Talak! Setelah Akad

Talak! Setelah Akad
Luka Lama Terbuka Lagi


__ADS_3

Delisa masih memeluk wajahnya kesal, dia mengerti sebab Abangnya tidak mengizinkannya mengendarai sepeda motor semata-mata karena mengkhawatirkannya. Tapi dia juga ingin memiliki kendaraannya sendiri.


Di bus. Delisa menyenderkan kepalanya di jendela mobil, menatap ramainya jalanan sambil membayangkan dirinya menaiki sepeda motornya sendiri untuk berangkat ke kampus.


"Ck, Abang pelit!" gerutu Delisa melihat iri pada pengendara sepeda motor.


"Dia juga wanita, dia bisa. Masa aku tidak boleh!" lanjutnya.


Delisa mencebikkan bibirnya, walaupun dia tahu alasan Fauzan tidak memberikan sepeda motor untuknya, Delisa tetap menggerutu. Bagi seorang kakak laki-laki, seorang adik terlebih itu seorang perempuan, biar sekalipun sudah berumah tangga akan tetap menjadi adik kecil dari Abangnya.


''Padahal di kampus pun aku sering bepergian dengan sepeda motor.'' Entah seperti tidak ada habisnya, Delisa terus mengeluhkan sikap kakaknya. Sampai ketika seseorang yang duduk disampingnya terusik dengan ocehannya.


''Abang mu bukan pelit! dia hanya mengkhawatirkan mu,'' ucap seseorang itu yang masih menutupi wajahnya dengan topi karena memang sejak tadi ia sedang tidur.


Delisa menoleh dan mendengus. Ia tidak mau meladeni orang yang tidak ia kenal itu.


''Sok tau!'' celetuk Delisa ketus.


''Haaaah! kalau tidak percaya coba tanya dia. Tanya kenapa tidak mengizinkan mu!''


Delisa memundurkan kepalanya, alisnya mengernyit melihat orang itu yang menegakkan tubuhnya lalu bicara dengannya seperti sudah mengenal dia.


''Apa iya?''


Tiba-tiba …


Ciittttt!! Brrakk!!


Tubuh Delisa hampir saja terpentuk kursi bis yang ada didepan kalau tidak ada orang yang duduk disebelahnya yang segera menahan tubuhnya.


Begitu juga penumpang lainnya yang bahkan ada yang sudah terjatuh kelantai mobil karena bis yang mereka taiki seperti mengerem mendadak.


Delisa syok, ia menegakkan kembali badannya.


Keadaan didalam bus itu pun ricuh, ada yang memaki supir, ada yang berteriak mempertanyakan sebab sang supir menginjak pedal rem dengan mendadak.


''Astaga, kenapa berisik sekali mereka!'' gerutu orang yang duduk disebelah Delisa.


''Maaf semuanya, didepan ada kecelakaan lalulintas!'' ucap kondektur bis.


Semua penumpang berhamburan keluar bis karena penasaran ingin melihat terjadi kecelakaan itu.


Delisa melongok dari dalam bis, ia melihat korban kecelakaan yang sudah terkapar di aspal dengan berlumuran darah. Dan yang kecelakaan itu adalah seorang perempuan pengguna sepeda motor.


Delisa terdiam, bulu kuduknya meremang tidak berani melihat lebih jelas karena melihat darah saja kepalanya sudah terasa pening.


''Lihat itu! sebab itulah Abang mu melarang!'' ucap tiba-tiba orang yang sama dengan orang yang tadi menasehatinya.

__ADS_1


Delisa terdiam, ya dia baru mengerti setelah melihat kejadian naas itu. Namun, dia seperti menyadari sesuatu.


Kepalanya segera menoleh dan melihat lebih dekat orang yang memakai topi hitam itu. Merasa tidak asing dengan wajah penumpang laki-laki itu.


''Kenapa?'' tanyanya.


''Kamu—'' Delisa menggantung ucapannya, ia berusaha mengingat-ingat siapa gerangan yang sejak tadi duduk bersebelahan dengannya.


''Kak Alvin, ya?'' tanya Delisa sedikit tidak yakin.


Lelaki itu menolehkan kepalanya lagi, lalu membuka topinya. Menatap datar Delisa dan kemudian mengedipkan matanya dengan mengangguk samar.


Ya dia adalah Alvin. Entah kebetulan atau pertemuan yang disengaja. Delisa tidak menyangka kalau bisa bertemu dengan teman sekampusnya di bis. Karena yang dia tahu orang-orang yang berkuliah disana semua adalah orang yang berada dan memiliki kendaraannya masing-masing.


''Ternyata kamu bisa mengingat nama orang lain juga ya,'' ucap Alvin membuat Delisa bingung.


''Maksudnya?''


''Ya bukankah dikampus kamu hanya berteman dengan satu orang saja.''


Delisa memicing, kenapa pria yang sangat dingin dan bahkan tidak pernah ia lihat pria itu berbicara santai dengan mahasiswa lain. Tapi hari ini dia bicara santai seperti bukan Alvin.


''Kok kamu tau?''


Baru saja Alvin akan menjawab, kondektur bis memberitahukan kalau bis sementara berhenti beroperasi karena harus ternyata motor si korban kecelakaan itu tersangkut dibawah badan bis.


Delisa dan lainnya yang masih berada di dalam bis serentak keluar dari sana.


Sampai ketika sebuah mobil berwarna kuning berhenti didepan mereka, membuat Delisa menghentikan langkahnya begitu juga Alvin.


Seorang wanita paru baya keluar dari pintu penumpang depan. Tersenyum lalu menghampiri Delisa yang masih berdiri ditempatnya dengan raut wajah begitu dingin.


''Delisa ya?''


Delisa tetap diam, Alvin melirik Delisa yang seperti tidak nyaman ada seorang wanita tua itu.


''Ini pacar baru kamu?'' tanyanya lagi tapi Delisa tetap diam.


''Dia tahu status kamu itu janda?''


Delisa muak, ia berniat akan pergi tapi tiba-tiba Alvin menahannya.


''Tante, tolong bedakan pertanyaan dengan hinaan, itu sangatlah berbeda. Saya tahu Tante itu wanita yang cerdas, dan berkelas. Pastikan mulut Tante juga berkelas seperti penampilan Tante.''


Delisa tercengang mendengarnya, begitu juga wanita paru baya itu. Ia merasa direndahkan oleh pemuda itu.


''Jaga mulut kamu ya!'' ucapnya begitu nyalang dengan jarinya menunjuk pada wajah Alvin.

__ADS_1


Alvin tersenyum dan mendorong pelan jari telunjuk wanita itu agar menjauh dari wajahnya.


''Saya sudah sangat menjaga mulut saya. Dan itu giliran Anda, kita pergi, Del.''


Alvin menggenggam tangan Delisa untuk membawanya pergi dari sana. Tapi tiba-tiba seseorang yang sejak tadi berada dalam mobil keluar dan memanggil nama Delisa.


Delisa terpaku, tubuhnya terasa kaku. Ia memejamkan matanya sesaat mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa begitu sesak.


Alvin merasa Delisa sedang tidak baik-baik saja. Alvin menoleh secara bergantian pada seorang pria yang berdiri disamping mobil dan Delisa.


''Del? dia siapa?!'' tanya pria itu begitu lancang, membuat Delisa seketika berbalik kearahnya.


Delisa sedikit melirik kearah Alvin, seraya berkata begitu pelan. ''Kak maafin Delisa.''


Alvin hanya diam. Delisa mengambil satu langkah maju dari tempatnya begitu juga pria yang tadi memanggilnya.


''Dia siapa, Delisa?!'' tanyanya lagi dengan nada yang sedikit lebih tinggi.


''Apa urusan mu? siapapun dia, enggak ada sangkut pautnya dengan mu!'' ketus Delisa.


Jawaban Delisa membuat pria itu baik pitam.


''Delisa! aku sedang bertanya!'' bentaknya begitu kuat.


''Enggak usah bentak-bentak!!'' balas Delisa.


Alvin yang melihat itu, tentu terkejut. Tapi ia tahu itu adalah titik paling akhir kesabaran Delisa, matanya dapat melihat tangan gemetar gadis itu, pundaknya naik turun. Dan bahkan ada genangan di matanya.


Alvin menarik pelan tangan Delisa, tapi Delisa malah berbalik dan memeluk Alvin begitu erat.


Melihat Delisa yang memeluk pria lain, tangan pria itu akan menarik tubuh Delisa tapi dengan cepat Alvin menepisnya.


''Anda siapa? kenapa berbicara seperti itu padanya?''


''Saya suaminya!''


''Enggak! bukan, dia bukan suami ku lagi, Kak…'' pekik Delisa didekapan Alvin.


''Ssttt, sudah, sudah.'' Alvin menepuk-nepuk pundak Delisa dengan satu tangannya.


''Delisa?'' nada pria itu melemah.


Delisa terisak begitu lirih, ia menolehkan kepalanya pada pria yang mengaku sebagai suaminya yang tak lain adalah Wahyu dengan Ibunya, Heni.


''Wahyu! kita pergi dari sini!''


Heni menarik tangan Wahyu, tapi Wahyu seakan enggan ikut dengannya.

__ADS_1


''Kamu lupa, kamu sudah menjatuhkan talak padaku disaat kata sah baru saja berseru. Dan kamu juga penyebab Ayah ku meninggal!!''


Semuanya membisu, terlebih lagi Wahyu yang mendengar itu. Dan Alvin semakin tahu kehidupan Delisa yang ternyata sangatlah pilu.


__ADS_2