
...💖💖💔💔...
"Memang siapa kalian, hingga Safinta akan ikut bersama dengan kalian?" tanya Sri dengan sinis, menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.
Ariyani ingin mengatakan yang sejujurnya, namun Arifin mencegahnya.
"Kami ini ---"
Grap.
Arifin menggenggammm erat jemari Ariyani, dengan menggelengkan kepalanya, ia berkata dengan suara pelan, "Jangan sekarang, mah! Yang ada kita akan semakin mempersulit kehidupan Safinta selama di rumah ini!"
"Besok temui aku di ruang kerja ku!" ucap Fransisco pada Safinta, sebelum ia mengajak ke dua orang tuanya meninggalkan rumah keluarga Raharja.
"Jaga diri mu baik baik, nak... rumah ku akan selalu terbuka untuk mu!" ucap Ariyani di telinga Safinta.
Sri menatap jengkel Ariyani dan Safinta secara bergantian, dasar wanita tidak tahu malu, ada hubungan apa di antara Ariyani dengan Safinta! Hingga terlihat sekali rasa peduli wanita tidak tau diri dengan wanita sialannn ini! Heh mereka berdua sama saja!
Ariyani, Arifin dan Fransisco meninggalkan rumah Raharja dengan perasaan yang kesal bercampur emosi.
"Kenapa papa mencegah mama untuk mengatakan yang sebenarnya! Papa lihatkan, bagaimana Sri memperlakukan putri kita tadi!" ucap Ariyani dengan bulir bening yang membanjiri pipinya.
"Aku rasa ada baiknya papa mencegah mama mengatakan yang sebenarnya tadi pada Sri. Mama lihat sendiri kan bagaimana wanita tua itu memperlakukan Safinta. Apa lagi jika ia tahu, mama adalah ibu kandung Safinta. Pasti ia akan lebih bersikap kasar dan kejam pada Safinta." terang Fransisco di balik setir kemudi.
"Lalu apa rencana mu sekarang, Fransisco? Mama tidak ingin melihat putri mama terus tersakiti di rumah mertuanya. Apa lagi sekarang mereka tinggal dengan 2 hati dalam satu atap. Itu pasti akan sangat sulit untuk Safinta!" ujar Ariyani.
"Mama sangat benar, lebih baik kita lihat perkembangannya ke depan." ujar Arifin.
__ADS_1
"Sampai kapan mama harus menunggu, pah? Setelah sekian lama kita mencari, menunggu hari saat kita bertemu dengan putri kandung kita, kenapa kita tidak bisa mengatakannya saat ini juga? Mau sampai kapan kita biarkan putri kita menderita?" cecar Ariyani, menatap sang suami dengan tatapan penuh tanya, dengan menyisakan isak tangisnya.
🥀🥀
Maulana membawa Safinta menaiki anak tangga, "Kita harus bicara, sayang!" ucapnya dengan sesekali menoleh wajah Safinta.
Sementara Zee sudah berada di dalam kamar tamu, Santi sudah kembali pulang dengan di antar pak supir. Sri sudah kembali ke dalam kamarnya dengan hati yang di liputi kemenangan.
Sreek.
"Lebih baik kaka jangan tidur di sini, habiskan lah malam ini dengan istri baru kaka!" ucap Safinta, meski hatinya terasa sesak dan sakit.
"Safinta, sayang! Berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya pada mu! Aku sungguh sungguh, sayang!" ucap Maulana dengan ke dua tangan mencengram lengan Safinta.
Sreek.
Tok tok tok.
"Safinta, sayang! Buka pintunya, kita butuh bicara, ini semua tidak seperti yang kau bayangkan sayang! Dengarkan dulu penjelasan ku! Sayang! Maaf kan aku! Kau belum tidur kan! Buka pintunya sayang!" ucap Maulana dengan frustasi dari balik pintu.
Hingga beberapa saat lamanya, Maulana berada di depan pintu, dengan sesekali menggedor pintu kamar, berseru memanggil nama Safinta, berharap Safinta mau mendengarkan penjelasannya, jangankan penjelasan. Untuk membukakan Maulana pintu pun tidak.
Safinta menyurutkan tubuhnya, bersandar di belakang pintu depan memeluk ke dua kakinya, menangis sejadi jadinya, menumpahkan segala perasaannya dengan menutup mulutnya.
Ia berlari dan menenggelamkan wajahnya pada bantal, apa salah ku Tuhan, apa seperti ini hidup tanpa orang tua? Apa sesulit ini kehidupan yang harus aku jalani? Apa aku harus bahagia karena suami ku menikahi sahabat ku? Apa aku harus memarahinya karena telah merebut ka Lana dari ku? Apa aku sanggup berbagi suami dengannya? Apa aku masih bisa berdiri tegak, memperlihatkan wajah ceria ku?
Tok tok tok.
__ADS_1
"Zee, apa aku boleh masuk!" tanya Maulana setelah mengetuk pintu kamar tamu.
Ceklek.
Zee langsung berjalan dan duduk di tepian kasur, ia menautkan ke dua tangannya, dengan kepala yang menunduk. Dengan banyak hal yang ia pikirkan.
"Apa mama juga menyiapkan pakaian untuk mu, Zee?" tanya Maulana saat menyadari pakaian yang di kenakan Zee berbeda.
"Sepertinya begitu, apa mas Lana sudah bicara dengan Safinta? Apa yang Safinta katakan? Apa Safinta mengerti?" cecar Zee yang kini menatap Maulana yang berdiri di depannya.
Maulana menggelengkan kepalanya, "Aku belum mengatakannya, Safinta tidak membukakan aku pintu. Kita harus memberinya waktu Zee, setidaknya besok aku bisa mencoba untuk bicara dengannya." terang Maulana dengan membuang nafasnya dengan kasar.
"Apa kau akan tidur di sini, mas? Apa kau tidak akan tidur di kamar kalian?" tanya Zee dengan kening mengkerut.
Maulana berjalan menuju kamar mandi, "Aku mandi dulu. Aku akan pindah ke kamar kami, jika Safinta membiarkan aku masuk. Tapi kau dengar kan aku tadi bicara, Safinta tidak membukakan aku pintu!"
Zee mondar mandir di depan ranjang berukuran besar, bagaimana ini, mas Lana akan tidur di sini jika Safinta tidak membukakan pintu untuknya. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan tidur dengan satu ranjang dengan ka Lana? Tapi aku kan sekarang istrinya mas Lana, rasanya wajar jika kami tidur sekamar, astagaaa aku bodoh, apa yang aku pikirkan! Pernikahan ini adalah kesalahan tante Sri, harusnya ini tidak perlu terjadi! Kau harus bertanggung jawab akan ini tante Sri!
"Kau sedang apa, Zee?" tanya Maulana yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊
__ADS_1