
''Delisa?'' panggil pria yang berdiri didekat pintu masuk kedai.
Delisa terpaku, Diva yang mendengar panggilan itu langsung menoleh, dan ikut terdiam. Diva memundurkan langkahnya karena pria itu melangkah kearah mereka.
Diva menyingkir lalu berdiri dibelakang Delisa yang masih mematung dengan raut yang begitu datar.
''Aku tadi kerumah sakit,'' ucapnya, tapi Delisa tidak menanggapi.
''Tapi kamu enggak ada disana,'' ucapnya lagi tapi tetap Delisa diam.
Ya pria itu adalah, Wahyu.
''Aku perlu ngomong sama kamu.''
Delisa yang sejak tadi diam, akhirnya menyahut, ''Dari tadi udah ngomong 'kan?''
''Delisa aku mohon, jangan kayak anak kecil!'' Wahyu mulai gemas dengan sikap dingin Delisa sehingga mengatakan yang membuat Delisa mentertawakan ucapannya.
''Aku? kayak anak kecil?''
Suasana kedai es krim yang sedikit ramai seketika sunyi karena suara Delisa yang mendominan disana.
''Del, disini sedang ramai!'' bisik Diva. Dan Delisa melihat kesekeliling yang memang mereka tengah menatap kearahnya.
''Kamu pesankan aku, Sundae Boba! aku keluar sebentar!''
__ADS_1
Delisa berlalu pergi sembari melirik benci pada Wahyu yang bahkan tersenyum lembut padanya.
Diva tidak tahu harus apa, ia tahu pria itu adalah pria yang menjatuhkan talak pada sahabatnya di hari pernikahan. Tapi mau apa Wahyu menemui Delisa lagi? itu juga yang sedang Diva pikirkan.
Mengingat ketika kejadian diwaktu Delisa menampar Wahyu, ia dapat menyimpulkan rasa sakit yang Delisa dapat dari pria itu pasti amat sangat menyakitkan karena Delisa gadis selembutnya saja bisa bersikap begitu.
Maka dengan cepat Ia pun mencari keberadaan ponselnya, yang ia simpan di tas. Lalu menghubungi salah satu nomor seorang dosen.
Diluar kedai sana. Wahyu meminta Delisa untuk bicara didalam mobilnya. Tapi Delisa menolaknya dengan tegas.
''Disana ataupun disini sama saja, cepat bicara aku tidak punya waktu lagi!''
''Aku mau kita bicara tenang, dan di mobilku pilihan yang tepat Delisa.''
''Baiklah!'' Wahyu pun pasrah. Dia tidak mau membuat Delisa marah, karena baginya inilah usaha untuk terakhirnya untuk merebut kembali hati Delisa.
Wahyu terdiam sejenak, entah mengulur waktu untuk berduaan bersama Delisa, atau memang sedang menyiapkan kata untuk ia ucapkan pada Delisa.
Dan akhirnya iapun berdehem untuk memulainya.
''Aku benar-benar menyesal mengikuti kemauan ibuku. Apa aku salah berniat berbakti kepadanya. Aku hanya memiliki dia, karena kamu tahu sendiri Ayah ku entah di mana. Kala itu ibuku meminta aku tetap melajang di saat kita sudah merencanakan semuanya dan bahkan besok hari pernikahan dia jatuh sakit dan meminta aku membatalkan pernikahan dengan alasan ibu sakit dan hidupnya tidak akan lama lagi. Waktu itu aku percaya yang akhirnya dengan terpaksa aku menjatuhkan talak kepadamu.
Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu kecewa. Tapi yang perlu kamu tahu aku melakukan itu terpaksa. Karena sesungguhnya aku masih mencintaimu Delisa.''
Wahyu mengambil nafasnya sebelum melanjutkan ucapan selanjutnya.
__ADS_1
''Aku mau kita memulai hubungan baru kita lagi, aku janji aku akan menjagamu menyayangimu dan tidak peduli ucapan orang lain termasuk ibuku.''
melihat Delisa yang sejak tadi mendengarkannya tanpa menyela ada secercah harapan di hati Wahyu karena mengira Delisa tengah memikirkan dan mempertimbangkan apa yang ia sedang katakan
tapi kenyataannya tidak, Delisa justru berdecak pelan dengan membuang nafasnya ke samping
''Sudah?''
''Delisa?''
''Kamu sudah bicaranya? jadi sekarang giliran aku yang bicara, dan kamu enggak boleh menyela!''
Delisa menghela nafas yang sejenak lalu bersiap membuka mulut nya.
''Aku memang mencintaimu, tapi itu dulu! sebelum semuanya hancur karena kamu dan ibumu. Harapanku terkubur bersamaan dengan dikebumikannya Ayahku. Lantas alasan apa yang harus membuat aku tetap mencintaimu? jika aku masih menyimpan perasaan padamu, mungkin aku adalah wanita yang terbodoh yang ada di dunia. Walaupun kau mengatakan tidak sengaja itu sudah menyakiti hati seorang wanita dan juga keluarganya, yang bahkan membuat Ayahku meninggal, Wahyu. Kamu memang cintaku dulu, tapi Ayahku adalah cinta pertamaku, dia menyerah karena tidak mau melihat anak gadisnya terluka, tanpa mengetahui kalau luka yang dirasakan anak gadisnya bertambah karena kepergiannya. Dan kamu, apa tau itu? bahkan kau sudah memiliki hubungan dengan wanita lain setelah kau menghancurkan hidup ku. Itu yang kau katakan menyesal?''
Delisa menyeka kasar air matanya yang menetes tanpa permisi itu. Menatap tajam tanpa kasih pada Wahyu. Hatinya merasa lega karena sudah mengatakan semua yang selama ini menjadi unek-uneknya.
Wahyu tertunduk, ia sudah tidak tahu lagi harus dengan cara apa membuat Delisa luluh. Ia mengangkat pandangannya menatap Delisa begitu dalam, yang mungkin saja wajah ini ia bisa lihat untuk terakhir kalinya. Matanya beralih kearah belakang Delisa dan tanpa diduga tiba-tiba Wahyu menarik tengkuk Delisa dan menciumnya.
Happy reading...
Hayy teman-teman mampir juga ke novel teman ku yuk! Enggak kalah seru lho 🤗 Author Virzha ❤️
__ADS_1