
Seorang gadis kecil yang terlihat murung sekali di kamarnya gadis kecil itu masih berusia 6 tahun bernama Olivia Wthie. Ia selalu terkurung didalam kastil dan tidak boleh pergi kemana pun kecuali di area kastil.
Pernah dibawa keluar oleh kedua kakaknya namun sayangnya mereka lengah sampai-sampai Olivia terculik oleh beberapa vampir, tapi untunglah mereka berdua datang diwaktu yang tepat dan Olivia bisa terselamatkan. Sejak saat itu gadis kecil yang malang ini tidak pernah lagi keluar dari area kastil karena dilarang oleh ayahnya.
Di umurnya yang masih sangat kecil Olivia mencoba melarikan diri untuk yang pertama kalinya, karena gadis kecil itu ingin sekali melihat bagaimana dunia luar.
"Tidak ada yang lihat kan? Hehe, saatnya untuk melarikan diri" gumamnya.
Namun sangat di sayangkan kepala pelayan yang bernama Amor bisa mengetahui bahwa Olivia ingin melarikan diri dari kastil.
"Putri kecil mau kemana?" ujar Amor sambil tersenyum lebar.
"Paman Amor aku ingin melihat dunia luar, ayah kenapa tidak pernah mengizinkan aku untuk keluar?" merengeknya selayaknya anak kecil.
"Disana sangat berbahaya putri kecil, kau tidak bisa kesana itu bukan tempatmu untuk menikmati dunia" jelas Amor.
"Hmph! Paman sama saja seperti ayah" ucap Olivia memasang wajah datar.
Usahanya gagal untuk lari dari kastil karena kepala pelayan itu, tapi mendengar kakak pertamanya sakit akibat racun liar dari hutan terlarang, gadis kecil itu mencoba menguping pembicaraan ayahnya dan Kakaknya dari celah pintu.
"Aarrgghh! Ayah aku tidak tahan ini sangat sakit sekali" rintih Kenzo yang kesakitan.
"Penawar racun liar ini sangat langka, kau tenang saja ayah akan menyiapkan pil penawar racunmu tapi perlu waktu lama untuk membuatnya" jelas Vernon.
"Baiklah ayah.. Aarrgghh! Ini sangat membuatku menderita" ucapnya membuat Olivia tidak tega dengan sang kakak yang sedang sakit.
--Kkreekk--
Ketahuan menguping Vernon segera menggendong sang anak untuk menanyakan apa yang putrinya dengar tadi.
"Putri kecilku, apa yang kau lakukan disini?" tanya ayahnya.
"Ayah kakak sakit apa?" putri kecilnya itu menanyakan kembali.
"Kakakmu hanya sakit biasa" bohongnya.
"Ayah jangan berbohong aku tahu kakak sakit karena racun" jawabnya dengan wajah sebal.
"Baiklah baiklah ayah mengaku, jika ingin tahu keadaan kakakmu sana masuklah tidak apa-apa" ujarnya segera menurunkan Olivia lalu meninggalkannya sendirian didepan kamar Kenzo.
--Tok tok tok--
"White! masuklah" ujarnya.
Olivia pun masuk ke kamar sang kakak untuk melihat bagaimana perkembangan kondisinya, namun saat dilihat tampak sekali wajah kakaknya yang sangat pucat akibat racun liar.
"Kakak, apa itu sakit sekali?" tanya Olivia.
"..ugh.. tidak kok, kau jangan khawatirkan aku ini hanya racun biasa" jawabnya sambil mengelus rambut adiknya.
"Tapi.. tapi.. kata ayah penawar racunnya sangat langka, kakak tidak boleh meninggalkan aku kakak harus tetap hidup" Olivia memberi semangat kepada sang kakak untuk bertahan hidup.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu" ucapnya dengan lembut.
Olivia menjulurkan lengannya kepada Kenzo, entah dari mana idenya muncul untuk menyembuhkan kakaknya dari racun menggunakan darahnya.
"Kak Kenzo boleh hisap darahku, mungkin dengan begitu racun didalam tubuh kakak hilang" pinta Olivia.
"Tidak White.. kau kan tahu dari awal sampai akhir aku tidak akan melukaimu" tolaknya.
"Ayolah kakak.. tidak apa, hanya sekali ini saja" sekarang Olivia memohon.
"Kau yakin adik kecil?" tanyanya sambil mendongakkan kepala Olivia.
"Tentu saja" jawab Olivia.
Karena permintaan adiknya Kenzo tanpa ragu mengeluarkan taringnya dan menggigit lengan Olivia dengan perlahan, Olivia hanya menatap kakaknya yang sedang menikmati darahnya walaupun rasanya sakit tapi baginya asalkan Kenzo bisa sembuh seperti sedia kala apapun ia lakukan.
Mengetahui bahwa anak pertamanya sembuh karena darah suci milik putrinya, Vernon jelas murka setelah tahu semua itu dan segera mencari Kenzo untuk memberinya pelajaran karena sudah berani mengambil darah adiknya sendiri.
"KENZO SAGARA!!" kemurkaan Vernon terdengar sampai luar.
__ADS_1
"Aku salah ayah, aku pantas mati" ujar Kenzo yang putus asa.
"Pengawal bawa Kenzo ke penjara bawah tanah, rantai kakinya dan cambuk punggungnya sebanyak 50 kali" perintahnya.
Baru saja para pengawal ingin membawa Kenzo ke penjara bawah tanah namun secepatnya Olivia menghalangi mereka untuk membawa sang kakak.
"Tidak! Tidak boleh ada yang membunuh kakak apalagi menghukumnya!" Olivia yang merentangkan kedua tangannya.
"Putri kecil, ini perintah dari yang mulia kami tidak bisa mendengarkan siapapun kecuali yang mulia" ujar salah satu pengawal itu.
"Tidak boleh tidak boleh huhuhu! Jangan hukum kakak! Itu kemauanku sendiri bukan kakak!" ucap Olivia yang menangis seperti anak kecil.
"Tapi put--" terpotong.
"TIDAK!! BOLEH!! AYAH!! HIKS HIKS.." ujarnya sambil melihat sang ayah.
Lalu Vernon mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk para pengawal melepaskan Kenzo.
"Biarkan Kenzo, kalian lanjutkan pekerjaan kalian" ayahnya yang tidak bisa perbuat apa-apa.
"Huhuhu.. kakak maafkan aku" ucapnya sambil memeluk sang kakak.
"Tidak White ini bukan salahmu, tidak apa apa" jawabnya lalu mengusap kepala Olivia.
"Kenzo ini peringatan terakhir, jika sekali lagi mengulanginya aku tidak akan segan-segan mengirimmu ke lahar panas" jelasnya.
Jika bukan karena Olivia pasti putra pertamanya sekarang sudah berada dipenjara bawah tanah, dirantai dan dicambuk sebanyak 50 kali.
***********
Kesempatan ini akhirnya datang juga Olivia lagi-lagi merencanakan untuk melarikan diri saat kastil mengadakan pesta perjamuan dengan beberapa keluarga bangsawan, namun sayangnya Amor selalu mengikutinya.
"Paman, bisakah jangan terus mengikutiku?" protes Olivia.
"Maaf putri kecil, ini perintah dari yang mulia" jawab Amor sambil membungkuk.
"Paman Amor.. bisa tidak kau ikuti perintahku?" pintanya dengan wajah memelas.
"Tentu saja putri kecil, suatu kehormatan bagi saya" ucapnya lagi lagi membungkuk.
"Baiklah putri kecil" sebelum pergi Amor membungkukkan tubuhnya lalu pergi meninggalkannya sendirian.
"Hehehe, pesta sebentar lagi dimulai inilah saatnya pergi kemanapun yang aku mau" gumamnya.
Para tamu sudah berdatangan banyak keluarga dari bangsawan yang menghadiri undangan dari raja vampir, mereka semua sangat kagum ketika melihat dekorasi pesta dengan nuansa putih dan merah gelap seperti darah.
Olivia memakai jubah berwarna hitam untuk bersembunyi dari orang-orang yang menghadiri pesta. Namun sialnya gadis kecil itu harus bertabrakan dengan seorang pria yang sepantaran dengan kakaknya.
--Bugh--
"Bisa jalan tidak? Masih punya mata kan?" ujar pria itu dengan tatapan dingin.
"Hiks.. kakak ini sakit tahu, hikss.. kakak" rengekannya membuat pria itu terkejut.
"Cih, menyingkirlah dariku" ucapnya sambil mengeluarkan aura dingin.
"Kakak bantu aku keluar dari kastil ini, kakak aku mohon ya?" saat Olivia mendongakkan kepalanya pria tadi seperti punya empati terhadapnya.
"Keluar?" tanyanya dengan memiringkan kepalanya.
"Aku ingin melihat bintang-bintang, apakah kakak bisa menemaniku?" jawab Olivia berharap pria ini akan membawanya pergi.
Tidak disangka pria yang tadinya dingin sekarang berubah seperti pria lembut, walaupun Olivia yang masih kecil dan tidak tahu bagaimana sifat aslinya tapi ia yakin jika pria itu adalah orang baik.
"Baiklah, mari pegang tanganku" pria itu menjulurkan tangannya.
"Terimakasih kakak" Olivia menerima tangan pria itu dan mereka segera pergi dari kastil.
Ditengah-tengah pesta perjamuan hilangnya putri sang raja vampir membuat semua tamu terkejut, mereka tidak tahu bahwa Vernon sang raja tidak pernah mengatakan bahwa memiliki putri.
"APA?! KENAPA KAU TIDAK BECUS SEKALI MENJAGA PUTRIKU!!" teriaknya karena kesal.
"Tadi putri memintaku untuk mengambil beberapa gaun ini yang mulia" ujar Amor yang menundukkan kepalanya.
__ADS_1
K2 sempat melihat adiknya bersama pria lain diluar kastil, mereka pun melapor pada sang ayah untuk memberitahu keberadaan adiknya.
"Ayah! Gawat! White pergi bersama seorang pria" ucap Kelvin.
"Sebar pengawal untuk mengikutinya, K2 kalian tahu kan? Apa yang harus kalian lakukan?" tanya Vernon.
"Kami mengerti ayah" mereka segera pergi menyusul sang adik.
'Apa yang mulia punya seorang putri?'
'bukankah yang mulia raja hanya mempunyai dua putra?'
'mungkinkah itu anak haram?'
'mungkin saja, untuk apa mencari anak haram'
Amor mengumpat dalam hati Apa mereka ingin mati? Berani sekali berbicara sembarangan.
Vernon yang mendengar gosip beberapa tamu itu langsung memberikan kode untuk membunuh mereka kepada Amor.
"Aku mengerti yang mulia" jawab Amor.
--Rooaagghh--
Seekor harimau peliharaan Kelvin tiba-tiba dilepaskan ditengah-tengah pesta, Amor memberitahu Zoey si harimau putih itu untuk menyerang orang-orang yang sudah menyinggung raja.
***********
Bukit Tinggi.
Pria itu membawa Olivia ke bukit tinggi untuk melihat bintang-bintang diatas langit, namun sayangnya yang Olivia harapkan bukan pergi bersama pria tapi dengan ibunya untuk melihat bintang bersama-sama.
Sayangnya ayahnya selalu bilang bahwa ibunya sedang pergi ke ibukota untuk urusan penting, namun berabad-abad Olivia menunggu sang ibu pulang yang tidak tahu kabarnya bagaimana sampai sekarang.
Air mata gadis kecil itu tiba-tiba menetes dari matanya ketika mengingat sang ibu.
"Apa kau baik-baik saja?" ujarnya mengusap air mata gadis kecil itu.
"Kakak... aku rindu ibu.. hiks hikss" tangisnya mulai pecah.
"Ibumu? kemana ibumu?" tanyanya.
"Ayah bilang ibuku pergi ke ibukota untuk urusan yang penting, tapi sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali huhuhu.." jelasnya menceritakan.
"Suatu saat kau pasti akan bertemu dengan ibumu, percayalah" ucapannya sedikit menenangkan.
"Benarkah kakak?" tanya Olivia dengan polos.
"Percayalah padaku" jawabnya dengan lembut.
Ditengah obrolan mereka para pengawal dan K2 datang untuk membawa Olivia kembali ke kastil seperti perintah Vernon sang ayah.
"White! Kenapa kau kabur lagi? Ibumu sudah kembali, dia sedang menunggumu" ucap Kelvin terpaksa berbohong karena ini satu-satunya cara yang paling mudah untuk membawanya pulang.
"Tidak! Kakak akan berbohong lagi kan? Sama saja dengan ayah" Olivia membuang muka.
"White.. kau tahu kan dia ini bukan manusia? Dia bisa saja menggigitmu" bisiknya sambil melirik pria itu.
Olivia dengan polosnya menoleh kearah pria itu yang sedang melipat kedua tangannya.
"Pulang yah? Nanti ku bacakan dongeng" Kelvin berusaha membujuk adiknya itu.
"Tap--" terpotong karena Kenzo menggendong adiknya.
"Kelvin, peringati dia untuk tidak membawa White kabur dari kastil, ayo kembali!" ujarnya yang masih menggendong Olivia.
"Baik tuan" jawab pengawal.
Sesuai instruksi dari Kenzo saudaranya ia pun memperingati pria yang membawa kabur adiknya sampai ke bukit tinggi.
"Jauhi adikku, jangan pernah muncul lagi di kediaman Sagara!" ujarnya lalu pergi meninggalkan pria itu sendirian.
Gadis tadi kenapa? Batin pria itu.
__ADS_1
Dari sini pria itu selalu dibuat penasaran oleh Olivia, seperti ingin tahu lebih banyak lagi tentang gadis kecil itu. Tapi siapa sangka pertemuan pertama mereka akan menjadi pertemuan terakhir.