Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Hotel?


__ADS_3

''Kak! tolong minggir!''


Tiga kata yang mampu membungkam mulut besar Hary, bukan hanya sekedar tiga kata ataupun kalimat yang sederhana. Kalimat itu adalah kalimat yang penuh penekanan dari seorang gadis yang berhati lembut.


Namun, ternyata kalimat itu hanya mampu membungkam mulut besar Hary, tidak dengan sikapnya yang terus berusaha mendapatkan perhatian Delisa.


Hary menatap sendu Delisa tapi tidak sedikitpun membuat hati gadis 22 tahun itu terenyuh, ia justru membuat pandangannya kesamping, seraya berkata. ''Kak Alvin. Bisa tolong aku?''


Mendengar itu tentu Alvin segera bertindak, ia melangkah maju karena Delisa yang meminta. Iapun meraih tangan Delisa lalu membawanya pergi dengan diikuti Diva dari belakang.


Hary hanya bisa menatap kepergian Delisa yang saat ini berada di genggaman sahabatnya sendiri. Dan sejak tadi Diva hanya diam, karena baginya itu adalah bukan urusannya, tapi melihat wajah murung Hary membuat hatinya sedikit tergerak.


''Apa Kak Hary juga benar-benar menyukai Delisa? bukan main-main seperti ke wanita lain?'' gumam Diva dengan kepala yang memutar melihat kebelakang sesaat setelah membelokan langkah ke arah parkiran kampus.


Sesampainya didekat mobil, Alvin melepaskan tangannya dari tangan Delisa. Sebenarnya sejak tadi Delisa juga gugup juga terkejut. Karena ia hanya meminta Alvin agar bicara pada Hary untuk menyingkir tapi justru Alvin malah menggandengnya dan membawanya pergi dari sana. Yang bahkan sejak mereka melangkah pergi semua mata tertuju pada mereka berdua, bukan! bukan hanya ke mereka berdua tetapi ke arah tangan mereka yang saling bertautan.


''Masuklah!'' pinta Alvin pada Delisa. ''Kau juga masuk!'' ucapnya lagi pada Diva yang berdiri diantara mereka.


Dia gadis itupun masuk kedalam mobil ditempat yang berbeda, Delisa yang masuk ke kursi penumpang samping kemudi karena Alvin sudah membukakan pintu untuknya, dan Diva yang masuk kepintu penumpang belakang.


Dan Alvin pun menancapkan gasnya meninggalkan kampus membelah keramaian ibukota.


Sejenak sunyi, tapi tidak setelah Alvin yang bicara lebih dulu untuk membunuh kesunyian.

__ADS_1


''Diva? dimana rumah mu, biar aku antar sekalian,'' ucapnya.


''Oh iya, di jalan Mindi, blok D, kak.'' Alvin mengangguk dengan sedikit melirik Delisa yang memang sejak tadi hanya diam ditempatnya.


''Dan kau?'' tanya tiba-tiba Alvin membuat Delisa langsung menoleh kearahnya dengan alis yang mengernyit.


''Bukanya kakak sudah tahu? kemarin kakak yang antar aku,'' celetuk Delisa membuat Diva berdehem menggodanya.


Menyadari kalau Alvin sedang menjahilinya, ia pun mencubit pinggang Alvino. Lelaki 27 tahun itu tertawa kecil dibuatnya dan suasana sunyi di mobil pun hilang dan berganti gelak tawa Diva yang mentertawakan sahabatnya itu.


''Awww! cubitan mu sakit juga ya,'' decih Alvin.


''Biarin! kakak nyebelin!''


''Del! ada apa den wajah mu, kenapa merah begitu?'' tanya Diva yang sengaja menggoda Delisa juga.


''Enggak! ih kalian menyebalkan…''


Diva tertawa lagi begitu juga Alvin, ia tertawa kecil seraya tangannya mengusap lembut kepala Delisa.


Roda mobil pun berhenti tepat didepan perumahan yang di sebut Diva tadi, dan Diva juga yang meminta Alvin berhenti disana.


''Enggak masuk?'' tanya Alvin.

__ADS_1


''Enggak usah kak, sampai sini aja. Delisa aku duluan ya, dan kak Alvin, terima kasih.'' Diva pun turun dari mobil lalu melambaikan tangannya sebelum ia masuk kedalam komplek itu.


Alvin melanjutkan kembali mengemudikan mobilnya, dan ternyata Alvino tidak langsung mengantar Delisa melainkan ia membelok-belokan stir nya kearah kiri jalanan setelah persimpangan. Delisa mengernyit, ia tahu betul jalan yang saat ini mereka lalui bukanlah jalan menuju rumahnya, tapi kemana?


''Kak, kita mau kemana?'' tanya Delisa yang penasaran.


''Oh iya aku lupa bilang, aku ada urusan sebentar. Kamu enggak keberatan 'kan ikut dengan ku?''


Delisa sejenak terdiam, lalu akhirnya mengangguk dengan tahu walaupun dia sendiri menyimpan banyak tanya, urusan apa yang dimaksud Alvin dan kenapa dia dibawanya.


Alvin mengehentikan mobilnya disebuah gedung yang sangat Delisa tahu gedung itu adalah hotel mewah yang berbintang, lalu untuk apa Alvin membawanya kesana?


''K–kak? kita mau apa?'' tanya Delisa gugup dan takut, yang pastinya Alvin menyadari perasaan Delisa saat ini.


Alvin tidak menjawab pertanyaannya, ia justru keluar lebih dulu dari mobil dan setelah itu membukakan pintu untuk Delisa. ''Ayo!'' seru Alvin memintanya keluar dan Delisa pun menurut turun dari mobil walaupun sejak tadi dadanya bergemuruh tiada henti.


''Selamat datang Tuan muda. Silahkan …'' ucap seorang pria yang berpakaian sangat formal.


Alvin mengangguk dengan wajah datarnya, dan itu dilihat Delisa yang sedikit menyimpan rasa heran. Karena raut wajah itu adalah raut wajah saat pertama kali ia melihat Alvin diruang musik waktu itu. Lalu kenapa pria itu memanggil Alvin dengan panggilan seperti itu?


Pintu besar diantara ruangan hotel itu terbuka untuk mereka, dan disana terdapat orang-orang yang sepertinya sedang menunggu kedatangan Alvin dan tentunya terkejut karena Alvin tidak datang sendiri melainkan bersama seorang gadis.


''Alvin! nak!!'' teriak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik yang saat ini melambai kearahnya memanggil Alvin. Dan tanpa diduga, Alvin meraih tangan Delisa lalu membawanya menghampiri Wanita paruh baya itu.

__ADS_1


__ADS_2