
...🔥🔥🔥...
"Siapa yang mama bilang masih tidur?" tanya Maulana dari arah dapur.
Sri menoleh ke arah asal suara, keningnya mengkerut mendapati Maulana dan Safinta yang melangkah dengan membawa lauk di tangannya.
"Apa yang sedang kalian lakukan di dapur? Sejak kapan kalian di dapur?" cecar Sri.
"Seperti yang mama lihat, aku membantu Safinta memasak untuk kita sarapan, tidak hanya itu. Safinta juga semalam memasak untuk para pekerja yang membereskan rumah." cicit Maulana dengan meletakkan hidangan di atas meja.
Safinta juga ikut menata beberapa menu yang sudah ia masak di atas meja dengan di bantu art. Hingga semuanya nampak tersaji dengan indah, dengan beberapa aneka menu hidangan.
"Waaah kaka ipar ku ini emang the bast, gak kaya pilihan mama tuh! Bisanya cuma ngerecokin!" sindir Raya, dengan mendelik ke arah Sri.
"Kamu ini anak kecil, ngomong apa sih! Kita coba saja, makanannya enak atau tidak!" cibir Sri dengan memutar bola matanya malas pada makanan yang di hidangkan Safinta.
"Papa ko tidak yakin ya jika kamu membantu Safinta memasak, yang kamu lakukan pasti hanya merecoki pekerjaan Safinta!" ledek Malik.
"Papa! Jangan di buka kartu ku!" ucap Maulana yang kini menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Safinta untuk duduk.
Raya, Malik, Maulana menikmati sarapan pertama mereka dengan kehadiran Safinta. Sesekali pujia terlontar dari mulut Raya, Malik, Maulana untuk masakan yang di buat Safinta.
Sesekali Sri melirik tajam ke arah Safinta. Dengan sendok dan garpu di tangannya, Sri nampak tidak fokus dengan sarapannya, kurang ajarrr... lagi lagi anak ini berhasil merebut perhatian papa dan Raya, liet saja... setelah mereka pergi bekerja, akan aku buat kamu menangis darah! Meminta ampun dan memohon pada ku untuk membiarkan mu pergi dari rumah ini! Di saat itu pula, aku akan katakan pada Maulana, jika kamu melarikan diri dengan seorang pria!
"Apa mama mau tambah lagi makannya?" tawar Safinta.
"Tidak perlu! Aku tidak terlalu suka dengan makanan yang kamu buat! Ini terlalu asin!" kilah Sri.
Malik mengerutkan keningnya, "Asin dari mana, mah? Ini pas ko, enak malah. Pas dengan selera papa."
"Ahahaha asin karena mama sedang memaki ka Safinta di dalam hati, makanan pun tau siapa yang menikmatinya dengan perasaan dan siapa yang menggerutu." ledek Raya dengan tergelak.
"Ahaha, kamu ini bisa aja, Raya!" Maulana ikut tertawa.
Sri menatap kesal keluarganya, ia melepas sendok dan garpu dari tangannya dengan kasar, "Mama sudah kenyang! Kalian lanjutkan saja sarapan kalian!"
"Serius nih, mah?" tanya Malik saat Sri beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Papa pikir, mama sedang bercanda!" Sri melengos pergi meninggalkan meja makan, sebenarnya masakan Safinta begitu enak, tapi kenapa juga pake aku bilang masakannya asin, sudah lah... pasti anak itu masak banyak. Biar ku minta art untuk membanya ke kamar ku!
"Ka, mama bagai mana! Sepertinya mama marah karena kaka tertawakan." ucap Safinta dengan wajah sedih.
"Biarkan saja, mungkin mama merasa lelah hingga mempengaruhi indah perasaanya." jawab asal Maulana.
Raya tergelak kembali mendengar ocehan Maulana, "Ahahaha kaka ini jawabnya cukup masuk akal."
"Setelah ini, apa yang akan kalian rencanakan? Kalian tidak berencana untuk berbulan madu?" tanya Malik.
"Belum pah, tunggu sampai jadwal pekerjaan kami tidak terlalu padat, aku juga masih harus menghadiri beberapa rapat penting." ujar Maulana.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu, Safinta?" tanya papa Malik.
"Untuk izin menikah, aku meminta cuti 3 hari pah... dan untuk bulan madu, aku belum mengatakannya pada bos ku, pah!" ujar Safinta.
"Bagai mana jika hari ini juga kita berlibur ke puncak, sekalian merayakan pernikahan kalian!" tawar Malik.
"Boleh juga tuh! Kebetulan Raya juga lagi liburkan!" ucap Raya.
"Memang kamu pikir aku selemah itu! Pesta kemarin bisa membuat ku merasa lelah! Tulang tulang di tubuh ku seakan rontok! Menantu macam apa kamu itu!" cecar Sri dengan ketus menuruni anak tangga melangkah menuju dapur.
"Maaf, ma... bukan itu maksud ku!" ucap Safinta dengan tertunduk, Maulana menggenggammm jemari Safinta.
"Mama mau melanjutkan sarapan lagi?" tebak Malik.
"Enak saja! Mama mau buat teh hangat! Mau menghangatkan hati mama yang sudah kalian buat panas!" cicit Sri.
"Buar aku buatkan, mah!" Safinta beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu! Kamu makan saja! Jika aku membiarkan kamu yang membuatkan teh hangat untuk ku, yang ada racun yang kamu berikan untuk ku!" ketus Sri.
"Astaghfirullah, mah... aku tidak sejahat itu!" ucap Safinta dengan menutup mulutnya, tidak menyangka dengan apa yang di ucapakan ibu mertuanya.
"Safinta, jangan kamu dengarkan ocehan mama mertua mu!" ucap Malik.
Raya mengulurkan tangannya, meminum minumannya, "Lebih baik kita siap siap yuk! Tawaran papa masih berlaku kan untuk kita berlibur ke puncak?" tanya Raya setelah ia selesai dengan minumnya.
__ADS_1
Maulana beranjak dari duduknya, "Benar juga yang di katakan Raya, waktu cuti mu masih ada satu hari lagi kan? Kita manfaatkan itu untuk bulan madu sementara, jika sudah saatnya... aku akan membawa mu ke luar negeri, untuk menerkam mu!" ledek Maulana yang kini membawa serta Safinta meninggalkan ruang makan dengan mrnarik pergelangan tangannya.
"Dasar ka Maulana nakal, membicarakan soal menerkam di depan anak di bawah umur!" Raya mengerucutkan bibirnya.
"Heh anak kecil, sana berkemas!" oceh Malik yang melihat Raya masih mengerucutkan bibirnya, menatap kesal Maulana yang menaiki anak tangga.
Raya menatap kesal sang ayah, lalu melangkah meninggalkan meja makan dengan kaki yang di hentakkan.
Malik beranjak dari duduknya, mengayunkan kakinya menuju kamarnya, "Tidak ku sangka, akhirnya datang juga di mana aku memiliki seorang menantu, setelah ke datangan menantu, pasti rumah ini akan bertambah ramai dengan suara tangis dan tawa anak kecil." gumam Malik.
Sri yang sedari tadi menguping pembicaraan suami, anak serta menantunya kini menyeringai, ide ku ini pasti akan berhasil, karena terlahir dari otak ku yang cermerlang. Tidak sebodoh Santi.
"Ini Nyonya, teh hangatnya!" ucap art dengan menyodorkan teh hangat yang di minta Sri.
"Minum untuk mu saja!" Sri melengos meninggalkan dapur, menyusul suaminya yang sudah melangkah ke kamarnya.
Di dalam kamar Malik langsung menghubungi seseorang, menugaskannya untuk menyiapkan segala ke perluan keluarganya selama di puncak.
Tanpa berkata apa apa lagi pada sang suami, Sri langsung meraih hapenya yang ada di atas nakas, dan jemarinya mulai berseluncur, menari nari mengetikkan huruf demi huruf menjadi serangkai kalimat.
"Datang lah ke villa Maliki, yang ada di jalan xxx. Tante tunggu kamu di sana ya, sayang!" chat yang Sri kirim untuk seseorang, sudut bibirnya tersungging ke atas, dengan tatapan matanya yang sulit di artikan.
Malik mengerutkan keningnya, menatap istrinya yang sudah pasti memiliki rencana lain dari senyumannya itu.
Plak.
Malik menepuk pundak sang istri. Membuat wanita itu terperanjak kaget, "Apa lagi yang sedang mama rencanakan?" tanyanya dengan tatapan yang menyelidik.
bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊
Abaikan jika gak suka 😉
__ADS_1