
''Aku Rika Pamella, dengan sangat tulus meminta maaf pada Delisa Aprilia karena sudah mempermalukan dirinya. Akulah yang memutarkan rekaman suara itu, dengan berita yang tidak tuntas. Aku benar-benar minta maaf, aku juga siap mendapatkan hukuman dari Delisa.''
Suara itu diperdengarkan kepada seluruh mahasiswa yang tentunya terkejut mendengarnya. Seorang Rika meminta maaf pada orang lain? itu adalah hal yang paling mustahil, tapi suara itu memang suara Rika yang mereka sendiri sangat hapal.
''Jadi ku mohon agar kalian yang mendengar rekaman itu jangan pernah berpikir untuk mengganggu Delisa.''
Suara itu masih berlanjut sampai tidak lagi ada suara yang terdengar.
''Dasar ular betina, dia pikir semua orang seperti dirinya, yang bersifat iblis. Mau Delisa janda sekalipun, Delisa tetap unggul darinya, benar tidak?'' ucap seorang mahasiswa yang mendengar suara Rika.
''Iya benar! Delisa orang baik, dia enggak pernah bersikap macam-macam. Bahkan terlihat dia hanya fokus dengan mata kuliah saja,'' timpal lainnya.
Diruangan informasi, Rika mengertakkan gigi-giginya, ia jijik dengan ucapannya sendiri. Tapi apa mau dikata, di kursi sana ada Alvin dan Endy, ayahnya. Yang menatapnya begitu tajam.
Rasanya ia sangat ingin mencabut lidahnya sendiri karena sudah berbicara dengan memohon yang seperti bukan dirinya.
''Sudah Pah…''
''Emm, bagus!''
''Sekali lagi maafkan aku, kak,'' ucap Rika pada Alvin yang tidak menyahutinya dan justru malah pergi meninggalkan ruangan itu.
''Sial!! dia sombong sekali, belum saja terkena pesona seorang Rika Pamella!'' seru Rika yang langsung mendapatkan pukulan dikepalanya dari Endy, sang ayah.
''Jangan pernah berniat menggodanya ataupun mengganggunya apalagi mengganggu Delisa, kalau tidak mau Papa mu kehilangan pekerjaan!'' omel Endy pada putrinya.
Di kedai es krim yang ada di sebrang jalan, Delisa dan Vikar memilih untuk berbincang disana. Keduanya memesan varian es krim yang sama, yaitu vanilla.
Vikar tersenyum mengingat masalalu mereka, dimana ia selalu melihat Delisa merajuk karena Fairuz, kakaknya terus menggoda Delisa. Dan dengan cara ia memberikan ke krim vanila, Delisa langsung bisa melupakan marahnya.
__ADS_1
''Terima kasih ya, kak,'' lirih Delisa sambil menyendokkan es krim cup ke mulutnya.
''Del?''
''Emm?''
''Aku sudah mendengar semua tentang mu, dan maaf menurut ku. Kamu enggak perlu malu justru lelaki itu yang seharusnya malu.''
Delisa menatap datar Vikar, ia masih menyimak apa yang sedang dikatakannya.
''Kamu kuat, kamu gadis pemberani. Ingat saja itu,'' lanjut Vikar membuat Delisa tersenyum singkat.
Setelah menghabiskan eskrim, mereka pun memutuskan untuk pulang dengan Vikar yang menawarkan untuk mengantarkannya dan Delisa pun menyetujuinya.
''Kemana Abang?'' tanya Delisa.
''Fauzan sedang di lapangan, ada kerjaan lain. Kamu enggak apa 'kan malam nanti sendirian?''
Vikar menepuk dahinya, entah kenapa ia tiba-tiba merasa bodoh bertanya yang sudah jelas sangat memalukan itu.
Saat sampai dipekarangan rumah, kebetulan juga ponsel Vikar pun berdering dan yang Delisa dengar kalau Vikar dihubungi oleh seniornya untuk segera menghadap.
Vikar melirik kearah Delisa yang juga sedang melihatnya dengan alis yang terangkat. ''Ya sudah kakak pergi cepat, aku keluar dulu ya.'' Delisa pun melepaskan seat belt-nya.
''Del, beneran kamu enggak apa-apa?''
''Enggak apa-apa Kak …''
Vikar menatap khawatir pasalnya Delisa baru saja mengalami syok karena dipermalukan didepan umum dan ditambah laporan cuaca yang mengatakan akan turun hujan petir membuat Vikar berat meninggalkan Delisa sendirian dirumah.
__ADS_1
''Kalau gitu, nanti aku bantu izinkan Fauzan untuk pulang saja.''
Delisa tertawa lagi dengan rasa cemas Vikar yang menurutnya berlebihan. Tapi dia sendiri merasa senang karena Vikar baginya adalah seolah kakak kedua selain Fauzan.
Delisa pun turun dari mobil dan Vikar melajukan mobilnya dengan ragu tapi karena sudah menjadi kewajibannya, dia pun harus melaksanakan tugasnya.
Baru saja Delisa akan melangkah masuk kerumah seorang kurir makanan datang dengan sepeda motornya.
''Mbak Delisa, benar?''
''Iya, mas.''
''Ini mbak, pesanannya.''
Delisa mengernyitkan dahinya merasa tidak memesan makanan apapun, tapi kenapa ada makanan yang datang.
''Saya tidak pesan, mas.''
Kurir tersebut pun hanya bisa menggaruk tengkuknya karena ikut bingung. Dia pun mengeluarkan ponselnya lalu menunjukan alamat dan dan penerimanya yaitu dengan nama Delisa sendiri.
Karena tidak ingin membuat kurir itu sedih karena id cansel, Delisa pun menerimanya, kebetulan juga untuk dia makan malam nanti.
''Berapa mas?''
''Sudah dibayar mbak, kalau gitu saya permisi ya. Mari…''
Delisa menatap paper bag yang tertera merk dari makanan itu. Ia membawanya kedalam rumah dan diletakkannya dimeja dapur.
''Mandi dulu deh,'' gumam Delisa meninggalkan paper bag makanan itu.
__ADS_1
Delisa melangkah pergi tanpa tahu dulu isi dari makanan tersebut yang ternyata adalah brownies coklat yang sangat menggugah selera dengan sebuah note.
''Makanlah, jangan bersedih. Kamu cantik.'' Tulisan tangan itu sangatlah indah yang pasti penulis tersebut sangat mengharapkan bahwa Delisa segera membacanya dan memakan kirimannya.