Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Rembulan Saksi Bisu


__ADS_3

Sebuah hubungan yang sudah mengikat sebuah komitmen yang kuat akan saling saling percaya satu sama lain. Begitu juga dengan hubungan yang terjalin antara Delisa dan Alvin.


Alvino sangat percaya pada Delisa, begitu juga Delisa yang berusaha mempertahankan rasa percaya pada calon suaminya itu.


Seperti sekarang ini, Alvin yang sedang meeting dengan seorang klien wanita cantik, disalasatu restoran ternama yang ada di kotanya terus melirik kearah meja lain yang mana disana terdapat Delisa yang duduk sendirian.


Ya bukan tanpa alasan Delisa ada disana, karena memang Alvin lah yang mengajak Delisa. Kebetulan tidak ada lagi kelas, Delisa lantas dibawa Alvino yang ternyata pergi untuk menemui kliennya. Tidak mau membuat Delisa salah paham, akhirnya ide itupun muncul dipikirannya.


Delisa tidak mengawasi, ia hanya sesekali melirik kearah tempat Alvin dan kliennya duduk. Walaupun terlihat sang klien sedikit menggoda Alvin tapi Delisa akan berusaha untuk percaya pada Alvino.


Mata mereka bertemu, Delisa melemparkan senyumannya begitu juga Alvino yang semakin tidak sabar menyudahi meetingnya.


''Tuan Alvino, apa Anda punya cukup waktu untuk mampir ketempat saya?'' ucap klien wanita itu sendiri sengaja membungkuk tubuhnya untuk memperlihatkan belahan dadanya bertujuan agar Alvin tergoda. Tapi tidak, Alvin bersikap acuh dan menolaknya mentah-mentah.


''Maaf, hubungan kita hanya sebatas rekan bisnis. Jadi diluar itu kita tidak saling mengenal. Kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya pamit undur diri." Alvino beranjak dari duduknya dan klien itupun sedikit tersentak karena mendapatkan penolakan itu.


Ada rasa malu dan kecewa yang menjadi satu. Karena sebelumnya ia tidak pernah mendapatkan penolakan seperti itu, terlebih lagi dengan para koleganya. Tapi kali ini ia benar-benar tidak habis pikir karena pria yang ia sukai ternyata menolaknya mentah-mentah.


"Tapi Tuan Alvino, anda mungkin salah paham." Klien wanita itu buru-buru mencari alasan.


"Tidak Nona, saya juga tidak berpikiran jauh. Saya hanya menyudahi pembahasan yang memang sudah selesai. Disana calon istri saya sudah menunggu, saya permisi."

__ADS_1


Alvin berlalu setelah menggedikkan kepalanya ke arah Delisa. Menunjukkan bahwa wanita yang duduk seorang diri itu, adalah calon istri saya dengan kata lain dia pun mengatakan kalau dia tidak tertarik sedikitpun oleh kliennya itu.


Wajah cantiknya merah padam, menahan malu karena ternyata rencananya sudah terbaca oleh Alvino. Matanya terus mengikuti kemana Alvino melangkah dan benar saja Alvino menghampiri gadis manis yang duduk seorang diri lalu tersenyum menyambut kedatangan Alvino.


Dengan perasaan kecewa dia pun pergi meninggalkan restoran itu. Memang dia kerap menggoda para klien untuk menyetujui idenya dan melancarkan ikatan bisnis tetapi tidak dengan Alvino yang secara terang-terangan menolak nya.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap Alvino.


"Tidak masalah," jawab Delisa.


dan mereka pun makan malam bersama di restoran tersebut.


"Mama meminta mu datang besok," ucap Alvino jangan tiba-tiba.


Delisa tidak lagi merasa canggung ataupun gugup saat mendengar kata 'Mama' yang setiap kali Alvino ucapkan. Yang awalnya memang iya akan gugup ketika Alvino mengatakan kalau orang tuanya ingin bertemu dengan dia.


Tapi kali ini Delisa tersenyum begitu manis lalu menganggukkan kepalanya, seraya menjawab, "Baiklah besok aku akan siap-siap!"


''Gadis baik!'' Alvino menepuk lembut kepala Delisa, dan Delisa pun tertawa kecil dibuatnya.


Setelah selesai makan malam, mereka pergi dari restoran. Berjalan-jalan sebentar ke sebuah pantai. Menikmati hembusan angin laut yang beraroma khas, Delisa merentangkan tangannya menyambar hembusan angin malam disana.

__ADS_1


Dengan gemas, Alvino menghampiri lalu memeluknya dari belakang, matanya terpejam menikmati udara segar angin laut disana. Keduanya hanya saling membungkam sampai ketika Delisa berujar.


''Kak, apa yang buat kamu suka sama aku?'' tanyanya dengan mata yang masih terpejam didekapan hangat Alvin.


Perlahan Alvin membuka matanya dan sedikit menurunkan kepalanya, melihat langsung kewajah Delisa yang ternyata masih menikmati keindahan pantai dengan mata yang terpejam.


Alvin tersenyum dan kembali memejamkan matanya. Seraya menjawab, ''Rasa suka yang sesungguhnya itu tidak membutuhkan alasan dan itu datang dari hati. Jika suka karena suatu alasan dan saat alasan itu tidak lagi dimiliki oleh si wanita maka rasa suka itu bisa hilang. Begitu juga aku, aku enggak punya sama sekali alasan itu."


Delisa tersenyum dalam mata yang terpejam, ia puas mendengar jawaban Alvino.


Tiba-tiba Alvino membalikkan tubuh Delisa sehingga menghadapnya. Delisa tersentak, matanya melebar mantap Alvin yang memeluknya dari depan kali ini.


''Jadi jangan tanya kenapa aku suka sama kamu, hmm?'' Alvin menoel ujung hidung Delisa.


Delisa tersenyum lalu mengangguk. Mereka terus berpelukan dibawah rembulan malam di pantai pasir putih itu.


Happy Reading..


Mampir juga ke novel teman ku yuk! Enggak kalah serunya lho 🤗 Author R. Angela


__ADS_1


__ADS_2