Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Perdebatan kecil


__ADS_3

Pembicaraan serius sebelumnya berubah menjadi pembicaraan sesantai mungkin, bahkan Elvano menawarkan Fauzan beberapa bisnis, tapi Fauzan menolaknya dengan lembut, karena memang dia sudah mengabdi pada negara untuk menjadi panglima TNI sesuai cita-cita nya.


Awalnya Elvano terkejut karena ternyata sejak tadi yang dia ajak bicara ada salasatu panglima negara, yang mana notabene nya dia sendiri adalah seorang mafia walaupun memang tidak lagi aktif memegang aktivitas itu.


Sedang Elvano, Alvin dan Fauzan berbincang. Delisa sejak tadi hanya diam, tapi Alisha tidak membiarkan suasana itu terjadi, ia terus mengajak bicara Delisa walaupun jawaban Delisa hanya satu dua yang keluar.


Alisha tidak masalah karena sikap Delisa, karena dulu pun dia begitu, sebelum bertemu dengan suaminya, ayah dari Alvino.


''Maafkan Mama ya, kemarin tidak sempat menjenguk mu di rumah sakit,'' ucap Alisha masih dengan kelembutan khas seorang ibu.


''Tidak apa, Tan. Lagipula hanya semalam saja,'' sahut Delisa yang masih memanggil Alisha dengan sebutan 'Tante'.


''Bukankah kita sudah sepakat, kalau panggilan itu dirubah, panggil aku Mama sama seperti Alvin.''


Alvin yang merasa namanya terpanggil segera menoleh.


''Baik, M-mah,'' balas Delisa begitu canggung.


''Oh ya, sebelum itu saya minta maaf. Kamu bilang Ayah mu sudah meninggal, lalu Ibu?'' tanya Alisha memecah pembicaraan.


Delisa tidak menjawabnya, ia malah melirik pada Fauzan.


''Ibu kandung kami juga sudah tiada, tapi kami masih memiliki Ibu sambung yang sudah seperti Ibu kandung kami,'' jawab Fauzan.


''Kenapa di desa? kenapa tidak tinggal disini bersama kalian?''


''Ibu bilang lebih nyaman di desa, dan mau menjaga makam Ayah."


Alisha mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu melontarkan pertanyaan lagi, yang membuat Elvano tersenyum dengan samar karena melihat tingkah istrinya yang tidak berubah, yaitu bawel.


"Tapi kalau nanti kalian menikah, Ibu sambung— CK, maaf. Ibu mu akan datang 'kan?"


"Pasti, beliau akan datang."


Mendengar jawaban itu Alisha sudah cukup tenang dan kembali mengunci mulutnya.


Elvano melihat jarum jam ditangannya, dan memutuskan untuk undur diri karena ada pekerjaan yang harus ia tangani. Begitu juga Alvino, yang harus menemui seorang klien siang ini.


"Aku rasa pembicaraan kita cukup untuk hari ini, dan kita akan sepakat menunggu mereka bilang siap. Maaf jika kedatangan kami membuat kalian repot." Elvano berdiri dan diikuti semuanya yang ikut berdiri.


Pria paruh baya itu mengulurkan tangannya pada Fauzan dan langsung di sambut baik oleh Fauzan. "Terima kasih sudah berkunjung, semoga tidak ada kesalahan kata yang membuat hati kalian tersinggung," ucap Fauzan.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, kalau begitu kami pamit." Elvano menjeda ucapannya lalu menoleh kearah Delisa, "Oh ya! Nak' pesan ku jangan melihat lagi kebelakang, karena akan membuat luka mu terbuka lagi,'' ujar Elvano bicara pada Delisa.


Delisa yang mendengar itu tersenyum, raut wajah datar dan sikap dingin Elvano yang tadi ia lihat sesungguhnya tidak dengan hatinya, karena ternyata Elvano bisa bersikap hangat walaupun pembawaannya memang kaku.


"Saya juga pamit Bang, Delisa," timpal Alvino dan merekapun pergi dari sana dengan diantar Fauzan dan Delisa sampai depan rumah.


Mobil mereka sudah bergerak meninggalkan pekarangan rumah, Fauzan melirik dengan ekor matanya kearah Delisa yang termenung disana.


"Mereka orang berpendidikan, maka dari itu tidak akan menjadikan masalah perihal setatus mu," ucap Fauzan yang seakan mengerti akan kerisauan Delisa.


"Ya, Abang benar."


"Hhuuff! Sudah, ayok kita masuk!" Fauzan menghimpit kepala Delisa dibawah ketiaknya, membawanya masuk kedalam dan tidak mempedulikan Delisa yang terus menjerit meminta dilepaskan.


"Abang lepasin!" Fauzan tetap menghimpitnya dengan tawa jahilnya.


"Abang bau!" Pekik Delisa kali ini yang langsung membuat Fauzan melepaskannya dan segera mengendus ketiak nya sendiri.


Tawa Delisa begitu renyah, melihat Abang nya yang percaya dengan ucapannya.


"Enggak bau kok," lirih Fauzan masih mengendus aroma tubuhnya.


"Ya emang enggak!" Delisa berlari keruang tamu berniat akan membereskan meja yang tadi mereka tinggal masih berantakan, tapi seketika ia terpaku karena disana sudah tidak ada lagi piring-piring dan gelas-gelas kotor bekas suguhannya.


Fauzan mengikuti arah pandang Delisa dan merasa aneh juga karena ternyata keadaan meja sudah bersih seperti sedia kala.


Dan Delisa berlarian ke dapur dan disana juga sudah bersih tidak ada cucian piring di wastafel karena sudah tertata bersih di rak.


"Abang semakin yakin pada Alvino dan keluarganya, tapi kamu berhak untuk memutuskan keputusan yang akan kamu ambil!" Fauzan mengacak rambut Delisa lalu pergi kehalaman belakang.


Diperjalanan pulang, Alvino yang mengemudikan mobil hanya fokus dengan jalanan. Begitu juga Elvano. Ayah dan anak itu memang jarang sekali berbincang, dan mungkin kalaupun berbincang pasti mengenai perkembangan perusahaan.


Ya sifat siapa lagi yang Alvin turunkan kalau bukan sifat Ayahnya sendiri.


"Hei kalian! Apa kalian ini bau mulut?" suara Alisha memecah keheningan dan membuat kedua pria yang duduk didepannya menoleh kebelakang.


"Maksud kamu?" tanya Elvano tidak mengerti maksud istrinya itu.


"Ya habis tidak ada yang bicara, pasti kalian bau mulut!"


Alvino dan Elvano memutar matanya malas, karena Alisha bicara omong kosong.

__ADS_1


"Mama jangan mulai!" ucap Alvin kesal.


"Iya kamu ini selalu seperti ini," timpal Elvano.


"Eh tapi ya sayang, aku kagum lho sama mereka. Apalagi Kakaknya Delisa, siapa tadi namanya?"


"Fauzan, Ma..."


"Iya Fauzan. Dia masih muda tapi bisa bersikap bijaksana, dan kelihatannya dia sangat menyayangi adiknya itu," celoteh Alisha tiada habisnya.


"Terus maksud Mama, aku tidak bijaksana?" Alvino menyela.


"Hahahah! Bukan begitu. Hanya saja dia lebih bijaksana," sahut Alisha.


"Ya kau benar, jika saja aku di posisi pemuda itu, mungkin pria yang berbuat buruk pada keluarga ku, sudah ku lenyapkan saat itu juga!" geram Elvano yang ternyata masih memikirkan cerita Fauzan tadi.


"Ya kalau orang semuanya seperti mu, mungkin manusia terancam punah," decih Alisha. Elvano hanya bisa mendengus kesal mendengarnya.


Ditempat lain, tepatnya dirumah sakit. Wahyu yang datang segera menuju kamar inap yang ia tahu itu adalah kamar Delisa. Sesuai apa yang dikatakan oleh Alvin kalau dia bisa datang lagi besok, dan hari ini iapun datang. Tapi ternyata saat dia masuk kedalam ruangan, penampakan yang ua lihat adalah, ruangan yang kosong tidak ada orang disana.


"Apa mungkin dia sedang berjalan-jalan," gumam Wahyu yang langsung menuju taman belakang rumah sakit. Tapi sayang dia juga tidak dapat menemukan Delisa. Ya bagaimana mau menemukan Delisa dirumah sakit, jelas-jelas Delisa sudah berada dirumah, duduk mais dikamarnya.


Karena tidak juga menemukan Delisa, akhirnya Wahyu memutuskan untuk bertanya


Kepada perawat yang dia temui tadi malam keluar dari kamar Delisa.


"Permisi!"


"Ya, Mas?"


"Pasien yang berada di ruang inap khusus itu kemana ya? Kenapa kamarnya kosong?"


Perawat itu terdiam sejenak, "Oh Nona Delisa?" Wahyu mengangguk.


"Nona Delisa sudah dipulangkan, Mas. Tadi pagi."


Wahyu tertunduk, ia kesal dan marah pada pria yang tadi malam bersama Delisa, karena ia merasa telah ditipu olehnya.


happy reading 💜


Hay mampir juga ke novel teman ku yuk! ga kalah serunya lho 🤗

__ADS_1


Author: ingflora



__ADS_2