar suara kegaduhan didalamnya, dengan penasaran langkahnya terhenti lalu mencoba menempelkan telinganya ke pintu.


--BRAAKK--


Tepat di telinganya suara pukulan keras yang membuatnya tidak sengaja berteriak karena terkejut mendengar suara yang didengarnya.


"Ah!" kemudian Olivia membalikkan tubuhnya dan menutup mulutnya.


Sebenarnya siapa yang ada didalam toilet? Batin Olivia.


Rasa penasaran yang terus membuatnya gelisah, Olivia mencoba untuk membalikkan tubuhnya kembali namun saat berbalik Olivia hampir jatuh ke lantai karena sepatunya yang terlalu licin, seseorang dengan cepat menahan tangannya agar tidak terlepas dan jatuh.


"Eh!?" Olivia yang memejamkan matanya karena takut jika tubuhnya terjatuh ke lantai.


Tidak terjadi apa-apa Olivia membuka matanya dan melihat seseorang yang menolongnya, tapi yang di lihatnya adalah Noah yang sedang menahan lengannya.


Noah menarik kembali lengan Olivia "Kau sedang apa disini?" tanyanya.


"Itu.. aku ingin ke toilet" gugup Olivia.


"Oh, tapi ini toilet pria" jawabnya sambil menunjuk kearah pintu.


"Toilet pria ya?" Olivia memiringkan kepalanya "Sebenarnya aku.. hanya lewat saja" ujarnya.


"Hanya lewat atau, mengintip?" tatapan Noah membuatnya terintimidasi.


--TING~ TONG~--


Suara bel sekolah berbunyi nyaring kini Olivia bisa melarikan diri dari Noah yang saat itu tatapannya masih tertuju padanya.


"Bel sekolah sudah berbunyi, aku harus kembali ke kelas" dengan ceroboh Olivia sampai salah arah.


"Hei! kelas sejarah ke arah sana, di sana ruang guru" jawabnya membuat Olivia malu setengah mati.


"Aku tahu!" teriak Olivia dengan malu.


Dengan gemas Noah melirik punggung Olivia yang sudah berlari menjauh dari pandangannya.


Lucunya dia disaat sedang seperti ini. batin Noah.


********


Kelas Sejarah.


Mendengar keributan didalam kelas Olivia segera memasuki kelasnya dan melihat apa yang terjadi, seorang pria yang sepantaran dengan Adelia menerobos masuk di saat-saat sedang belajar.


"Ada apa ini? Anda siapa!?" tanya Olivia yang baru masuk kelas.


"Diam kau bocah! Aku hanya ingin membawa Adelia bersamaku kau tidak perlu ikut campur!" suaranya memenuhi telinga Olivia.


"Untuk apa? Oh pasti kau mantan suaminya kan? Sudah selingkuh dengan wanita lain dan sekarang kembali untuk meminta rujuk" ujar Olivia dengan santinya.


"Olivia sudah, tidak apa apa" ucap Adelia dengan pasrah.


"Tidak bisa bu dia ini sudah membuat keributan dikelas dan datang-datang untuk mengambilmu dariku" kesal Olivia.

__ADS_1


Tidak terima karena Olivia terus menghalanginya untuk membawa mantan istrinya, pria itu menyadarkan Olivia dengan perkataannya.


"Mengambil darimu? Kau tidak sadar bahwa kau bukan siapa-siapanya dia, dia hanya guru dan kau murid bahkan dia bukan IBUMU" perkataan pria tadi langsung menusuk Olivia.


"Kau jangan bicara sembarangan, Olivia ini sudah aku anggap seperti anakku sendiri!" ujar Adelia dengan suara tingginya.


"Anakmu? bahkan dia bukan darah dagingmu" pria itu yang dengan santainya berbicara.


Olivia hanya menundukkan kepalanya dan menggepalkan tangannya karena Olivia sadar jika bukan siapa-siapa di kehidupan Adelia.


'benar juga bu Adelia ini hanya guru disini tapi kenapa sikap Olivia seperti anaknya'


'tidak tahu malu ternyata'


'jangan-jangan ibunya meninggal dan membuatnya depresi'


'mengerikan sekali'


"Siapa yang berani mengganggu putriku!" teriak Vernon yang baru datang.


Semua orang yang berada dikelas langsung terkejut mendengar Vernon si pemilik sekolah, murid-murid yang membicarakan putrinya tadi langsung diam mematung di tempatnya.


"Tuan Vernon maafkan mantan suami saya yang telah membuat keributan" ujar Adelia sambil membungkuk.


"Ini bukan salahmu jadi jangan merasa bersalah, kau pria rendahan minta maaf pada putriku! SEKARANG!" ucap Vernon dengan aura pembunuh.


"A-aku.. sungguh.. menyesal jadi tolong maafkan aku" ucapnya yang langsung meminta maaf.


--PLAAKK--


Tamparan keras mendarat dipipi pria yang sudah menyinggung perasaannya, Olivia juga menamparnya untuk memberi pelajaran kepada mantan suami Adelia itu karena berani sekali menyelingkuhinya.


"Kau pantas menerima itu, laki-laki busuk!" Olivia tanpa pamit keluar dari kelas.


"Amor, bawa pria ini keluar" perintahnya.


"Baik tuan" jawab Amor yang langsung menyeret pria tadi.


"Lepaskan aku! Hei wanita bantulah aku, dasar tidak tahu di untung" ujarnya.


Vernon membuatnya tidak bicara lagi dengan menggunakan sihir dari matanya.


"Kau lanjutkan mengajari anak-anak, biarkan aku yang menenangkan Olivia" ujar Vernon yang pergi meninggalkan kelas.


"Baiklah, ayo anak-anak duduk kembali" ujar Adelia.


********


Taman Sekolah.


"Hikss.. hikss.. Ibu.." ujarnya lirih.


"Olivia" panggil seseorang.


Olivia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang memanggil namanya, Rendra datang disaat Olivia sedang mengeluarkan air matanya.


"Kau menangis? Siapa yang membuatmu begini?" ujar Rendra dengan khawatir.


"Kau jelek sekali jika menangis seperti ini, coba biar kulihat wajahmu" lanjutnya.


Rendra membungkukkan tubuhnya dan menatap wajah wanitanya yang penuh dengan air mata, seketika tangis Olivia terhenti.


"Pipimu sangat basah, jangan membuang air matamu" ucapnya sambil menghapus air mata Olivia.


Hatimu terbuat dari apa sih? Mengapa terus mendatangiku, aku takut jika ayah akan membunuhmu. Batin Olivia.


"Karena aku menyukaimu" Olivia tertegun mendengarnya.


--DEG--


"A-apa? Kau.. menyukaiku..?" gugup Olivia.


"Sejak dulu, sudah ratusan tahun bahkan berabad-abad ketika wajahmu sudah tua seperti.. nenek yang di sana pun aku tetap akan menyukaimu" jawabnya sambil menunjuk kearah nenek-nenek yang sedang menyirami tanaman.


Jantung Olivia berdebar kencang saat mendengar pengakuan dari Rendra, bahkan dia juga berkata jika suatu hari nanti dirinya seperti nenek-nenek Rendra tetap akan menyukainya.


"Ketika aku mati?" tanya Olivia.


"Tidak, kau tidak akan mati, didalam dirimu mengalir darah vampir yang sangat kuat, pasti suatu saat nanti kau akan menjadi vampir sepertiku, agar aku bisa hidup abadi bersamamu" jelasnya.


Baru ingin mengusap wajah Rendra yang masih membungkukkan tubuhnya, namun sayang sekali ayahnya datang dan langsung memisahkan jarak diantara mereka.


"Kau memang berani ya mendekati putriku lagi, aku sudah mengingatkanmu berkali-kali JAUHI PUTRIKU!" tegas Vernon.


Pergilah.. jangan datang lagi, ayahku bisa membunuhmu bodoh! batin Olivia.


Kalaupun aku mati tidak masalah, jika aku bereinkarnasi.. aku tetap akan mengejarmu. batin Rendra.


"Baiklah, kau membuatku tidak punya pilihan lain lagi sela--" terpotong karena K2 menghentikannya bicara.


"Kelvin bawa ayah ke asrama" Perintah Kenzo.


"Ayo ayah" Kelvin dengan cepat membawa ayahnya menjauh dari sana.


Kenzo sengaja menghentikan ayahnya karena baginya ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu kebenaran tentang Sherina.

__ADS_1


"Olive, ikut aku" ujarnya yang menarik tangan Olivia.


"Tapi--" terjeda.


"Tapi apa? Kau belum selesai menatap dia!? Ayo ikut aku pulang" ucapnya kemudian membawa adiknya pergi menjauh dari Rendra.


Melihat dirinya yang harus menjauh dari Rendra membuatnya ingin mengulurkan tangannya, namun Olivia tersadar bahwa keluarganya tidak akan diam saja jika mereka bersama.


Apa aku mulai menyukainya? Apa ini hanya karena kalung takdir? batin Olivia.


Masih membeku di tempatnya seseorang datang membuyarkan lamunannya.


"Tadi hampir saja raja vampir mengatakan yang sebenarnya" ujar Richard yang baru datang.


"Semakin rumit, aku bahkan tidak mengerti mengapa ingatan Olivia belum kembali" jawabnya.


"Jelas belum kembali, Kelvin menyegel ingatannya dengan penuh persiapan, itulah sebabnya mengapa dia sama sekali tidak bisa mengingat wajahmu" jelas Richard.


"Tindakannya sudah benar, hanya menunggu Olivia membenciku lalu menjauhiku" ucapnya lirih seperti putus asa.


"Hei! Tapi.. kau masih suaminya tenang saja, kalung itu memang terlepas darinya tapi kontrakmu antara dia selamanya akan terikat" Richard yang berusaha membangkitkan semangat temannya.


"Memang yang kau katakan benar, tapi.. aku dan dia menjauh, adakah suami istri yang seperti ini?" ocehnya yang sedikit kesal.


"Kau terlalu berkecil hati, sudahlah lupakan dulu masalah cintamu, mari memburu hewan?" ajak Richard.


Akhirnya Richard berhasil membawa temannya itu ke hutan untuk memburu hewan di sana, mereka memang seperti itu sejak kecil, bahkan memburu rusa sampai berebutan.


********


Asrama Olivia.


Kelvin tahu tindakannya pasti akan membuat sang ayah marah besar padanya, tapi Kelvin juga tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah saudaranya.


"Mengapa kau membawaku pergi?" tanya Vernon dengan murka.


"Ayah, maafkan aku tapi.. belum saatnya Sen tahu, biarlah dia menyelesaikan pendidikannya dulu, toh kita juga akan kembali ke kastil" jelasnya.


"Kau salah besar, ini akan membuat Sen, merasa jika kita telah membohonginya selama ratusan tahun, karena kita sudah menutupi kebenarannya" ucap Vernon yang langsung dimengerti oleh Kelvin.


Mereka akhirnya memutuskan untuk memberitahu siapa yang membunuh ibunya dengan sangat kejam, mereka juga tidak masalah jika harus menerima resiko yang akan terjadi nanti. Kenzo berhasil membawa Olivia kembali ke asrama.


"Sen, kami ingin mengatakan kebenaran yang sudah kami tutupi darimu" ujar Kelvin.


"Ayah harap kau bisa lebih berlapang dada" Vernon yang menghela nafas.


"Ini soal ibumu.." suara pelan Kenzo terdengar.


Mereka bertiga saling menatap melihat kebingungan Olivia.


"Kebenaran apa? Jadi.. kalian selama ini menutupinya dariku?" jawab Olivia terlihat kesal.


Sebelum mengatakannya sang ayah memperingati Olivia untuk menjauhi Rendra.


"Jauhi Rendra setelah ayah memberitahumu apa yang sudah kami tutupi selama ratusan tahun" ujar Vernon.


"Aku mengerti ayah" jawab Olivia lirih.


Vernon menghela nafas panjangnya sebentar sebelum berbicara agar bisa menjelaskannya tanpa terbata-bata.


"500 tahun yang lalu saat peperangan terjadi ibumu berkorban besar untukmu, dia mati terbunuh demi menyelamatkan putri kesayangannya dan yang membunuhnya adalah Calista, ibunya Rendra" tubuh Olivia ambruk ketika mendengar semua kebenaran yang dirinya tidak tahu.


"Jadi.. ini.. ini.. alasan kalian menjauhi aku dari Rendra?" tanya Olivia yang sudah mengeluarkan air mata.


"Benar, menjauh agar kau tidak menyesal nantinya" jawab ayahnya.


"Kenapa baru sekarang? KENAPA BARU SEKARANG?! Harusnya kalian beritahu aku lebih awal" nada kecewa Olivia terdengar.


Matanya tidak tahan untuk menampung air mata yang sudah ingin jatuh, Olivia merasa sedikit kecewa karena hanya dialah yang tidak tahu rahasia ini.


"Kami sudah memperingatkan kau untuk menjauh dari Rendra, asal kau tahu pengorbanan ibumu lebih besar dia lebih memilih mati daripada harus menyerahkanmu" jelas Kelvin.


Perasaannya kini bercampur aduk apalagi mengetahui kebenarannya membuatnya semakin muak dengan Rendra, sekarang Olivia tahu pengorbanan sang ibu lebih besar dibandingkan dengan pengorbanan pria tidak berperasaan.


Tanpa pamit Olivia pergi meninggalkan asrama, K2 yang ingin menyusul tapi sayangnya Vernon menghentikan kedua putranya.


"Sen!" K2 yang memanggil.


"Biarkan dia menenangkan diri, kalian cukup awasi dia" ujar Vernon.


"Kami mengerti ayah" K2 dengan cepat segera menyusul adiknya.


Kalau saja Calista tidak membunuh Sherina, pasti aku sekarang sudah menjodohkan putranya dengan Sen. batin Vernon.


...****************...


Visual Karakter.



Olivia Jensen



Rendra Mahesa

__ADS_1


__ADS_2