
Tak tak tak.
Suara gesekan alas sepatu dengan la taj terdengar begitu menggema sehingga semua yang ada disana ikut menoleh ingin tahu siapa orang itu.
Dan seketika kantin yang semula sunyi dan hanya ada suara dari dentingan alat makan, langsung ricuh dari mulut para gadis.
Semua berteriak memanggil-manggil bama orang yang sedang melangkah itu. Tapi tidak satupun panggilan yang dijawabnya, justru ia terus berjalan dan menatap kesatu titik arah dimana terdapat dua gadis yang juga sedang menikmati makan siangnya.
Suara teriakan panggilan pada nama yang tak asing itu, membuat kedua gadis itu ikut menoleh. Ya mereka speechless tidak bisa berkata-kata, karena orang itu saat ini sedang menuju kearah mereka ditambah ada lengkungan senyuman yang samar terlihat disana.
''Del! kayaknya dia senyum sama kamu deh,'' bisik Diva tapi Delisa tidak dapat menjawabnya karena sesungguhnya dia sedang salah tingkah.
''Del! iya benar lho, sepertinya dia senyum sama kamu!'' ucap Diva lagi yang semakin excited. Karena orang itu yang tak lain adalah Alvino Abraham, sudah semakin dekat.
''Boleh gabung?'' ucap Alvin ketika sampai tepat disamping kursi Delisa.
''Emm—''
''Boleh!''
Diva menyela begitu saja menjawab pertanyaan Alvin, tanpa ingin menunggu jawaban orang yang tengah gugup.
Alvin pun ikut bergabung lalu memesan makanan untuknya. Dan tiba-tiba ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
__ADS_1
''Ini!''
Delisa terdiam melihat apa yang ada ditangan Alvin.
''Ini punya kamu 'kan?''
Delisa akan mengambil barang itu dari tangan Alvin, dan baru tersadar kalau benar apa yang dipegang Alvin benar punyanya, ya barang tersebut adalah sebuah jepit rambut yang tadi pagi ia cari-cari namun tidak ketemu sehingga dia terpaksa pergi kekampus dengan menggerai rambutnya.
Namun, saat Delisa akan mengambilnya, justru Alvin malah menutup tangannya seraya berkata, ''Jangan dipakai sekarang. Pakai ini saat sedang dirumah saja!'' Delisa mengerjapkan matanya beberapa kali, ia tidak mengerti alasan apa yang membuat Alvin berkata seperti itu, tapi justru dia malah menurut tanpa adanya pertanyaan.
''Kok bisa jepit rambut Delisa ada di kak Alvin?'' tanya Diva tiba-tiba dan pertanyaan itu ditunggu jawabannya bukan hanya Diva melainkan semua orang yang ada disana.
''Tertinggal di kamar, petugas motel yang memberikan itu pada ku,'' sahut Alvin tapi tidak menatap orang yang bertanya, melainkan fokus menatap Delisa yang melebarkan matanya ketika mendengar apa yang di katakan Alvino.
''Astaga, alamak! bukan ranah ku,'' gumam Diva dengan pipi yang merona merah karena sedang membayangkan Delisa dan Alvin yang kemarin ada di tempat penginapan.
''Kak!'' Delisa menegur Alvin dengan caranya, yaitu mencubit dengan mata yang melotot dan gigi yang saling menggeletuk.
''Apa?'' tanya Alvin seolah-olah apa yang dia katakan itu kalimat yang sederhana tanpa mengandung makna.
''Ternyata kalian–'' Diva sedikit mencondongkan tubuhnya seakan bertanya tentang hubungan mereka dengan sebuah kode.
''Enggak!'' jawab cepat Delisa karena panik dengan pertanyaan Diva padanya yang bahkan pertanyaan itu belum juga selesai tapi Malah sudah di terobos.
__ADS_1
''Enggak apa? aku saja belum selesai bicara,'' jawab Diva dengan jahilnya.
Delisa gugup, dan iapun segera melanjutkan kembali menyantap makanannya. Dan Alvin? dia hanya tersenyum melihat wajah Delisa yang memerah.
Setelah mereka menyelesaikan makannya, begitu juga dengan Alvin, pesanannya sudah habis tanpa sisa. Mereka bersama-sama memutuskan akan meninggalkan kantin. Dan berhubung Delisa tidak ada lagi mata kuliah, diapun berniat akan langsung pulang.
Tapi belum saja mereka keluar dari kantin, Hary pun datang, dia berdiri begitu saja didepan Delisa yang masih kesal dengan Hary.
Delisa mau melangkah melewati Hary, tapi Hary malah mencegah Delisa dan seperti itu terus saat Delisa melangkah Hary terus menghalanginya.
Alvin yang berdiri dibelakang Diva yang saat ini berdiri dibelakang Delisa semakin merasa kesal. Melihat Delisa yang tidak nyaman karena diganggu Hary.
''Har!''
Hary menoleh kearahnya, tapi seakan kehadiran Alvin tidak terlihat olehnya.
''Biarkan Delisa lewat!'' ucap tegas Alvin lagi.
''Del! aku minta maaf, oke?''
Alvin berdecih, ia tidak menyangka, kalau Hary benar-benar tidak menganggapnya ada.
Delisa tidak menjawab ia masih berusaha berjalan melewati Hary, sampai batas kesabaran Delisa pun terpampang nyata.
__ADS_1
''Kak! tolong minggir!'' ucapan begitu penuh penekanan itu membuat Hary langsung membungkam mulutnya sendiri.