
''Bos! ternyata dia punya ibu yang baru saja masuk rumah sakit jiwa!''
Alvin terdiam sejenak lalu memberikan titahnya. ''Cari dokter atau psikolog yang bagus, pastikan mereka merawatnya dengan baik!''
Anak buah Alvin tertegun. Ia baru menemui bos yang memiliki belas kasih seperti ini. Karena bos sebelum-sebelumnya tidak akan mempedulikan keluarga korbannya justru semua dilibas habis tanpa sisa, tapi ini berbeda.
''Kau mengerti 'kan!?'' tegas Alvin dan anak buahnya pun mengangguk lalu berlalu pergi.
Siapa yang tidak tahu siapa Alvin, Alvin adalah anak seorang mafia terbesar di Asia. Tapi sungguh, sifat Alvin berbeda dengan Ayahnya yang memang agak sedikit kejam, walaupun ada kebiasaan dan perilaku yang dituruni dari sang ayah. Yaitu dingin dan romantis.
Dikamar inap, hanya ada Alvin dan Delisa. Kamar yang memang sengaja Alvin sediakan untuk Delisa, bahkan kamar inap itu bukan seperti kamar rumah sakit kebanyakan. Disana fasilitasnya begitu lengkap walaupun itu hanya sebuah rumah sakit kecil.
Seorang perawat yang ingin memeriksa infusan Delisa mengurungkan niatnya untuk masuk setelah berhasil membuka sedikit pintu, Karena ia mendengar suara yang membuat ia terkejut.
''Pelan-pelan!'' seru Delisa.
''He'um... Aku tahu. Jangan bergerak sedikit lagi selesai,'' balas Alvin.
Perawat itu berlalu pergi tidak jadi masuk, dan beberapa saat Vikar dan Fauzan pun kembali. Mereka akan masuk tapi lagi-lagi suara yang sama yang didengar perawat itu terdengar begitu menyakitkan telinga.
''Pelan-pelan kak!''
''Iya, ini aku sudah hati-hati.''
Vikar dan Fauzan saling menatap. Fauzan yang speechless, dan Vikar yang sudah bernafsu ingin mendobrak pintu lalu menendang Alvin didalam sana.
Brakkkk!
Benar saja, Vikar membuka pintu itu dengan keras yang bahkan hanya membuka biasa pun bisa karena memang tidak dikunci.
''Kau!'' pekik Vikar yang seketika terpaku ditempatnya.
Fauzan yang masih diluar ruangan perlahan masuk dengan kepalanya lebih dulu yang mengintip.
Diranjang sana Alvin dan Delisa terjingkat kaget, menatap Vikar dengan heran lalu beralih menatap Fauzan yang baru saja masuk.
''Kalian kenapa?'' tanya Delisa masih dengan terkejutnya.
''Ah! kami? tidak apa-apa, tadi… itu…'' Fauzan pun tidak dapat menjawabnya karena merasa bodoh telah salah paham dengan apa yang mereka dengar tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Karena saat ini apa yang mereka pikirkan dan duga tidak terjadi. Alvin tengah memotong kuku Delisa yang ia anggap tidak baik memeliharanya. Tapi anehnya Delisa hanya menurut tanpa adanya penolakan. Dan muncullah suara-suara yang mereka duga.
Fauzan melirik Vikar yang juga merasa malu. Ia menepuk pundak Vikar seraya berkata pada adiknya. ''Kami mau pamit, maaf nanti malam Abang enggak bisa temani kamu, senior kami meminta menghadap. Tidak apa 'kan?''
''Tidak apa, saya yang akan menjaga Delisa,'' jawab Alvin.
''Syukurlah, aku titip adikku ya. Aku percaya padamu!'' Lalu Fauzan pun berbalik akan meninggalkan rumah sakit, dan Vikar?
Ia masih menatap sinis pada Alvin. Lalu ikut pergi setelah berdecih pelan. '''Cih! Dia sangat pandai mencari muka!''
''Kak! apa harus menginap disini?''
''Iya, memangnya kamu mau menginap dimana? di hotel? atau dirumah ku?'' sahut Alvin dengan jahil, yang tentunya membuat Delisa menyembunyikan gugupnya.
''Bu–bukan itu maksud ku,'' lirih Delisa.
Alvin terkekeh kecil lalu mencubit hidung kecil Delisa.
''Dokter belum mengizinkan kamu pulang, mereka mau memantau keadaan mu. Tapi jika tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan besok pagi kamu bisa pulang,'' jelas Alvin yang sangat bisa dimengerti.
Delisa pun mengangguk.
''Kak aku mau minum teh,'' ucap Delisa.
''Teh? kalau begitu aku ambilkan, tunggu disini!'' Alvin pun segera beranjak dan keluar dari sana.
Delisa menunggu dengan bosan, sehingga ia terus bergerak sampai-sampai selang infusnya pun terlepas.
''Astaga! lepas, bagaimana ini? bahaya tidak ya?'' ucap dengan panik karena memang dia tidak mengerti.
Dengan panik ia terus memanggil-manggil nama Alvin dan memanggil perawat tapi tidak satupun ada yang mendengarnya. Karena Alvin yang sedang menuju kantin.
Karena takut, Delisa pun bergerak dan turun dari ranjangnya, berniat ingin mencari perawat yang ada. Tapi saat ia membuka pintu secara kebetulan sekali, Wahyu pun akan pergi dari kamar inap umum yang berjarak beberapa meter dari ruangan Delisa.
''Sus! suster! astaga sepi sekali.'' Dengan menyeret tiang infus, Delisa pun keluar dari sana.
''Delisa?'' panggil seseorang dari belakangnya.
Delisa berhenti melangkah. Ia sangat tahu suara siapa itu. Karena sampai saat ini memang dia belum bisa sepenuhnya melupakan pemilik suara itu, yang tak lain adalah Wahyu.
__ADS_1
Perlahan ia menoleh dan benar dugaannya orang itu adalah Wahyu. Wahyu menghampirinya dan berdiri didepan Delisa.
''Kamu, kamu kenapa?'' tanya Wahyu dengan raut wajah khawatir.
Tapi Delisa tidak berekspresi apapun, ia menatap hanya menatap dingin.
''Astaga! darah? Delisa tangan mu berdarah!''
Wahyu meraih tangan Delisa yang disana memang selang infusnya terlepas dan membuat darah Delisa keluar dari selang kecil yang tertancap ditangannya.
''Kenapa bisa terlepas?'' tanyanya lagi tapi Delisa tetap diam.
''Sus! suter!'' panggil-panggil Wahyu.
Delisa menarik tangannya dari tangan Wahyu, tapi dengan cepat Wahyu Kemabli meraih tangan Delisa lagi. ''Jangan bergerak, kalau tidak akan membuat darah mu terus keluar!''
''Lepas!'' Delisa berusaha menarik kembali tangannya tapi Wahyu dengan keukeuh memegangi tangan Delisa.
Di anak tangga, Alvin yang datang dengan segelas teh melihat Delisa yang saling menarik tangan terlebih lagi ia melihat ada darah yang menetes kelantai. Dengan raut wajah penuh marah, ia pun segera melangkah menghampiri Delisa dan Wahyu.
''Lepaskan, brengsek!''
Alvin menarik tangan Delisa tanpa menyakiti Delisa. Lalu mendorong Wahyu agar menjauh dari wanita yang sudah ia tetapkan menjadi gadisnya.
''Kamu enggak apa? heum?''
Delisa menggeleng, ''Enggak apa-apa kak.''
''Apa dia menyakiti mu?'' tanya Alvin dengan melirik tajam pada Wahyu.
''Enggak kak, tadi selang infus ku lepas, aku takut dan ingin mencari mu atau suster. Dan malah bertemu dengan dia.''
Wahyu menatap sendu pada Delisa yang bahkan sudah tidak mau menyebut namanya.
''Kalau begitu kita kembali kekamar, pelan-pelan,'' ucapnya begitu perhatian dan semua itu tak lepas dari pengawasan Wahyu.
Hatinya merasa sakit melihat itu, tapi lubuknya yang terdalam merasa senang karena ternyata Delisa mendapatkan lelaki yang sangat menyayangi Delisa.
''Sus!'' panggil Alvin pada seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan kamar inap umum.
__ADS_1
Alvin meminta suster itu memeriksa infusan Delisa, dan ternyata memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.