Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Bermalam


__ADS_3

Hujan ditambah petir yang terus bersahutan tidak sama sekali membuat gadis 22 tahun itu meringkuk takut. Justru Delisa tersenyum menghadap jendela, dan itu semua dapat terlihat dari ujung mata Alvin.


Alvin sedikit merasa heran, biasanya kebanyakan wanita akan menjerit takut, atau hanya sekedar menutup telinga karena mendengar suara petir tapi tidak dengan Delisa, justru ia tersenyum seperti senang melihat keajaiban Tuhan itu.


''Kau menyukai hujam?'' pertanyaan Alvin membuat Delisa menoleh dan mengangguk.


''Ya, aku sangat menyukai hujan. Dan kilatan petir juga suara guntur seperti tadi membuat hati aku tenang.''


''Kenapa?''


Delisa mengangkat kedua bahunya, seraya berkata. ''Entahlah, tapi karena suara itu aku bisa menyembunyikan tangisan, sampai Abang dan Ibu ku tidak bisa mendengar atau tahu kalau aku sedang menangis.''


Mendengar penuturan Delisa, Alvin terdiam. Hatinya terasa perih karena ternyata sesakit itu apa yang Delisa rasakan selama ini. Dan yang buat ia kagum, ia tidak mau keluarganya tahu kalau dia masih menangisi pria manja itu.


Perjalanan berjalan begitu baik, sampai ketika mobil berhenti mendadak karena didepan sana terdapat kendaraan lain yang ikut berhenti.


''Ada apa ini?'' gumam Alvin.


Alvin membuka kaca mobil nya lalu bertanya pada seorang petugas kepolisian yang kebetulan sedang mengatur jalan.


''Permisi! maaf, ada apa ini, Pak?''


''Maaf Pak! jembatan akses jalan disana ambruk!'' jawab petugas kepolisian itu.


''Oh iya, terima kasih, Pak!''


Alvin menutup lagi kaca mobilnya, ia bingung harus bagaimana. ''Apa ada jalanan lain?'' tanya Alvin pada Delisa yang sedang memperhatikan sekeliling.


''Enggak ada Kak. Ini jalan utama kerumah aku.''


Alvin terdiam, ia menggigit bibir bawahnya seraya berpikir bagaimana caranya ia bisa mengantarkan Delisa sampai rumah kalau jalan utama saja tidak dapat dilalui.


''Eh tapi sebentar, aku telpon Abang ku dulu!''


Delisa mengambil ponselnya dari dalam tas, menghubungi Fauzan, jalan ninjanya.


Beberapa saat terdengar sambungan operator, tapi kemudian akhirnya tersambung oleh Fauzan.


''Abang! aku ada di jalan Turi, tapi jembatan disini rubuh. Apa ada jalanan lain selain jalan Turi?''


''Iya Abang sudah liat tadi diberita, kalau jembatan Turi rubuh. Jalanan lain ada, tapi kamu harus memutar dan itu sangat jauh sekali.''


''Terus aku harus apa?''


''Begini saja, kamu pulang naik bis 'kan?''


mendengar pertanyaan sang Kakak, Delisa melirik kearah Alvin yang bertanya dengan isyarat. Delisa menggelengkan kepalanya pada Alvin sebagai jawabannya.


''Emmm itu, bang.''


Delisa tidak dapat melanjutkan ucapannya, dia bingung harus mengatakan apa. Dia juga takut kalau Abangnya marah padanya.

__ADS_1


''Dek! kamu naik bis 'kan?'' tanya ulang Fauzan disebrang telpon sana.


''Eng–gak, Bang!'' jawab ragu Delisa.


''Oh naik taksi?''


Delisa semakin gugup, sungguh dia takut di marahi Fauzan jika tahu dia sedang bersama seorang pria.


''Delisa? Abang sedang bertanya?''


Terdengar lagi suara tegas Fauzan dari sebrang sana yang semakin membuat jantung Delisa bergemuruh.


''Aku sedang bersama teman,'' jawab lirih Delisa.


''Hah! kamu ngomong apa?''


''Aku sedang bersama teman, Bang!''


''Teman? pria atau wanita?''


Suara Fauzan semakin dingin dan datar, membuat Delisa semakin dibuat khawatir.


''P–pria.''


''Berikan telponnya pada teman mu!''


Delisa memejamkan matanya rapat-rapat, lalu melirik lagi ke Alvin. Dan dengan ragu dia memberikan handphonenya pada Alvin.


''Halo! salam kenal, saya Alvin.''


Delisa tercengang mendengarnya, bahkan tidak ada raut tegang pada wajah Alvin seperti dirinya.


Delisa terus menyimak walaupun dia sendiri tidak dapat mendengar suara Fauzan, tapi dia terus memperhatikan raut wajah Alvin yang sama sekali tidak menggambarkan ketegangan.


Delisa mengernyit ketika melihat Alvin yang seperti sedang mencari sesuatu karena terlihat dari apa yang dilakukan lelaki itu.


''Sepertinya ada.''


...


''Baik, kalau begitu Anda bisa percaya pada saya. Saya Alvino Abraham, jika terjadi sesuatu Anda bisa mencari saya.''


Sambungan telpon pun terputus begitu saja dengan rasa penasaran dari Delisa yang ingin tahu apa yang dibicarakan Abangnya pada Alvin sehingga membuat lelaki itu berkata demikian.


''Bagaimana? apa dia memarahi mu?'' tanya Delisa dengan cepat.


''Memarahi ku? kenapa?'' balas Alvin yang langsung memundurkan mobilnya lalu memutar kembali melewati jalanan ya g tadi ia lewati.


''Oh kita akan lewat jalan lain ya? tapi katanya jauh,'' celoteh Delisa yang mulai terdengar membuat Alvin senang.


Alvin hanya mendengarnya saja, tanpa menyahutinya. Sesekali tangannya menepuk kepala Delisa ketika ia merasa apa yang dikatakan wanita itu terdengar menggemaskan.

__ADS_1


Ciittttt!!


Roda mobilnya berhenti didepan sebuah motel. Yang langsung di sambut oleh penjaga pintu yang membatu membukakan pintu mobil untuk mereka.


Delisa yang kebingungan langsung mempertanyakan itu pada Alvin.


''Kak! kita mau apa?''


''Abang mu menyarankan kita mencari penginapan dulu sampai besok pagi. Karena kalau untuk melewati jalan lain dia khawatir sekarang lagi musim perampok jalan, dan jalanan lain itu memang rawan kalau sudah gelap begini.''


Delisa tidak percaya, kenapa Abangnya bisa menyarankan seperti itu. Terlebih lagi dia sedang bersama seorang pria. Kenapa Abangnya bisa percaya begitu saja pada Alvin? Delisa terus bertanya-tanya dalam hatinya.


Alvin berjalan lebih dulu dan Delisa membuntut dari belakang.


''Selamat malam Mas, Mbak. Sudah reservasi kamar?'' tanya resepsionis itu.


''Belum, saya pesan dua kamar ya. Untuk satu malam!'' jawab Alvin.


''Oh maaf Mas, kamar sudah penuh semua. Karena sudah ada yang memesan. Mengingat jalan utama sedang ada kendala jadi beberapa orang memesan kamar di motel ini.''


''Kalau ya sudah, ayo Del!'' Alvin pun berbalik ingin pergi. Tapi resepsionis itu kembali memanggilnya.


''Maaf Mas!''


Alvin dan Delisa kembali berbalik. Karena panggilannya.


''Ya?''


''Ada tersisa satu kamar, tapi jenis kamar twin? apa kalian berminat?'' ucap wanita resepsionis itu.


''Kamar twin?'' gumam Delisa yang tidak mengerti arti dari itu.


''Iya mbak, kamar twin yang menyediakan dua ranjang single didalamnya.''


''Tidak, terima kasih. Kita cari penginapan lain saja. Ayo Del!'' Alvin menarik lembut tangan Delisa tapi justru Delisa menepisnya pelan.


''Kita ambil Mbak.''


Alvin berbalik menatap Delisa dengan raut terkejut. Apa Delisa tidak sama sekali memikirkan nantinya. Satu kamar dengan dua orang lawan jenis? Alvin tertunduk dengan senyum manisnya.


''Kak! kita ambil saja. Lagi pula diluar hujan deras, mencari penginapan lagi. Aku juga udah lelah,'' ucap Delisa.


''Tapi Del, ini satu kamar lho. Kita berdua?''


''Iya enggak apa-apa. Lagian ranjangnya 'kan juga ada dua. Benar 'kan Mbak?'' Delisa beralih bertanya pada penjaga meja resepsionis.


''Benar Mbak.''


''Kalau begitu, kita ambil!''


Dengan cepat Alvin pun menyetujuinya karena Delisa lebih dulu yang mengambil inisiatif itu. Memikirkan bisa bersama dengan Delisa semalaman, membuat dia tersipu. Ya walaupun memang tidak akan terjadi apapun. Tapi tetap saja disatu kamar bersamanya? ah, Alvin tidak bisa membayangkannya.

__ADS_1


''Wahai setan! jangan datang dulu! bagaimanapun aku harus menjaga Marwah calon istri ku!'' Batin Alvin.


__ADS_2