
Semua membaik, bahkan hubungan antara Delisa dan Alvino semakin berkembang. Walaupun memang keduanya belum juga memutuskan untuk berkomitmen lebih, tapi Delisa maupun Alvino tidak lagi berjarak.
Delisa tidak segan lagi memanggil Alvin ketika berada di kampus, tapi harus digarisbawahi, bahwa Delisa memanggil Alvin dengan lantang, jika ia rasa sekitar terlihat sepi. Tapi Alvin cukup senang karena sikap Delisa lebih terbuka dari sebelumnya.
Seperti biasa, Alvino akan berkunjung ke kampus untuk sekedar bertemu dengan teman-temannya ataupun duduk di ruangannya.
''Dimana Hary?'' tanya Alvin pada Gery.
''Entahlah, tadi dia disini bersama ku. Tapi tiba-tiba pergi, sudah! biarkan saja,'' jawab Gery.
Alvino sebenarnya tahu, kalau Hary tengah menghindarinya. Karena kesal saat ia melarang Hary mendekati Delisa dan memintanya untuk berubah.
Tapi memang itu demi kebaikannya, walaupun dia juga bersikap egois.
''Vin?''
Alvin menoleh dan mengangkat alisnya.
''Kenapa?''
''Tentang, kau dengan anak baru itu?''
''Delisa?'' tebak Alvino dan Gery mengiyakannya.
''Aku dan Delisa sudah semakin dekat, keluarga kita sudah saling bertemu untuk membicarakan kelanjutan hubungan kita.'' Papar Alvino menjelaskan apa yang sudah terjadi.
Gery sedikit tersentak, karena dia benar-benar tidak tahu menahu tentang hubungan Alvino, Delisa dan permasalahan Hary. Karena memang yang dia tahu Hary tengah mendekati Delisa, tapi ia malah mendengar dari para mahasiswa kalau Alvino dan Delisa adalah pasangan kekasih.
__ADS_1
Sebagai seorang sahabat ia juga merasa harus tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara dua sahabatnya. Belakangan ini ia menyadari kalau Hary juga menghindari Alvino.
''Lalu Hary?'' tanya lagi Gery dengan hati-hati.
''Kau tau Hary 'kan? sudah berapa wanita yang dia kencani, dan berkahir di atas ranjang, setelah itu? Ck, entahlah mungkin Hary salah paham dengan apa yang aku katakan,'' jelas Alvin lagi.
Gery mengangguk-anggukan kepalanya, karena apa yang dikatakan Alvin benar adanya. Hary tipikal pria yang bosanan, dia gampang bosan menjalani hubungan pada semua wanita, dan pasti berkahir diatas ranjang, setelah itu, ia tidak segan-segan meninggalkan kekasihnya dan melupakan apa yang telah ia perbuat.
Dan Delisa? tidak menutup kemungkinan kalau Hary akan melakukan itu juga pada Delisa. Maka dari itu, ada yang Alvino lakukan bukankah sudah sangat tepat?
Gery setuju dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu, apalagi mengingat Delisa adalah wanita yang lugu, walaupun semua penghuni kampus tahu, kalau Delisa pernah melakukan akad lalu berkahir dengan kata Talak didepan penghulu.
Lantas, apa mereka akan diam saja ketika sahabat nya melakukan itu pada wanita yang pernah jatuh sejatuh-jatuhnya kedalam lembah duka, dan akan ditambah lukanya lagi dengan perbuatan Hary. Tentu saja tidak, terlebih lagi, Alvino benar-benar tulus menyukai Delisa.
''Kalau gitu aku ke kantor sebentar. Kalau kau bertemu dengannya suruh menghadap ku,'' ucap Alvino dan Gery pun mengangguk.
Gery menghembuskan nafasnya berat, karena sesuai dugaannya kalau dia sahabatnya itu sedang ada berselisih paham.
'Kamu dimana?'
Send!
Alvino berjalan dengan tangan yang sibuk mengetik sebuah pesan lalu dikirimkan ke Delisa dan hanya menunggu beberapa saat, pesan itu pun dibaca oleh Delisa.
'Dikelas kak, kenapa?' Delisa pun menjawab.
'Kalau tidak ada kelas lagi, keruangan ku ya!'
__ADS_1
Delisa tidak lagi menjawab, ia hanya membacanya lalu kembali memperhatikan sang dosen yang sedang menjelaskan materi yang sedang dipelajari.
Dua jam kemudian, setelah kelas selesai Diva dan Delisa segera keluar dari kelas. Diva mengajak Delisa ke kantin.
Dimeja kantin, Delisa dan Diva tengah menyantap pesanannya. Sembari berbincang, ''Kamu dan Kak Alvin, bagaimana?'' tanya Diva tiba-tiba, membuat Delisa bersemu malu.
''Entahlah. Oh ya! kita masih ada kelas lagi enggak ya?''
''Seharusnya ada, tapi Pak Delon sudah mengirimkan pengumuman di grup chat kalau kelas selanjutnya akan ditiadakan karena para dosen pergi rapat,'' ujar Diva.
''Euumm…, lalu kamu mau kemana setelah ini?''
''Aku akan pergi kerumah sepupu, karena disana ada acara keluarga. Kenapa memangnya, kamu mau ikut?'' Diva menawarkan Delisa untuk ikut dengannya.
Tapi Delisa langsung menggelengkan kepalanya, ''Enggak! aku mau pulang aja,'' kilah Delisa, ya dia masih merasa malu walaupun terkadang dia terbuka dengan Diva.
Setelah membayar ke kasir kantin, keduanya pun berpisah di koridor kampus. Delisa berdiri memperhatikan kepergian Diva yang ternyata dijemput oleh orang tuanya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan lalu segera menuju ruangan Alvin yang dia tahu kalau itu ruangan Alvin dari Diva.
Mengetuknya dengan ragu, iapun masuk setelah mendapatkan sahutan dari pemilik ruangan.
''Kemarilah!'' panggil Alvin yang sedang duduk dikursinya setelah menutup laptopnya.
Delisa berjalan dengan sungkan dan berhenti tepat di samping meja Alvino. Entah seberapa dekat mereka, tapi tiba-tiba Alvin menarik tangan Delisa.
Delisa yang agak terkejut terhuyung dan terjatuh dipangkuan Alvin. Delisa akan beranjak tapi justru Alvin menahannya.
Happy reading...
__ADS_1
Mampir juga ke novel teman ku yuk! gak kalah serunya lho 🤗 Author Ana Johana