
...💖💖💔💔...
Tin tin tin.
Mobil yang baru saja berhenti di belakang mobil itu, membunyikan klakson berkali kali.
"Itu kan!" Safinta mengerutkan keningnya.
Fransisco turun dari mobilnya, ia menghampiri Safinta, "Kau mau ke kantorkan? Biar kau ikut dengan ku saja!"
"Tapi aku sudah memesan taksi online, pak! Bapak duluan saja!" terang Safinta menolak tawaran Fransisco untuk berangkat bersama ke kantor.
Fransisco mengeluarkan dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang pada supir taksi online itu, "Kau ambil ini, dan jalan lah!" titah Fransisco.
"Waaah ini serius buat saya, Tuan? Ini banyak banget, Tuan!" ucap supir taksi dengan tatapan tidak percaya, dengan uang yang di berikan Fransisco dengan jumlah yang cukup banyak.
"Pergi lah sebelum aku berubah pikiran!" ucap Fransisco datar.
"Terima kasih banyak Tuan, Nona. Kalo begitu saya tetap mengikuti arahan sesuai aplikasi, dan jangan lupa berikan bintang 5 untuk saya ya Nona! Terima kasih banyak sekali lagi ya Tuan dan Nona!" ucap supir taksi online panjang kali lebar.
"Bawel kau ini!" sungut Fransisco, ia mengibaskan tangannya, layaknya mengusir anak ayam pergi menjauhinya.
Grap.
Fransisco menggenggam pergelangan tangan Safinta dan membawanya menuju mobilnya, ia juga tidak segan membukakan pintu mobil untuk Safinta.
Safinta terpana pada apa yang di lakukan Fransisco padanya, membuat Safinta merasa jantungnya akan copot dari tempatnya.
Safinta menatap Fransisco dalam diam, perasaan apa ini? Kenapa gwe mau aja nurut ama ini orang! Halooooo sadar woy, Fransisco itu bos lo Safinta! Inget lo udah punya ka Lana. Ka Lana udah punya lo dan Zee, astagaaa... kenapa gwe selalu mengingat itu! Sekarang Zee udah menjadi madu gwe, hal yang gak pernah gwe duga, bahkan untuk terlintas di pemikiran seperti itu pun kaga ada.
Fransisco yang menyadari ia di tatap Safinta pun menoleh, dan mengecup sekilas bibir ranum Safinta.
Cup.
Safinta membola, "Apa yang bapak lakukan!" bentak Safinta.
"Apa? Kan kau duluan yang menatap ku, jadi ya anggap saja itu hadiah dari ku untuk mu!" ucap Fransisco dengan datar.
"Dasarrr bos gila! Seenaknya saja mencium ku, bapak tidak boleh melakukan ini lagi pada ku!" Safinta membuang pandangan pada jalan.
Fransisco hanya tersenyum kecil melihat Safinta yang merajuk kesal karena ulahnya, aku harus bisa mengembalikan keceriaannya, semalam pasti anak ini banyak menangis dan kurang tidur. Lihat saja ia memiliki mata panda dan sembab. Entah apa yang akan di lakukan wanita lain jika ada di posisi mu, Safinta... semalam pasti malam yang sulit untuk kamu lalui.
"Apa semalam tidur mu nyenyak?" tanya Fransisco berbasa basi, meski sudah tau jawaban apa yang akan di katakan Safinta.
"Tentu saja nyenyak, apa kau tidak lihat mata ku ini sudah seperti panda." ujar Safinta dengan bibir mengerucut.
"Apa kau butuh refreshing? Sepertinya otak mu perlu di buat fres setelah mengalami tekanan yang dahsyat semalam!" sindir Fransisco.
"Aku baru tau lo, ternyata bapak ini banyak bicara! Persis seperti ibu mertua ku! Bisa kau jalan saja, fokus pada setir kemudi mu, pak!" gerutu Safinta dengan ke dua tangan menyilang di depan dada.
"Iya iya iya, baik lah tuan putri!" ujar Fransisco.
__ADS_1
"Aku bukan Tuan Putri, pak! Aku hanya wanita biasa yang tidak memiliki orang tua, jika aku memiliki orang tua... mungkin sudah lah, lupakan!" ucap Safinta yang tidak melanjutkan kata katanya.
Safinta memejamkan ke dua matanya dengan menoleh ke arah jendela mobil, jangan berharap orang tua kandung mu untuk mencari keberadaan mu, Safinta. Mereka tidak menginginkan mu, yang terbaik untuk mu sekarang adalah jalani hidup mu, tanpa perlu menoleh ke belakang!
...🌹🌹...
Di kediaman Raharja.
Dalam keadaan yang masih terkantuk kantuk, Maulana mengendus indra penciumannya, ini bukan aroma tubuh Safinta. Lalu jangan jangan semalam itu bukan hanya mimpi?
Ke dua matanya membola dengan sempurna, saat mendapati seorang wanita tanpa sehelai benang kini berada dalam dekapannya, tampak si wanita menduselkan wajahnya pada dada bidang Maulana. Dengan tangan yang memeluk erat tubuhnya.
Maulana menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah wanita itu dengan tangannya, "Astagaaa jadi semalam itu bukan cuma mimpi? Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan pada Zee? Apa jangan jangan pernikahan itu juga bukan mimpi?"
Grap.
Zee memakai cincin pernikahan?
Maulana melihat jari telunjuk kanannya yang tersemat cincin pernikahan dirinya dengan Safinta. Lalu ia melihat cincin lain yang juga tersemat di jari telunjuk kirinya, sama dengan yang dimiliki Zee.
Maulana membuang nafasnya dengan kasar, menggaruk kepalanya dengan frustasi, lebih baik aku mandi saja lah!
Sreek.
Matanya semakin membola, mendapati bercak darah di area yang di tempati Zee, jadi aku yang pertama dengannya? Kau sama dengan Safinta, Zee. Kalian sama sama menjaganya untuk suami kalian. Aku harap kalian bisa tetap menjalin hubungan baik, meski status kalian kini berubah, bukan lagi sekedar sahabat.
Maulana langsung bergegas ke lantai 2, kamar yang selama ini di tempatinya dengan Safinta. Safinta pasti sudah bangun, aku harap dia lagi sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami!
Dengan mata yang setengah mengantuk, Zee beranjak dari tidurnya, mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, "Awhhh kenapa sakit sekali! Kepala ku juga pusing, apa yang terjadi dengan ku? A- aku..."
Zee mengingat kembali apa yang sudah di laluinya semalam, apa yang sudah ia dan Maulana lakukan hingga membuat tubuhnya seakan remuk.
Tes.
Bulir bening menerobos membasahi mata indahnya, apa yang sudah aku lakukan? A- aku dan mas Lana! Kami melakukannya? Bagaimana bisa!
Sreek.
Zee menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya, ia menatap tak percaya dengan apa yang terjadi pada tubuhnya yang mulus, kini nampak menyisakan tanda kepemilikan yang di buat Maulana semalam.
Dengan bersusah payah, Zee beranjak dari tempat tidur, dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Tangisannya semakin terisak, saat mendapati bercak darah di tempat yang ia tiduri.
Ceklek.
"Kau sudah bangun, Zee?" tanya Maulana yang sudah tampak segar dan fresh, tampilannya yang rapih dengan pakaian kantornya membuatnya semakin terlihat berwibawa.
"Mau apa kau ke sini, mas? Pergi lah!" ucap Zee dingin, dengan menghapus bulir bening dari pipinya dengan kasar.
Zee menatap Maulana dengan kecewa, aku kecewa pada mu, mas. Andai aku tidak tergiur dengan uang mu. Tidak akan aku mau menjadi calon pendamping mu meski hanya pura pura, dan sekarang aku kecebur beneran menjadi istri ke dua mu!
Maulana yang melihat Zee kesulitan untuk berjalan pun langsung menghampirinya, berniat untuk membantu Zee.
__ADS_1
"Stop di sana, mas! Tidak perlu membantu ku! Ini semua karena mu, mas!" Zee mencegas Maulana untuk membantunya.
Hap.
"Akhhhh!" pekik Zee saat ke dua tangan kekar Maulana menggendongnya.
"Aku tidak butuh izin untuk menyentuh istri ku sendiri, bukan?" ucap Maulana dengan datar.
"Apa maksud mu, mas?" Zee mengerutkan keningnya, mendengar ucapan Maulana.
"Terima saja pernikahan ini, lagi pula di mata agama... kau dan aku sudah sah menjadi suami istri, aku juga akan memperlakukan mu sama seperti aku memperlakukan Safinta. Kalian berdua istri ku!" ucap Maulana dengan entengnya.
"Apa kau pikir Safinta mau menerima ku sebagai madunya, mas? Mudah sekali lidah mu berkata, apa kau tidak merasa bersalah pada ku dan pada Safinta?" cicit Zee yang tidak habis pikir dengan Maulana.
"Nasi sudah menjadi bubur, Zee. Apa yang sudah aku renggut dari mu, tidak bisa lagi aku kembalikan pada mu kan! Safinta sudah menerima mu, kau baik di matanya. Aku yakin ia tidak akan merubah penilaiannya pada mu! Mandi lah!" Maulana menurunkan Zee dari gendongannya, saat sudah berada di dalam kamar mandi.
"Apa Safinta masih ada di luar?" tanya Zee.
"Tidak, dia sudah berangkat ke kantor jauh sebelum kita terbangun. Aku akan meminta izin pada bos mu untuk tidak masuk kantor hari ini." Maulana mengecup kening Zee sebelum meninggalkan wanita itu seorang diri di kamar mandi
"Perlakuan yang manis, pantas saja Safinta mencintai mu. Apa aku juga akan mencintai mu, sebesar Safinta mencintai mu, mas Lana?" gumam Zee.
"Selamat pagi Nona Safinta, Tuan Fransisco!" sapa pak satpam.
"Pagi pak!" ucap Safinta, eh kenapa pak satpam menyapa ku duluan, kan yang bosnya pak Fransisco.
"Hem." Fransisco hanya membalas sapaan satpam dengan deheman.
Grap.
Fransisco menggenggam pergelangan tangan Safinta kembali, melewati lobby kantor yang mulai berdatangan karyawan, dengan tatapan heran mengarah pada ke duanya.
"Maaf pak, ini kantor... bisa kau lepaskan tangan ku!" pinta Safinta yang merasa risih di pandang rekan kerjanya.
"Sayangnya aku tidak mau melepaskan tanagn mu!" ucap Fransisco tanpa menoleh sedikit pun.
Safinta terus menundukkan kepalanya, hingga ke duanya berada di dalam lift.
"Bapak apa apaan sih! Apa yang sedang bapak rencanakan sebenarnya? Apa bapak lupa aku ini wanita yang sudah bersuami! Tidak seharusnya bapak menyentuh tangan saya!" omel Safinta.
Tap tap tap.
Fransisco berjalan mendekati Safinta, membuat Safinta tersudut.
"Bapak jangan macam macam! Ba- bapak apa yang bapak ingin lakukan! Sa- saya bisa berteriak pak! Bapak!" ucap Safinta dengan gugup, saat Fransisco semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Safinta.
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
__ADS_1
Favoritin kalo suka 😊😊