
Istirahat Delisa sudah lebih dari cukup. Maka disinilah dia berada. Didepan gerbang kampus, ia sudah siap menjalani harinya seperti sebelumnya. Menghadapi tumpukan buku tebal, dan pelajaran kampus lainnya.
Fauzan menyanggupi untuk mengantar Delisa, karena dia juga tidak mau adiknya harus berhimpitan dengan penumpang lain di bis setelah keluar dari rumah sakit.
''Kamu yakin enggak mau Abang antar sampai dalam?'' tanya Fauzan memastikan.
''Yakin Bang! sudah sana!'' usir Delisa karena merasa tidak suka melihat beberapa mahasiswi yang menatap kearahnya atau tepatnya menatap Fauzan.
Ya kali ini, Fauzan mengantar Delisa menggunakan motor besarnya. Siapa yang tidak terpanah melihat pria tampan dengan seragam abdi negaranya, dan ditambah juga menggunakan motor besar. Delisa dapat mendengar samar-samar jeritan kecil dari mereka yang tertarik dengan Abang nya itu.
''Ya sudah, Abang pergi ya. Oh ya, Abang juga bakal pulang terlambat, tapi Abang juga udah masakin kamu tadi, kamu tinggal panaskan saja!'' ujar Fauzan sebelum melajukan kuda besinya itu.
Delisa berbalik, melirik menggunakan ekor matanya pada segerombolan wanita-wanita yang masih membicarakan Fauzan. Dengan masa bodo, Delisa pun melangkah pergi dan saat ia akan melewati segerombolan wanita-wanita tersebut, ia pun dihampiri dari salasatu wanita itu.
''Delisa! kamu Delisa 'kan?''
Delisa menoleh dan mengangguk.
''Tadi pacar kamu?'' tanyanya. Delisa terdiam sejenak, tapi entah kenapa ia tiba-tiba mengatakan yang membuat wanita itu murung.
''Iya, dia pacar ku!''
Ya, bukan tanpa alasan Delisa berbohong, dengan mengatakan kalau Fauzan itu pacarnya. Karena dia tahu segerombolan itu bukanlah wanita baik-baik, ia kerap mendengar pembicaraan mereka yang menjurus ke pergaulan bebas, dan dia tidak mau mendapatkan kakak ipar seperti itu.
Adik yang posesif memang, walaupun dia sen tahu sampai sekarang sang Kakak belum juga menemukan tambatan hatinya.
''Bisa kau berikan dia untukku?''
Delisa tercengang, ia tidak percaya kalau wanita itu terang-terangan meminta Fauzan kepadanya yang jelas-jelas mengaku sebagai pacarnya.
__ADS_1
''Berikan dia untukmu?'' wanita bernama Gina itu mengangguk yakin.
''Kurasa itu agak berlebihan, maaf aku enggak bisa. Permisi!'' Delisa akan pergi tapi tangannya ditahan oleh Gina.
''Please! kamu bisa cari pria lain 'kan? kamu cantik, jadi enggak masalah 'kan?''
Sungguh! Delisa sangat ingin tertawa, mengenal namanya saja di tidak, tapi kenapa bisa bicara itu padanya. Tapi Delisa sebisa mungkin menahan tawanya.
''Kamu juga cantik, kamu bisa cari pria lain.''
''Tapi aku sukanya sama dia, aku sering melihatnya. Dan bahkan aku minta nomor telponnya, tapi dia enggak kasih! malah aku disuruh minta ke adiknya, apa kamu kenal adiknya?''
Delisa bingung harus bagaimana, ternyata memang wanita itu bukan baru pertama kali melihat Fauzan, dan bahkan sudah berani meminta nomor telpon Fauzan. Tapi kenapa juga, Fauzan memintanya pada dia? Delisa kesal pada Fauzan.
''Maaf aku enggak kenal, aku permisi dulu ya,'' pamit Delisa dengan nada ramah, dan berlalu sebelum mendengar jawaban Gina.
''Hei!!'' seseorang datang mengejutkan Delisa.
''Astaga! Diva, kamu buat aku jantungan!'' dengus Delisa.
''Maaf, maaf. Habisnya kamu malah melamun, ada apa sih!''
Delisa pun menceritakan apa yang terjadi, apa yang membuat dia melamun sembari berjalan. Diva sedikit terkejut mendengarnya, karena baru ini tahu ada wanita seagresif Gina.
''Tapi Del, kamu juga enggak baik menilai dari penampilannya. Sebuket bunga, enggak semua bunga itu berduri lho!'' Diva menasehati Delisa layaknya seorang sahabat yang baik.
Delisa terdiam, ia merasa bersalah karena menilai buruk Gina, yang dia sendiri tidak tahu nama wanita tadi. Ia memutar kepalanya kebelakang, dan ternyata wanita tadi sudah tidak ada disana.
''Iya juga Div. Mestinya aku enggak gitu ya?'' Diva mengangguk, merasa senang karena sahabatnya sangat mudah dinasehati.
__ADS_1
''Kalau begitu aku akan minta maaf!'' Delisa akan kembali kegerbang kampus, tapi Diva segera menarik tangannya.
''Nanti saja, kita akan terlambat!'' Diva menarik terus tangan Delisa sampai kekelas. Dan benar saja belum lama ia sampai dosen pun datang.
''Benar 'kan apa yang kukatakan. Kita akan terlambat kalau kamu kembali!''
Buku Materi tebal pun dibuka Delisa setelah endapan instruksi dari dosen mereka. Dan pelajaran pun dimulai hingga lamanya 3 jam.
''Hari ini panas sekali ya, aku mau makan es krim!'' ucap Diva dan Delisa pun menggapainya. ''Ya! aku juga mau.''
Setelah kelas pertama selesai, merekapun berniat keluar dari area kampus untuk pergi ke kedai es krim yang berada disebrang jalan. Tapi belum juga mereka menyebrang jalan, sebuah mobil berwarna kuning berhenti didepannya.
Sebelum pemilik mobil itu keluar, Delisa langsung menarik tangan Diva untuk pergi dari sana, karena dia sangat kenal siapa pemilik mobil itu.
''Eh! pelan-pelan Del. Belum lampu merah!'' Tapi Delisa tidak peduli, ia menyebrang dengan sedikit memaksa, menghentikan dua mobil yang akan lewat, beruntung jalanan saat itu sepi.
Sesampainya di kedai es krim, Delisa buru-buru masuk kedalam, dan menoleh kearah mobil kuning itu lalu menghembuskan nafasnya lega. Tapi ketika ia melihat kebelakang mobil disan, seorang pria sedang menunggu lampu rambu lalu lintas berubah ke merah.
''Ck, mau apa lagi dia,'' gumam Delisa kesal dan dapat didengar oleh Diva.
''Ada apa Del, apa yang buat kamu cemas?''
Belum Delisa menjawab, lonceng pintu berbunyi yang menandakan kalau ada yang datang.
Happy reading...
Mampir juga ke novel teman ku yuk! enggak kalah serunya lhoo💜💜 Author Sensen
__ADS_1