
Wahyu tertunduk, ia baru menyadari apa yang telah ia lakukan ternyata meninggalkan rasa sakit yang teramat dalam pada hati rapuh gadis yang ia pilih sendiri sebagai kekasihnya dulu.
Rasa sesal didasar hati semakin menjadi-jadi. Sungguh, ia ingin memperbaiki semuanya, tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur, dan kaca yang sudah pecah tidak akan bisa diperbaiki. Begitupun hati rapuh Delisa, yang sudah dibuat hancur oleh seorang pria yang tidak bertanggung jawab seperti Wahyu.
''Maafkan aku Delisa,'' ucap Wahyu lagi begitu lirih.
''Anda bisa pergi, Delisa butuh istirahat.''
Wahyu pun pergi dengan rasa sesal, dan Delisa, ia dibawa Alvin untuk kembali berbaring ditempatnya.
''Sudah malam, tidur ya. Aku masih ada pekerjaan yang belum selesai, hm?'' Delisa mengangguk dan menurut, ia memejamkan matanya lalu tertidur pulas.
Alvin menghela nafasnya, berpikir sejenak lalu pergi ke sofa.
Matahari sudah mulai mengintip dicelah jendela. Alvin yang masih tertidur diatas sofa sedang menjadi objek pemandangan indah di pagi hari ini. Ya Delisa sudah terbangun beberapa menit yang lalu, ia menatap lekat wajah damai Alvin yang tertidur disofa dengan tubuh tingginya yang hanya bisa menampung bagian badan sampai paha, dan kaki kebawah, dibiarkan menjuntai ke lantai.
Mengingat kejadian tadi malam, yang sebenarnya ia mendengar semua pembicara antara Alvin dan Wahyu. Dan dengan cara Alvin ia benar-benar seperti menjaganya dengan baik, ada getaran aneh dihatinya dan sempat berpikir akan menjawab ajakan Alvin hari ini.
''Tapi aku takut,'' lirih Delisa diranjangnya.
''Takut kenapa Dek?'' tanya seseorang yang berdiri dengan bersandar di daun pintu entah sejak kapan.
Delisa segera menoleh dengan terkejut, ''Abang, pelan-pelan. Kak Alvin masih tidur!'' ucap Delisa dengan berbisik.
Fauzan melirik kearah Alvin, lalu berjalan menghampiri ranjang adiknya.
Tak!
Fauzan menyentil kening Delisa, lalu duduk dikursi samping ranjang.
''Sakit Bang!'' protes Delisa mengusap keningnya yang memerah.
''Abang mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur!'' ucap Fauzan memojokkan adiknya sendiri.
''Apa?''
''Sebenarnya apa hubungan kalian?''
__ADS_1
Delisa terdiam, ia juga bingung dengan hubungan mereka. Dekat tapi tanpa terikat sebuah hubungan. Ya walaupun Alvin sudah memintanya untuk menjadi kekasihnya. Namun, tetap saja ia masih merasa ragu.
Keraguan yang ada dalam dirinya, tidak semata-mata rasa ragu pada Alvin, hanya saja trauma itu lebih dominan menguasai dirinya.
Delisa mengangkat kedua bahunya, dan Fauzan pun mengerti maksud dari gerakan Delisa sebagai jawabannya itu.
''Dek, masalalu biarkan menjadi masalalu. Jangan pernah samakan atau bandingkan orang-orang yang ada dimasa lalu mu dengan orang yang ada sekarang ini. Tentu semua berbeda. Maka pikirkan baik-baik.'' Fauzan memberikan nasihat layaknya seorang Abang ke adiknya.
Delisa tetap diam dengan mata yang masih menatap Alvin disofa sana. Rasa sakit di tinggalkan oleh orang yang dicintainya memang meninggalkan sebuah rasa trauma yang berat. Walaupun memang sekarang dia sudah mulai merasa nyaman dengannya.
Perlakuan lembut dan hangat Alvino merobohkan tembok besar yang ada di hatinya. Ya walaupun sebelumnya Wahyu pun bersikap sama seperti itu.
''Permisiā¦, selamat pagi!'' seru seorang perawat yang datang mendorong troli yang berisikan makanan sarapan pasien.
''Pagi!!'' sahut Delisa dan Fauzan bersamaan.
Karena suara roda dari troli itu, juga suara Delisa dan Fauzan yang bersamaan menyahuti perawat itu. Alvin pun terbangun.
Tangannya yang melipat diatas perutnya, menggosok matanya yang terasa sepat. Ia menoleh kearah tiga orang itu dan segera beranjak dari sofa.
''Pasti adik ku merepotkan mu tadi malam ya? aku minta maaf dan terima kasih sudah mau menjaga manusia merepresentasikan ini.'' Fauzan menyahutinya sembari tangannya mengacak-acak rambut Delisa.
''Tentu saja tidak, dia gadis penurut,'' balas Alvin dengan kekehannya.
''Kapan Dokter akan datang memeriksanya?'' tanya Alvin pada perawat itu.
''Sebentar lagi Tuan, beliau sedang bersiap-siap.''
Alvin menganggukkan kepalanya, dan perawat itupun berlalu pergi setelah melakukan tugasnya.
Alvin melirik kearah nampan yang berisikan makanan, lalu memanggil perawat itu kembali.
''Hei!''
Perawat itu membalikkan badannya, dan kembali melangkah kedalam ruangan.
''Ya Tuan?''
__ADS_1
''Apa pasien makan tanpa sendok?''
Fauzan dan Delisa ikut menoleh kemampuan tersebut, dan memang benar saja disana hanya ada piring-piring dan beberapa mangkok yang berisikan makanan tanpa adanya alat bantu makan, seperti sendok ataupun garpu.
''Astaga! maaf Tuan. Saya akan ambilkan.'' Perawat itupun berlalu pergi.
Fauzan merasa kagum dengan kejelian Alvin. Walaupun terlihat sepele tapi itu bentuk perhatian yang penting dari seorang pria. Karena sekecil masalah itu saja ia bisa perhatikan apalagi masalah besar. Dan itu semua Alvin lakukan untuk Delisa.
''Aku kekamar mandi dulu,'' pamit Alvin pada keduanya.
Delisa melirik nampan makanan itu dengan bibir yang terus tersenyum-senyum sendiri. Ia juga merasa kagum dengan Alvin yang begitu perhatian. Dan Fauzan semakin mengerti perasaan Delisa sebenarnya.
Setelah beberapa saat, bersamaan keluarnya Alvin dari kamar mandi, perawat tadi juga datang dengan alat makan untuk Delisa.
''Maafkan saya, lain kali tdiak akan terjadi lagi,'' sesal perawat itu yang berpamitan pergi dari sana.
Delisa tidak fokus dengan perawat itu ia malah fokus pada wajah Alvin yang terlihat segar itu, dengan rambutnya yang masih dan wajah khas bangun tidur, membuat ketampanan seniornya itu bertambah berkali-kali lipat.
''Al, jadi kapan kalian meresmikan hubungan kalian?'' ucap tiba-tiba Fauzan. Membuat Delisa terbelalak lebar.
''Bang!''
Alvin yang agak terkejut hanya bisa tersenyum seraya menjawab dengan entengnya. ''Secepatnya, aku akan bicara lebih dulu dengan orang tua ku.''
''Tapi apa orang tua mu akan merestui kalian?'' tanya Fauzan lagi yang semakin membuat Delisa kelabakan.
''Memberikan restu ataupun tidak, itu hak mereka. Yang terpenting aku sudah meminta restu layaknya seorang anak. Itu saja sudah cukup.''
''Lalu apa kau akan tetap melanjutkan niat mu walaupun tanpa restu mereka?''
Alvin terdiam sejenak, bukan meragu. Hanya saja ia sedang membuka plastik penutup makanan yang ada di nampan, untuk siapkan sarapan Delisa.
''Mereka sudah cukup merawat dan mengasuh ku sedari kecil, dan untuk masa depan, itu giliran aku yang menata. Tanggung jawab dan kewajiban orang tua pada anak laki-lakinya hanya sampai anak laki-lakinya berusia 18 tahun, dan setelah itu hak si anak.''
Delisa itu mendengarkan penjelasan Alvin, Fauzan melirik sedikit pada adiknya. Dan dia sudah mulai yakin kalau memang Alvin pria yang tepat untuk adiknya.
''Kalau begitu atur pertemuan orang tua mu dengan ku!'' Fauzan memberikan tantangan pada Alvin yang bahkan tidak sama sekali merasa terbebani dengan tantangan itu. Justru Delisa yang merasa gelisah.
__ADS_1