
Di taman, Wahyu sedang termenung seorang diri dan hanya bertemankan suara binatang jangkrik yang saling bersahutan di malam hari.
Dia sungguh tidak bisa melupakan Delisa, Delisa yang bersikap seperti itu membuat hatinya terluka tanpa menyadari alasan Delisa seperti itu karena dirinya sendiri.
''Kamu berubah, Delisa.''
''Astaga, dia lagi, dia lagi yang kamu sebut! Enggak ada lagi wanita kah? hah! ayo cepat. Kita sudah terlambat!'' Heni yang sedari tadi mencari keberadaan Wahyu tidak sengaja mendengar apa yang menjadi kerisauan Wahyu.
Wahyu beranjak menyusul langkah ibunya. Ia memang sempat membangkang tapi ia sadar ia hanya seorang anak yang harus menurut apa yang orang tuanya hendaki tanpa tahu kalau dia juga berhak menata hidupnya sendiri.
''Kamu tau Wahyu, keluarga calon istrimu tidak lagi memberikan kabar, entah kemana mereka. Dan itu juga karena kamu!''
Wahyu menoleh kesamping, ia berdecak kesal dan melajukan mobilnya.
''Ya kalau saja kamu enggak temui si gundik itu. Mungkin sekarang kamu sudah menikah!''
''Bu! cukup! Cukup sebut Delisa dengan sebutan itu!''
Heni melirik sebal pada putranya itu. Lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
''Aahhh!! Bu Broto kemarin bilang punya anak perempuan, dia masih muda dan cantik, pendidikannya pun bagus. Ibu bakal atur pertemuan kalian!''
Kali ini Wahyu bukan hanya memberikan peringatan, tetapi ia juga sampai menginjak pedal rem sampai tubuh ibunya pun terhuyung kedepan.
''Wahyu! kamu kenapa?!''
''Bu! sudah cukup ya. Ibu terus sibuk mengatur hidup Wahyu. Bu! Wahyu juga mau tenang Bu! kalau saja ibu enggak bohongin Wahyu waktu itu, mungkin hidup Wahyu udah bahagia bersama Delisa!''
''Delisa lagi, Delisa lagi! Wahyu, ibu manapun kepingin anaknya bahagia, dan mendapatkan istri yang baik juga. Dan si gundik itu? pendidikannya saja hanya sampai SMA. Mau ditaruh dimana wajah Ibu kalau teman arisan Ibu menanyakan latar belakangnya!''
''Astaga, Bu! Delisa tamat SMA dan menunda kuliahnya itu juga karena Wahyu. Dan lagipula Delisa sekarang juga sedang melanjutkan pendidikannya.''
''Cih! sama saja! sudah ayo kita sudah terlambat!'' Tidak peduli.
''Enggak! kalau mau Ibu pergi saja sendiri. Wahyu ada kerjaan lain.'' Wahyu melanjutkan perjalanannya dan beberapa kilometer dari tempat sebelumnya ia pun mengehentikan kembali mobilnya disebuah halte.
Heni yang merasa bingung pun bertanya, ''Kamu beneran biarin Ibu pergi sendiri?!''
__ADS_1
''Ya, karena syarat menikah di keluarga wanita, harus menyediakan mahar dari si pria 'kan?''
Heni berdecak dan akhirnya keluar dari mobil sang anak walaupun ia merasa jengkel.
Tanpa berpamitan Wahyu pun menancapkan gasnya meninggalkan sang Ibu. Dan tanpa di duga ia malah memutar kemudinya kembali ke rumah sakit tadi.
Entah apa yang dia pikirkan. Sampai-sampai ia pun berniat ingin kembali menemui Delisa disana.
''Sudah malam, tidur ya, hm?'' Alvin membantu Delisa merebahkan tubuhnya, lalu menyelimuti dengan benar, memastikan kalau dingin dari AC tidak membuat Delisa kedinginan nantinya.
Alvin terus mengusap kepala Delisa yang sebenarnya memang sudah mengantuk. Dan hanya menunggu beberapa saat saja, Delisa pun sudah tertidur pulas.
Alvin menatap lekat Delisa yang tidur dengan wajah cantiknya. Lalu beranjak dari sana untuk ke sofa karena dia juga mempunyai pekerjaan yang harus ia kerjakan. Tapi baru saja ia akan melangkah pintu pun terbuka begitu keras.
Mata Alvin langsung tertuju pada Delisa, memastikan kalau Delisa tidak terganggu. Kemudian matanya beralih kearah pintu dimana disana terdapat seorang pria yang membuat hidup Delisa merana, siapa lagi kalau bukan, Wahyu.
Wahyu berjalan cepat ingin menghampiri ranjang Delisa tapi dengan cepat Alvin menghalangi jalan Wahyu.
''Mau apa kau?!'' Alvin berdiri tepat didepan Wahyu. Postur tubuh yang tingginya hampir sama, bahkan lebih tinggi Alvin sedikit membuat keduanya saling menatap tajam dengan tatapan lurus.
''Apa kamu tidak lihat, kalau Delisa sedang istirahat!''
Wahyu melirik kearah ranjang, dan memang disana Delisa tengah tertidur begitu nyenyak. Tapi Wahyu begitu keras kepala, ia malah berniat ingin membangunkan Delisa yang jelas-jelas memang baru saja tidur.
Tapi tentu Alvin tidak membiarkan itu.
''Minggir!'' Wahyu akan melewati Alvin tapi karena sudah terlanjur kesal, Alvin pun menarik paksa lengan Wahyu sampai kepintu.
''Kau bisa datang besok, sekarang sudah malam. Dia butuh istirahat!''
''Sebenarnya kau siapa dia, hah! apa urusan mu disini!''
Alvin bicara sepelan mungkin tetapi Wahyu malah bicara begitu keras dan juga mendorong Alvin dengan sekuat tenaganya.
Alvin berusaha menahan emosi, sampai giginya pun menggeletuk juga tangannya yang mengepal kuat, karena ia tidak mau membuat Delisa terbangun.
''Aku pria yang mengenalnya lebih dulu. Dan kau tidak berhak menghalangi ku untuk bertemu dengannya!''
__ADS_1
''Jaga sikap mu! ini rumah sakit. Dan disana ada seorang pasien yang memang membutuhkan istirahat yang cukup!'' Telunjuk Alvin menunjuk kearah Delisa.
''Aku akan pergi setelah bicara dengannya.'' Keukeuh Wahyu.
Alvin menghela nafasnya karena kesal.
''Baik, tapi apa kau yakin Delisa mau bicara denganmu?!'' Wahyu terdiam, mengingat sikap Delisa sebelumnya pun sebenarnya ia juga tidak yakin tapi kalau tidak mencobanya dia mana tahu, pikir Wahyu.
''Aku tahu betul bagaimana Delisa, aku lebih mengenalnya ketimbang dirimu. Dan aku yakin sampai saat ini pun dia masih mencintai ku! kami akan memulainya dari awal lagi!''
Dan kini giliran Alvin yang terdiam, entah kenapa perasaannya tidak nyaman mendengar itu, ia takut jika memang Delisa sebenarnya masih mencintai Wahyu apalagi Delisa belum juga menjawabnya, yang meminta Delisa untuk menjadi kekasihnya.
''Kepercayaan diri macam apa itu?'' suara itu datang dari arah belakang Alvin. Dan keduanya pun menoleh secara bersamaan.
Ya disana Delisa sudah berdiri, menatap datar pada satu titik yaitu wajah Wahyu. ''Cinta, memulai dari awal. Kenapa Anda begitu yakin dengan hal itu?!'' Delisa melangkah dengan perlahan. Dan Alvin dengan sigap membantunya walaupun memang tidak perlu.
''Delisa?'' lirih Wahyu.
''Wahyu Iskandar, itu nama mu 'kan?'' Delisa menjeda ucapannya.
''Nama itu memang sudah lama kukenal, dan nama itu juga yang membuat ku bodoh karena cinta. Tapi nama itu juga yang membuat ku mengerti arti dari kata pengecut dari seorang pria seperti mu!'' Delisa bicara begitu tenang tapi begitu menusuk.
''Ya, aku tahu aku ini lelaki pengecut, dan aku juga bodoh. Tapi apa aku tidak berhak meminta kesempatan dari mu?''
''Kesempatan? kesempatan macam apa yang kau mau?''
''Delisa, aku mohon kasih kesempatan untuk ku. Aku janji akan membahagiakan mu. Ingat mimpi-mimpi kita 'kan? Banyak impian yang harus kita wujudkan, Delisa.''
Plak!!
Tanpa diduga Delisa malah menampar Wahyu begitu kencang.
''Pada saat kau mengatakan kata Talak! padaku, kenapa kau tidak memberikan kesempatan untuk ku, tanpa ingin tahu apa yang akan aku alami kedepannya. Rasa malu yang aku dapat, kau tau itu Wahyu!''
Delisa bicara dengan bibir yang gemetar, matanya memerah menandakan puncak emosinya sudah di ambang batas.
Alvin yang berdiri dibelakang Delisa tidak kuasa mendengar suara gemetar Delisa, dan ia pun membawa Delisa kedalam pelukannya.
__ADS_1