Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Berbanding terbalik


__ADS_3

...🌹🌹🥀🥀...


"Ehem, sedang apa kamu di depan ruang kerja pak bos?" tanya Irfan dengan suaranya yang dingin.


Siska langsung menoleh ke asal suara yang berada tepat di belakangnya, ia gelagepan untuk memberi alasan. Karena ketahuan mengintip.


"Eh, a- anu emmm sa- saya lagi ini, kaca... ini kaca, i- iya pak ... kaca kotor, jadi saya bersihin!" kilah Siska, dengan tangan kanannya yang mengelap kaca dinding ruang CEO.


"Alasan yang tidak masuk akal, memangnya kau mau di turunkan jabatan mu? Itu kan tugasnya clining servis... kembali sana, ke ruang kerja mu!" titah Irfan dengan dinginnya.


"Ya elah pak Irfan, baru jadi asisten pak Fransisco aja udah belagu lu pak!" sungut Siska dengan melangkah meninggalkan tempat ia berpijak, dengan sesekali menoleh ke arah belakang.


"Dasar karyawan aneh! Sudah jelas jelas ketahuan menguping pembicaraan orang, masih saja berkilah!" gumam Irfan dengan menatap sebal Siska.


Tok tok tok.


"Permisi pak... boleh saya masuk?" tanya Irfan dari luar pintu, setelah mengetuk pintu ruang bosnya.


"Masuk lah!" ucap Fransisco.


Irfan masuk ke dalam ruang bosnya, ia melihat Safinta dan Nyonya besarnya tengah menghapus bulir bening yang membasahi pipi mereka.


Waduh, ada apa ini? Kenapa Nyonya Ariyani dan Safinta tampak menangis? Suasana ruang ini juga tampak tegang. Apa terjadi badai dahsyat ya? batin Irfan dengan melangkah menghampiri Fransisco.


"Terima kasih ya!" ucap Fransisco dengan tangan yang kini memegang sarapan mereka berempat, dari restoran cepat saji yang di beli Irfan.


"Sama sama, pak! Kalo begitu saya permisi pak!" pamit Irfan, dengan melirik sepintas Safinta, ada apa sih sebenarnya! Jiwa kepo ku meronta ronta ingin tahu nih!


Fransisco melihat ke arah apa yang di lihat Irfan, membuatnya berdeham saat tatapannya tertuju pada Safinta, "Ehem kau tunggu apa lagi? Cepat ke luar dari ruangan ku!" titah Fransisco dengan nada datar.


Irfan menelan salivanya, gila... bos marah nih! Lebih baik gwe angkat kaki deh!


"I- ini saya juga mau ke luar, pak... perut saya sudah lapar ingin sarapan." kilah Irfan.

__ADS_1


"Ayo kita sarapan dulu! Mama, papa dan kamu... Safinta. Kalian pasti belum ada yang sarapan kan!" Fransisco menghidangkan apa yang ia pesan di hadapan Ariyani, Arifin dan Safinta serta untuk dirinya sendiri.


"Maaf pak, saya tidak lapar. Boleh saya kembali ke ruangan saya!" ujar Safinta dengan beranjak dari duduknya.


Ariyani dan Arifin langsung menatap ke arah Safinta, dengan tatapan yang bingung.


"Aku tidak mengizinkan mu untuk ke luar dari ruangan ku, Safinta! Sebelum kau menghabiskan sarapan mu!" ucap Fransisco yang terdengar seperti sebuah perintah, yang tidak ingin di bantah Safinta.


Safinta menolak, namun kata katanya lebih dulu di potong oleh Ariyani.


"Tapi pak ---"


"Lebih baik kamu sarapan dulu, nak! Kamu boleh marah dan tidak mengakui mama dan papa, tapi kami tetap lah orang tua kandung mu! Sampai kapan pun itu!" ucap Ariyani dengan tatapan penuh harap, jika Safinta mau mengakui ke duanya sebagai orang tua.


"Kami tidak akan mengganggu waktu mu, jika kamu memang merasa terganggu dengan pengakuan kami ini, nak!" ucap Arifin dengan menelan pil pahit.


Bayangannya jika Safinta akan merasa bahagia, saat mengetahui ke duanya adalah orang tua kandungnya. Justru berbanding terbalik, ke duanya bahkan mendapatkan penolakan dari Safinta. Hati Arifin hancur, tapi ia tidak ingin egois untuk mendapat pengakuan dari Safinta. Ia dan Ariyani sudah bertekad, apa pun yang terjadi. Mereka akan melakukan kewajiban mereka sebagai orang tua yang akan melindungi dan membahagiakan anaknya.


"Frans! Jangan meninggikan suara mu di depan seorang wanita! Mama tidak suka Frans!" bantah Ariyani yang secara tanpa sadar membela Safinta.


"Mah! Biar pun Safinta putri kandung mama dan papa tetap saja di kantor ini, kita harus profesional. Aku berhak memarahinya jika ia tidak mendengar perkataan ku, mah!" ujar Fransisco.


"Frans!" seru Arifin.


Fransisco menunjuk jari telunjuk kanannya ke arah Safinta, dengan tatapan tajam, tidak ada lagi kata lembut dan hangat yang ke luar dari bibirnya.


"Pah! Dia sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia adalah putri kandung kalian. Wajar jika aku memperlakukan dia sama dengan karyawan lainnya!" Fransisco menjeda perkataannya, melihat Safinta yang mengepalkan tangannya.


Fransisco memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya, berkata dengan angkuhnya pada Safinta.


"Aku pikir kau wanita yang bisa berkompromi dengan keadaan, tapi ternyata aku salah! Kau egois... sebagai anak kau tidak mau mengakui papa dan mama sebagai orang tua kandung mu!" ujar Fransisco meluapkan apa yang ingin ia katakan pada Safinta.


Safinta mengepalkan tangannya, dasar bos gilaaa, orang tua kandung seperti apa yang harus aku akui? Orang tua yang sudah dengan sengaja menitipkan aku di panti, hanya alasan bagi mereka mencari ku! Harusnya mereka tahu di mana keberadaan ku, jika mereka benar benar mencari ku!

__ADS_1


"Maaf pak, hari ini juga... saya mengundurkan diri dari kantor ini!" Safinta langsung berjalan ke luar meninggalkan ruangan Fransisco dengan pikiran yang kacau.


"Frans! Harusnya kamu jangan terlalu tegas pada Safinta!" Ariyani beranjak dari duduknya, kecewa dengan apa yang di ucapkan Fransisco pada Safinta.


"Mama mau ke mana?" tanya Fransisco.


"Mau membujuk Safinta agar tidak risent dari kantor ini, nak!" ucap Ariyani yang kini berdiri di ambang pintu, dengan tangan kanan yang memegang handle pintu.


"Bukan mama yang akan membujuknya, dia pasti akan berubah pikiran sendiri mah. Dia tidak akan mengundurkan diri, jika aku tidak mengizinkannya untuk ia meninggal kantor ini!" terang Fransisco dengan seringai di sudut bibirnya.


"Apa yang akan kamu lakukan pada Safinta, nak?" tanya Arifin dengan tatapan penuh selidik.


"Papa tenang saja, aku tidak akan melukainya. Hatinya sudah terluka dengan perbuatan suaminya yang menikah lagi dengan sahabatnya, dan ibu mertuanya yang suka berkata kasar. Yang ada ia akan sadar dengan posisinya yang bertahan di rumah dengan dua cinta. Karena bagai man pun seorang wanita pasti tidak ingin di madu, bukan begitu mah!" tanya Fransisco yang ingin Ariyani membenarkan perkataannya.


Di ruang kerja Safinta.


Siska menatap penuh selidik Safinta yang tampak habis menangis, dengan hidung dan mata yang memerah, ke dua matanya tampak sembab dengan kantung mata yang membesar.


"Lo habis kenapa, Ta?" tanya Siska pura pura tidak tahu.


"Gak apa apa." jawab Safinta dengan singkat, ia mendudukkan dirinya dan langsung menari narikan jemarinya di atas papan keyboard laptopnya.


"Lo buat laporan apaan si? Serius amat. Btw lo tau gak kenapa Zee hari ini gak masuk?" tanya Siska dengan beranjak dari duduknya, tampak ingin melihat apa yang sedang di kerjakan Safinta.


"Gwe gak tau, lo bisa tanya langsung sama orangnya kan! Lo punya nomor hape Zee kan!" ucap Safinta tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya, bicaranya pun datar.


Bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊

__ADS_1


__ADS_2