
...💔💔💔...
Setelah beberapa saat berbincang di ruang keluarga. Zee nampak menaruh curiga pada Sri yang melarangnya untuk pulang.
"Tunggu sebentar lagi ya, Zee!" cicit Sri dengan seringai liciknya.
"Tapi tan, a- aku masih ada keperluan di luar." cicit Zee mencoba mencari alasan untuk bisa pulang.
"Memang ada apa lagi sih mah? Biarkan Zee pulang, lagi pula ini sudah larut kan!"
"Tau nih tante, biarkan wanita itu pulang... masih ada aku kan di sini yang bisa menemani tante ngobrol!" sungut Santi.
"Sebaiknya kalian tidak usah banyak berkomentar, kalian cukup ikuti aturan main mama!" cicit Sri.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Sri yang ada di atas meja berdering, semua orang menatap dengan penuh selidik pada Sri.
Sri tampak acur, ia menjawab panggilan teleponnya.
[ "Maaf nyonya, saya sudah berada di luar... saya juga sudah membawa orang yang bisa melancarkan segala rencana Nyonya." ] ucap orang suruhan Sri.
"Bagus, kalian tunggu apa lagi! Cepat masuk... jangan membuat calon menantu ku menunggu lebih lama lagi!"
Maulana mengerutkan keningnya, "Maksud mama apa calon menantu?"
"Nanti kau juga akan tau, sayang! Antar lah Zee ke kamar tamu, Maulana!" titah Sri dengan ekor mata menatap tajam Maulana.
Deg.
Zee mengerutkan keningnya, apa sih yang sedang di rencanakan tante Sri? Menyeramkan sekali seringai liciknya!
"Tente, kenapa harus Zee yang di minta ke ruang tamu... kenapa tidak aku? Aku kan yang akan menjadi calon menantu tante!" cicit Santi dengan pedenya.
"Tante tidak sedang bicara pada mu, Santi!" ucap Sri dengan datar.
Santi mengerucutkan bibirnya, menatap sebel Sri, sialannn, lagi lagi gwe di cemesss dengan bibir tante Sri yang judes!
"Untuk apa tante? Aku kan mau pulang!" tolak Zee.
"Maulana, apa kau tidak mendengar apa yang mama katakan!" bentak Sri, dengan suaranya yang menggelegar.
__ADS_1
"Ayo Zee! Menurut saja lah, aku tidak akan berbuat macam macam pada mu!" ucap Maulana yang kini beranjak dari duduknya, ia mengulurkan tangannya untuk di raih Zee.
"Mama harap, apa yang mama siapkan... akan cocok untuk tubuh mu Zee!" cicit Sri dengan seringai liciknya.
Zee dan Maulana menuju kamar tamu, dengan perasaan yang campur aduk.
"Apa kau tau, apa yang sudah di persiapkan mama mu itu?" tanya Zee dengan polosnya pada Maulana.
Maulana mengerdikkan bahunya, "Entah lah, aku tidak tahu apa rencana mama ke depannya."
Sri memanggil art nya itu setelah kepergian ke duanya, "Mbooook!"
"Saya Nyonya!" seru si mbok, berjalan dengan cepat sambil tergesa gesa.
"Tamu saya sebentar lagi datang, mbok suruh mereka menunggu sebentar ya! Saya masih harus membereskan bocah sialannn itu dulu!" Sri beranjak dari duduknya. Mengabaikan ke beradaan Santi.
"Apa sih yang sedang tante mainkan? Aku harap bukan hal buruk, bukan hal yang dapat merugikan posisi ku... sebagai calon menantu keluarga ini!" tanya Santi menatap curiga Sri.
Ceklek.
"Cepat kau ikut aku!" titah Sri saat berada di kamar Safinta.
"Untuk apa mah? Bukannya sedang ada tamu mama di bawah? Kenapa mama baru meminta ku turun ke bawa sekarang?" tanya Safinta dengan mengerutkan keningnya, tidak habis fikir dengan jalan pikiran sang ibu mertua.
Sri mencengkrammm lengan Safinta dengan kasar lalu menarik nya.
"Awhh! Sakit mah!" Safinta meringis, dengan tangannya yang lain mencoba melepaskan lengannya dari cengkraman Sri.
"Dengarkan aku baik baik, jika kau masih ingin mempertahankan posisi mu sebagai menantu di rumah ini. Maka kau harus mengikhlaskan Maulana menikahi wanita pilihannya malam ini. Tapi jika kau tidak memberikan izin mu itu, maka orang ku akan mengusik keluarga mu yang ada di pantai asuhan!" ucap Sri dengan penuh penekanan, kata katanya syarat akan ancaman.
Dug.
Bak di hantam sembilu. Safinta merasakan sesak di dadanya, namun ia tetap berusaha tersenyum menanggapi apa yang menjadi keinginan sang ibu mertua. Apa lagi jika ia menolak, maka keselamatan anak anak dan ibu panti ada di tangannya.
Mampusss kau, menantu sialannn... kali ini aku tidak akan membiarkan mu menggagalkan rencana ku! Sri menarik paksaaa Safinta turun ke lantai bawah dengan tetap mencengkram lengan Safinta.
Pak penghulu, orang suruhan Sri, Santi, Maulana, Sri dan Safinta kini sudah berada di ruang keluarga.
Maulana menatap Safinta dengan tatapan penuh rasa bersalah, maaf kan aku sayang, aku juga tidak ingin ini terjadi.
Safinta membuang nafasnya dengan kasar, menatap nanar sang suami. Sri tidak membiarkan Safinta duduk dekat dengan Maulana.
__ADS_1
Kenapa kamu tega melakukan ini pada ku ka? Apa ini yang membuat mu berubah akhir akhir ini?
"Di mana wanita mu itu, Maulana!" seru Sri dengan tatapan tajam pada Maulana.
"Mah! Kenapa harus seperti ini? Zee belum siap mah!" ujar Maulana.
"Kau mau melawan mama? Kau lupa apa yang bisa mama lakukan pada istri mu ini? Istri yang tidak bisa memberikan mama seorang cucu?" Sri menatap tajam Safinta yang menoleh ke arahnya.
Dug.
Astaghfirullah mah, bukan aku yang tidak bisa memberikan mama cucu, mama kan yang dari awal berniat memberikan aku obat kontrasepsi, membuat ku menunda kehamilan. Hingga akhirnya aku sembunyikan kebenaran jika aku sedang mengandung, tapi Tuhan berkata lain, aku belum sempat memberikan kabar baik ini pada kalian, Tuhan lebih menyayangi anak yang ada dalam kandungan ku.
Tes.
Bulir bening yang sejak tadi di tahan, akhirnya menerobosss pertahanan Safinta, ia ke luar dari pelupuk mata indahnya. Safinta menangis dalam diam, dengan sesekali menghapus jejak bulir bening yang membasahi pipinya.
"Jadi, apa bisa kita mulai acaranya?" tanya pak penghulu.
"Bisa pak, ayo cepat mulai saja acaranya!" ucap Sri dengan tidak sabaran.
"Di mana mempelai wanitanya?" tanya pak penghulu.
Sri melirikkan matanya pada orang suruhannya, memberikan perintah hanya dengan gerakan kepalanya.
Orang suruhan Sri menuju kamar tamu, tidak berapa lama ia kembali dengan membawa Zee serta yang kini mengenakan kebaya putih. Membuat wanita itu tampak anggun dan semakin mempesona di mata Maulana.
Tak tak tak.
Safinta tidak berani menatap ke arah calon madunya, ya Allah kuatkan lah hati hamba, merelakan suami hamba menikah lagi, demi membuat mama mertua hamba bahagia, demi keselamatan adik adik dan ibu panti. Lapangkan lah hati hamba sebagai seorang istri.
Santi menatap kesal pada Sri, dasar tante kurang ajarrr... liat aja, aku akan membalas perbuatan mu yang sudah berani mempermain kan aku untuk menjadi calon menantu mu! Safinta dan Zee, kalian akan kehilangan Maulana. Maulana hanya akan menjadi milik ku hehehe.
Dug.
Zee terperanjak kaget saat melihat ada Safinta yang duduk di samping Sri, maafkan aku Safinta, aku juga tidak tahu jika keadaannya jadi seperti ini.
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
__ADS_1
Favoritin kalo suka 😊😊