Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Sudah Mulai


__ADS_3

''Aku merindukan mu,'' ucap pelan Alvin, pipi Delisa bersemu merah.


''Kak, jangan seperti ini.''


''Lalu seperti apa? aku sungguh merindukanmu, Delisa,'' ucap Alvin lagi dengan suara parau.


Delisa tidak menjawabnya, ia benar-benar bingung dan malu. ''Mama menanyakan tentang hubungan kita sudah sejauh mana, apa kamu belum juga mau memulainya?"


Mata Delisa sedikit membesar seperti mata rusa yang bulat. ''Apa kita belum memulainya?'' tanya balik Delisa dengan begitu lugu, yang tentunya membuat Alvin tertawa kecil karena gemas.


''Oh jadi kita sudah memulainya?'' Alvin semakin membuat Delisa bingung, karena memang sengaja ingin menjahilinya.


''Waktu iru—'' Delisa menjeda ucapannya dengan jari telunjuknya menyentuh bibir, dan Alvin langsung paham apa yang dimaksud Delisa.


Jadi Delisa sudah menganggap hubungan mereka dimulai semenjak Alvin mencium bibirnya tepat dimana ia bertemu dengan Wahyu terakhir kalinya.


Alvin tertawa dan memeluk hangat tubuh Delisa yang masih duduk dipangkuannya.


Ceklek!


Pintu terbuka tanpa adanya ketukan. Seorang pria berdiri mematung di ambang pintu, menyaksikan kemesraan Alvin dan Delisa yang tengah berpelukan.


''Apa kau memanggilku untuk memamerkan kemesraan kalian?'' tanyanya dan membuat mereka menoleh secara bersamaan.


Delisa beranjak dan berdiri dengan kepala yang tertunduk, ia sungguh merasa malu. Tapi tidak dengan Alvin ia hanya tersenyum dengan mengangkat sebelah bibirnya lalu berdiri untuk duduk kesofa sebrang mejanya setelah mengelus rambut Delisa.


''Duduklah!'' perintah Alvin pada Pria yang berdiri itu yang tak lain ialah Hary.


Dengan wajah masam, ia pun duduk disofa sebrang tempat duduk Alvino saat ini. Matanya kerap melirik kearah Delisa yang masih berdiri disamping meja Alvin.


''Jaga pandangan mu!'' Alvino memberikan peringatan tegas pada Hary yang kemudian hanya mendengus kesal.

__ADS_1


''Kau marah padaku, Hary?'' tanya Alvino dengan santainya.


''Kenapa kau peduli?!'' jawab ketus Hary.


''Sebenarnya aku tak peduli. Hanya saja sepertinya aku harus meluruskan ini. Kau marah padaku karena menasehati mu, atau dekat dengannya?'' Alvin menggedikkan kepalanya kearah Delisa.


''Kalau kau marah karena menasehati mu, itu terserah! tapi kalau kau marah karena aku dekat dengan Delisa, kau harus merubah pola pikir mu. Karena aku dan dia bukan hanya dekat sekarang, kami akan menikah!''


Hary yang tertunduk seketika mengangkat kepalanya, matanya terbelalak lebar, terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Alvin, dan iapun beralih menatap Delisa. Dengan sendirinya ia beranjak dan menghampiri Delisa. Alvin memperhatikan dari tempatnya.


''Apa benar yang dikatakannya, Delisa?'' tanya Harry tapi Delisa tidak menjawabnya ia masih mengunci mulutnya.


''Delisa, aku mohon, jawab!'' Hary terlihat putus asa, karena perasaannya terhadap Delisa berbeda dengan perasaannya pada wanita lain.


Perlahan Delisa mengangkat kepalanya, mata mereka bertemu, Hary menaruh harap dengan jawaban Delisa. Namun Delisa justru malah mengangguk tanpa ragu.


''Del, aku butuh jawaban mu, bukan anggukan dari kepala mu!'' Hary akan menyentuh lengan Delisa, tapi tangan Alvin tiba-tiba mencekalnya.


Hary menghela nafasnya, terdiam sejenak dan menatap pergelangan tangannya yang dicekal oleh Alvin. Alvin melepaskannya dan Hary mengangkat kepalanya menatap Alvino dan Delisa bergantian.


''Baiklah, aku sadar kalau aku telah salah. Seharusnya aku tidak marah, hak apa yang ada untuk marah pada mu Vin. Kau benar seharusnya aku berbenah diri, maka dari itu aku merelakannya. Jaga dia baik-baik dari pria seperti ku, selamat untuk kalian.'' Alvin dan Delisa saling menatap dan melemparkan senyum.


''Tidak masalah,'' jawab Alvin.


''Apa aku boleh memeluk mu Delisa?''


''Silahkan! Kalau kau mau menempati peti mati dengan cepat.'' Alvin menatap dingin Hary.


Sejenak keadaan ruangan sunyi, tapi beberapa saat kemudian terisi gelak tawa dari mereka.


''Aku hanya bercanda. Kalau gitu aku pergi ya! Oh ya, Delisa kalau kau merasa bosan dengan pria kulkas sepertinya, kau boleh datang padaku,'' ucap Hary dengan mengerlingkan matanya pada Delisa.

__ADS_1


Bugh!


''Sana pergi!'' usir Alvin dan Hary pun berlalu pergi dengan gelak tawanya.


Delisa masih menatap kepergian Hary tapi tiba-tiba Alvin menarik lengannya lagi dan membawanya kedalam pelukannya. ''Jangan menatap pria lain, selain kakak mu dan aku, hmm?'' Alvin menyentil batang hidung Delisa.


''Kak, sakit…''


''Iyakah?'' Cup!


Dan sekarang Alvin malah mengecup hidung Delisa yang tadi ia sentil. Seraya berkata, ''Suddah tidak sakit?''


Delisa tersipu.


Cup!


Alvin sekali lagi mengecup hidung Delisa.


Cup!


Lagi dan lagi, semakin membuat pipi Delisa memerah malu.


''Kakak!'' Delisa mendorong pelan bibir Alvin yang bersiap akan menciumnya lagi, dengan kedua telapak tangannya.


''Stop! geli! kumis kakak nusuk-nusuk!''


Dan Alvino pun tertawa lepas mendengarnya.


Happy Reading...


Mampir juga ke novel teman ku yuk! gak kalah serunya lho 🤗 Author Hilmiath_

__ADS_1



__ADS_2