Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Suasana yang Canggung


__ADS_3

''Alvin! nak!!'' teriak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik yang saat ini melambai kearahnya, memanggil Alvin. Dan tanpa diduga, Alvin meraih tangan Delisa lalu membawanya menghampiri Wanita paruh baya itu.


''Mam...'' Alvin memanggilnya dengan sebutan Mama, yang tentunya membuat Delisa tersentak, karena kaget.


Delisa ingin segera melepaskan tangan Alvin, tetapi Alvin justru semakin merapatkan genggamannya sembari memeluk wanita paru baya itu.


Tatapan semua orang termaksud beliau menatap Delisa seakan mengintimidasi kehadiran dan siapa Delisa sehingga Alvin membawanya dengan terus menggenggam tangannya.


Alvin tersenyum sejenak menyadari tatapan banyak pertanyaan dari sang Mama. Dan tanpa diduga lagi, Alvin melepaskan tangan Delisa, tetapi bukan melepaskannya begitu, ia justru meraih pinggang ramping Delisa dan merekatkan jarak mereka.


''Dia Delisa, Mam,'' ucap Alvin memperkenalkan Delisa pada wanita yang di panggilnya Mama.


Semula raut wajah Alisha, nama perempuan paru baya itu, terlihat datar, tapi sesaat kemudian ia tersenyum dengan tangannya mengusap lembut pipi Delisa.


''Kamu cantik sekali, nak…'' lirihnya.


''Terima kasih—''


''Mama,'' sambar Alisha yang ingin Delisa memanggilnya sama dengan Alvin yaitu Mama.


Delisa tersenyum canggung, dia sendiri bingung kenapa Alvin mengajaknya kesana, dan kenapa juga ia harus memanggil ibu dari Alvin, Mama.


Tidak, ia tidak menyahuti ibu Alvin, ia hanya diam dengan raut yang kebingungan. Alvin pun yang menyadari itu kemudian membisikkan sesuatu ketelinga Delisa.


''Bantu aku sebentar,'' bisiknya yang semakin membuat Delisa kebingungan.


Bagaimana tidak, tanpa mengatakan apapun, Alvin mengajaknya bertemu dengan ibunya, memperkenalkan dirinya lalu tiba-tiba membisikkan ketelinga agar membantunya.


Alvin menuntun Delisa agar duduk bergabung dengan yang lain, begitu juga Alisha Mama dari Alvin.


Beberapa jenis hidangan tersedia diatas meja bundar. Delisa memperhatikan sekeliling dan segelas jus diberikannya tiba-tiba oleh Alisha begitu ramahnya.


''Silahkan sayang, kamu jus saja, tidak boleh minum yang lain, hmm?'' ucap Alisha dan Delisa pun segera menerima jus jeruk dari tangan Alisha lalu melirik kesemua orang yang tengah memegang gelas yang berisikan air berwarna merah. Yang diketahui air berwarna itu adalah minuman beralkohol.


Semua mengangkat gelasnya lalu berseru, ''Bersulang!!''

__ADS_1


Dengan canggung, Delisa mengikuti apa yang mereka lakukan. Sungguh ia baru pertama kali melakukan itu, yang ia tahu kata 'bersulang' itu hanya di adegan drama yang pernah ia tonton.


Alvin melirik pada wajah manis Delisa yang sedang tersenyum diam-diam seakan memikirkan sesuatu. Alvin pun ikut tersenyum.


Walaupun selama waktu makan Delisa merasa canggung, ia tetap bersikap sopan dan menjaga etika sebagai seorang perempuan. Hingga suatu ketika semua orang pun berpamitan pergi dan menyisakan tiga orang di meja bundar sana. Delisa, Alvin dan Alisha, ibu dari Alvin.


Suasana yang semula canggung, semakin terasa canggung. Alisha yang tadi bersikap hangat seketika berubah dingin. Tatapan mata wanita paruh baya itu terasa tajam bagi Delisa. Bahkan tangan Delisa sudah berkeringat dan gemetar, karena gugupnya.


''Jadi ini, Al?'' tanya Alisha pada anak semata wayangnya.


''He'um…'' jawab Alvin yang hanya berdehem.


Tatapan mata Alisha semakin tajam, matanya menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki Delisa, tanpa tahu yang ditatap merasa gugup hingga dadanya terus berdebar begitu kuat.


''Kenapa harus Alvin?'' tanya Alisha kini pada Delisa yang bahkan tidak tahu harus menjawab apa.


''Mam?!'' Alvin menyela, namun Alisha langsung menepak tangan Alvin agar anaknya tidak ikut bicara.


''Saya tanya, kenapa harus Alvin? apa tidak ada lelaki lain lagi?'' Delisa tersentak, matanya menatap lekat Alvin, seakan meminta pertolongan untuk menyiapkan jawabannya. Namun, bukan mendapatkan petunjuk, Alvin malah memberikan gelengan kepala dengan samar, juga memasang wajah polosnya.


''Menginginkannya? bukan menyukainya?''


Delisa semakin gelisah, ia benar-benar tidak mengerti harus menjawab apa, karena ini adalah sandiwara yang dimaksud Alvin padanya, ya Alvin memintanya bantuan untuk ini bukan? batin Delisa pun bergumam.


Delisa kembali melirik Alvin, tapi kembali Alvin tdiak sama sekali berniat membantunya balik, ia hanya memberikan isyarat agar Delisa menjawab pertanyaan Alisha, ibu Alvin.


''I–iya Tan, aku menginginkan Alvin karena me–menyukainya.''


Sungguh! Delisa merasa bersalah karena telah membohongi seorang ibu. Ia terpaksa melakukan itu dengan perasaan yang dia sendiri bingung kenapa harus melakukan itu dan setuju begitu saja pada Alvin.


''Hanya menyukainya? tidak mencintainya?''


Astaga, Delisa semakin dibuat gelagapan, ia bingung dan resah. Apa harus ia berbohong begitu dalam pada seorang wanita paruh baya yang saat ini sedang mengkhawatirkan anaknya.


Sejenak, Delisa menghela nafasnya lalu berniat akan menjawab. Namun, tiba-tiba suara deringan ponsel membuatnya menjeda ucapannya.

__ADS_1


''Maaf Tan, sebentar. Saya permisi menjawab telpon dulu.''


Alisha memberikan izinnya, dan Delisa pun segera menjauh untuk mengangkat panggilan telpon itu.


Dimeja sana, tanpa diketahui siapapun, sejak tadi Alvin terus menyembunyikan senyumannya. Tapi senyuman itu seketika sirna ketika jawaban yang hampir keluar dari mulut Delisa terjeda karena panggilan telpon.


''Mam sebentar!'' Alvin ikut beranjak ingin menyusul Delisa karena penasaran.


Ia mencari keberadaan Delisa yang entah berada dimana. Dan tiba-tiba matanya menangkap seorang perempuan yang tengah berbicara dengan seorang pria yang berwajah tampan juga gagah.


Alvin melangkah perlahan, dan dari jarak beberapa meter dari tempatnya ia pun bisa mendengar pembicaraan mereka berdua.


''Kakak kenapa disini?'' tanya Delisa pada pria itu.


''Aku habis bertemu dengan teman lama ku, lalu aku seperti melihat orang yang mirip denganmu, Dan untuk memastikan aku pun menghubungimu yang ternyata memang kamu!'' jawabnya panjang lebar.


Delisa tertawa kecil seraya berkata, ''Apa wajah ku terlalu pasaran ya kak Vikar?'' ucapnya dengan diselingi tawa renyah dari Delisa.


Ya pria itu adalah Vikar, teman dari Fauzan.


''Ehhh, enggak gitu! ah sudahlah. Oh ya, kamu sudah mau pulang? kalau gitu biar pulang sama aku!'' Vikar sudah meraih tangan Delisa untuk membawanya pergi tapi tanpa diduga, Alvin pun menahan tangan kanan Delisa.


Dan kini posisi Delisa seakan seperti sebuah tali yang sedang dipegang kedua sisinya oleh dua orang yang berbeda. Vikar menoleh dengan cepat karena merasa langkah Delisa seperti ada yang menahannya dan ternyata benar.


Vikar menatap tajam pada Alvin, begitu pula Alvin. Dan Delisa? ia hanya bisa menatap kedua pria itu secara bergantian karena bingung apa yang saat ini terjadi padanya dan pada mereka di situasi canggung seperti itu.


''Delisa datang bersama ku, pulang pun harus bersama ku!'' tegas Alvin.


''Tapi dia mau pulang dengan ku!'' balas Vikar tak mau kalah.


''Kenapa tidak bertanya lebih dulu pada Delisa!''


Vikar memicing, merasa tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Alvin lalu membalasnya dengan sebuah pertanyaan untuk Alvino.


''Kau ini siapa Delisa, hah?!''

__ADS_1


Alvin yang mendapatkan pertanyaan itu tentu tidak panik, ia justru tersenyum. ''Anda bisa tanyakan itu pada Delisa, siapa saya baginya!''


__ADS_2