
Vikar adalah teman sabaya Fauzan kakak kandung dari Delisa. Sedari masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, mereka terus bersama-sama hingga pada akhirnya memutuskan untuk menjadi tentara angkatan laut.
Sejak dulu Vikar tertarik pada Delisa, saat ia masih SMP pun ia menyimpan sebuah rasa yang tidak biasa pada anak kecil yang masih duduk di sekolah dasar itu.
Lambat laun perasaan yang tidak biasa itu berubah rasa suka hingga sampai saat ini. Dan disinilah Vikar berada, di gedung Universitas Indonesia yang dia tau itu adalah tempat Delisa berkuliah.
Tapi saat ia datang, ternyata gadis yang menjadi alasannya berada disana sedang dipermalukan oleh seseorang yang perlu ia cari tahu. Tapi sebelum itu, ia lebih dulu mencari keberadaan Delisa, ia khawatir dengan gadis manja itu.
Matanya menangkap gadis yang sedang beraliran ditengah para mahasiswa yang menatapnya seorang Delisa melakukan tindakan kriminal. Diam-diam Vikar pun mengikuti kemana Delisa pergi dan pada akhirnya di rooftop lah dia berada.
Dan ternyata, bukan hanya Vikar yang mengikuti Delisa pergi, ada Alvin yang juga mengejar langkah Delisa. Namun, sayang ia kalah cepat oleh Vikar yang sudah lebih dulu berada didepan Delisa yang tengah menangis.
Alvin mematung di tempatnya, dan dengan berat hati iapun berbalik pergi. Tangannya mengepal kuat mengingat bagaimana Delisa dipermalukan tadi. Hatinya bertekad akan mencari orang yang sudah membuat Delisa menangis.
Ia berjalan begitu cepat, dan ruangan informasi lah tujuannya kali ini. Tapi begitu ia sampai diruangan itu, tidak ada satu orang pun yang berjaga disana.
''Sial!''
Alvin kembali keluar, ia akan mencari tahu itu sendiri. Tidak peduli siapa pelakunya, dia akan pastikan sang pelaku mendapatkan hukuman darinya.
__ADS_1
Brakkk !!
Alvin membuka paksa ruangan rektor, tanpa salam ia masuk begitu saja dan disana ada penghuni ruangan itu dan seorang gadis yang sedang duduk berselonjor disofa.
Alvin tersenyum sinis melihatnya, dan sepertinya dia tahu siapa pelaku pemutaran suara itu.
''Nak' Alvin, ada apa?'' tanya rektor tersebut begitu sungkan.
''Kak Alvin?'' sapa Rika, anak dari rektor itu.
''Duduk saja!'' ucap Alvin begitu dingin sehingga sang Rektor dan Rika yang tadi mengambil posisi berdiri langsung duduk sesuai perintah Alvin.
Siapakah Alvin sehingga membuat mereka yang bahkan kedudukannya tinggi bisa bersikap hormat padanya. Ya Alvin adalah anak dari salasatu pemilik yayasan kampus itu. Saham orang tua Alvin yang besarnya mencapai 55 persen membuat dihormati dan disegani oleh semua petinggi yayasan.
Pria 27 tahun itu menatap Rika begitu tajam, sehingga membuat gadis 25 tahun itu tersipu malu karena menganggap kalau Alvin tengah memperhatikannya.
''Kenapa kau melakukan itu?'' tanya Alvin begitu datar.
Rika terdiam dengan raut wajah yang berubah dengan cepat. Begitu juga rektor tersebut, ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
''Nak Alvin, ada apa ini?''
''Anda bisa tanyakan itu pada putri mu!''
Tuan Endy, nama dari rektor itu menatap tajam pada putrinya yang sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam.
''Ada apa ini Rika?''
Rika tetap bungkam, dia tidak mau mengakui apa yang telah ia perbuat.
''Kuberikan waktu selama lima belas menit kalau misalkan kau belum mengakuinya juga, aku akan menyeret mu kedalam penjara karena sudah membuat kerusuhan juga sebagai pelaku bullying di kampus ini!'' ancam Alvin bersungguh-sungguh.
Mendengar itu Tuan Endy tentu mencerca banyak pertanyaan kepada putrinya yang masi lh saja terdiam.
Plak! ''Anak tidak tahu diri! kau sudah mempermalukan papah, Rika!'' bentak Endy pada putrinya.
Alvin hanya memperhatikan drama ayah dan anak itu dengan kaki yang menyilang, pertunjukan itu ia anggap sebagai hiburan baru untuknya.
''Ya Kak, aku yang melakukannya, jangan seret aku kedalam penjara, kumohon!'' dan pada akhirnya Rika pun menyerah karena desakan Endy, walaupun dia sendiri juga sebenarnya takut kalau misalkan harus berakhir di dalam penjara.
__ADS_1
''Aku tidak meminta mu mengaku dihadapan ku, tapi lakukanlah seperti apa yang kau lakukan saat mempermalukan mahasiswa baru itu!''
Rika menggelengkan kepalanya, tapi Endy memaksa untuk melakukannya. Dengan ancaman akan mencabut semua fasilitas yang ia pakai selama ini.