Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Klinik Bunda


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


"Kamu gila, bagai mana dengan Safinta? Safinta mana mau di madu, aku suruh wanita itu meninggalkan putra ku saja ia tidak mau. Putri mu juga belum berpisah dari suaminya kan?" terang Sri dengan kening yang mengkerut, tampak sedang berfikir keras mengenai pendapat temannya itu.


"Aku punya ide, Sri!" seru Sania dengan menyeringai.


Sri tampak berbinar, dengan senyum yang sulit di artikan saat mendengar ocehan Sania.


Siang itu juga, dengan di temani Zee. Safinta mengunjungi dokter kandungan setelah ke duanya selesai dengan makan siang mereka.


Zee yang melihat Safinta tampak gusar, saat makan siang pun akhirnya buka suara.


"Kamu kenapa Safinta? Apa ada yang sedang kamu sembunyikan dari ku? Tapi sepertinya kamu memang tidak bisa menyembunyi kan apa pun dari ku, jika kamu sedang ada masalah kan!" ucap Zee dengan menyelidik.


Safinta membuang nafasnya dengan kasar, "Sebaiknya kita habiskan dulu makan siang kita ini, nanti aku ceritakan pada mu saat di jalan. Kamu mau kan temani aku ke suatu tempat?"


"Emmm baik lah jika itu mau mu, aku tidak akan mebdesak mu, toh nanti juga aku akan tahu kan apa yang kamu sedang sembunyikan!" ujar Zee.


"Tapi Zee, bisa kaj kamu merahasiakan ini dari ka Maulana? Aku hanya yakin pada mu, kamu pasti bisa menjaga rahasia ku!" Safinta menarap Zee dengan tatapan penuh harap.


"Aku memang bisa di percaya, kamu saja yang baru tahu, Safinta!" ucap Zee dengan bangga.


"Ahahaha, ya ya. Apa pun itu, terserah pada mu saja lah Zee." Safinta tergelak dengan ocehan Zee.

__ADS_1


Dreeet dreeet dreeet.


Safinta mengeluarkan hape nya yang ada di dalam tasnya. Keningnya langsung mengkerut, saat mengetahui siapa yang menghubunginya.


...Calling...


...📞...


...Bos besar...


"Eh ada apa ini? Tidak biasanya bos besar menghubungi ku?" gumam Safinta dengan pelan, namun masih bisa di dengar oleh Zee.


Zee mengerutkan keningnya, bos besar tempat kami bekerja? Apa iya? Itu artinya pak Arifin dong?


"Pak Arifin maksud lo, Finta?" tanya Zee yang di angguki kepala oleh Safinta.


"Ini juga gwe mau angkat, lo aja yang ngoceh mulu!" sungut Safinta dengan mengerucutkan bibirnya.


[ "Selamat siang nak Safinta, maaf bapak menghubungi kamu di saat seperti ini. Apa bisa kita bertemu sekarang?" ] tanya pak Arifin dari sebrang sana dengan suaranya yang tegas.


"Selamat siang juga, pak. Emmmm apa harus ketemu sekarang juga, pak?" tanya Safinta yang ragu, untuk setuju bertemu dengan bos besar dari perusahaan tempat ia bekerja.


[ "Apa nak Safinta sudah ada janji lebih dulu dengan orang lain? Bapak bisa menunggu nak Safinta setelah bertemu dengan orang itu. Jadi bisa kan kita bertemu sekarang? Nak Safinta lagi di mana? Biar bapak yang ke tempat mu, nak!" ]

__ADS_1


Safinta membatin, kenala aku merasa pak Arifin ini sedang memaksaaa untuk bertemu dengan ku ya? Apa itu hanya pemikiran ku aja ya?


[ "Nak Safinta, kamu masih bisa mendengar suara bapak kan?" ] Arifin kembali mengajukan pertanyaan, saat Safinta tidak juga menjawab pertanyaannya.


"I- iya pak, sa- saya masih bisa mendengar suara bapak kok! Emmm gimana kalo bapak dateng ke klinik Bunda. Karena setelah makan siang, saya akan pergi ke tempat itu, pak." ujar Safinta.


Pak Arifin terdengar panik, saat Safinta memintanya untuk datang ke klinik Bunda. Bahkan ia menyangka jika Safinta tengah sakit.


[ "Klinik? Kamu sakit nak? Sakit apa nak? A- apa tidak seharusnya kamu ke rumah sakit saja, nak? Untuk biayanya biar bapak yang urus. Kamu mau kan datang ke rumah sakit Insan! Biar bapak hubungi kepala rumah sakitnya, untuk mengatur segalanya!" ]


"Bukan bukan pak, saya tidak sakit kok. Saya hanya ingin memeriksa kan kondisi tubuh saya aja. Saya beneran gak sakit kok pak."


[ "Ya udah kalo kamu benar tidak sakit, bapak akan langsung menuju klinik Bunda, sampai bertemu di sana ya nak!" ]


Safinta memutuskan sambungan teleponnya, bertepatan dengan Zee yang sudah selesai dengan makan siangnya.


"Ayo kita berangkat sekarang aja, Zee!" Safinta beranjak dari duduknya.


"Lo Finta, makanan kamu masih banyak itu. Apa gak sebaiknya kamu habiskan dulu makan siang mu, Finta?" pinta Zee.


Bersambung.....


...💔💔💔💔...

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊


__ADS_2