
...🔥🔥🔥...
Safinta mengerutkan keningnya, "Emang ada apa, ka? Apa yang kaka takuti? Kaka bisa jelaskan pada ku kan?"
"Intinya aku hanya meminta mu untuk percaya pada ku, tidak dengan ucapan orang lain. Apa pun yang telinga mu dengar, jangan langsung kamu simpulkan itu adalah benar. Kamu mengerti maksud ku dengan baik kan, sayang?" Maulana mengelusss lembut pipi Safinta.
Safinta mengangguk patuh, lebih baik aku turuti saja apa yang di inginkan, ka Lana. Jika ini baik untuk hubungan ku dengannya, suami istrikan memang harus saling percaya.
"Aku mengerti ka, kaka tidak usah cemas. Aku bukan orang yang mudah percaya begitu saja dengan ucapan orang! Tanpa mencerna atau mencari tahu ke benarannya!" terang Safinta.
Maulana yang mendengarnya, membuang nafas lega dengan senyum yang tersungging di bibirnya, "Terima kasih ya, sayang!"
Cup.
Maulana mengecup bibir Safinta.
Tok tok tok.
Maulana menurunkan kaca mobilnya, melihat siapa yang berani mengetuknya dari luar.
"Ayo cepat turun, ka! Apa kaka akan diam saja di dalam mobil?" tanya Raya dengan bibir yang mengerucut.
__ADS_1
"Ini juga, aku akan turun. Raya, kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan?" Maulana ke luar dari dalam mobilnya, dengan menatap Raya dengan penuh harap.
Puk puk.
Raya menepuk bahu kakanya itu dengan senyum yang merekah.
"Aku bukan anak kecil lagi ka, aku tau apa yang bisa aku lakukan untuk kaka ipar, ku! Justru kita akan bermain main. Bukan begitu kaka ipar?" tanya Raya dengan menatap ke arah Safinta yang kini menghampiri ke duanya.
"Memang harusnya seperti itu, kan?" cicit Safinta.
"Safinta, ayo sini... biar mama kenalkan kamu sama ponakan mama." Sri melambaikan tangannya, meminta Safinta untuk menghampirinya.
"Mah, lebih baik kita masuk dulu!" Malik mencegah Sri untuk mengenalkan Dewi pada Safinta.
Raya menggandeng lengan Safinta, menggiringnya memasuki villa keluarga Raharja. Sementara Maulana mengeluarkan koper dari dalam bagasi mobilnya.
Maulana menarik kopernya, dengan berjalan di belakang Safinta dan Raya yang sudah lebih dulu memasuki villa, mau apa sih, mama pake mengundang Dewi ke sini! Merusak suasana saja!
Sri dan Dewi mendudukan diri mereka di sofa yang ada di ruang keluarga dengan di ikuti Malik.
"Apa kamu sudah lama menunggu, sayang?" tanya Sri yang kini menatap Dewi.
__ADS_1
"Yah lumayan lama, tante. Aku sampe lumutan lo nunggu kalian di luar!" ucap Dewi dengan manja, menyandarkan kepalanya di lengan Sri.
"Alah lebay, paling juga baru dateng. Pake ngaku lumutan, hello situ waras!" ledek Raya.
"Ssssttt Raya, jangan ngomong gitu ihs! Gak sopan." ucap Safinta.
Raya dan Safinta mendudukkan diri mereka di sofa.
"Kaka ipar belum tau aja, wanita yang satu ini tuh... paling bisa banget buat ngibul, suka melebih lebihkan kenyataan." cicit Raya dengan menatap sinis Dewi.
"Raya, mama gak suka kamu ngomong gitu sama kaka sepupu kamu!" ucap Sri dengan sorot mata yang tajam pada Raya.
Raya memutar bola matanya dengan malas, mulai deh kalo ular ke temu ular, jadi lah si keket.
"Mbooooo!" seru Sri, memanggil art yang di tugaskan untuk menjaga villa.
bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
__ADS_1
Favoritin kalo suka 😊😊
Abaikan jika gak suka 😉