Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Berkuasanya Seorang Alvin


__ADS_3

Tidak! ternyata Alvin tidak langsung pergi dari gedung kampus itu. Melainkan ia membelokan langkahnya kearah ruangan rektor.


Dan disana terdapat Pak Tua dan anaknya, yaitu Rika.


Begitu Alvin masuk kedalam ruangan itu, rektor universitas disana segera menghampirinya dan bersimpuh didepan Alvin.


''Nak' saya mohon berikan kesempatan sekali lagi, mungkin Rika khilaf,'' ucapnya yang masih membela anak kurang ajar itu!


''Cih! Kesempatan Anda bilang?'' Rektor tersebut menganggukkan kepalanya. Mata Alvin terangkat melihat kearah Rika yang tertunduk dikursinya.


''Saya sudah memberikan kesempatan untuknya berubah, tapi ternyata dia tidak menggunakan itu dengan baik. Besok dan seterusnya, saya tidak mau melihat dia ada di sekitaran kampus!''


Alvin pun berlalu pergi setelah berujar demikian. Tidak perduli panggilan yang berteriak dari Rika, tidak, ia tidak mau di berhentikan begitu saja.


Mobilnya lah tujuan Alvin sekarang, ia pergi meninggalkan kampus karena memang akan menghadiri pertemuan pentingnya.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, raut wajahnya begitu datar. Namun, didalam pikirannya ada Delisa yang terus bergelayut disana.


''Lelaki manja itu enggak sepatutnya memperlakukan mu seperti itu!'' geram Alvin kala mengingat apa yang di ceritakan Delisa kepadanya.


Bukan tanpa alasan, Alvin menyebut Wahyu adalah lelaki manja. Karena baginya lelaki yang tidak memiliki pendirian karena mengikuti permintaan orang tua sehingga menyakiti hati yang begitu rapuh dari seorang gadis.


''Aku pastikan kalian akan menyesal!'' lanjutnya yang langsung menancapkan gasnya semakin cepat.


Waktu berjalan berguru cepat, hari pun sudah mulai petang, Dua orang, ayah dan anak baru saja sampai dikediamannya.


Dan baru saja sang Ayah meletakkan bokongnya di sofa mewahnya. Suara deringan ponsel pun terdengar membuat beliau mengangkat kembali bokongnya untuk mengambil tasnya.


Setelah mengambil ponselnya iapun segera membaca isi pesan yang diterima olehnya. Tiba-tiba matanya terbelalak, tangannya menekan kuat dada sebelah kirinya.


Sang anak yang melihat itu tentunya merasa takut dan panik. Ia segera menghampiri Ayahnya.


''Pah! Papa kenapa?!'' tanya cemas dia.


''Ini karena mu, anak sialan! lihat apa yang terjadi! Aakkhhhh!!'' racaunya memarahi anaknya.


Sang anak mengambil ponsel yang sudah tergelatak dilantai, lantas ia membaca juga isi pesan itu yang berisi sebuah pemecatan dan pemberitahuan penarikan dana.

__ADS_1


Lututnya terasa lemas ia pun luruh kebawah lantai. Lalu terdengar suara bel rumah ya v ditekan seseorang.


''Bi… lihat siapa itu!'' teriak sang anak meneriaki pembantu rumah.


Seorang wanita paruh baya berlarian menuju pintu untuk melihat siapa yang datang, dan tidak lama kemudian dia kembali lagi ke majikannya memberikan sebuah berkas yang dikirim oleh tukang pos.


''Maaf Pak, Nona. Ini, tadi tukang pos mengirimkannya.''


Majikan itupun menerima berkas tersebut lalu segera ia buka dan ia baca. Dan alangkah terkejutnya ternyata itu adalah surat peringatan dari Bank, bahwa rumah dan aset lainnya akan disita dalam dua hari ini.


''Rika!! kau anak sialan!'' pekiknya.


Ya mereka adalah Ayah dan anak, yang tak lain adalah, Rika bersama ayahnya, Hendra si Rektor.


Yaitu semua adalah kekuatan dari Alvin, semua yang mereka dapat adalah hasil dari keburukan Rika, anaknya sendiri. Peringatan yang diberikan Alvin ternyata bukanlah hanya sebuah peringatan semata, tapi itu adalah bentuk kesempatan yang harus mereka manfaatkan sebaik mungkin.


Dan disana, ditempat lain. Alvin sedang duduk di mobilnya mengeluarkan smirk liciknya setelah membaca pesan dari orang suruhannya.


''Bagus!'' gumamnya.


Dina dan Delisa berjalan bersama menuju halte bis. Tapi belum juga mereka sampai di halte. Seseorang memanggilnya dari samping sebuah mobil yang ternyata sejak tadi terparkir disana.


Delisa celingukan mencari asal suara, begitu juga Diva, walaupun bukan nama dia yang dia panggil, melainkan nama Delisa lah yang dipanggil, ia tetap ikut mencari asal suara itu.


Dan ternyata seorang pria yang berdiri dengan pakaian rapih dengan lengan kemejanya yang tergulung hingga ke suku lah yang tadi memanggil Delisa.


Diva terkesip melihat, dan sekarang dia mulai yakin kalau Delisa dengan pangeran kampus memang memiliki hubungan spesial.


Ya pria itu adalah Alvin.


''Del, kamu enggak perlu menjelaskan apapun!'' ucap Diva masih menatap Alvin ya g berdiri jauh disana.


''Maksudnya?'' sahut Delisa yang masih mencari asal suara di tengah-tengah ramainya manusia.


''Panggilan dia udah menjelaskan semua nya, Del!'' Diva menunjuk kearah berdirinya Alvin, dan Delisa mengikuti arahnya. Matanya beberapa kali mengerjap. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.


''Aku enggak sangka, selama ini kamu adalah penyembunyi rahasia yang sangat handal!'' ucap Diva penuh selidik.

__ADS_1


''Enggak! enggak ada rahasia-rahasiaan!'' keukeuh Delisa, karena memang selama ini dia tidak merahasiakan apapun dari sahabatnya.


''Sudah mau pulang ya?'' tanya Alvin yang sudah berada di depan mereka.


''Kalau gitu, ayo!'' lanjutnya mempersilahkan Delisa untuk ikut padanya.


Delisa yang tiba-tiba diminta pergi bersamanya tentu merasa bingung. Karena sebelum tidak ada janji apapun ataupun ia meminta di jemput. Tapi kenapa tiba-tiba Alvin datang untuknya.


''Mau kemana, Kak?''


''Pulang, ayo!'' jawab Alvin begitu yakin, ditambah menggedikkan kepalanya dengan raut wajah yang sangat tampan. Oh sungguh, Diva yang melihat itu ingin sekali menjerit dan berteriak sekeras-kerasnya.


''Ayo! Emm... tidak apa 'kan kamu kita tinggal?'' tanya Alvin sebelum menarik tangan Delisa. Dan Diva pun mengangguk begitu saja.


Dan Alvin pun membawa Delisa pergi dari sana dengan mobilnya. Setelah mobil Alvin hilang dari pandangan diva baru tersadar kalau dia di tinggal sendirian disana.


''Astaga! Delisa kamu tidak setia kawan!'' gerutu Diva tapi beberapa detik kemudian senyuman Diva muncul, ia cukup bahagia karena ternyata pangeran kampus dimenangkan oleh sahabatnya sendiri.


''Delisa pantas mendapatkan yang terbaik!'' gumam Diva dengan senang.


Tanpa mereka tahu, ternyata ada dua pria lain yang ikut melihat perginya Delisa dibawa oleh pria lain.


Mereka adalah Hary, dan Vikar. Ya mereka berniat ingin mengajak pulang bersama Delisa tapi ternyata Alvin sudah mendahulukan mereka.


''Syukurlah, ada orang lain yang ikut melindungi mu,'' ucap Vikar di dalam mobilnya.


''Ck, Alvin. Ternyata Lo juga ikut incar janda kembang itu, lo terlalu munafik, Vin!'' ucap Hary di balik kemudinya.


Di sebuah rumah. Perdebatan pun terjadi antara ibu dan anaknya.


Mereka berdebat begitu hebat. Sampai terdengar bantingan pintu yang terdengar.


''Wahyu!! dengarkan ibu dulu!!'' teriaknya.


Ya mereka adalah Heni dan Wahyu. Pasangan ibu dan anaknya.


Wahyu marah, ketika mengetahui bahwa Heni ternyata waktu itu telah membohonginya. Dari pengakuan Heni sendiri yang mengaku salah karena Wahyu terus mendesak dan memaksanya untuk melakukan pemeriksaan kerumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2