Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Memulai Dari Awal?


__ADS_3

Dikamar penginapan bertipe twin room. Alvin dan Delisa masih memperhatikan seluruh ruangan itu. Yang benar saja, disana terdapat dua ranjang single yang disediakan oleh pihak motel tersebut.


Delisa melangkah menuju ranjang dekat jendela, yang Alvin pahami Delisa memilih ranjang itu untuk tempatnya beristirahat.


Alvin pun menuju ranjang bagiannya, kunci mobil dan dompet semua ia letakan dimeja. Lalu ia berlalu kedalam kamar kecil untuk membersihkan wajahnya.


Setelah lebih segar, Alvin berniat ingin langsung tidur karena ia mengira Delisa juga sudah tertidur. Tapi nyatanya tidak, Delisa malah berdiri didepan kaca, memandang pemandangan hujan yang begitu lebat ditambah kilatan petir yang sangat terang.


Alvin mengurungkan niatnya untuk langsung tidur, ia memilih melangkah menghampiri Delisa. Dan kehadiran Alvin ternyata mengejutkan Delisa yang tengah melamun.


''Apa pemandangan hujan menurut mu begitu indah?''


''He'um, sangat indah! Bahkan bagi ku hujan itu mengartikan sebuah pandangan hidup yang dapat mengajarkan banyak pelajaran tentang kehidupan. Hujan adalah fenomena alam yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Tanpa hujan, kehidupan akan menjadi sangat sulit, bahkan mustahil,'' papar Delisa yang langsung dimengerti oleh Alvin.


''Tapi bukankah kebanyakan perempuan akan merasa takut ketika berhadapan dengan hujan yang disertai petir?''


''Seperti yang aku katakan tadi, aku juga tidak mengerti. Apa yang kita sukai tidak juga harus disukai oleh orang lain, bukan?''


Alvin menganggukkan kepalanya karena apa yang Delisa katakan semua benar.


''Ya sudah lebih baik kita istirahat. Semoga pagi nanti jembatan sudah diperbaiki,'' ucap Alvin dan merekapun masing-masing pergi keranjang tidurnya.


''Selamat malam, kak!'' seru Delisa yang sesaat kemudian sudah memejamkan matanya dan terlelap.


Tapi tidak dengan Alvin. Alvin masih terjaga. Sulit di jelaskan memang apa yang saat ini tengah berperang dihatinya. Dia ingin sekali mengatakan apa yang dia rasakan tapi diri dia yang lainnya seakan merasa takut, takut jika Delisa menolak dan menjauh darinya. Dan dia tidak mau hal itu terjadi.


Dia ingat betul, ketika melihat Delisa untuk yang pertama kalinya, rasa ingin memilikinya sangatlah besar, dan bertekad akan melindunginya sampai kapanpun, walaupun kala itu dia belum tahu siapa Delisa.


Mungkin itu kah yang dikatakan cinta pandangan pertama.


Pagi pun menyongsong, Delisa bangun lebih dulu dan melihat ke ranjang sebelahnya ternyata Alvin masih tertidur. Ia segera pergi kekamar mandi untuk sekedar menyegarkan dirinya.


''Pagi…'' Delisa berseru pada Alvin yang ternyata sudah terbangun ketika dia keluar dari kamar mandi.


''Pagi, tunggu aku. Kita akan segera pergi.'' Delisa mengangguk. Dan Alvin pun bergantian memakai kamar mandi.


Rumput yang basah dan pepohonan yang masih menyisakan tetesan air hujan sisa semalam membuat aroma segar pagi itu semakin terasa. Delisa menghirup udara pagi itu begitu senang, mereka sudah keluar dari penginapan dan segera memeriksa jalanan utama.


Alvin cukup lega karena jalan utama sudah bisa dilalui karena mengingat pagi itu juga akan ada meeting penting yang harus ia hadiri.


Roda mobil berhenti tepat didepan rumah Delisa. Dan ternyata didepan pintu sudah ada Fauzan yang menunggu mereka.


Delisa ragu, ia gugup karena harus berhadapan dengan sang Kakak saat pulang bersama seorang pria yang bermalam di kamar yang sama.


''Ayo!'' Dengan tanpa ragu, Alvin turun dari mobil menghampiri Fauzan yang duduk didepan rumah.


Delisa melangkah ragu, matanya dapat melihat jelas, Alvin dan Fauzan yang saling berjabat tangan. Entah apa yang mereka bicarakan.


''Maaf kalau telat mengantar adik Anda. Kalau begitu saya pamit, ada urusan penting.''


Fauzan menoleh kearah Delisa yang sedang berjalan pelan kearahnya.


''Anda bisa percaya pada saya,'' lanjut Alvin yang mengerti kekhawatiran sang Kakak pada adiknya.


''Baik, dan terima kasih.''


Alvin pun berlalu pergi dengan mobilnya. Tapi satu hal yang baru Delisa sadari, sejak perginya mereka dari motel, dia sama sekali tidak memberitahukan dimana rumahnya pada Alvin, tapi kenapa Alvin bisa tahu alamatnya.

__ADS_1


''Oh mungkin Abang yang memberikan alamatnya,'' ucap dalam hati Delisa yang masih berpikiran positif.


''Masuklah, kita sarapan.'' Fauzan berlalu lebih dulu meninggalkan Delisa yang masih mematung disana.


Diruang makan terasa sangat sunyi, hanya dentingan alat makan lah yang terdengar tidak seperti biasanya. Dan tiba-tiba keheningan itu pecah ketika Fauzan berkata sesuatu.


''Apa dia orang baik?''


Delisa mengangkat pandangannya.


''Kak Alvin maksudnya?''


Dan Fauzan hanya mengangkat satu bahunya.


''Ya dia orang baik, sangat baik.''


''Syukurlah,'' decih Fauzan pelan.


''Bang antar aku ke kampus ya…''


''Iya, cepat habiskan makanan mu dan segera mandi!''


Fauzan menginginkan yang terbaik untuk sang adik, dan berharap Delisa bisa melupakan masa lalunya. Sebenarnya ia berharap Vikar berada dalam posisi itu tapi ternyata ada lelaki lain yang juga dengan tulus menjaga Delisa. Lantas apa dia harus bersikap egois? tentu saja tidak. Karena baginya siapapun nanti yang akan menjaga Delisa, itu berarti lelaki yang tepat untuknya.


Hari ini hari pertama Fauzan mengantar adiknya kekampus, dan itu membuat Delisa sangat senang.


''Pakai seat belt-nya!'' tegas Fauzan.


Dan Delisa menurut apa yang diperintahkan Fauzan padanya. ''Ini!'' Fauzan memberikan sebuah berkas pada Delisa yang terlihat kebingungan.


''Apa Bang?'' Delisa menerima itu dan segera membacanya.


Delisa tersenyum pilu, satu sisi dia merasa senang, dan di sisi lain hatinya menangis lirih karena bagaimanapun pernikahan itu pernah terjadi dan pernikahan itu adalah impian mereka tapi sebuah alasan yang tidak masuk akal menghancurkan semuanya.


''Simpan itu di dashboard!''


''Terima kasih ya Bang. Abang yang terbaik!'' seru Delisa dengan senyuman manisnya dan senyuman itu Fauzan tahu kalau bukan sebuah senyuman kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia tahu Delisa masih mencintai Wahyu, dan dia tidak akan memaksa Delisa untuk melupakannya.


Karena bagaimanapun kalau tidak ada Wahyu, Delisa tidak akan menjadi pribadi yang kuat seperti sekarang.


Sesampainya didepan gerbang utama. Fauzan menghentikan laju mobilnya karena Delisa yang meminta. ''Kenapa?''


''Disini saja Bang.''


Delisa keluar dari mobil Fauzan dan akan berjalan masuk kedalam gerbang tapi tiba-tiba seseorang menarik tangan Delisa.


Fauzan yang akan menancapkan gasnya seketika ter'urungkan. Tangannya mengepal kuat, matanya memerah karena marah.


''Lepas!'' tepis Delisa pada orang yang memegang pergelangan tangannya.


''Delisa, kita bisa bicara sebentar?''


''Mau bicara apa lagi? udah cukup kamu kasih aku rasa trauma, apa kurang puas?''


''Aku tahu aku salah, maka dari itu kita bisa memulainya lagi dari awal, kamu bersedia 'kan?''


''Memulai dari awal?''

__ADS_1


Wahyu pun mengangguk yakin. Sungguh memalukan bukan?


''Lagipula kita masih saling mencintai. Aku janji akan menjaga kamu.''


Delisa masih tetap diam. Bisa saja Fauzan yang berada di dalam mobilnya turun dan langsung memberikan pelajaran pada Wahyu, tapi Fauzan lebih memilih diam dulu karena dia juga menginginkan adiknya dapat menyelesaikan masalahnya dan jika ternyata Delisa tidak bisa, dia yang akan mengambil alih itu.


''Memulai dari awal. Kalau hubungan kita tidak pernah terjadi, bagaimana bisa memulainya lagi dari awal?'' Delisa berusaha berkata setenang mungkin walaupun dadanya sejak tadi bergemuruh.


''Maksud kamu?''


''Maksud dia, hubungan kalian memang tidak pernah terjadi. Jadi tidak akan ada kata 'lagi' dalam kalimat itu,'' timpal seseorang yang baru saja datang itu.


Delisa menoleh, alisnya menyatu dengan rasa tidak nyaman.


''Maaf, Anda siapa?'' tanya Wahyu pada orang itu yang ternyata adalah Hary.


''Siapa saya itu tidak penting. Yang terpenting jangan ganggu Delisa lagi!''


''Itu bukan ranah Anda. Saya sedang bicara pada istri saya!''


''Istri? istri yang kau berikan kata Talak setelah akad itu kah? hubungan itu yang sedang kau pamerkan, iya?''


Wahyu terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena semuanya benar. Tapi tetap saja ia tidak suka dengan pria itu yang ikut campur dalam urusannya.


''Jangan pernah bersikap sok tahu!''


''Hei Bung! gue bukan bersikap sok tahu, tapi sangat tahu. Karena Delisa sendiri yang menceritakannya!''


Delisa yang namanya disebut seketika menoleh dengan wajah tidak sukanya. Sungguh dia tidak pernah mengatakan apapun pada Hary, bahkan dekat saja tidak pernah.


''Benar begitu, Del?'' wajah Wahyu terlihat murung.


''Tidak perlu bertanya padanya!'' timpal Hary lagi.


''Del? dia siapa kamu?'' tanya Wahyu lagi dan baru saja Delisa akan menjawabnya Hary kembali menyela.


''Yang pasti, hubungan kita bukan hubungan yang biasa!''


Wahyu tertunduk. Dan memilih pergi dari sana setelah berpamitan pada Delisa.


Hary merasa bangga karena berhasil membuat Wahyu pergi. Dan mengira kalau Delisa akan puas karena pertolongannya.


Tapi nyatanya tidak! Delisa malah menatap tajam pada Hary yang tersenyum padanya.


''Sekarang kamu bisa tenang, dia tidak akan datang lagi untuk mengganggumu,'' ucap Hary.


''Sejak kapan kita memiliki hubungan?'' pertanyaan Delisa membuat Hary membisu.


''Kak, saya sangat berterima kasih dengan niat kakak karena mau membantu saya. Tapi maaf, ini bukan ranah kakak, bukan juga urusan kakak. Dengan kakak mengatakan kita memiliki hubungan yang tidak biasa pada dia, apa akan membuat semua baik-baik saja? tentu tidak kak! lihat mereka!''


Hary berbalik karena Delisa menggedikkan kepalanya. Ia melihat orang-orang yang sedang melihat kearahnya dan Delisa, yang ternyata mereka juga mendengar apa yang Hary katakan pada Wahyu.


''Sebenarnya siapa yang dekat sama Delisa? kak Alvin atau Hary? tidak sangka Delisa itu gampangan!'' ucapan salah satu orang itu terdengar begitu jelas ketelinga Delisa yang tertawa miris


''Dengar 'kan Kak. Itu baru satu orang, belum yang lainnya. Jadi aku mohon! jangan pernah ikut campur lagi dengan yang bukan urusan kakak! permisi!''


Delisa berlalu pergi meninggalkan Hary yang mematung di tempatnya. Ternyata niat baiknya membuat sebuah boomerang untuk Delisa sendiri. Dan dia tidak menyadari itu.

__ADS_1


Fauzan yang sejak tadi hanya memerhatikan didalam mobil, bergumam. ''Ternyata kamu menjadi bunga kampus?''


__ADS_2