
...🔥🔥🔥...
"Aku yakin, pah... yang mereka bicarakan itu pasti Safinta Ayunda, putri yang 20 tahun lalu kita taruh di depan panti asuhan." ucap wanita paruh baya dengan tatapan berbinar.
"Iya mah, papa juga berfikir seperti itu, sekarang kita dengar kan saja apa yang mereka bicarakan dan apa yang akan mereka rencanakan untuk Safinta!" ujar sang suami, menggenggammm jemari sang istri.
Pasangan paruh baya yang tidak lain adalah Arifin dan Ariyani, salah satu pasangan pengusaha sukses, dengan berbagai kerajaan bisnisnya yang kian meroket. Membuatnya semakin di kenal banyak orang hingga ke manca negara.
Setelah menghabiskan makanan, Sri dan Sania melanjutkan obrolan ke duanya.
"Kamu tidak lupa kan, apa yang aku inginkan?" tanya Sri dengan menyeruput minumannya.
"Tentu saja, aku bawakan lebih malah. Bisa kamu gunakan sebagai stok. Ya setidaknya jika memang menantu sialannn mu itu benar meminum obat yang kamu berikan." ujar Sania dengan tatapan yang menyelidik.
"Ah kamu itu, menantu ku tidak akan mungkin berbohong! Ini uangnya. Tapi benar kan, obat ini bisa mencegah kehamilan jika di minum secara teratur?" tanya Sri dengan serius, aku tidak mau mengambil resiko, awas saja jika sampai Safinta hamil, akan aku buat wanita itu menyesal.
__ADS_1
"Apa kamu dengar kabar putri ku tengah hamil?" Sania malah memberikan pertanyaan pada Sri.
Sri menggelengkan kepalanya, "Aku belum mendengar putri mu hamil, bukan kah usia pernikahannya sudah memasuki tahun ke 2?"
"Iya sudah memasuki tahun ke 2, aku tidak sudi memiliki seorang cucu dari pria yang menjadi menantu ku. Sama seperti mu! Hanya bedanya menantu ku itu pria miskin, mau bekerja sampai tua pun, tidak akan bisa menjamin kesejahteraan anak cucu ku kelak!" ucap Sania dengan angkuh.
"Heran ya, nasib kita berdua itu kenapa coba bisa memiliki menantu yang tidak sepadan dengan kita ini." keluh Sri.
"Yah mau bagai mana lagi, sudah berbagai cara aku gunakan untuk memisahkan ke duanya." Sania mengetuk ngetukkan ujung kukunya di atas meja.
Sania memutar bola matanya dengan malas, "Jangan meledek ku, Sri. Kau lupa... cara yang sudah kau buat untuk memisahkan anak menantu mu juga belum ada yang berhasil kan?" sindir Sania.
Ariyani mengepalkan tangannya, mendengar penuturan Sri. Wanita yang tidak lain adalah mertua Safinta.
"Heran aku tuh sama Safinta, sudah aku buat ia mencuci pakaian, memasak, bersih bersih rumah, masih aja bersikap baik pada ku, apa lagi kalo aku habis marahi... benar benar membuat ku ingin muntah! Muak aku melihat wajahnya." sungut Sri dengan kesal, terpancar amarah di ke dua matanya.
__ADS_1
"Bagai mana jika kita berdua bekerja sama, kamu pasti beruntung jika menjadi kan putri ku sebagai istri dari Maulana." Sania menyeringai, tatapannya berusaha meyakinkan Sri.
Dengan Embun menjadi istri dari Maulana, aku yakin... Embun dapat menguasai perusahaan yang di pimpin Maulana. Setidaknya Embun dapat memilki masa depan yang cerah dan sudah terjamin hidup bahagia tanpa ke kurangan suatu apa pun. Persetannn lah dengan Safinta. Tidak lama lagi, wanita itu juga akan meninggalkan suaminya.
"Kamu gila, bagai mana dengan Safinta? Safinta mana mau di madu, aku suruh wanita itu meninggalkan putra ku saja ia tidak mau. Putri mu juga belum berpisah dari suaminya kan?" terang Sri dengan kening yang mengkerut, tampak sedang berfikir keras.
"Aku punya ide, Sri!"
Bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊
__ADS_1