Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Kebohongan Yang Terkuak


__ADS_3

''Ayah mu meninggal?''


Wahyu mematung, sungguh! ia benar-benar tidak mengetahui kabar itu. Karena hari setelah ia memberikan Talak dan ikut mengantarkan Pak Herman kerumah sakit. Dia langsung dibawa oleh ibunya ke ibukota.


Rasa bersalahnya semakin dalam pada gadis yang sangat ia cintai itu. Karena dia sangat tahu, ayah dari Delisa jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit itu semua karena dirinya, dan bisa sampai meninggal semua memang karena dirinya.


''A—aku benar-benar tidak tahu, Del. Maafkan aku,'' lirih Wahyu yang berusaha menjangkau tangan Delisa tapi dengan kasar Alvin menepisnya.


''Sudah cukup! belum puas kamu memberikan luka padanya,'' ucap Alvin dengan dingin.


''Delisa tolong dengarkan aku,'' ucap Wahyu lagi yang tidak menyerah ingin bicara pada Delisa yang masih menangis di pelukan Alvin.


Alvin memicing, tangan kirinya mengambil ponselnya dari saku lalu menghubungi seseorang, dan tidak lama kemudian. Sebuah mobil berhenti tepat didepan mobil kuning milik Wahyu.


Alvin membawa pergi Delisa menaiki mobil tersebut yang ternyata itu adalah miliknya sendiri. Wahyu ingin mencegahnya tapi ibunya, Heni, Menahannya.


''Sudah Wahyu, kita pergi dari sini!'' Heni menarik tangan anak lelakinya. Tapi Wahyu menepis tangannya.


''Bu! apa ibu tahu, karena Wahyu pak Herman meninggal, Bu!'' pekik Wahyu.


Heni terperanjat tidak percaya pada anaknya yang bisa berbicara bernada tinggi padanya. Pasalnya Wahyu belum pernah menentangnya bahkan bicara keras pun tidak pernah. Tapi hari ini karena Delisa, ia membentak ibunya sendiri.


''Nak' pak Herman meninggal itu karena memang sudah waktunya dia untuk mati. Lagipula Ibu dengar dia memang penyakitan!''


Wahyu menatap tidak percaya pada ibunya yang bisa berbicara seperti itu. Bahkan pada orang yang sudah tidak ada di dunia ini. Rasa sesal yang ada didasar hati semakin besar.


Dia pun menyesali telah menuruti kemauan ibunya.


Wahyu menggelengkan kepalanya dengan senyuman sinis. ''Lho iya toh Le, pak Herman memang meninggal karena penyakitan, enggak salah 'kan ibu bilang begitu. Itu berarti menandakan dia tidak menjaga kesehatannya. Tidak seperti ibu yang sehat sampai setua ini!''


Heni membanggakan dirinya sendiri, tanpa sadar ia telah membongkar kebohongannya sendiri didepan anaknya.


Satu alis Wahyu terangkat, menatap aneh pada ibunya, seraya berkata, ''Ibu sehat?''


''Iya lah pasti, ibu 'kan selalu menjaga pola makan ibu.''


''Tapi bukankah Ibu bilang kalau ibu sakit kangker?''


Degh!


Heni mematung, bibirnya seketika keluh. Dia tidak sadar dengan apa yang dia katakan. Dia juga lupa dengan sandiwaranya sendiri. Lantas ia harus apa? mengakuinya kah, atau melanjutkan sandiwaranya.


''Bu?''


''Ah iya. Kenapa kamu malah mengingatkan ibu dengan penyakit sialan ini. Ibu sudah melupakannya tapi kamu malah mengingatkannya,'' ujar Heni begitu dramatis.


''Kalau begitu besok aku akan membawa ibu kontrol.'' Wahyu berlalu masuk ke mobilnya setelah mengatakan hal demikian. Yang tentunya membuat Heni kelabakan tak karuan.


Dia takut, takut jika Wahyu mengetahui bahwa dia telah menipunya dan membuat anaknya menceraikan istri tercintanya karena sandiwaranya.


''Wahyu! ibu tidak mau ke dokter lagi! ibu sudah berobat ke pengobatan alternatif!''


Ditempat lain, tepatnya didalam mobil yang sudah berada di parkiran kampus. Delisa masih menangis lirih dikursinya. Alvin yang duduk berjarak karena Delisa yang memintanya untuk sedikit menjauh hanya bisa menunggu Delisa puas meluapkan emosi nya dengan menangis.


''Jika kamu mau berteriak, silahkan! Mobil ini kedap suara. Terkadang kamu perlu berteriak untuk melepaskan beban yang ada dihati mu,'' ujar Alvin tanpa menoleh kearahnya melainkan menatap ke luar mobil melalui kaca.

__ADS_1


Tidak Delisa tidak berteriak, ia masih punya rasa malu. Biar bagaimanapun Alvin hanya orang luar yang bisa saja berbuat jahat padanya.


Merogoh tasnya lalu mengambil tisu basah untuk ia usapkan ke wajah nya. Mata yang sembab menandakan waktu yang cukup lama untuk dia menangisi si brengsek Wahyu itu.


''Dia laki-laki itu kah?'' tanya Alvin tanpa menoleh kearahnya.


Delisa bergumam sebagai jawabannya.


''Kenapa kamu menangis?''..


Hening, tiba-tiba suasana pun hening. Delisa yang tidak tahu harus menjawab apa. Karena tangisannya itu hasil dari luapan emosi yang terpendam selama beberapa bulan ini.


Luka di hati yang mulai sembuh terbuka lagi ketika matanya melihat wajah lelaki yang dulu bahkan sampai saat ini masih menetap dihatinya.


''Kalau kamu menangis karena rasa sakit, keluarkan lah. Tapi jika kau menangis karena hasil rasa cinta mu padanya, maka lupakanlah. Ingat, kamu juga perlu bahagia, kamu perlu bebas.''


Delisa merenung dengan apa yang dikatakan oleh Alvin. Dia benar-benar merasa bodoh karena masih menyimpan nama Wahyu di hatinya. Tapi sungguh dia tidak bisa berbuat apa-apa.


''Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku bahkan tidak mengerti cara melupakannya,'' ucap Delisa begitu lirih, air matanya menetes kembali tapi dengan segera ia menyekanya.


''Buka hati kamu!''


Setelah berkata Alvin melepaskan seat belt nya bersiap akan turun dari mobil, tapi sebelum itu ia menoleh sebentar pada Delisa, seraya berkata. ''Pikirkanlah, setelah itu kamu boleh temui aku.''


Setelah Alvin keluar dari mobil, Delisa juga bersiap keluar tapi seketika ia urungkan karena matanya melihat seseorang yang keluar dari mobil.


''Mobil itu?''


''Tante terima kasih ya, Mas Wahyu terima kasih juga. Kalau tidak ada kalian mungkin aku sudah terlambat!''


''Iya sayang, jangan sungkan. Sudah sana, masuk. Seterusnya calon suami mu inilah yang akan mengantar jemput kamu.''


Degh!


''Jadi kamu berbohong, Wahyu,'' lirih Delisa yang masih duduk didepan mobil milik Alvin.


Dia menatap ketiga orang itu begitu pilu. Secepat itukah Wahyu memiliki calon istri?


Lutut Delisa benar-benar terasa lemas. Baru saja ia akan berniat melupakan Wahyu, tapi kebenaran yang baru saja ia dapat membuatnya ingin pingsan disana.


''Kamu bilang ibumu sakit, tapi nyatanya—'' hiks!


Amarah dendam tersirat diraut wajah Delisa. Ia benar-benar kecewa pada lelaki yang ia cintai itu walaupun sudah menyakitinya. Tapi rasa cintanya tidak sama sekali di anggapnya.


Maka Delisa segera keluar dari mobil menghampiri Wahyu dan yang baru saja keluar dari mobilnya meminta sang ibu untuk segera masuk ke mobil, tapi siapa sangka tiba-tiba Delisa datang dan...


Plak!!


Semua orang terkejut, termaksud Rika yang tidak tahu apa-apa disana.


''Delisa menampar seorang pria?''


''Wah siapa dia?''


''Ada apa dengan Delisa?''

__ADS_1


Suara-suara itulah yang mengisi pagi itu. Dan ternyata sampai terdengar ketelinga, Diva, Hary bahkan ke telinga Alvin yang baru saja akan menaiki anak tangga.


Alvin berlarian ke halaman kampus. Ingin segera melihat Delisa yang tadi ia tinggal didalam mobilnya.


'Plak!!


Tamparan itu sekali lagi dilayangkan Delisa pada pipi Wahyu lainnya.


Mata Delisa memerah dengan genangan air mata disana. Wahyu yang mendapatkan tamparan tentu terkejut, ia memegangi pipinya namun tidak bisa mengatakan apapun.


''Hei! perempuan sundel! kurang ajar kamu ya!'' Heni menarik lengan Delisa tapi tidak sedikitpun membuat Delisa bergerak dari tempatnya.


Matanya masi menatap begitu jam pada wajah pria yang ia cintai namun bisa saja berubah menjadi benci karena kebenaran ini.


''Delisa? ada apa?'' tanya Wahyu dengan meraih tangannya tapi dengan kasar dia menepisnya.


''Jangan pernah berpikir ingin menyentuh tanganku, bajingan! Kau menggunakan cara kuno mu untuk membohongi ku, iya!''


''Apa? membohongi apa, apa maksudmu, Delisa?''


''Cih!'' decih Delisa semakin muak.


''Hei gadis kampung! Lo ini kenapa, apa karena seratus janda lu dibongkar, lo jadi gila begini? iya!'' pekik Rika yang langsung mendorong pundak Delisa.


''Kamu enggak ada sangkut pautnya, lebih baik diam!'' ucap Delisa menekankan setiap perkataannya.


''Kurang ajar ya lo!'' Rika mendorong begitu kuat tubuh Delisa hingga Delisa nyaris terjatuh,


''Rika!'' bentak Wahyu, dan baru saja Wahyu akan menangkap Delisa, sudah ada orang lebih dulu bisa menangkap Delisa.


''Kamu enggak apa-apa?'' tanya orang itu pada Delisa dan kehadiran yang membuat Rika terbelalak takut.


Delisa menggelengkan kepalanya. Ya dia adalah Alvin. Alvin mengangkat pandangannya lalu menatap nyalang pada Rika. Sebuah tatapan membunuh yang terlihat dari kilatan iris matanya.


''Kampungan!'' decih Heni seakan menatap hina pada Delisa.


''Apa Anda bisa bertanggung jawab atas apa yang Anda katakan?'' sambar Alvin pada Heni.


''Anak Anda lah yang kampungan, dan selain itu dia juga pengecut!!''


''Hei!!'' Heni meletakkan telunjuknya tepat didepan wajah Alvin membuat pria 27 tahun itu tersenyum sinis.


''Hei bung! kau bisa bawa ibu tercinta mu pergi dari sini, sebelum saya melupakan bahwa dia adalah orang tua!''


''Kau!''


''Bu sudah Bu!'' Wahyu menarik Ibunya untuk masuk kedalam mobil. Setelah itu ia kembali menatap lekat Delisa, binaran matanya mengisyaratkan rasa bersalah yang amat dalam. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak.


''Maafkan aku, Delisa.'' Diapun masuk kedalam mobil dan berlalu pergi dari sana.


Tinggallah sekarang hanya ada Alvin dan Delisa begitu juga Rika yang masih menundukkan kepalanya dalam-dalam.


''Ayo Del!'' ajak Alvin dengan mata yang masih menatap tajam pada Rika.


Di Kerumunan mahasiswa, Hary dan Diva masih tercengang dengan sikap Alvin pada Delisa yang seakan-akan sudah dekat dengan Delisa.

__ADS_1


''Mereka?'' gumam Hary dan Diva bersamaan. Mereka saling menatap dengan heran, bagaimana bisa Alvin bersikap hangat seperti itu pada orang lain terlebih lagi itu adalah seorang perempuan.


Mata semua orang mengikat kemana Alvin membawa Delisa. Semua juga masih terheran-heran, karena pasalnya yang mereka tahu kalau Alvin adalah pribadi yangs angkat tertutup, bahkan tidak pernah mereka melihat Alvin dekat dengan orang lain selain Hary dan Gery. Dan ini seorang perempuan? sudah pasti itu akan menjadi buah bibir beberapa Minggu ini.


__ADS_2