
''Benar dugaan ku, rupanya kamu belum juga merasa puas, hmm?''
Suara bariton Alvino membuat wanita yang tengah tertunduk dengan tangan yang terikat seketika mengangkat kepalanya.
Ia tersenyum, tersenyum miring menandakan tak ada penyesalan karena telah melakukan sesuatu yang salah, yang bahkan bisa saja merenggut nyawa seseorang.
''Puas katamu? setelah Papi ku mati karena kalian, aku harus merasa puas, iya!!'' pekik Rika, ya wanita itu adalah Rika. Orang yang sudah mencampurkan serbuk bunga pada makanan Delisa.
''Cih! bukankah itu sudah menjadi hukuman mu! dan mestinya kau juga ikut dengannya!!'' balas Alvin dengan berteriak.
Rika tertawa tapi ia juga menangis. Apa yang dikatakan oleh Alvin membuat hatinya merasa perih.
''Setelah aku berjuang dan aku memilih untuk melanjutkan kehidupan ku, kau malah menginginkan kabar kematian ku? iya!''
''Benar! karena hidup pun kau tidak berguna bagi dunia.''
Rika terdiam, perkataan Alvin benar-benar membuat mentalnya hancur. Alvin yang dia kenal jarang bicara bahkan penyendiri ternyata memiliki mulut yang mematikan.
''Seharusnya jika kau memilih hidup, kau harus lebih kompeten, tapi tidak! Kamu malah membuat Delisa ku celaka.''
''Delisa, Delisa Delisa! apa hebatnya dia! Hary lebih memilih Delisa, Wahyu pun selalu menyebut nama dia! Bukankah aku lebih dari Delisa!''
''Cih! tidak ada seujung kuku pun kau dibandingkan dengannya! Bawa dia! aku tidak mau melihatnya lagi!!''
Alvin berteriak memerintahkan anak buahnya. Ya bagaimanapun Alvin adalah anak dari seorang mafia, darah dari ayahnya menurun bebas kepada Alvin. Walaupun dia sendiri pernah menolak tawaran Elvano, ayahnya. Untuk menduduki posisi sebagai ketua dari geng nya.
Di rumah sakit. Delisa yang sudah sadar merasa kesal karena berada di tempat yang paling ia benci itu.
Rumah sakit, ya baginya rumah sakit adalah tempat yang paling menyebalkan, tempat yang paling ia benci setelah kepergian Ayahnya.
Delisa akan beranjak, tapi Fauzan yang melihat Delisa terbangun dan akan melepaskan selang infusnya, segera menahannya.
''Mau ngapain kamu?'' cegah Fauzan yang kembali merebahkan Delisa.
''Abang? bang, ayo kita pulang!''
''Husstt! kamu belum pulih sepenuhnya. Lihat matamu saja masih merah, tunggu beberapa saat lagi. Kita akan pulang, hmm?'' ucap Fauzan begitu lembut.
''Delisa, benar kata Abang mu. Tunggu beberapa saat lagi, kita akan bawa kamu pulang, oke?'' timpal Vikar.
''Kak Alvin mana?''
Bukan menjawab apa yang Vikar katakan, ia malah celingukan mencari keberadaan Alvin. Ya bukan tanpa alasan ia mencari Alvin. Karena setahunya sesaat sebelum ia tak sadarkan diri, dia sedang bersama Alvin.
Tapi pertanyaan Delisa membuat hati seseorang terluka, Vikar. Vikar mengepalkan tangannya kuat-kuat semata-mata untuk meredamkan emosinya. Dan ternyata itu dilihat oleh Fauzan.
Fauzan mengerti perasaan Vikar, karena bagaimanapun ia juga tahu betul kalau Vikar sudah sejak lama menyukai Delisa, dan tentunya akan merasa kesal mendengar Delisa mencari pria lain padahal ada dia didepannya.
''Alvin pamit keluar sebentar, nanti dia akan kembali lagi,'' jawab Fauzan dengan segera.
__ADS_1
Delisa berdecak lalu meraih ponselnya, ia menekan kontak seseorang. Dan ditempelkannya ke daun telinganya.
''Diva! kamu punya nomor Kak Alvin?'' ucap Delisa setelah tersambung ke orang yang di telponnya yang tak lain adalah Diva, sahabatnya.
''Kak Alvin? ya mana punya aku, memangnya kenapa?''
''Enggak apa-apa, ya sudah kalau tidak punya!''
Delisa memutuskan sambungan telepon begitu saja, dengan raut wajah muram ia menatap jendela yang menampilkan pemandangan sekitar.
''Kan sudah Abang bilang, nanti Alvin kembali. Dia cuma pamit keluar sebentar,'' sambar Fauzan lagi.
''Tapi kenapa keluarnya enggak tunggu aku bangun!'' protes Delisa tidak beralasan.
Fauzan mengernyit heran, ia melirik Vikar yang semakin terlihat kesal.
''Aku beli kopi dulu!'' Vikar pun berlalu pergi dengan raut wajah marah. Dan tentu hanya Fauzan yang menyadari itu.
Fauzan mendekat keranjang Adiknya. Duduk ditepi ranjang lalu mengusap lembut rambut Panjang Delisa.
''Kamu menyukai dia?'' pertanyaan Fauzan membuat Delisa tertegun.
''Siapa?'' sahut Delisa kemudian.
''Alvin.''
''Enggak! apa sih Bang! jangan sembarangan bicara deh!''
''Mau tahu satu rahasia enggak?'' Fauzan berbisik yang sontak membuat rasa penasaran Delisa muncul ke permukaan.
''Apa Bang?''
''Tadi ada yang panik karena kamu lho!''
Pipi Delisa semakin memerah di tambah merah itu menyebar ke hidung Delisa. ''Siapa? kak Alvin ya?''
Fauzan memundurkan kepalanya, ia tersenyum simpul mendengar tebakan Delisa.
''Ya mungkin benar, tapi yang Abang maksud, bukan dia.''
Delisa merubah raut wajahnya dalam sekejap. Dengan mata yang sayu ia menatap datar pada Kakaknya.
''Lalu siapa?''
''Vikar!''
''Iih ngaco!''
''Sungguh! tadi dia panik sampai-sampai dia pukul–'' Fauzan menghentikan ucapannya, dia kelepasan bicara.
__ADS_1
Delisa menunggu kelanjutan cerita Fauzan, kelihatannya kakaknya itu tidak akan melanjutkan apa yang dia akan katakan.
''Pukul siapa?''
''Emmm. Pukul…—''
Krreekk... Pintu terbuka dan masuklah seseorang yang sejak tadi dicari keberadaannya oleh Delisa.
''Kamu udah bangun?'' ucap Alvin yang datang dengan buah ditangannya.
''Kau tangani dia, aku pergi cari kopi dulu!'' Fauzan pun pergi, tapi bukan untuk mencari kopi seperti apa yang dikatakannya, ia hanya ingin memberikan waktu mereka berdua saja.
Alvin memperhatikan wajah Delisa juga matanya yang sudah membaik karena sebelumnya mata Delisa memerah karena efek alerginya.
''Syukurlah, sudah mendingan,'' seru Alvin yang kemudian mengambil salasatu jenis buah yang ia bawa lalu dicucinya terlebih dahulu baru ia bukakan untuk Delisa makan.
''Kalau jeruk tidak masalah 'kan?'' tanya Alvin dan Delisa pun mengangguk.
Sedang Alvin fokus mengupas kulit jeruk, tiba-tiba Delisa meraih wajahnya. Melihat kearea sudut bibir Alvin.
''Kakak kenapa? berkelahi?'' tanya Delisa, bukan tanpa alasan dia bertanya, karena seingat dia sebelumnya tidak ada luka memar pada wajah Alvin.
Alvin tersenyum lalu menggenggam tangan Delisa yang masih berada di wajahnya. ''Tidak apa-apa, tadi ada kesalahpahaman sedikit,'' jawab Alvin begitu lembut, membuat hati Delisa begitu hangat.
Delisa terdiam, ia mengingat apa yang dikatakan Fauzan tadi. Dan menerka bahwa lebam yang ada pada wajah Alvin itu adalah ulah Vikar.
Dan kebetulan Vikar pun kembali keruangan, yang dia sendiri tidak tahu kalau Alvin sudah ada disana, juga Fauzan yang tidak ada ditempat. Ditambah posisi Alvin dan Delisa yang berdekatan.
Vikar menatap tajam pada tangan Alvin yang menggenggam tangan Delisa. Ia pun berjalan melewati mereka untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja kamar itu.
''Kak Vikar?!'' panggil Delisa membuat Vikar menghentikan langkahnya yang akan keluar dari ruangan.
''Ya?''
''Kenapa kakak pukul kak Alvin?''
Vikar melirik kesal pada Alvin yang bahkan terkejut mendengarnya.
''Vih! pengecut! mengadu dia.''
Tanpa menjawabnya Vikar berlalu pergi dari sana meninggalkan Delisa dan Alvin berduaan didalam kamar.
''Hei! kenapa kamu mengira kalau dia yang pukul aku?''
''Tapi benar 'kan?'' Alvin hanya diam, ''Sudah kak, enggak perlu bohongin aku. Aku tahu kok!''
Happy Reading...
**Hay kesayangan othor💜🥰 Othor punya karya baru nih, mampir yuk! ramaikan... up sehari dua Bab lho. baru ada 4 bab🤗 di tunggu kedatangannya..
__ADS_1
💜 TURUN RANJANG 💜**