
''Lihat, dia menatap kita!''
''Pasti dia ingin melihat ku!''
''Enggak, itu pasti Kak Al mau melihat ku!''
''Astaga dia taman sekali!''
Suara-suara sumbang itu memenuhi kelas
jurusan informatika itu. Semua berspekulasi kalau Alvin sengaja lewat untuk melihat salasatu dari mereka.
Alvin melengos jengkel karena sesungguhnya ia sangat tidak suka pada perempuan yang agresif.
Mendengar teman kelasnya terus menjerit-jerit, Delisa yang sedang membaca buku dengan satu telinganya terdapat earphone segera menoleh kearah tempat mereka menatap.
Delisa melihatnya sekilas dan tanpa disengaja, saat Delisa menoleh, mata Alvin pun sedang tertuju kepada nya. Tapi tidak seperti gadis-gadis lainnya yang akan menjerit kegirangan, justru Delisa hanya bersikap biasa saja.
''Ada apa dengan mereka,'' dengus nya pelan.
''Kamu enggak liat? itu kak Alvin melihat kesini,'' sahut Diva.
''Ya terus?''
''Haahh… kamu enggak bakal ngerti, Del!''
Dan Delisa pun kembali membaca bukunya.
Suara-suara para gadis itu kembali tenang karena dosen kelas sudah datang dan Alvin pun sudah tidak terlihat dari kaca jendela kelas.
Kelas pun dimulai selama 4 jam lamanya, banyak yang dibahas oleh dosen bahkan sesi tanya pun dilakukan. Akhirnya Delisa dan mahasiswa lainnya keluar dari kelas yang cukup memeras otak itu.
Diva menarik tangan Delisa keluar dari kelas, 4 jam bergelut dengan banyaknya pembahasan membuat perutnya perlu di isi.
''Pelan-pelan, Div!''
__ADS_1
''Aku lapar Del!''
Diva terus berlari dengan menarik tangan Delisa. Yang dia pikir kalau tidak akan terjadi apa-apa tapi Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Karena Diva terlalu kencang manarik tangan Delisa sehingga membuat Delisa tidak dapat menyesuaikan langkah cepatnya, kaki Delisa tersandung sesuatu yang mengakibatkan Delisa terjatuh.
Brukkk!!
''Uppsss, sorry,'' ucap seseorang yang berada didekat Delisa saat ini.
Diva yang merasa tangannya tertarik lagi, segera berbalik, dan terkejutnya dia melihat Delisa sudah terjatuh dengan lututnya berlumuran darah.
''Del! maafkan aku—''
''Minggir!'' seseorang tiba-tiba datang lalu mendorong Diva begitu saja.
''Kamu enggak apa-apa?'' tanya orang tersebut yang tak lain adalah Hary.
Delisa tidak menjawabnya, ia sedang menahan rasa sakit karena lututnya yang cidera.
''Kenapa kamu tarik terus tangan dia?! hah!'' bentak Hary pada Diva yang juga merasa bersalah pada Delisa.
''Del aku enggak sengaja, maaf….'' lirih Diva menundukkan kepalanya.
Hary memicing menatapnya, sekarang ia mengerti kenapa Delisa bisa terjatuh, bukan hanya semata-mata salah Diva yang terus menarik tangan Delisa, ada faktor lain yaitu, Rika lah yang menghalang langkah kaki Delisa sehingga membuatnya terjatuh.
''Enggak Div, bukan salah kamu,'' balas Delisa.
Diva ikut berjongkok melihat luka Delisa yang lumayan parah.
''Apa yang lo lakuin?'' tanya Hary pada Rika.
Rika mengernyit, merasa heran dengan sikap Hary yang tiba-tiba berubah menjadi kasar.
''Har, kamu kenapa?'' Rika bergerak ingin menyentuh lengan Hary, tapi dengan cepat ditepisnya.
''Sikap lo buat gue jijik! gue kira lo udah berubah, tapi ternyata sama aja! lo pikir gue enggak tau kalau lu sengaja rantangin kaki lo biar Delisa jatuh, iya 'kan!''
__ADS_1
''Enggak Har!''
Diva dan Delisa yang melihat pertengkaran antara sepasang kekasih itu, akhirnya memilih untuk pergi karena tidak mau ikut kedalam permasalahan mereka.
Diva membawa Delisa pergi ke klinik kampus untuk segera ditangani luka Delisa agar tidak terjadi infeksi.
Menyadari Delisa sudah pergi, Hary pun berlalu meninggalkan Rika yang terus memanggil- manggil namanya.
''Sialan! karena anak baru itu, Hary marah sama gue!'' gerutu Rika.
Di Klinik, Delisa yang sudah dibalut lukanya, sudah merasa lebih baik. Dan Diva, ia masih saja menyalahkan dirinya sendiri karena luka yang didapati Delisa.
''Sekali lagi, maaf ya Del,'' lirih Diva.
''Diva, aku enggak apa-apa kok, lagian bukan salah kamu. Tadi aku yang enggak hati-hati sampai tersandung kaki perempuan itu,'' balas Delisa.
''Kamu laper 'kan? kita makan yuk!'' ajak Delisa tapi diva menggelengkan kepalanya.
''Aku udah enggak lapar, kamu mau pulang 'kan. Biar aku antar sampai rumah.''
Merekapun pergi dari klinik. Berjalan dengan perlahan untuk sampai di halte depan kampus.
Disisi lain Rika yang berpisah dengan teman-temannya didepan gerbang utama segera menemui seorang pria yang sudah menunggunya.
''Nunggu lama ya?''
''Tidak, aku baru datang.''
Rika pun segera masuk kedalam mobil pria tersebut. ''Kita mau kemana?''
''Ibu mu dan ibuku menyuruh kita menyusul mereka ke Boutique Alisha.''
Degh!
Entah kenapa jantung Delisa tiba-tiba berdebar begitu kencang, entah apa yang terjadi. Ia menoleh kearah sisi barat, terdapat mobil berwarna kuning yang sudah melaju pergi.
__ADS_1
Dan dengan bersamaan, pria yang bersama Rika pun melihat kearah belakang melalui kaca yang ada diatas kepalanya. Netranya menangkap seseorang yang tidak asing dalam hidupnya, seseorang yang ia rindukan selama tiga bulan ini, tapi sayang begitu ia melihatnya, orang itu sudah masuk kedalam bis. Tapi dengan cepat ia mengusir bayangan itu karena menurutnya, sosok orang itu hanyalah kebetulan mirip.
"Tidak mungkin kamu ada disini, buat apa juga kamu berada di kampus ini." Batinnya.