
Diruangan yang terlihat seperti kantor, tapi Delisa juga baru mengetahui ruangan itu kalau bukan Alvin yang membawanya kesana.
''Kamu duduk dulu, aku ambilkan minum.'' Alvin melangkah kearah lemari pendingin untuk mengambil dua botol air mineral. Lalu di berikanlah satu botol air mineral pada Delisa yang duduk tanpa bicara.
Alvin menenggak air mineral itu hingga botol pun kosong. Matanya terus melirik ke arah Delisa yang sejak tadi hanya memainkan tutup botol tanpa meminumnya, dia tahu betul apa yang saat ini Delisa rasakan, dari hinaan yang tadi pagi terlontar dari mulut seorang wanita paruh baya sampai kejadian di halaman kampus yang pastinya ada kaitan dari semuanya.
Alvin masih tidak percaya kenapa gadis polos seperti Delisa, secantik Delisa bahkan sebaik dia, bisa mendapatkan cacian dan makian seperti itu dan mengingat nasibnya yang begitu buruk ingin sekali membawa dia langsung ke dalam dekapannya, hingga melupakan semua derita yang ia rasakan selama ini.
Tapi sungguh! Alvin pun tidak mengerti bagaimana cara dia mengatakan kalau dia siap untuk mengobati luka Delisa yang pastilah sangat parah di hatinya.
Ingin sekali Alvin mendapatkan wewenang dari Delisa untuk membalas semuanya, tapi dia tidak mau memaksa itu karena baginya apa yang dia lakukan itu memang murni hatinya yang bergerak.
Sebenarnya Alvin pun tidak terlalu menganggap salah pada pria bernama Wahyu itu, karena dia tahu apa yang pria itu lakukan adalah bentuk dari bakti seorang anak untuk ibunya. Tapi ternyata bentuk bakti itu membuat dia melakukan kesalahan besar yakni menyakiti hati seorang gadis yang dia pinang dengan kata bismillah tapi akhirnya berakhir dengan kata talak.
''Dia membohongiku, dia memberikan ku talak dengan alasan permintaan ibunya yang sakit keras. Tapi, tapi—'' Delisa tidak lagi mampu melanjutkan ucapannya, air matanya memaksa keluar tapi dia tahan sebisa mungkin.
''Menangis jika bisa mengurangi beban mu,'' tegas Alvin dan terdengarlah suara isakan dari Delisa.
''Ayahku meninggal karena dia! Dan ternyata dia memiliki wanita lain,'' lanjutnya begitu lirih.
Alvin dapat menebak wanita lain yang di maksud oleh Delisa adalah Rika, tapi bukankah Rika itu kekasih Hari?
''Aku tahu memutuskan sebuah hubungan itu adalah hal yang paling mudah, tapi melupakan pastilah sulit. Yang memutuskan hubungan adalah dia, dan bagian kamu saatnya berusaha melupakannya.''
''Seperti apa yang aku katakan tadi pagi, berusahalah kembali membuka hati,'' lanjut Alvin berujar begitu panjang lebar.
''Dengan status ku saat ini? cih! aku tidak yakin itu,'' decih Delisa begitu miris dengan mengingat statusnya saat ini yang seorang janda.
''Jangan pernah memandang hina pada diri sendiri, kalau tidak mau dipandang remeh oleh orang lain. Pikirkan dirimu sendiri, yakinlah kalau kamu adalah perempuan yang berkualitas!''
Delisa terdiam sejenak. Ia membenarkan apa yang dikatakan Alvin. Kalau dia saja memandang remeh dirinya bagaimana orang lain bisa menghargainya.
''Terima kasih, kak,'' ucap tulus Delisa menatap sendu Alvin yang membuat pria 27 tahun itu seketika merasa gugup karena ditatapnya.
__ADS_1
Tok tok tok
''Se–sebentar!'' Alvin beranjak dengan salah tingkah kemudian berlalu untuk membuka pintu.
Beberapa saat kemudian, Alvin pun kembali dengan sebuah kotak, yang Delisa tahu itu adalah kotak kue, Alvin meletakkannya di atas meja lalu duduk kembali di kursi tepatnya sebelah Delisa.
''Kata orang kalau wanita sedang bersedih, dengan memakan manis-manis bisa mendatangkan kebahagiaan, cobalah!''
Alvin menggeser wadah kue itu ke depan Delisa setelah memotongkan untuknya.
Delisa mengambil potongan kue brownies coklat itu dan segera ingin ia makan, tapi beberapa saat ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan gerakannya untuk mengigit kecil kue itu.
''Bagaimana?''
Delisa tersenyum lalu mengangguk. Benar! memakan manis-manis mampu membuat rasa sedih kita sejenak tersingkir. Dan dia juga baru mengingat kue punya dia yang masih ada di lemari pendingin dirumahnya.
''Terima kasih, kak.''
''Kamu yakin?'' Delisa mengangguk dengan senyuman.
''Baiklah, ayo!'' Alvin berjalan lebih dulu didepan Delisa untuk membukakan pintu, lalu melangkah bersama menuju kelas masing-masing.
Oh tidak! Alvin tidak ke kelas musik, melainkan ikut melangkah kemana Delisa melangkah.
Delisa menoleh ia ingin bertanya tapi rasa sungkan itu masih ada, karena bagaimanapun Alvin adalah seniornya.
''Kenapa?'' tanya Alvin yang menyadari gerak-gerik Delisa yang seperti ingin menanyakan sesuatu.
''Euum…, kamu mau kemana?''
''Mengantarkan mu lah, mau kemana lagi.''
Delisa tercengang, mengantarkan? entah bagaimana nanti ricuhnya penghuni kelas jika ke geran kampus itu datang ke kelas mereka.
__ADS_1
Atau mungkin saja, mereka memang sedang menunggu Alvin. Karena dia juga tahu saat kejadian tadi dihalaman kampus, semua mahasiswa ikut menonton perdebatan dia dengan Wahyu, dan pasti juga mereka melihat bagaimana Alvin membelanya.
Dan benar saja, saat mereka menuju kelas dan melewati beberapa jendela kaca, jeritan-jeritan itu mulai terdengar sehingga mempu memekik telinga.
Setelah sampai didepan pintu, Delisa menghentikan langkahnya lalu berbalik, dan membuat Alvin juga berhenti.
''Sampai sini aja, kak. Terima kasih atas bantuannya. Dan terima kasih sudah menghibur ku.'' Delisa menundukkan kepalanya dengan sopan.
Dan Alvin malah mengusap kepala Delisa begitu lembut, sehingga menciptakan kericuhan dari jeritan-jeritan penghuni kelas yang melihatnya.
''Aaakkkhhh! Astaga, Kak Alvin!"
"Ternyata Delisa pawangnya!"
"Enggak ikhlasss!"
"Sakit hati aku!"
Itulah beberapa jeritan-jeritan dari beberapa mahasiswi yang mengagumi Alvin sejak dulu, tapi ternyata Delisa mahasiswi baru lah yang beruntung mendapatkan perhatian Alvin.
Pipi Delisa berubah warna, sikap hangat Alvin memang terus membuat Delisa tersipu, apalagi ketika ia mengingat dengan kurang ajarnya dia memeluk Alvin dipinggir jalan. Sungguh! sebenarnya dia sangat malu pada Alvin, takut membuat pria itu risih, tapi ternyata tidak.
"Ya sudah masuklah. Aku akan pergi. Ada urusan lain,'' pamit Alvin dan Delisa mengangguk.
''Hati-hati, kak.'' Delisa merapatkan mulutnya, ia merutuki ucapannya yang seakan-akan orang yang sudah dekat dengan Alvin.
Alvin tertawa kecil, seraya menjawab. ''Pasti!'' Alvin pun berlalu pergi karena memang ada pertemuan penting dengan klien di tempat lain.
Dan saat Delisa masuk, semua mata tertuju kearahnya. Begitu juga Diva yang menatapnya seperti sedang melayangkan banyak pertanyaan.
''Kamu berhutang penjelasan, Del!'' ucap Diva pelan setelah Delisa meletakkan bokongnya di kursi.
Delisa hanya diam, ia juga bingung harus menjelaskannya dari mana, karena ini semua terjadi secara tiba-tiba. Dari dia dan Alvin ternyata berada di dalam satu bis. Sampai Alvin ikut berada dalam lingkaran permasalahannya dengan Wahyu juga ibunya.
__ADS_1