Suami Vampirku

Suami Vampirku
Di Hapus


__ADS_3

Di Hutan.


"Kalian benar-benar.. ingin membuatku dalam masalah ya?" kesal Olivia.


K2 langsung bangkit dan membersihkan setetes darah yang ada pada sudut bibir Kelvin, kini keduanya menundukkan kepalanya seolah-olah tahu apa kesalahan yang mereka perbuat.


"Maafkan kami White" ujar kedua kakak beradik itu langsung membungkukkan tubuhnya dengan rasa bersalah.


"Sudahlah ayo kita kembali ke perkemahan" jawab Olivia langsung menggandeng kedua lengan kakaknya.


"Kakimu bagaimana?" tanya Kenzo.


"Tenang saja, sudah agak membaik" ucap Olivia yang masih berjalan menggandeng keduanya.


"Ya, kami percaya padamu bahwa kau gadis kuat" puji Kelvin.


"Haha, kalian ini terlalu deh" Olivia yang tertawa.


Sepanjang perjalanan ke perkemahan mereka terus mengobrol tanpa terasa perjalanan mereka sangatlah singkat, Rendra yang melihat Olivia kembali dengan menggandeng K2 begitu juga dengan Ansel, dia hampir tidak percaya pada pengelihatannya sendiri.


Diantara K2 siapa yang menyukai Olivia? Tidak mungkin kan aku.. kalah saing dengan mereka? Tapi tidak masalah kalah saing dengan mereka, kecuali jika aku kalah saing dengan Rendra. batin Ansel.


"Baguslah kau sudah kembali, dikarenakan ini hari terakhir perkemahan kita.. kalian bersenang-senanglah malam ini kita akan kembali ke kota" jelas kepala sekolah.


"Yeay!" ucap semua murid-murid.


"Kalian ingin temani aku ke sungai kan?" tanya Olivia kepada kedua kakaknya.


"Apapun yang membuatmu senang, kami akan menemanimu" jawab Kenzo.


"Aku ikut saja" seru Kelvin.


Rendra yang ingin menghampiri Olivia namun lengannya ditahan oleh Ansel seakan-akan membiarkan K2 menang namun tidak dengan Rendra.


"Sepertinya kita kalah saing, ayo kesana" ingin menghampiri namun ditahan.


"Aku sengaja membiarkan mereka menang, tapi.. jika bersaing denganmu, aku tidak akan membiarkanmu menang" jelasnya tersenyum dengan penuh siasat.


"Ingatlah kau tidak bisa bersaing denganku" jawabnya.


"Baiklah kita lihat saja" Ansel yang pergi meninggalkannya sendirian.


Rasa bersalah pun muncul dihati Rendra karena semua yang sudah direncanakan olehnya menjadi kacau seperti sekarang, kalau saja dulu dirinya tidak terlalu keras dengan wanitanya pasti semua akan berjalan dengan lancar.


Ini semua salahku, andai saja dari awal aku tidak terlalu keras kepadanya pasti Olivia masih setia berada di sisiku dan tidak berani pergi. batin Rendra.


Sungai Belakang Perkemahan.


Olivia yang sedang bermain air dengan kedua kakaknya membuatnya sangat bahagia menikmati keindahan alam dunia luar, K2 hanya bisa mengiyakan permintaannya karena kalau tidak Olivia tidak akan lagi menuruti kakak kakaknya.


--SPLAS--


"Ayo kak sini masuk kedalam air, segar sekali disini, apa kalian ingin merasakan airnya?" ujar Olivia.


"Tidak, melihatmu saja sudah cukup" jawab datar Kelvin.


--BYUURR--


Dengan tangannya sendiri Olivia menyiram kedua kakaknya agar bisa merasakan segarnya air sungai, lalau K2 membalas adiknya dengan berjongkok dipinggir sungai.


"Basah lho basah! Hahaha! Ekspresi kalian begitu datar sekali" Olivia yang tertawa terbahak-bahak.


"Kau menantang kami? Baiklah, jangan salahkan kami jika kau kedinginan. Kelvin ayo turun dan balas gadis kecil ini" Kenzo yang terpancing.


"Bukan masalah besar" K2 sekarang yang turun ke sungai hanya untuk membalas perbuatan Olivia.


Memerhatikan anak-anaknya dari jauh yang sedang bermain air disungai membuatnya tidak perlu khawatir lagi dengan putri kecilnya, karena K2 tahu apa yang harus dilakukan oleh mereka berdua.


"Sepertinya.. Kenzo dan Kelvin memang bisa diandalkan, belum pernah aku melihat putriku sebahagia ini"


Ini pertama kalinya Vernon melihat anak gadisnya tersenyum bahagia apalagi tertawa lepas dengan kedua putranya.


"Dari kecil putri selalu menginginkan ini, tapi yang mulia terus melarangnya"


"Kau benar, semua ini salahku memang salahku.. sudahlah lebih baik jangan mengganggu mereka"


"Baik yang mulia"


Perkemahan.


Sepanjang hari pandangan Rendra dan Ansel tidak terlepas dari Olivia dan K2, bagaimana tidak? Sejak mereka kembali dari sungai ia seperti ratu yang dikelilingi pelayannya, dari mulai mengeringkan rambutnya, menyuapinya makanan dan yang terakhir mereka bermain monopoli bersama Viona.


"Apa kau tahu sebenarnya aku sangat kepanasan disini" bisik Ansel sambil melihat perlakuan K2 terhadap Olivia.


"Walaupun kita sedang bersaing tapi tetap harus profesional" jawabnya matanya juga memperhatikan mereka.


"Tapi melihat kedekatan K2, Olivia dan bu Viona, menurutku mereka seperti keluarga kecil yang sedang bahagia" jelas Ansel.


"Kau benar sekali, Olivia sudah lama menantikan kehangatan seperti ini" mendengar ucapannya Ansel langsung meliriknya sambil mengerutkan dahinya.


Apa yang dia tahu tentang Olivia? batin Ansel.

__ADS_1


Melihat kesenangan keempat orang itu seperti melihat satu keluarga yang harmonis namun kekurangannya hanya satu, yaitu seorang ayah.


"Aish! aku mengapa kalah terus? bu Viona curang" ucap Olivia dengan nada memelas.


"Jangan hiraukan dia bu Viona, dia pantas kalah hahaha!" Kelvin yang meledek.


"Hei! Kau kenapa menendangku ke penjara?" kesal Olivia.


"Salahkan dadumu" ejek Kenzo.


"Dasar rempong!" kemudian Olivia mengacak-acak rambut Kenzo.


"Ibu sudah memenuhi jalan kalian, hayo.. kalian bertiga sudah kalah" ucapan pemenang yang sesungguhnya.


"Baiklah apa permintaan bu Viona?" tanya Olivia.


"Teraktir ibu sepuasnya saat kita sudah kembali ke kota" ujar Viona dengan berbisik.


"Tidak masalah" santai Olivia.


"Ya ya, terserah kau yang penting gunakan kartumu untuk hal yang baik" ucap Kenzo yang menjadi penasihat.


Ketiga orang itu kelelahan karena banyak sekali jenis permainan yang mereka mainkan, ini pertama kalinya K2 merasakan bagaimana bermain monopoli dengan seorang ibu walaupun Viona juga bukanlah ibu kandungnya.


Tapi kehangatan seorang ibu terasa sekali sampai mereka pingsan kelelahan, begitu juga Olivia yang tertidur dengan menyandarkan kepalanya dibahu Kenzo.


"Diluar dugaanku ternyata Kenzo dan Kelvin.. mereka orang yang cepat beradaptasi berbeda dengan yang aku lihat sebelumnya, begitu juga Olivia dia adalah gadis yang periang" gumamnya sambil mengelus rambut Olivia.


Terdengar samar-samar suara keributan ternyata para murid yang berteriak heboh seperti kedatangan pria tampan, benar saja kehebohan para murid disebabkan oleh seorang pria tampan dan dia juga pemilik sekolah ternama di kota A yaitu: High School College.


'siapa om om ini? wajahnya tampan sekali'


'tapi kenapa wajahnya pucat sekali'


'tidak peduli, yang penting aku dapat fotonya'


Kepala sekolah langsung menenangkan para murid yang heboh itu dan memperkenalkan pria tampan itu kepada para murid.


"Anak-anak! tenang jangan berteriak, perkenalkan ini adalah Tuan Vernon, pemilik sekolah kita dia juga yang merekomendasikan tempat ini untuk kita berkemah" jelasnya.


'pemilik sekolah kita? wow sangat kaya'


'jadikan aku istrimu'


"Saya kemari bukan karena saya yang merekomendasikan tempat ini, saya juga kesini untuk anak-anak saya" ujar Vernon yang membuat kepala sekolah dan murid-murid lainnya kebingungan.


"Anak-anak tuan? Jadi.. anak-anak tuan juga sekolah disini?" tanyanya yang tidak percaya.


"Tuan, Nona White dan tuan muda ada didalam tenda sana" ucap Amor asisten pribadinya saat ini.


"Bisa kalian membiarkan kami pergi?" tanya Vernon tidak nyaman dengan kerumunan orang.


"Silahkan" jawab kepala sekolah.


Setelah berabad-abad tidak melihat wajah wanita yang dicintainya, kini Vernon bisa melihat wanita itu kembali walaupun hanya kebetulan mirip atau memang Viona adalah reinkarnasi mendiang istrinya yang ratusan tahun tewas.


Sungguh mirip sekali dengan Sonya, pantas saja Olivia selalu ingin kembali ke dunia manusia. batin Vernon.


"Tuan, ada yang bisa aku bantu?" tanya Viona yang agak sedikit terkejut.


"Apa anda tahu dimana tenda anak-anakku?" jawab Vernon sambil melirik tenda yang lain.


"Anak-anak tuan? Aku bahkan tidak mengenal mereka" ucap Viona dengan polos.


"Benar bu, apakah Nona besar White dan Tuan muda ada disekitar sini?" tanya Amor.


"Oh itu--" terpotong karena mendengarkan kegaduhan sang anak.


Belum selesai berbicara mereka dikejutkan dengan suara kegaduhan di tenda Viona, siapa lagi kalau bukan K2 dan Olivia yang membuat keributan.


"Kalian minggirlah!" kesal Olivia yang berusaha keluar namun terus ditahan oleh K2.


"Kami duluan yang akan keluar!" gerutu K2.


"Hei! 2 lawan 1 curang sekali kalian, minggir tidak?!" teriaknya.


Ketika Amor membuka resleting tendanya ketiga orang itu langsung terkejut melihat sang ayah yang sudah berada di depan mereka dan menyaksikan kegaduhan yang mereka ciptakan.


--SREEETTT--


"Nona, Tuan muda, kalian sedang apa?" tanya Amor.


"Ayah?!" teriak ketiganya.


"Jadi.. mereka ini anak-anak tuan? Tolong jangan marahi mereka ini semua salahku" Viona yang memohon.


"Karena permintaan bu Viona sendiri saya akan memaafkan perilaku anak-anak saya" ujar Vernon dengan menatap K2 dan Olivia.


Apa-apaan ini? Kenapa jadi Nona besar? Bukankah Amor sering memanggilku 'putri'? Ah, atau mereka sedang menyamar didunia manusia? Hueuh dasar ayah!. Batin Olivia.


"Kami mohon pamit ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting, sampai bertemu kembali ibu Viona" Olivia yang merasa bahwa sang ayah sedang mengejar Viona.

__ADS_1


Viona merasakan ada sesuatu yang aneh ketika melihat Vernon, seperti melihat seseorang dimasa lalu.


Apa aku pernah bertemu dengan pria tadi?. Batin Viona.


Ditempat Lain.


Dunia memang sangat sempit Vernon dipertemukan kembali dengan lelaki yang hampir membuat Olivia meninggalkan kediaman Saga ratusan tahun yang lalu, langsung pada inti tujuannya ke dunia manusia, Vernon memperingati Rendra untuk menjauh dari anak gadisnya dengan ancaman nyawa.


"Lama tidak bertemu, ternyata kau masih sama selalu mendekati putriku" ucap Vernon membuat putrinya kebingungan.


"Ayah, kenal dengan Rendra?" tanya Olivia.


"Bukan hanya kenal ayah juga tahu bagaimana keluarganya, satu hal lagi, sebaiknya kau jauhi lelaki ini daripada menyesal dikemudian hari" jelasnya.


Tatapan mata Olivia penuh dengan tanda tanya bahkan bukan hanya sekedar pertanyaan, dirinya juga sedang mencerna kembali perkataan ayahnya barusan.


Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Rendra dimasa lalu? Sampai membuat ayah semarah ini?. batin Olivia.


"Kau tidak bisa memisahkan kami karena kami--"


Dengan cepat ia memotong perkataan Rendra yang pada saat itu ingin mengatakan bahwa mereka terikat kontrak pernikahan hanya melalui kalung yang melingkari lehernya saat ini.


"Aku akan berusaha menjauhinya ayah" dengan nada terpaksa Olivia mengatakan itu.


Olivia memberi isyarat kepada Rendra dengan menggelengkan kepalanya agar tidak membantah perkataan ayahnya, jika ayahnya tahu yang sebenarnya mungkin sekarang ayahnya sudah menghabisi Rendra.


"Kau ingat itu kata-kata putriku, jauhi dia jangan mencoba untuk mendekatinya, karena selama ada aku di dunia manusia aku tidak akan pernah membiarkanmu sejengkal saja. Berdekatan dengannya" jelasnya.


Jangan membantah ayahku, kumohon.. kalau tidak, dia akan membunuhmu. batin Olivia.


"Sesuai permintaan putri, aku tidak akan mendekatimu lagi atau mengejarmu lagi" ucap Rendra yang seakan-akan tahu isi hatinya.


"Ayo pergi, masih ada hal lain yang harus diurus" ujar Vernon dengan puas mendengar jawaban Rendra.


Ketika Olivia menjauh sebuah cahaya keluar dari tubuhnya lalu terbagi menjadi dua, cahaya itu sama-sama masuk ketubuh mereka tanpa disadari oleh Olivia dan Rendra.


Hanya kau yang aku tunggu selama ratusan tahun.


Mendengar isi hati Rendra barusan langkahnya terhenti sejenak dan menoleh kearah Rendra, namun saat Olivia menoleh sayangnya tidak ada orang sama sekali dibelakangnya.


Aku mungkin terlalu lelah. ujarnya dalam hati.


********


Jurang Lahar Panas.


Ternyata hal penting yang dikatakan ayahnya adalah menghukum para vampir yang kemarin sudah berani mengepungnya, sebelum di lemparkannya ke lahar panas Vernon mengajukan satu pertanyaan.


"Siapa yang mengutus kalian untuk melukai putriku!" bentak Vernon.


"P-pangeran vampir yang mengutus kami" Olivia terkejut saat mendengar pengakuan dari salah satu vampir itu.


Bukankah dia menolongku pada saat itu? Apa.. jangan jangan.. karena dia sedang bersaing dengan Noah?. Batin Olivia.


"Pangeran vampir? Putra Calista? Ini tidak bisa diampuni" kesal Vernon yang langsung menendang para vampir itu kedalam jurang yang terdapat lahar panas.


Tapi ada keraguan saat ingin percaya pada kata-kata vampir tadi, namun Olivia sudah tahu alasannya karena pada saat itu Noah dan Rendra sedang bersaing, yang artinya Rendra memakai cara kotor untuk mengalahkan saingannya.


Ternyata memang benar kau.. tapi kenapa aku..


"White, kau tidak apa-apa?" tanya Kenzo.


"Tidak, aku hanya merasa.. ragu" jawab Olivia.


"Keluarga Xendrick memang patut dicurigai, karena sebenarnya.. hanya klan timurlah yang menginginkanmu mati" jelasnya.


Kenapa aku merasa ini disengaja oleh seseorang? Sebenarnya siapa yang sudah mengadu domba antara keluargaku dan Rendra?


"K2!" panggil Vernon.


"Kami mengerti ayah" jawab K2.


*******


Perkemahan.


Akhirnya perkemahan berakhir malam ini semua murid naik ke bus dan duduk di kursi masing-masing, seperti awal lagi Olivia duduk disebelah Angel, tapi dirinya merasa aneh dengan Angel karena sepanjang kegiatan kemah hanya dia yang tidak muncul.


"Kau kemana saja baru kelihatan?" tanya Olivia.


"Aku minta izin kepada kepala sekolah, karena ada urusan mendadak" jawab Angel.


"Begitu" ucapnya.


Aku akan melindungimu walaupun dari kejauhan..


Lagi-lagi Olivia mendengar suara isi hati Rendra, sontak dirinya langsung bangkit dari duduknya dan menatap ke belakang.


Kau kah itu? Mengapa aku bisa mendengar suara isi hatimu. batin Olivia.


Rendra yang langsung menyadari bahwa sedari tadi Olivia terus menatapnya dengan tatapan matanya sambil mengerutkan dahinya.

__ADS_1


__ADS_2