
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu belakang, dan Delisa terkejut karena ada beberapa orang yang datang dari pintu belakang dengan berbagai makanan dan minuman ditangannya.
Delisa ternganga, karena tidak tahu orang-orang itu datang dari mana, dan seingatnya, sang kakak juga tidak pernah mempekerjakan orang dirumahnya. Lalu siapa mereka?
Delisa menatap pada Alvin, tatapan yang penuh dengan pertanyaan. Dan pastinya Alvin mengerti arti tatapan itu.
''Itu orang-orang ku, maaf aku pakai pintu belakang mu,'' sahut Alvin dan Delisa hanya bisa terdiam dengan rasa penasaran, siapa sebenarnya Alvino ini?
''Delisa?'' Alvin menggedikkan kepalanya meminta Delisa ikut dengannya ke ruang tamu yang dimana disana orang tua dan kakak Delisa sendiri, sudah menunggunya.
Delisa pun mengangguk dan berjalan dengan ragu, dan terus merapikan rambut panjangnya. Entah kenapa ia tidak mau terlihat berantakan didepan orang tua Alvin.
Alvin menyadari gerak-gerik Delisa yang gugup, dengan lembut ia meraih tangan Delisa lalu menggenggam dan menggandengnya. Bukannya tenang Delisa justru semakin gugup.
''Itu dia Pah, cantik 'kan?'' ucap Alisha, ibu dari Alvino.
Mendengar ucapan perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu, perhatian semuanya teralihkan, dan langsung melihat kearah Delisa dan Alvin yang baru datang.
''Selamat malam Tante, Om…'' ucap Delisa begitu manis, dan yang pasti Alisha, ibu dari Alvino menanggapinya dengan senang tapi tidak dengan Elvano, Ayah dari Alvino. Beliau hanya mengangguk samar dan menatap datar pada Delisa.
''Kemarilah nak'. Mama kangen sama kamu,'' ucap Alisha meminta Delisa untuk duduk didekatnya dengan merentangkan kedua tangannya.
Delisa yang mendengar penuturan Alisha tentu sedikit tersentak, ia mendapatkan sikap hangat seperti itu tentu merasa terharu dan tersipu.
Belum semuanya memulai kembali obrolannya, seorang wanita salasatu orang yang membawa makanan dari pintu belakang pun datang kesana dengan beberapa hidangan ringan untuk disuguhkan kemeja.
__ADS_1
Fauzan terkejut, karena tidak merasa mempekerjakan orang itu, lantas ia pun menatap Delisa dengan bertanya melalui isyarat. Dan Delisa hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan samar lalu menggedikkan kepalanya kearah Alvin yang pastinya Fauzan pun langsung mengerti.
Ya Alvin juga tidak mau meninggalkan kesan tidak baik untuk keluarganya sendiri, dari Delisa dan Kakaknya. Walaupun dia sendiri tahu kalau Mama dan Papanya tidak pernah mempermasalahkan hal kecil itu. Namun, tetap saja ia ingin Delisa dan Fauzan dipandang baik oleh orang tuanya sendiri.
''Mestinya kalian tidak perlu repot-repot, kami datang diberikan air mineral pun sudah banyak terima kasih. Pasti merepotkan kamu ya?'' ucap Alisha dengan tangan yang mengusap lembut rambut panjang Delisa.
''Eum,, o-oh enggak kok, Tan!'' jawab Delisa begitu gugup dan melirik kearah Alvin yang sedang menyembunyikan senyumannya.
''Kami sudah bicarakan perihal kelanjutan hubungan kalian. Jadi bagaimana, apa kalian sudah menyiapkan hari bagusnya?'' ucap tiba-tiba Elvano yang bicara begitu serius.
''Hah? hari bagus?'' cetus Delisa yang memang tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh pria paruh baya itu.
''Dek, orang tua Alvino sudah bicara pada Abang. Dan Abang juga akan menyerahkan itu kepada kalian,'' timpal Fauzan yang mengerti kalau adiknya yang terlihat kebingungan.
''Dan maaf, saya mengatakan ini. Kalian kesini 'kan untuk memperjelas hubungan antara anak kalian dan adik saya. Tetapi perlu kalian ketahui, mereka juga belum memulai hubungan itu. Dan sebagai mana kita adalah wali mereka, kita juga harus memberikan waktu untuk mereka mengenal satu sama lain. Sebelum mereka masuk kedalam setatus yang lebih serius.''
Elvano dan Alisha memicing kearah anaknya, dan Alvin hanya bisa menggedikkan kedua bahunya dengan santai.
''Kalau begitu baik, kita berikan waktu mereka untuk mengenal satu sama lain terlebih dahulu, seperti yang Anda katakan!'' balas tegas Elvano.
''Tapi sebelum itu, sepertinya kalian harus tahu masalalu adik saya, untuk mencegah penyesalan dan agar tidak ada masalah kedepannya. Setelah itu terserah kalian akan bertindak apa untuk mereka.''
Delisa mulai resah, begitu juga dengan Alvino. Mereka berdua seperti mengerti apa yang di maksud Fauzan.
''Masalalu?'' Alisha menatap pada Delisa dan Alvino secara bergantian.
''Iya Nyonya, adik saya ini pernah menikah sebelumnya.'' Alisha maupun Elvano sedikit tersentak tapi tetap ingin mendengarkan kelanjutan ucapan Fauzan.
__ADS_1
''Tapi disaat kata Sah mulai dikatakan oleh beberapa saksi dan orang-orang yang menyaksikan pernikahan itu. Pria yang menikahi adik saya tiba-tiba menjatuhkan Talak nya tanpa penjelasan yang pasti.'' Fauzan menjeda ucapannya, dan diam-diam ia menyeka air matanya yang hampir luruh.
Hancurnya hati seorang Abang pada pria yang membuat adiknya bersedih, yang sepertinya sampai kapanpun ia tidak akan bisa memaafkan pria tersebut.
''Dan sebab itu pula, ayah kami berpulang. Dan jikalau mungkin kalian mau memikirkan lagi untuk melanjutkan niat baik ini, saya tidak masalah. Dan satu lagi yang ingin saya sampaikan, kalau kami sudah mengurus pembatalan pernikahan di meja hijau. Jadi dapat dipastikan setatus hukum adik saya masih melajang.''
Delisa tertunduk, ia malu. Tapi ia juga tidak menyalakan Abangnya yang mengatakan itu semua, karena bagaimanapun memang itu harus dibicarakan.
Mereka terdiam sejenak, dan Fauzan sudah mulai pasrah. Ia tahu masalalu adiknya tidak mudah untuk diterima oleh orang tua dari pria yang menyukai adiknya, maka dari itu ia bicarakan semuanya sebelum membuat adiknya menghadapi masalah kedepannya.
Tapi tidak, apa yang mereka khawatirkan kalau kedua orang tua akan menentang hubungan mereka, Alisha justru terisak begitu mendengar cerita Fauzan. Alisha memeluk Delisa yang hanya bisa tertunduk malu itu.
''Pasti berat ya? tidak apa-apa, jadikan itu pengalaman hidup mu, oke?'' ucap Alisha begitu lembut.
''Lalu pelajaran apa yang pria itu dapat dari kalian?'' tanya Elvano tiba-tiba. Dan tidak ada ya g menjawabnya.
''Kamu sebagai kakak apa diam saja melihat adik mu dipermalukan seperti itu?'' Fauzan tersentak, yang semula ia mengira kalau Elvano dan Alisha akan mempertimbangkan rencana kelanjutan hubungan antara Delisa dan Alvin, tapi ternyata tanggapan Elvano membuat ia terkejut.
Ya dapat terlihat jelas raut wajah penuh amarah pada wajah Elvano, yang ikut merasa kesal pada Wahyu, pria yang sedang mereka bicarakan itu.
''Tentu saja saya marah Tuan. Tapi kalau saya membalas itu, bukankah kita akan terlihat sama bajingannya dengan dia. Dan benar apa yang dikatakan Nyonya, itu kami jadikan sebagai pengalaman hidup kami untuk menghadapi masalah yang lebih besar nanti agar tetap kuat dan tegar.'' Alisha mengangguk-anggukkan kepalanya karena merasa apa yang dikatakan oleh Fauzan ada benarnya. Tapi tidak bagi Elvano yang berdarah mafia, ia masih merasa kesal dengan pria yang di maksud itu.
Happy Reading...
Mampir juga kekarya teman author ya, ga kalah serunya lho 🤗Novel author AdindaRa
__ADS_1