Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Maksudnya?


__ADS_3

Di rumah kontrakan petakan dan kumuh, seorang wanita tengah tertawa puas. Karena telah berhasil melakukan hal yang tidak baik tapi menyebalkannya ia malah merasa senang.


''Kenapa tidak ku beri sianida saja di makanannya,'' sesalnya, lalu ia pun duduk setelah menghela nafasnya panjang.


''Semua kau ambil dari ku, uang bahkan Papa mati karena mu! semoga kau kekal di neraka!'' ucapnya lagi.


Ya dialah yang membuat alergi Delisa kumat, dengan cara menambahkan serbuk bunga yang entah ia dapatkan dari mana dan menaruhnya pada makanan Delisa saat di restoran tadi.


Entah info dari mana ia bisa tahu kalau Delisa alergi pada serbuk bunga sehingga muncullah rencana jahat untuk membuat Delisa celaka.


Pada saat di restoran tadi Alisha yang memesankan makanan untuk Delisa tidak tahu menahu kalau ternyata makanan yang ada pada piring Delisa ditambahkan serbuk bunga yang memang sudah di niatkan untuk mencelakai Delisa.


Pelayan wanita yang rupanya mengenal Delisa dan juga menyimpan sebuah rasa amarah serta dendam pada gadis polos dan manis itu, ternyata telah merencanakan niat jahatnya setelah melihat Delisa memasuki pintu hotel dan menuju restoran.


Terlebih lagi ia melihat Delisa yang datang bersama Alvin. Seakan melihat dua burung yang akan ia timpah menggunakan satu batu. Dan ia pun melemparkannya tapi tanpa ia duga apa yang dia lakukan akan menjadi Boomerang dihidupnya.


Alvin masih setia di rumah sakit menunggu pemeriksaan lanjutan Delisa pada dokter kepercayaannya. Perhatiannya teralihkan pada suara deru tapak kaki yang berlarian menuju kearahnya.


''Bagaimana keadaannya? ada apa? apa yang sebenarnya terjadi?'' lontaran pertanyaan itu bergulir dari mulut seorang pria berseragam Tentara. Yang tidak lain lagi ia adalah Fauzan, kakak dari Delisa.


bukannya menjawab mungkin malah membungkukkan tubuhnya lalu meminta maaf dengan rasa bersalah.


''Maafkan saya karena tidak bisa menjaga Delisa dengan baik,'' ucap Alvin begitu tulus.


''Ada apa memangnya, cepat katakan!''


''Sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi Fauzan, adikmu hanya mengalami alergi, karena tidak sengaja serbuk bunga masuk ke pencernaannya. Tapi sekarang dia sudah tidak apa-apa.''


Fauzan dan Alvin menoleh ke asal suara itu yang ternyata adalah Dokter kepercayaan Alvin dan secara kebetulan juga teman sekolah Fauzan dulu. Namanya Niko.


''Niko? kamu sekarang?'' Fauzan menatap kagum pada temannya itu.


''Ya Fauzan, cita-cita ku tercapai, kau juga, syukurlah…''


''Oh ya, Tuan Alvin! beliau adalah teman baik saya sewaktu di SMU.'' Alvin mengangguk ramah.

__ADS_1


''Dunia begitu sempit ya, kawan!'' Fauza memeluk temannya itu.


''Ya kau benar. Dan aku tidak menyangka ternyata Delisa sudah menikah ya,'' ucap Niko begitu antusias.


Fauzan tertegun sejenak, mengingat pernikahan adiknya yang begitu pahit. Ia kembali merasa sedih terlebih lagi hari itu Ayahnya juga meninggal dunia karena insiden yang ada di pernikahan Delisa.


''Ya, tapi ah sudahlah itu hanya masalalu yang pahit,'' sahut Fauzan kemudian. Yang tentunya membuat Niko si dokter tercengang tidak mengerti kenapa Fauzan mengatakan demikian.


Niko menoleh kearah Alvin, dan justru Alvin menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah.


''Maafkan saya Tuan Alvin, karena telah menyinggung permasalahan pernikahan kalian.'' Niko membungkukkan badannya dengan sesal.


Tapi bukannya menjawab, Alvin malah salah tingkah terlebih lagi Fauzan menatap mereka dengan tatapan aneh.


''Niko? maksudnya apa ini?''


''Ya, kamu bilang masalalu yang pahit, itu berarti pernikahan tuan Alvin dan adikmu sedang tidak baik-baik saja 'kan?''


''Hah??''


tapi bukannya marah Fauzan malah tertawa kecil menanggapi apa yang dikatakan Niko padanya. Seraya berkata.


''Tidak-tidak, mereka baik-baik saja. Sudahlah aku mau melihat keadaan adik ku dulu.'' Fauzan berlalu dan saat melewati Alvin ia menepuk pundak Alvin dengan tawa kecilnya.


''Terlalu jauh, tapi jangan lupa bertanggung jawab atas pernyataan mu Bung!'' ucapnya dengan tawanya. Lalu masuk kedalam ruangan Delisa.


Alvin semakin salah tingkah, ia tidak menyangka kalau pengakuannya tadi yang mengatakan kalau Delisa adalah istrinya akan diketahui oleh Fauzan.


Tapi sesaat ia termenung, ia memikirkan maksud dari ucapan Fauzan barusan. Tidak mau berpikir keras Alvin pun ikut masuk kedalam.


Melihat sikap Fauzan yang begitu mengkhawatirkan Delisa semakin membuat Alvin takut jika sewaktu-waktu ia menyakiti Delisa. Dan meyakinkan dirinya kalau ia akan menjaga dan menyayangi Delisa.


''Pasti rasanya sesak ya?'' ucap Fauzan pada Delisa yang masih tertidur karena pengaruh obat yang diberikan dokter.


''Sekali lagi saya minta maaf,'' ucap Alvin lagi membuat Fauzan menoleh.

__ADS_1


''Tidak apa-apa yang terpenting Delisa sudah baik-baik saja. Tapi, bagaimana bisa serbuk bunga ada di pencernaannya?''


''Saya sedang mencari tahu, tapi memang sebelumya Delisa saya bawa makan bersama keluarga saya. Tapi sungguh, kami tidak ada memesan makanan yang mengandung serbuk bunga.''


sesaat suasana pun hening, tapi tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan yang ternyata itu adalah Vikar, dia mendengar Delisa yang masuk rumah sakit dan segera menyusulnya kesana.


Ia masuk begitu saja, dan langsung menghampiri Alvin, dan...


Bugh!


Vikar melayangkan pukulan pada wajah Alvin dengan tiba-tiba. Fauzan yang melihat itu segera melerainya dengan mendorong tubuh Vikar agar menjauh dari Alvin.


''Kau ini kenapa, Vikar!''


''Dia sudah membuktikan kalau tidak becus menjaga Delisa. Saat tadi aku bertemu dengan mereka dan akan mengajak Delisa pulang bersama ku, dia melarang ku, tapi ternyata malah membuat Delisa celaka!'' Ujarnya menggebu-gebu.


Alvin mengusap rahangnya yang terasa kaku, walaupun tubuh Vikar tdiak sebesar Alvin, tenaga seorang tentara memang tidak bisa diragukan.


''Dia tidak bersalah, Delisa hanya mengalami alergi, tapi sekarang Delisa sudah baik-baik saja!'' tegas Fauzan yang kesal karena sikap gegabah temannya itu.


''Tidak apa-apa, ini reaksi wajar seorang kakak laki-lakinya 'kan?'' ucap Alvin dengan mata yang seakan mengejek Vikar.


Fauzan melihat kearah Vikar dan Alvin secara bergantian. Merasa ada persaingan yang ketat dari tatapan keduanya.


Ponsel Alvin berdering, dan segera ia jawab.


''Baik, bawa dia ketempat ku!'' ucap Alvin dan kemudian langsung menekan icon merah untuk mengakhiri sambungan telponnya.


''Bang, saya pamit pergi dulu. Saya titip Delisa. Tenang saja pelakunya akan mendapatkan hukumannya.''


Alvin pun berlalu pergi sembari menatap tajam pada Vikar yang juga menatapnya tidak suka.


''Cih! semoga kau tidak akan kembali!'' cetus Vikar pelan tapi masih didengar oleh Fauzan.


''Vikar, jaga sikap mu sebagai abdi negara!'' ucap Fauzan memperingati Vikar karena sikapnya yang gegabah.

__ADS_1


''Hufft. Baiklah.''


__ADS_2