Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Kenapa Tiba-tiba


__ADS_3

Delisa sudah keluar dari rumah sakit pagi tadi. Dan kini ia sedang berada dirumah bersama Fauzan. Ya sebenarnya Alvin ikut mengantarkannya tapi ia meminta izin langsung pergi karena ada pekerjaan yang harus ia urus.


''Disini aja, Bang!'' ucap Delisa yang yang mengambil posisi duduknya di sofa ruang tamu.


''Kamu enggak mau rebahan?''


''Enggak, badan ku udah terasa kaku rebahan mulu!'' keluhnya.


Fauzan mengangguk dan berlalu ke dapur, karena ingin menyiapkan makanan untuk adik tersayangnya itu. Dan selagi Fauzan tengah memotong-motong sayuran untuk dibuatkan sup. Delisa datang dan duduk kursi meja makan.


''Bang!'' panggilannya dan Fauzan hanya berdehem sebagai sahutannya karena dia memang tengah sibuk.


''Malam tadi Wahyu datang,'' seketika ucapan Delisa membuat tangan Fauzan berhenti bergerak.


Entah kenapa hanya mendengar namanya saja otaknya terasa mendidih, entah jika bertemu langsung.


''Mau apa bajingan itu mendatangi mu?''


''Aku juga enggak tahu, tapi dia bilang mau meminta maaf dan katanya akan memperbaiki kesalahannya.''


Fauzan berdecih, ia kesal mendengar itu. Dan Fauzan pun berbalik masih dengan apron yang tergantung di lehernya.


''Terus, kamu terbuai?'' Fauzan bertanya dengan tatapan dingin dan mengintimidasi.


Delisa mengangkat pandangannya, ia menatap langsung mata Fauzan yang tajam. Sungguh lelaki yang ia takuti adalah Abangnya sendiri, bahkan ketika ayahnya masih hidup pun, ia lebih menurut pada Fauzan ketimbang Ayahnya.


Fauzan memang jahil, tapi ketika marah Delisa tidak bisa berkata apa-apa.


Delisa menggelengkan kepalanya dengan samar, seraya menjawab begitu lirih. ''Enggak Bang.''


''Bagus! lagipula kamu udah di DP sama Alvin.'' Fauzan berkata dengan nada yang menjengkelkan bagi Delisa, ya bagaimana bisa ada orang yang bisa begitu cepat merubah mimik wajah dan nada bicaranya.


''Aku bukan barang cicilan Bang!'' pekik Delisa tidak terima.


''Iya, iya. Eh! tapi apa Alvin akan melakukan tantangan Abang ya?'' Fauzan menggaruk dagu nya, memikirkan apa yang akan dilakukan oleh pria yang menyukai adiknya itu.


''Enggak mungkin! lagian aku sama Ka Al ga ada hubungan apa-apa. Kenapa harus ada acara pertemuan keluarga segala,'' kilah Delisa yang langsung mendapatkan lirikan tajam Fauzan.


''Bibir bisa berbicara begitu, tapi tidak dengan hati mu wahai Roro Jonggrang!'' sembur Fauzan dan Delisa tertawa dibuatnya.


''Tau ah! Abang buat perut ku sakit, aku kamar dulu. Kalau udah matang panggil segera nona muda ini, oke?''


Delisa pun berlalu pergi dengan langkah pelan karena kepalanya yang masih terasa berat dan telapak kakinya masih bengkak-bengkak.


''Dih! nona muda konon! nyonya Alvin baru benar!'' teriak Fauzan sengaja meledek adiknya yang sudah memasuki kamarnya.

__ADS_1


Fauzan sosok prajurit TNI yang tegas, tapi dia juga sosok kakak yang hangat dan humoris pada adiknya. Seperti dua orang yang berbeda bahkan jika temannya yang seprofesi dengannya mengetahui sikap Fauzan yang suka menjahili adiknya, mungkin saja mereka akan terkejut.


Malam ini terasa membosankan, Delisa yang berada dikamar seharian sangat ingin keluar. Tapi ia urungkan karena ternyata teman-teman Fauzan belum juga pulang.


Entah apa yang mereka obrolkan, tapi Delisa yakin setelah ini dia yang akan di buat repot oleh Abangnya, karena ruang tamu yang berantakan pasti dia yang diminta untuk membereskannya.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar diketuk dan Fauzan berteriak dari balik pintu.


''Dek bantu Abang bereskan ruang tamu ya! Abang mandi dulu!''


Delisa menghela nafasnya malas. Ia malah merebahkan tubuhnya dikasur. Tapi tiba-tiba ia mendengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya, dan bersamaan ponselnya pun berdering.


''Eum, ya kak?''


''Apa?!'' pekik Delisa yang segera bangkit dari ranjang dan menuju jendelanya, mengintip keluar jendela yang langsung menghadap halaman depan rumahnya.


Matanya terbelalak lebar, karena disana terdapat mobil milik Alvin. Dan matanya seakan ingin keluar karena ternyata Alvin datang tidak sendirian melainkan bersama dua orang yang orang tuanya.


''Astaga!''


Delisa langsung berniat keluar kamar, mengingat ruang tamu yang berantakan dan harus ia rapihkan. Tapi sebelum keluar dari kamar dia memeriksa penampilannya dulu dari pantulan cermin.


''Aman!'' serunya.


Karena panik Delisa bingung harus memulai dari mana membereskan itu, terlebih lagi ia baru saja keluar dari rumah sakit. Kakinya yang masih terasa bengkak sangat sulit untuk dia bergerak.


Tapi dengan cepat ia pun merapikan ruang tamu sebisanya dan hanya membutuhkan waktu 5 menit akhirnya semua pun beres.


setelah memastikan semuanya tertata rapi dia pun berlari kecil ke arah pintu tapi sebelum ia menjangkau pintu dia melihat pantulan dirinya sendiri dari lemari pajangan.


''Astaga! kenapa sekarang aku yang berantakan!''


Tok Tok Tok!


Pintu sudah diketuk, tapi Delisa ragu untuk membukanya, dan akhirnya Fauzan pun keluar dari kamar, melihat adiknya yang panik tentu ia merasa heran.


''Dek! cepat sekali kamu bereskan nya. Dan kamu kenapa, kok kelihatan panik?''


''Bang, Abang yang buka pintunya ya, aku mau kekamar sebentar!''


''Buka pintu? ada yang datang? ya sudah kamu buka. Kamu 'kan ada di dekat pintu,'' heran Fauzan pada adiknya.


''Sudah cepat buka saja, aku mau kekamar dulu. Ada kak Alvin didepan!'' Delisa berlari kecil menuju kamarnya, meninggalkan Fauzan yang masih kebingungan.


Dan dengan santainya, ia pun melangkah kepintu lalu membukanya. Ia sedikit tersentak karena bukan hanya Alvin yang berdiri didepannya, ada dua orang lainnya yang ikut bersama Alvin. Dua orang paruh baya yang sudah dipastikan kalau mereka adalah orang tua Alvin karena wajah pria tua itu sangat mirip dengan Alvin.

__ADS_1


''Selamat malam…''


''Ya, selamat malam,'' sahut Fauzan.


''Maaf kami datang dengan tiba-tiba,'' ucap Alvin tanpa mengetahui Fauzan yang menggerutu didalam hatinya.


''Menjawab tantangan sih boleh, tapi kenapa tiba-tiba begini!'' gerutu Fauzan dalam hatinya.


Fauzan menoleh kebelakang, memastikan kalau ruang tamu sudah bersih, dan barulah mempersilakan mereka masuk kedalam.


Semua sudah duduk disofa, dan Alvin seperti sedang mencari seseorang yang sudah ditebak oleh Fauzan kalau yang dicarinya adalah Delisa.


''Dia sedang dikamar, saya permisi panggilkan dulu.''


Baru saja Fauzan mengangkat bokong-nya, suara serak dari seorang pria tua itu membuat Fauzan menjatuhkannya lagi.


''Biarkan Alvin yang memanggilnya, kita bicarakan tentang mereka saja!''


Fauzan pun mengangguk, ia bersikap begitu dewasa dan mengizinkan Alvin untuk memanggil adiknya dikamar.


Alvin bingung dimana kamar Delisa, tapi ketika ia kebingungan Delisa pun muncul dari sebuah ruangan.


''Delisa?'' panggil Alvin.


''Kak Al? ngapain disini?''


''Kamu ada suguhan?''


Delisa terdiam sejenak, mengingat isi lemari pendinginnya. ''Ada tapi hanya minuman sirup, makanan tidak ada. Kakak datang tiba-tiba begini,'' protes Delisa membuat Alvin terkekeh.


''Lebih cepat lebih baik,'' balasnya.


Tap Tap Tap


Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu belakang, dan Delisa terkejut karena ada beberapa orang yang datang dari pintu belakang dengan berbagai makanan dan minuman ditangannya.


*


Happy Reading...


Bantu Author ya,, Mampir juga ke dua novel baru Othor yuk!


Ramaikan disana!! jangan lupa tinggalkan jejaknya, vote, bintang limanya juga like dan tidak lewatkan komentar kalian 🤗🤗 aku tunggu ☺️🥰😍💜


__ADS_1


__ADS_2