
Delisa maupun Diva tentunya merasa aneh, seperti ada air yang sejuk menyirami panasnya gosip. Dalam sekejap apa yang tersebar seolah-olah lenyap tanpa sisa bahkan seperti tidak pernah ada gosip tentang Delisa.
Diva dan Delisa saling menatap di bangku kantin. Mereka berdua tengah keherenan apa yang membuat semua orang membungkam.
''Del? kamu enggak merasa aneh?'' tanya Diva berbisik.
''Aneh sih, tapi itu bagus 'kan.''
Disebuah ruangan, beberapa orang tengah berdiri didepan satu orang yang duduk manis di kursinya.
Semua orang seperti tertunduk hormat pada satu orang itu. Lalu siapa orang itu?
''Pastikan tidak ada lagi gosip memuakkan itu. Mengerti?!''
''Mengerti!!'' jawab serentak semua orang.
Dan merekapun pergi dari sana setelah orang itu meminta mereka pergi.
''Aku mau bicara, datanglah keruangan ku!'' sebuah perintah yang keluar langsung dari mulut orang itu pada seseorang yang dia hubungi dengan ponselnya.
Setelah memberikan sebuah titah, orang itupun memutus sambungan telponnya dan tidak lama orang yang dipanggilnya pun datang.
Dia masuk kesana dengan wajah sinis nya. Tidak ada raut persahabatan disana. Ia duduk begitu saja tanpa diminta oleh sang empunya ruangan.
__ADS_1
''Langsung intinya saja!'' ucapnya.
''Har! kau tau akibat apa yang kau lakukan!'' tegas pemilik ruangan yang tak lain adalah Alvino Abraham. Dan orang yang sedang menghadapnya adalah Hary, sahabatnya sendiri.
Hary terdiam, ia tahu kenapa dia dipanggil kesana, yang tak lain adalah tentang dia yang mengaku memiliki hubungan spesial dengan Delisa didepan banyak orang.
Bukannya menjawab, Hary malah tersenyum, senyuman yang aneh bagi Alvin. Alvin memicing tajam pada Hary yang duduk santai dengan melipat kakinya.
''Kenapa? kau marah, atau merasa terganggu dengan pernyataan ku?'' tanya balik Hary.
''Apa maksud mu?''
''Maksud ku, kau adalah teman yang makan teman! kau tahu aku menyukai Delisa. Tapi dengan sengaja kau malah mendekatinya!''
Alvin tertawa kecil dengan sedikit decakan. Alvin bersandar di kursinya seakan mentertawakan apa yang dikatakan Hary.
Hary pun merasa terpojokkan, karena apa yang dikatakan Alvin semuanya benar. Memang selama ini dia selalu seperti itu pada perempuan terlebih lagi pada mahasiswi baru. Dan kali ini tidak akan dibiarkan oleh Alvin.
''Har! sudah saatnya kau berubah. Pikirkan bagaimana jadinya kalau adik mu atau saudara perempuanmu yang menjadi korban pria seperti mu. Apa kau tidak akan marah?''
''Bukan urusan mu, Vin! selama ini kau diam saja. Tapi kenapa tiba-tiba menasehati ku? apa karena perempuan itu Delisa?''
Alvin berdecak. Ternyata lebih mudah menasehati seorang musuh ketimbang menasehati seorang sahabat. Karena menganggap apa yang dia lakukan adalah kebenaran dan harus di dukung oleh sahabatnya. Sehingga terjadinya adu argumentasi yang tiada akhir karena merasa dirinya benar.
__ADS_1
''Walaupun itu bukan Delisa kau tetap harus berhenti seenaknya Har! Perempuan harus dijaga bukan dirusak!''
''Cih! munafik!''
''Terserah, tapi jika kau masih berusaha aku akan melupakan persahabatan kita!''
Mendengar itu Hary tentu marah. Ia memilih pergi dari sana. Dan menganggap ancaman Alvin adalah bertanda berkibarnya bendera perang.
''Kita lihat saja, siapa yang akan dipilih Delisa!'' gumam Hary sesaat setelah keluar dari ruangan pribadi milik Alvin.
Ya semua gosip itu terkubur pun tidak lepas dari campur tangan Alvin. Ia menyebarkan sebuah berita pemecatan Hendra si Rektor dan di keluarkannya si pembully, yaitu Rika anak dari rektor tersebut. Karena telah menyenggol Delisa dan tentunya mereka mahasiswa tidak mau apa yang terjadi pada Rika terjadi pula dengan mereka. Maka dari itu mereka lebih memilih untuk mengubur gosip itu dalam-dalam ketimbang harus mempertaruhkan pendidikan mereka sendiri.
Dan mulai saat itulah tidak ada lagi yang berani berbicara buruk tentang Delisa. Karena apa yang terjadi pada Rika dan Ayahnya, telah membuktikan kalau Delisa bukan hanya mahasiswi biasa melainkan orang yang spesial disana.
Di Pangkalan militer, Fauzan duduk dengan seorang pria tua berpangkat mayor jenderal. Tiba-tiba seorang laksamana datang menghampirinya, memberikan hormat padanya.
''Siap hadap letnan kolonel!''
''Katakan!''
''Berita yang tersebar semua terkubur karena seseorang yang bernama Alvino Abraham. Beliau adalah anak dari pengusaha kaya raya Elvano Abraham.''
''Baik, terima kasih sudah membantu.''
__ADS_1
Fauzan tersenyum lega. Akhirnya ada orang lain yang mampu menjaga adiknya. Yang dia sadar kalau dia tidak bisa selalu berada didekat sang adik karena sebuah tugas.
''Kau memang bisa dipercaya!'' gumam Fauzan.