
Delisa bingung, kenapa Alvin dan Vikar seakan saling menyerang dengan sebuah pertanyaan dan pernyataan. Dan pada akhirnya bukan Delisa menjawab apa yang dikatakan Alvin, ia justru melepaskan kedua tangan mereka dari tangannya begitu saja.
''Pulang bersama ku, siapa aku, kamu siapa!! kalian ini kenapa?!'' pekik Delisa kesal.
''Kak Vikar bertanya siapa dia 'kan?'' Vikar pun mengangguk.
''Dia adalah Alvin, senior aku di kampus!''
Vikar tersenyum dengan bahagia karena merasa menang melihat Alvin yang tertunduk.
''Kak Alvin mau tau siapa Kak Vikar?'' dan sekarang giliran Alvino yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
''Kak Vikar adalah Kakak kedua bagi ku! puas sekarang?''
Vikar menghela nafasnya, dan sekarang Alvin yang menyiratkan sebagai senyuman kepuasan.
''Aku pulang bersama siapa itu sudah pasti aku akan pulang bersama orang yang mengajak ku kesini. Tapi kalau kak Vikar mau, kakak bisa ikut bergabung dengan kami,'' ujar Delisa memberikan sebuah usulan yang membuat Alvino resah.
''Enggak Del, aku ada urusan lain. Kalau begitu aku pamit ya. Kamu hati-hati nanti pulangnya,'' jawab Vikar begitu membuat Alvin merasakan angin segar.
Tapi sesaat kemudian, mata Alvino mendelik ketika Tangan Vikar mengusap kepala Delisa dan bersiap akan memeluknya. Maka dari itu dengan secepatnya Alvin mengambil posisi berdirinya didepan Delisa.
__ADS_1
Tentu apa yang dilakukan Alvino membuat Vikar mendengus kesal tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena melihat Delisa pun hanya diam tanpa protes pada Alvino.
Vikar tersenyum hangat pada Delisa, tidak begitu pada Alvino. Seakan menyiratkan sebuah persaingan iapun berlalu begitu saja tanpa berpamitan pada Alvin.
Mata Delisa mengikuti kemana Vikar pergi. Lalu kembali menoleh kearah Alvino yang ternyata terus menatapnya dengan tatapan aneh bagi Delisa.
''Kita kembali ke dalam,'' ucap Alvino yang meraih tangan Delisa begitu saja lalu membawanya kedalam, kembali pada Alisha sang ibunda.
Didalam mobil, Vikar ternyata tidak langsung pergi, ia melihat saat Delisa digandeng oleh Alvin. Sebuah keputusasaan yang ada didalam hati Vikar karena mengira bahwa Delisa telah milik pria lain, dan kesempatan untuknya tidak mungkin lagi.
Tapi mengingat lagi, saat Delisa mengatakan siapa Alvino. Vikar kembali meyakinkan dirinya kalau belum ada kata terlambat dan ia harus memperjuangkannya.
''Ya dia hanya kakak seniornya, jadi aku masih memiliki kesempatan itu!'' yakin Vikar.
Alvino menatap hangat pada Delisa,
seraya bertanya begitu lembutnya, ''Ada apa, hmm?'' tangannya yang sembari membetulkan rambut Delisa lalu menyelipkannya kebelakang telinga.
''Sebenarnya kakak minta tolong apa sama aku? kenapa Ibu mu melontarkan banyak pertanyaan itu?''
Ya pertanyaan-pertanyaan itulah yang sejak tadi ingin sekali Delisa ucapkan pada Alvin tapi baru ada kesempatan.
__ADS_1
Alvin tersenyum dengan tawa kecilnya. Kala mengingat bagaimana Delisa menjawab pertanyaan sang Mama, membuat dia tersipu malu.
''Jadilah pasangan ku!'' ucap tiba-tiba Alvino membuat Delisa speechless.
Beberapa saat Delisa hanya diam. Sampai Alvin pun merasa kalau dia akan mendapatkan penolakan dari Delisa. Bukan tanpa alasan Alvin nekat mengutarakan perasaannya untuk segera mendapatkan Delisa. Karena yang dia tahu bukan hanya dia seorang yang menyukai Delisa, ada pria lain juga yang mengincarnya termaksud sahabatnya sendiri yaitu Hary.
''Huuft! Aku minta maaf Delisa. Aku tahu ini begitu tiba-tiba, tapi aku juga enggak tahu harus bagaimana. Mama ku meminta ku segera menikah dengan anak temannya, tapi disisi lain aku terus memikirkan mu.''
''Delisa? apa kamu marah?''
Belum sempat Delisa menjawab, pintu besar itu terbuka dan Alisha berdiri disana menatap bingung pada Alvin dan Delisa.
''Kenapa kalian lama sekali?'' tanya Alisha. Delisa menatap Alvin dan Alvin pun menyiratkan sebuah tatapan memohon.
Tidak ada tanggapan apapun dari ekspresi wajah Delisa, raut wajahnya hanya datar menatap Alvino yang terus memasang wajah memohon. Tapi Alvin tentu tidak kuasa memaksa kehendak Delisa walaupun hatinya merasa sedih karena saat ini Delisa telah menolaknya.
''Maaf Tan, tadi kami perlu bicara sedikit,'' sahut Delisa dengan tatapannya masih terfokus pada Alvin.
''Ya sudah kalian lanjutkan saja bicaranya. Mama pamit pulang, Papa mu meminta Mama menyiapkan bajunya untuk dibawa ke Amerika.'' Alisha menatap keduanya lalu berlalu pergi dari sana meninggalkan dua orang itu.
Di mobil, Alvin yang sedang mengemudikan mobilnya terus mencuri pandang dengan Delisa yang bahkan sejak tadi ia hanya diam tanpa bersuara sedikit pun.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya sedang Delisa pikirkan, Alvin merasa sangat penasaran. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ia yakin saat ini Delisa tengah marah padanya.
Tapi sungguh apa yang Alvino pikirkan itu semuanya salah, Delisa tidak marah padanya tapi saat ini ada yang menganggu pikirannya, tapi apa? entahlah.