Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Title yang Tidak Pantas


__ADS_3

Delisa termenung seorang diri dikamar tidurnya, entah kenapa siluet bayangan Wahyu kembali hadir. Perasaannya pada Wahyu masih sangatlah besar, walaupun rasa sakit yang diberikan pria itu juga tak kalah besarnya, tapi..., ya begitulah wanita, sangat sulit melupakan seseorang yang sudah menetap dihatinya.


Sudah satu semester Delisa menjalani kuliahnya, banyak pria juga yang berusaha mendekatinya salah satunya adalah Hary. Namun tidak satupun yang bisa membuat hatinya terbuka kembali, hatinya sangat sulit menerima orang baru. Bahkan ada sebuah rasa trauma yang menghantuinya, ia takut akan mendapatkan rasa sakit itu lagi dari orang yang berbeda.


Pagi itu, Delisa sudah bersiap akan berangkat ke kampus. Dengan pakaian sederhananya, celana jeans dan kaus yang dipadukan dengan kardigan, ia melenggang keluar rumah. Halte busway yang ada di sebrang jalan lah tujuannya saat itu, tapi baru saja ia akan menyebrang jalan sebuah mobil berhenti tepat didepannya.


Ia melongok kedalam mobil, dan pintu pun terbuka lalu keluarlah seorang pria yang memakai pakaian dinas yang lebih populernya disebut tenue.


Pria itu berdiri, wajah yang sebagian ditutupi masker membuat Delisa mengernyit tapi sesaat kemudian pria itu membuka penutup mulutnya membuat Delisa tersenyum senang.


''Abang?!'' Delisa langsung memeluk pria yang ternyata adalah Fauzan.


Fauzan membalas pelukan adik satu-satunya itu seraya berkata, "Ada apa dengan tubuh mu, kenapa semakin kurus?" tanyanya.


Delisa melepaskan pelukannya lalu mencebikkan bibirnya. "Bang jangan mulai!" Fauzan pun tertawa, ya itulah guyonan mereka setiap sekian lama baru betemu lagi.


"Kamu mau kemana?" tanya Fauzan.


"Ngampus, abang anterin aku dong..." rengek Delisa dengan manja.


Tanpa ia tahu bahwa didalam mobil ada orang lain selain Fuzan. Orang itu tertawa kecil melihat tingkah manja Delisa, tidak menyangka kalau gadis pendiam seperti Delisa bisa bersikap seperti itu pada kakaknya. Dan memang inilah sifat asli Delisa.


Delisa terus merengek dan bergelendot pada kakaknya, bahkan ia becerita banyak tentang kuliahnya, sampai ketika orang yang sejak tadi berada dalam mobil pun keluar dari kursi kemudi.


"Fauzan! kalau gitu aku pamit duluan ya!" serunya yang tentu membuat Delisa langsung menoleh kearahnya.


Mata sipit Delisa tebelalak lebar, ia menatap oang itu dan Abang-nya secara bergantian. Dia benar-benar tidak menyadari adanya kehadiran orang lain disana, bahkan dia sendiri juga tidak menyadari kalau kakaknya tadi keluar dari pintu mobil bagian penumpang bukan yang mengendarainya.


"Mampir lah dulu sebentar! temani ku ngopi!" pinta Fauzan.


Dan pria itu melirik sedikit kearah Delisa seraya menyahut, "Baiklah, tapi tidak bisa lama."


Pria itu melewai Delisa begitus saja bersama Fauza, kakaknya. Tapi seperkian dektik kemudian, Fauzan kembali berbalik. "Kamu berangkat sendiri ya, Abang lelah sekali. Nanti abang jemput," ujarnya dan dianguki Delisa tanpa menjawabnya.

__ADS_1


Fauzan dan pria itu sudah masuk kedalam rumah, dan Delisa juga sudah menyebangi jalan karena memang bis yang biasa ia taiki sudah datang.


Didalam Bis, ia termenung merasa tidak asing dengan pria yang datang bersama Abangnya, pia yang memakai seragam dinas persis seperti kakaknya. Tapi siapa? Delisa berusaha mengingatnya. Namun, tetap tidak bisa.


"Dia? seperti tidak asing, tapi siapa?" gumam Delisa masih memikirkan pria yang tadi, tapi buru-buru ia buang pertanyaan-pertanyaan itu sebelum kakinya melangkah keluar dari bis karena memang sudah sampai didepan gedung kampusnya.


Dirumah dinas Fauzan. Dua pria tadi sedang menikmati kopi yang diracik menggunakan mesin kopi elektrik. Mereka berbincang sampil menyesap secangkir kopi panas dengan roti isi sebagai temannya.


"Fauzan? dia Delisa 'kan?" tanyanya.


"Ya! kenapa?"


"Enggak! cuma pangling aja, dia tumbuh jadi gadis cantik ya, enggak sangka aja gadis manis sepetinya disakiti lelaki bengsek!" Fauzan tertawa miris, ia tahu temannya itu sejak mereka duduk dibangku sekolah, dan dia yang sering mengajaknya main kerumah kerap mencuri pandang pada Delisa. Dan dia juga sudah menceritakan yang terjadi pada adiknya, yang tentunya membuat pria itu ikut merasakan kesal pada laki-laki yang telah meninggalkan Delisa setelah kata Sah itu terucap.


"Vik! kalau kau bisa rebut hati Delisa dalam kurun waktu satu bulan, aku akan berikan restu ku untuk mu!" ucap Fauzan yang tiba-tiba memberikan tantangan pada pria yang bernama Vikar itu.


Vikar yang memang sejak dulu menyukai adik dari temannya itu, tentu merasa senang dan tanpa ba-bi-bu pun ia menerima tantangan Fauzan dengan senang hati.


"Tapi kalau misalkan Delisa tetap menolak mu selama waktu yang sudah kuberikan, kau tidak boleh marah ataupun protes. Mundur dengan baik-baik! bagaimana?"


Delisa yang seperti biasa sebelum masuk kelas pasti pergi kekantin dulu untuk mengisis perutnya karena memang dia belum sarapan pagi itu. Dan tiba-tiba bersin.


"Siapa yang sedang membicarakan ku,"  gumam Delisa yang menyeka hidungnya yang memerah.


"Aku!" sahut seseoang yang tiba-tiba bergabung dengannya dan Diva. "Kak Hary?"


"Hay Div, hay Delisa..." sapa Hary yang merebut minuman Delisa begitu saja lalu menyeruputnya tanpa mersa bersalah.


"Kau bersin karena aku sedang memikirkan mu!" ucap Hary seperti biasa menggombal.


"Basi tahu kak, gombalan seperti itu," balas Diva.


"Iya kah? emmm kira-kira gombalan apa yang kamu suka Del?"

__ADS_1


Delisa tetap diam, ia sudah mulai jengah, ia lelah kalau setiap hari harus behadapan dengan Hary dan setelah itu harus behadapan juga pada pliharaan Hary yaitu si Rika. Delisa juga sudah cukup menolak Hary tapi entah hati Hary tebuat dari apa, ia tetap tidak mudah menyerah untuk terus mendekati Delisa.


"Kak-" Delisa terdiam seketika karena ucapannya dipotong begitu saja.


"Kamu mau nyuruh aku pergi dan berusaha lari seribu kalipun, aku akan tetap mengejarmu, Del!" potong Hary tidak tahu malu.


"Kakak bisa berkata itu, apa kakak enggak kasian sama Delisah, dia terus di ganggu Rika karena kakak!" timpal Diva yang juga merasa kesal pada Hary.


"Dia masih mengganggu mu, Del?" tanya Hary tapi tidak disahuti oleh Delisah.


Delisa menghela nafasnya kasar, matanya melirik keaah meja dimana teman-teman Hary berada, “Kakak kenapa enggak gabung sama teman-teman kakak saja,” ucap ketus Delisa.


Hary menoleh kearah teman-temannya lalu menjawabnya, “Bosan! Mereka hanya membahas basket.”


“Kalau gitu, kita yang akan pergi, permisi!” Delisa beranjak dari duduknya tapi tangan Hary begitu cepat meraih tangan Delisa sebelum ia pergi meninggalkan meja.


“Del tunggu! Sebenarnya aku kurang apa?”


Pertanyaan Hary membuat Delisa mengernyit heran.


“Apa lelaki buruk seperti ku tidak pantas berteman dengan gadis baik seperti mu?”


Delisa tetawa kecil bahkan tawanya menggambarkan sebuah rasa muak mendengar julukan ‘Gadis’ pada namanya.


Ya sampai saat ini yang tahu setatus nya hanyalah Diva. Bukan! Bukan berarti dia tidak mau orang lain tahu setatus janda pada nya, hanya saja ia menganggap itu adalah privasi hidupnya.


“Kak lepasin! aku ada kelas sebentar lagi,” pinta Delisa tapi Hary tetap mencengkram pergelangan tangannya walaupun Delisa terus berusaha melepaskan tangannya.


“Jawab aku dulu, apa aku tidak pantas berteman denganmu?”


Mata Delisa sudah berkaca-kaca karena semakin lama pergelangan tangannya terasa perih.


Tapi tiba-tiba seseorang pun datang dan melepaskan tangan Hary yang mencengkram pergelangan Delisa.

__ADS_1


“Lepas!”


Delisa dan Hary begitu juga orang-orang yang ada dikantin turut ikut menoleh dan tekejut melihat orang yang datang itu.


__ADS_2