
Perkiraan cuaca sangat tepat hari ini. Hujan yang disusul Guntur saling menyambut membuat malam itu terasa mencekam.
Tapi Delisa bisa bersikap tenang karena baginya itu sudah biasa. Setelah selesai mandi ia segera pergi ke meja makan, bibirnya tersenyum kala membuka paper bag itu yang ternyata isinya brownies coklat yang sangat menggugah selera.
''Pasti abang yang pesan,'' gumamnya sembari melangkah untuk mengambil pisau.
Duduk dengan manis memegang alat makan dan mulai memotong brownies tersebut. matanya menangkap sebuah lembaran dan segera ia baca.
''Aku memang cantik, kak,'' ucap Delisa berbicara sendiri.
Dia mentertawakan ucapan sendiri, merasa geli karena terlalu percaya diri walaupun memang benar adanya kalau dia gadis yang cantik.
''Euum… enak sekali, lain kali aku akan minta abang belikan lagi.'' Delisa memakan beberapa potong kue, setelah merasa kenyang ia pun segera simpan kedalam lemari pendingin untuk ia makan lagi besok pagi.
Menatap tetesan air hujan yang mengenai kaca, disertai kilatan petir yang begitu terang, membuat Delisa merasa tenang. Kejadian dipermalukan nya tadi siang membuat dia sadar bahwa dia tidak boleh terpuruk. Statusnya yang sebagian seorang janda, walaupun tidak sama sekali tersentuh oleh mantan suaminya, namun tetap saja janda tetaplah janda.
''Benar kata kak Vikar, aku enggak perlu malu. Justru mereka yang berniat mempermalukan akulah yang harusnya malu dengan sikap kekanakannya.''
Malam itupun berlalu begitu saja dengan Delisa yang tertidur begitu pulas. Sampai tidak tahu Fauzan pulang dan membuka pintu kamarnya.
''Anak ini kebiasaan sekali, tidak mau mengunci pintu kamar.'' Fauzan menutup kembali pintu kamar adiknya dan segera berlalu ke kamarnya.
Setelah membersihkan diri, Fauzan kembali kekamar Delisa untuk mematikan pendingin ruangan karena cuaca yang begitu buruk dan menyisakan dingin ia tidak mau adiknya sakit.
Setelah mematikan pendingin ruangan, ia menoleh kearah adiknya yang tertidur begitu pulas dibawah selimut yang tebal. Ia menatap sendu adik perempuannya itu. Dia tahu kejadian dikampus, Vikar menceritakan semuanya.
Entah perbuatan apa yang orang tuanya lakukan dulu sehingga adik perempuannya bisa menuai karma begitu menyedihkan. Fauzan sangat menyayangi adiknya, bahkan dulu ia rela dipukul sang ayah demi menyembunyikan kesalahan adiknya.
Tapi kenapa nasib baik tidak berpihak pada Delisa. Fauzan menghampirinya, membenarkan posisi selimutnya. Mengusap lembut kepala Delisa lalu pergi dari sana.
Matahari sudah menunjukan keindahannya. Delisa pun terbangun dari tidurnya. Ia bangkit dari tempat tidur lalu membuka jendela kamar yang langsung tercium aroma segar dari rerumputan yang basah karena air hujan tadi malam.
''Haaa… sejuknya.''
Hari ini ia tidak terlalu terburu-buru keka.pus karena jam mata kuliahnya akan diadakan jam 10 nanti.
Setelah mandi, Delisa tidak buru-buru keluar kamar ia lebih memilih membaca buku dikamarnya. Tanpa tahu Fauzan sejak tadi sudah menunggunya di meja makan.
''Kenapa dia belum juga turun?'' gumam Fauzan yang merasa aneh.
__ADS_1
Masakan simpel yaitu nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya lah pilihan makanan untuk sarapan dia dan adiknya. Dan itu dia sendiri yang memasaknya.
Fauzan berniat menyusul Delisa kekamar tapi sebelum itu ia tutupi terlebih dahulu makanannya karena Fauzan sangat mementingkan kebersihan.
Fauzan berjalan begitu gagah dengan seragam biru yang pas ditubuhnya. Pria yang sangat mendahulukan kedisiplinan dan kebersihan itu belum juga berniat mencari kekasih. Karena baginya ia harus melindungi adiknya terlebih dahulu lalu mengantarkannya ke pintu pelaminan lalu setelah itu barulah dia yang akan memikirkan hidupnya.
Tok Tok Tok!
Fauzan mengetuk pintu Delis sebanyak tiga kali namun tidak sama sekali ada jawaban dari dalam. Karena didalam sana Delisa tengah membaca buku dengan earphone yang menyumpal kedua telinganya.
Ia menyerah lalu membuka pintu kamar Delisa begitu saja. Kepalanya menggeleng karena melihat adiknya yang duduk menyender di senderan ranjang dengan kaki yang berselonjor ditambah telinganya terdapat earphone.
''Pantas saja,'' ucap Fauzan yang segera menghampiri Delisa dan melepaskan earphone nya dari telinga Delisa.
''Abang?''
''Iya ini Abang mu! kenapa enggak turun sarapan?''
''Oh aku belum lapar bang. Abang pulang kapan?'' tanya Delisa sembari merapihkan earphone dan bukunya yang ia simpan dilaci nakasnya.
''Tadi malam. Sudah! ayo pergi sarapan. Memangnya kamu enggak ada kelas?'' Fauzan menarik selimut Delisa lalu melipatnya dengan rapih.
''Tetap saja, Dek! walaupun kelas masih lama, kamu harus disiplin. Anak gadis enggak boleh malas-malas—'' Fauzan mengehentikan ucapannya, menyadari kalau apa yang keluar dari mulutnya itu pasti menyinggung perasaan adiknya.
''Aku janda kak, bukan gadis!'' sambar Delisa. Fauzan berbalik menoleh kearah Delisa, karena merasa bersalah, dan berpikir kalau Adiknya pasti bersedih.
Tapi tidak, mimik adiknya yang menatap tajam padanya bukanlah murung menandakan kalau saat ini Delisa tidak sama sekali tersinggung.
''Apa?!'' sarkas Delisa ketus. Fauzan terkekeh melihatnya.
''Ya kamu janda, tapi harus menjadi janda yang berkelas, ok!''
''Mana ada begitu.''
''Ada dong, sudah ayo! kita sarapan, keburu dingin nasi gorengnya.'' Fauzan mendorong pelan tubuh adiknya untuk keluar kamar.
''Ishh, Bang! enggak usah dorong-dorong juga dong!''
''Biarin, kamu lambat! Eh kamu belum mandi ya?''
__ADS_1
''Enak aja, udah cantik gini!''
Delisa makan masakan Fauzan begitu lahapnya karena memang nasi goreng buatan Fauzan lah yang sangat enak menurutnya.
Hingga piring pun tandas tidak tersisa sebiji nasi pun, Delisa mendorong piring itu lalu menyenderkan tubuhnya disandaran kursi.
''Aaakh, kenyang sekali!''
''Uang jajan mu masih ada?'' tanya Fauzan yang sedang mengambil piring bekas makan mereka untuk di bawa ke wastafel.
''Ada, tapi kalau Abang mau kasih lagi. Dengan senang hati aku terima,'' sahut Delisa dengan manjanya.
''Jangan lupa ditabung, karena kita enggak akan tahu kedepannya akan seperti apa. Mengerti!'' Fauzan memberikan nasihatnya pada Delisa yang diterima dengan baik oleh adiknya itu.
Ya setelah sang Ayah pergi, bagi Delisa, Fauzan adalah sosok pengganti Ayahnya. Dan Fauzan pun memang berperan baik sebagai pengganti sang Ayah.
Semua keperluan adiknya, adalah tanggung jawabnya. Ia tidak mau adiknya merasa kekurusan sekecil apapun.
Maka dari itu ia pun memberikan lagi uang tunai untuk keperluan Delisa. Tapi kartu yang waktu itu dia berikan? itu ia berikan untuk berjaga-jaga kalau Adiknya sudah tidak lagi memiliki uang cash.
''Abang minta tolong cucikan piring, bisa?''
Delisa menganggukkan kepalanya.
''Ya sudah kalau begitu, Abang berangkat ya.''
''Bang?''
''Apa?''
''Belikan aku sepeda motor ya.''
Fauzan menoleh, dan menoleh dengan tegas. ''Enggak! lebih baik kamu pulang pergi naik taksi saja!''
''Tapi Bang—''
''Delisa…''
''Ya sudah, oke!'' Delisa pun menurut.
__ADS_1
Bukan pelit, Fauzan tidak mau Delisa mengendarai sepeda motor di jalanan ibukota yang sangat ramai ini. Terlebih lagi banyaknya mobil-mobil besar. Dia tidak mau adiknya kenapa-kenapa nantinya.