
Sesal dan menyesal. Ya hanya itu yang ada dalam hati seorang pria bernama Wahyu Iskandar.
Ia termenung dibalkon kamar beberapa jam ini. Ia tidak menyangka, ternyata ibu yang sangat ia hormati, ia sayangi, bahkan dia sudah menjelma menjadi anak yang paling berbakti. Namun ternyata Budi baktinya dimanfaatkan oleh sang ibu tanpa belas kasih.
Dan pikiran-pikiran akan memperbaiki kesalahannya pun datang. Dia meyakini bahwa Delisa pasti mau menerima maaf nya.
Wahyu ingat betul, sorot mata Delisa tadi siang, sorot mata yang menyiratkan kerinduan dan kasih sayang, yang tidak menutup kemungkinan kalau Delisa akan menerima maafnya dan menerima dia kembali.
''Aku akan memperbaiki semuanya, Del. Tunggu aku!'' ucap Wahyu begitu yakin.
Tapi di tempat lain, orang yang sedang dipikirkan Wahyu justru sedang berkeliling taman hiburan kota.
Ya! Alvin mengajak Delisa kesana karena untuk menghibur Delisa dari permasalahan yang datang pagi tadi.
Maka disinilah mereka berada, disebuah biang lala raksasa. Alvin mengajak Delisa menaiki biang lala atau biasa di sebut oleh kebanyakan orang adalah kincir angin rumah burung.
Delisa terus berucap kagum pada pemandangan alam yang dia lihat dari atas itu. Beberapa kali mulutnya ternganga dengan satu kata ''Wah!'' Alvin yang melihat Delisa terhibur tentu merasa senang. Tapi Alvin tetaplah Alvin, ia tidak bisa mengekspresikan wajahnya yang bahagia, karena ia tidak mengerti harus bagaimana.
''Kak! lihat disana! Itu bukankah gedung kampus kita?'' tunjuk Delisa pada satu gedung yang menjulang tinggi dan terlihat begitu kecil dari sana.
Alvin ikut menoleh kearah dimana Delisa menunjuk, dan ia pun mengangguk dengan senyuman tipisnya.
''Hmm, benar,'' jawab Alvin.
Beberapa saat kemudian, merekapun sudah selesai dengan permainan sejuta umat itu ketika datang ke taman hiburan. Delisa dan Alvin berjalan beriringan, Delisa terlihat sangat excited dengan banyaknya permainan disana.
Didesanya ada, tapi tidak seramai ini. Dan kincir angin disana sangatlah kecil tidak seperti di ibu kota yang bahkan bisa melihat seluruh kota.
''Duduk dulu, aku belikan air,'' ucap Alvin menyuruh Delisa duduk dikursi panjang depan permainan komedi putar, dan Delisa menurut tanpa tolakan.
''Pak orange juice dua!'' pinta Alvin ke pedagang yang ada disana.
Alvin kembali menoleh kearah tempat Delisa duduk, tanpa sadar ia kembali tersenyum melihat raut wajah Delisa dari jarak jauh itu. Karena saat ini, Delisa seperti anak kecil ya g sangat ingin tahu cara kerja permainan yang ada didepannya itu. Sungguh! gadis selugu Delisa mestinya dijaga baik-baik jangan sampai terlepas apalagi sampai jatuh ke tangan orang lain. Dan lagi-lagi Alvin menyumpahi Wahyu.
__ADS_1
Beberapa saat, Alvin merasa pesanannya tidak ia terima- terima, dan pada akhirnya ia pun kembali bertanya dan memintanya.
''Pak orange juice saya mana?''
''Haduh Den! orange juice itu apa? saya aja enggak ngerti kok minuman apa itu. Disini hanya ada es jeruk, es teh dan es susu,'' papar pedagang itu begitu polosnya.
Alvin menepuk dahinya, ia lupa kalau saat ini ia berada di taman hiburan bukan berada di restoran bintang lima.
''Ya Tuhan, maaf Pak! maksud saya es jeruk peras saja ya Pak,'' ucap Alvin yang merasa tidak enak pada pedagang itu.
Cukup la, Delisa menunggu Alvin membeli minuman. Akhirnya Alvin pun datang kembali padanya dengan dua gelas plastik es jeruk peras.
Sepanjang langkahnya ia terus menggerutu, dan apa kali ini yang membuat dia menggerutu seperti itu ?
''Satu gelas Lima ribu rupiah? apa-apaan! apa nantinya mereka tidak rugi."
Delisa yang samar-samar mendengar gerutuan Alvin tentu merasa bingung.
"Hah? oh enggak!"
''Ini minum dulu. kita istirahat sebentar!''
Delisa menerima minuman itu dengan baik, dan kata terima kasih tidak lupa dari bibir mungil Delisa.
''Mau naik itu?'' tanya Alvin yang menebak kalau Delisa memang sangat menginginkan menaiki komedi putar itu, dari tatapan Delisa yang sejak tadi terus menatap permainan tersebut.
Delisa mengangguk sambil memamerkan senyumannya, yang mampu membuat Alvin ingin sekali menyentuh bibir itu.
''Ya sudah sana. Aku mau telpon sebentar,'' ucap Alvin yang mempersilahkan itu, dan tanpa berkata apapun lagi, Delisa pun segera beranjak lalu melewati pintu besi yang ingin memasuki permainan tersebut.
Alvin sesekali memperhatikan Delisa yang sangat terlihat bahagia, bahkan ia tertawa lepas disaat kuda permainan itu naik turun mengikuti arah berputar nya komedinya.
''Ehhmm, kamu urus saja. Kita lihat kelanjutannya akan seperti apa. Sudah jangan dulu mengirimkan pesan apapun itu, aku sedang menikmati keindahan ciptaan Tuhan.''
__ADS_1
Alvin memutus sambungan telponnya, lalu duduk dikursi panjang itu. Ia mengangkat ponselnya lalu mengarahkan kemera kearah Delisa yang mulai terlihat.
Klik!
Alvin memeriksa hasil jepretannya, dan ternyata langsung mendapatkan hasil yang bagus, lalu ia jadikan wallpaper layar pertamanya dengan menggunakan Poto diri dari Delisa hasil jepretannya.
''Kak enggak mau naik!'' teriak Delisa yang sedang berputar didepannya, lalu menghilang dengan digantikan yang lainnya.
''Enggak! kamu aja! duduk hati-hati! jangan banyak bergerak!'' balas Alvin ketika Delisa terlihat lagi oleh matanya.
Delisa memberikan jempolnya bertanya kalau ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Alvin.
Jika ingin tahu bagaimana sebenarnya karakter Delisa, ya seperti inilah karakter dia yang sebenarnya. Bukan menjadi seorang pendiam dan tertutup yang hanya mau memiliki satu sahabat saja yaitu Diva.
Dan inilah dia, Delisa yang riang, Delisa yang penuh akan senyuman. Apa dalam sekejap Delisa kembali pada dirinya sendiri? oh tentu tidak semudah itu. Tapi dia sendiri pun tidak menyadari kembalinya karakter dirinya itu.
''Entah Delisa mana yang saat ini aku lihat, tapi aku menyukai kamu yang seperti ini. Tetaplah kuat, ada aku disini.''
Alvin bergumam, menatap hangat wajah Delisa yang tersenyum kearahnya.
Hari sudah semakin gelap, sebentar lagi hujan pasti akan turun. Alvin menatap langit ia ingin memberi tahu Delisa untuk segera turun tapi sungguh dia tidak tega. Rasanya dia tidak ingin melihat senyuman itu sirna.
Dan pada akhirnya, Delisa sendirilah yang menyadari itu, melihat langit yang menggelap ia pun buru-buru turun dari sana lalu menghampiri Alvin yang berdiri ditempat tadi.
''Kak! sudah mau hujan, sebaiknya kita pulang!'' seru Delisa dan diangguki Alvin, yang sebenarnya dialah yang lebih dulu ingin mengajaknya pulang.
Dan benar saja, baru mereka memasuki mobil. Hujan pun turun begitu derasnya. Mereka merasa cukup beruntung karena air hujan tidak membasahi mereka berdua. Yang justru, diluar sana, orang-orang harus berlarian untuk menghindari hujan.
Alvin melajukan mobilnya meninggalkan taman hiburan itu. Senyum Delisa masih tergambar begitu indah dengan lucunya ia menggambar sesuatu dengan jarinya di kaca mobil yang berembun karena hujan diluar.
Delisa Aprilia
Ya tulisan itulah yang saat ini sedang Delisa gambar.
__ADS_1