
"Lepas!!''
Suara bariton itu membuat Delisa terkesip, begitu juga dengan Hary. Hary bahkan merasa aneh dengan orang ini yang ternyata adalah Alvin, sahabatnya.
Kedua pria itu saling beradu tatap, wajah Alvin memerah menahan amarah, dan Hary? ia masih tdiak mengerti apa yang sedang dilakukan Alvin saat ini. Sejak kapan Alvin peduli dengan urusan orang lain? dan ada apa dengan raut wajahnya.
''Kau kenapa?'' tanya Hary yang tangannya sudah terlepas karena Alvin.
''Dasar bajingan! ikut aku!'' Alvin menyeret Hary begitu saja, ia membawa Hary pergi dari kantin.
Delisa yang masih syok hanya diam ditempatnya, begitu juga Diva yang speechless karena pertama kalinya melihat Alvin semarah itu pada Hary, dan karena apa? dia juga tidak mengerti.
Maka disinilah mereka berada, ke ruangan teater lah Alvin membawa Hary. Menyeretnya dengan menarik kerah baju Hary.
Alvin melepaskan tangannya dari baju Hary begitu saja sehingga membuatnya hampir saja tersungkur jatuh.
''Kau tau apa yang sedang terjadi?'' tanya Alvin dengan sangat dingin.
''Apa? apa maksudmu?''
''Kau tahu, karena ulah mu, dia terus berada dalam masalah!''
''Masalah? dia, dia siapa?''
''Delisa! dia selalu menjadi sasaran bulan-bulanan Rika, kekasih mu itu!!'' bentak Alvin begitu menyeramkan.
Hary terdiam, sungguh dia tidak tahu menahu soal itu. ''Tapi kenapa?'' tanya Hary yang justru membuat emosi Alvin kembali terpancing sehingga membuat Alvin melepaskan pukulannya pada rahang tegas Hary.
Bugh!
''Akkhh!! ****! brengsek! kau ini kenapa Vin?!!''
''Kau tanya kenapa? kenapa Rika bisa mengganggu Delisa, iya? biar ku katakan! jika hubungan mu belum selesai jangan pernah berniat memulai kembali pada orang lain, apalagi membuat orang lain berada dalam bahaya karena hubungan mu yang belum selesai itu!''
''Tapi aku sudah mengakhiri nya,'' ucap Hary.
''Kau! bukan dia! seharusnya kau bisa lebih mengerti bagaimana Rika! dia perempuan yang sangat berambisi untuk menjadi orang yang paling unggul. Dia tidak akan membiarkan perempuan manapun mampu menyaingi nya, mengerti?''
Alvin melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Hary, lalu pergi meninggalkan Hary disana.
Dan saat ia akan keluar dari gedung teater itu, secara kebetulan dua orang gadis akan membuka pintu ruangannya.
Sesaat mereka terdiam, dengan mata Alvin hanya menatap manik mata coklat milik Delisa, kemudian berlalu turun ke pergelangan tangannya. Ia melihat ada jejak merah membentuk cengkraman tangan yang tak lain itu adalah cengkraman tangan Hary.
Emosi Alvin kembali terpancing, bahkan tangannya sudah mengepal kuat tapi sebisa mungkin ia tahan.
''Segera kompres pergelangan tangan mu!'' ucap Alvin dengan dingin. Namun, Delisa dan Diva bisa membaca raut dan nada Alvin yang seakan mengkhawatirkan keadaan Delisa.
Delisa melongok ke dalam ruangan, dan Alvin pun menyadari itu. ''Dia tidak apa-apa, kalau kalian mau, bantu dia juga kompres lukanya!'' ketus Alvin yang seakan menyimpan rasa kesal intonasi bicaranya.
__ADS_1
Alvin pun berlalu pergi tanpa bicara apapun lagi, mata Delisa mengikuti kemana Alvin pergi. Entah kenapa ia merasa aneh dengan lelaki itu, sikapnya yang dingin tapi seakan menunjukkan perhatiannya pada Delisa membuat Delisa bertanya-tanya.
''Ada apa dengannya?'' gumam Delisa.
''Dengan cara ia mengepalkan tangannya, itu berarti dia sedang menahan emosinya, dan dengan cara dia menyipitkan matanya saat kau melihat kedalam itu menandakan kalau dia tidak suka dengan apa yang kau lakukan,'' beber Diva yang memang sedikit banyaknya tahu ilmu mikro ekspresi karena dia mengambil jurusan psikologi.
Delisa menyatukan alisnya, masih tidak mengerti dengan penjelasan Diva. Kenapa pria itu marah, kenapa pria itu tidak suka karena dia melihat kedalam. Perhatian keduanya teralihkan karena Hary yang keluar dari sana dengan wajah yang babak belur.
''Kalian disini?''
''Iy-iya kak, maaf! tadi kita penasaran,'' sahut Diva dengan tidak enak.
Hary tertawa kecil mendengarnya, seperti tidak merasakan sakit diarea lebamnya.
''Delisa, maafkan aku ya. Apa tangan mu sakit?'' tanya Hary begitu perhatian padahal wajah dia sendiri mengalami luka lebam akibat pukulan dari Alvin.
Alvin meraih tangan Delisa tapi dengan cepat Delisa menarik kembali, apa Hary marah? tentu tidak, ia justru kembali tersenyum dan tiba-tiba justru mengusap puncak kepala Delisa.
''Ya sudah, aku duluan ya.'' Hary pun berlalu pergi dari sana.
''Fix ini sih! mereka berdua menyukai mu!'' celetuk Diva dengan tiba-tiba. Membuat Delisa terperangah.
''Hussh! jangan sembarang bicara, kalau sampai terdengar orang lain, aku lagi yang akan di salahkan!'' sahut Delisa yang sudah lelah terus menjadi bulan-bulanan Rika karena menganggapnya telah merebut Hary dari nya.
''Tapi Del, mau sampai kapan kamu menutup diri, sudah sepantasnya kamu mulai membuka hati mu itu,'' ucap Diva yang sebenarnya merasa iba dengan sahabatnya itu, apalah setelah ia mendengar cerita pilu dari Delisa. Membuat dia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Delisa.
''Entahlah, aku belum memikirkan itu,'' sahut Delisa kemudian.
''Delisa kamu harus bangkit! dengan status mu yang seorang janda, jangan pernah mengurung diri karena itu. Lepaskan saja, mulai hidup yang baru.'' Delisa tersenyum, ia senang Diva perhatian padanya.
Tapi tanpa mereka sadari, seseorang mendengar percakapan mereka berdua bahkan percakapan keduanya telah terekam dalam video yang orang itu ambil sejak tadi.
Kelas kedua mereka akan dimulai empat puluh menit lagi, dengan susah waktu yang lumayan lama, Diva mengajak Delisa untuk pergi ke kedai es krim viral yang ada di sebrang jalan kampus.
Menyantap es krim vanila dengan toping strawberry, keduanya sembari bercakap-cakap mengenai beberapa hal.
''Kamu pulang naik bis lagi kah?''
''Kayaknya enggak!''
''Bagus deh, sekali-kali naik taksi, jadi manusia irit banget. Padahal digit di rekeningnya hampir tumpah,'' canda Diva yang disusul gelak tawa dari keduanya.
Setelah puas dengan kuliner es krim nya, kedua gadis itu pun kembali kekampus karena kelas akan dimulai lima belas menit lagi. Delisa dan Diva berjalan sedikit lebih cepat karena tidak mau terlambat.
Tapi, seketika langkah mereka terhenti ketika mendengar suara yang tidak asing sedang diputar melalui pengeras suara yang berasal dari ruangan pemberitahuan gedung.
''Delisa, kamu harus bangkit! dengan status mu yang seorang janda, jangan pernah mengurung diri karena itu. Lepaskan saja, mulailah hidup yang baru.''
Delisa menoleh pada Diva yang juga menatap nya. Mereka sangat tahu betul suara itu, adalah suara percakapan antara mereka berdua tadi didepan ruangan teater.
__ADS_1
Semua pandangan tertuju pada satu titik objek yaitu pada Delisa. Suara rekaman itu terus terulang membuat seluruh penghuni kampus dapat mendengar nya begitu jelas.
''Del?''
Delisa tertunduk, ia bukan Mali dengan status nya saat ini. Tapi ia merasa sedang di permalukan didepan semua orang.
''Delisa, aku benar-benar—''
Tanpa mendengar apa yang akan dikatakan Diva, Delisa berlalu pergi begitu saja dengan lemparan tatapan tajam kearah nya itu.
Semua orang terkejut, mereka tidak menyangka ternyata gadis cantik yang mulai dikenal oleh seluruh penghuni kampus, dan dicap sebagai primadona kampus, ternyata bersetatus janda.
Diva mengejarnya, tapi karena Diva menabrak orang, ia pun tidak melihat kemana Delisa pergi.
Air mata Delisa terus berderai, kala mengingat bagaimana setatus dia menjadi janda itu dimulai. Kata Talak! yang membuat dia hancur, membuat dia kehilangan arah, membuat dia harus menerima kenyataan kalau Ayahnya meninggal karena dia.
Sesakit itu yang telah dia lewati, tapi kenapa semua orang tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan. Justru ada orang yang begitu jahat berniat mempermalukan dia.
Delisa melewati banyaknya mahasiswa yang menatap kearahnya seakan merasakan jijik dengan dia. Ada apa memangnya dengan status janda? salah kah? apa hanya wanita yang harus terus menerima pandangan buruk itu. Kenapa mereka tidak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi justru seakan menghakimi status seorang janda.
Delisa pergi ke rooftop kampus, baginya tempat itu terasa sangat nyaman untuk dia mengeluarkan air matanya. Ia meringkuk dibawah tumpukan kayu, ia merasa luka lamanya sedang dikoyak kembali sehingga menimbulkan luka baru yang semakin terasa sakit dari sebelumnya.
Mengingat tatapan tajam semua orang tadi, membuat lututnya terasa lemas. Tapi siapa yang sudah melakukan itu? selama ini dia tidak memiliki musuh terkecuali…
Delisa mengangkat kepalanya merasakan kehadiran seseorang yang ternyata sudah berada didepannya. Seseorang itu berdiri dengan tangannya terulur memberikan sehelai sapu tangan untuknya.
''Apa kau baik-baik saja?'' tanyanya. Dan Delisa pun mengambil sapu tangan itu lalu menyeka air matanya.
Tidak, Delisa tidak menjawabnya. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di kedua lengannya yang dilipat. Lidahnya terasa keluh karena hatinya yang masih terasa sakit.
Orang itu mengambil posisi duduknya disamping Delisa. Seraya berkata lagi.
''Seharusnya kamu bisa lebih kuat! buat apa melarikan diri, apa kamu merasa malu?'' tanyanya.
Lalu Delisa pun kembali mengangkat kepalanya, ia menolehkan wajahnya menatap orang asing itu.
''Kamu siapa?''
''Hapus dulu ingus dan air mata mu itu, baru beberapa jam saja sudah lupa,'' sahutnya.
''Aku, aku ingat kok, kamu yang tadi sama Abang 'kan? tapi aku nanya, kamu ini siapa?'' tanya Delisa dengan suara sumbang.
''Aku Vikar, kamu benar tidak mengenali ku?''
Delisa terdiam sejenak, nama 'Vikar' di ingatannya tidak terlalu asing, dan beberapa saat kemudian, ia pun baru mengingatnya.
''Oh teman Abang sekolah dulu ya?'' Vikar pun tersenyum dan mengangguk.
Happy Reading...
__ADS_1