Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Gosip yang Bergulir


__ADS_3

Hary menyusul langkah Delisa, ia berniat ingin menjelaskan apa yang menjadi niatnya sebenarnya. Tapi Delisa tdiak sama sekali mau mendengarkan itu. Gadis itu berjalan tanpa menghiraukan Hary.


Apa sikap Delisa keterlaluan?


Tentu tidak, ia hanya menginginkan ketenangan, itu saja. Dia marah pada Hary karena sikap sok tau dari Hary. Yang mengakibatkan buah bibir dikalangan kampus tentangnya kembali tersebar dan itu membuat dia tidak nyaman bergerak.


Di perpustakaan, di toilet, bahkan dikelas pun semua berbisik tentangnya. Semua membicarakan hubungan dia dengan Hary yang tadi terucap langsung dari bibir lelaki itu tanpa berpikir panjang.


Delisa akui, Hary adalah pria yang baik, bahkan sangat friendly. Tapi sisi lain dia juga tidak menyukai sikap Hary yang tidak dewasa.


Diva yang baru saja tiba dan tidak tahu apa-apa dibuat kebingungan. Karena salasatu mahasiswi bertanya padanya.


''Div! sebenarnya Delisa dekat dengan siapa sih! Kak Alvin atau Hary. Kok dua-duanya di embat. Mereka berdua 'kan sahabatan!''


Diva tidak menjawabnya karena dia sendiri tidak mengerti kenapa mereka bertanya kepadanya.


''Ada apa lagi ini, perasaan semua orang kenapa senang sekali membicarakan Delisa!'' gerutu Diva. ''Apa mereka tidak memiliki tugas kampus!'' lanjutnya.


Diva berjalan tanpa mempedulikan kasak kusuk orang-orang, yang ia mau hanya ingin bertemu dengan aktor hari ini, yaitu Delisa yang sedang menjadi buah bibir penghuni kampus.


Sat sampai di kelas, matanya segera mencari keberadaan Delisa, tapi ternyata dikursinya Delisa tdiak ada. Lalu dimana dia? Diva akan mencari ketempat lain tapi seketika ia menghentikan langkahnya karena matanya seperti melihat sesuatu.


''Delisa?''


Ya dikursinya memang Delisa tidak ada, tapi ternyata Delisa berada di kursi yang paling sudut diruangan itu yang saat ini tengah meletakkan kepalanya di kedua lengannya yang ditekuk.


Diva segera melangkah menghampiri Delisa, karena dia yakin saat ini Delisa tengah bersedih atau bisa jadi tengah menangis.

__ADS_1


''Del?'' Diva menyentuh pundak Delisa. Dan Delisa pun segera mengangkat kepalanya.


Tidak, perkiraan Diva ternyata salah. Delisa tidak sedang menangis, tapi kenapa memilih duduk disudut ruangan seperti itu?


''Kamu baik-baik aja 'kan?'' tanyanya hati-hati.


Delisa menghela nafasnya malas, lalu menjatuhkan lagi kepalanya diatas meja.


Diva ikut duduk disebelah Delisa, ia ingin tahu keadaan sahabatnya ini.


''Jika semua orang terus membicarakan ku, apa aku akan baik-baik saja?'' tanya balik Delisa dengan sendu.


''Tidak!'' sahut Diva.


''Kenapa? buktinya aku baik-baik saja,'' ucap Delisa yang membuat Diva tidak mengerti apa yang dimaksud wanita itu.


Delisa tertawa kecil lalu kembali menghela nafasnya.


''Sebenarnya apa yang terjadi, coba ceritakan!'' Diva meletakkan tas dan buku-bukunya bersiap mendengarkan apa yang terjadi dari mulut sang aktor langsung.


''Tadi Wahyu datang lagi, dia mengatakan ingin memulainya lagi dari awal—''


''Enggak tahu malu!'' potong Diva begitu saja yang langsung mendapatkan pelototan dari Delisa.


''Oke oke maaf, lanjutkan!'' ucap Diva dengan tawanya.


''Ya belum sempat aku menjawab apa yang dia katakan. Tiba-tiba Hary datang dan mengaku kalau kita punya hubungan. Dan kebetulan disana banyak yang ikut menonton. Terjadilah gosip-gosip indah itu,'' papar Delisa dengan sedikit candaannya.

__ADS_1


Ya rupanya, Delisa sudah dapat menangani perasaannya yabg kerap bersedih dan gampang menangis. Sekarang ia lebih bisa mengontrol emosinya dan itu berkat Alvin.


''Astaga! buaya darat itu selalu berbuat tanpa berpikir kedepannya. Dia harus mendapatkan pelajaran!'' Diva akan beranjak tapi dengan cepat tangannya ditarik Delisa.


''Mau kemana?''


''Cari buaya kampung itu lah!''


''Enggak lihat, dosen sudah datang?'' Delisa menunjuk kedepan dengan bibirnya dan Diva pun segera duduk kembali.


Suara sumbang itu memang tidak terdengar lagi, tapi itu hanya sementara. Karena kelas yang sedang dimulai. Entah nanti, Delisa pun tidak dapat memprediksinya.


Empat jam, cukup membuat otak para mahasiswa lelah dengan banyaknya materi yang harus diterima. Delisa mengajak Diva ke kantin tapi diva menolaknya.


''Kalau kamu lapar kamu tunggu disini aja. Aku yang bakal bawakan untuk kamu!'' Diva segera bergegas pergi. Tapi Delisa kembali melayangkan pertanyaan.


''Kenapa?''


Diva mengambil duduknya lagi. Lalu menghela nafasnya begitu lirih. ''Pasti di kantin ramai, dan mereka akan terus memojokkan mu.''


Delisa tertawa kecil, ia senang ternyata memiliki sahabat yang mengkhawatirkan dirinya. Tapi walaupun dia berusaha menghindar gosip itu akan terus bergulir seperti bola api yang akan mati dengan sendirinya. Maka dari itu ia harus bersabar untuk padamnya api tersebut.


''Jangan khawatir Div. Aku enggak masalah kok. Sudah ayo! kita ke kantin saja.''


Delisa sudah berdamai dengan kehidupannya, karena memang itu sudah semestinya. Dia tidak mau lagi menangisi hal yang sepele itu.


Tapi ada yang aneh.

__ADS_1


Sesampainya di kantin ataupun sepanjang perjalanan menuju kantin tidak satupun yang kembali menggosipkannya melainkan bersikap ramah pada Delisa.


__ADS_2