
...🔥🔥🔥...
Malik menepuk pundak sang istri. Membuat wanita itu terperanjak kaget, "Apa lagi yang sedang mama rencanakan?" tanyanya dengan tatapan yang menyelidik.
Sri mengerdilkan bahunya, "Tidak ada, ayo kita berkemas... apa saja yang akan kita bawa!" Sri melengos mengeluarkan tasnya dari dalam lemari khusus tas miliknya.
Malik menatapnya dengan curiga, ia tahu istrinya pasti sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik untuk Safinta.
"Ingat mah, Safinta sudah menjadi istri Maulana... itu artinya dia sudah menjadi bagian dari keluarga Malik Raharja, posisinya sama seperti mu, menantu dari keluarga ini! Kamu tidak melupakan itu kan, mah!" cicit Malik mengingatkan Sri.
"Tidak perlu papa jelaskan, aku sudah tahu itu! Lagi pula apa yang bisa aku lakukan untuk anak itu? Tidak ada untungnya untuk ku, pah!" cicit Sri dengan tangannya yang memasukkan beberapa barang miliknya yang akan ia bawa serta.
Dalam hati Sri menggerutu, kurang ajarrr Safinta, belum satu jari menjadi menantu di rumah ini, sudah membuat ku buruk di mata suami ku sendiri. Apa apaan ini, yang ada jika sampai hubungan Maulana dan Safinta baik baik saja, tidak akan baik untuk kehidupan ku! Aku harus menyingkirkan Safinta!
Di kamar Maulana.
"Apa kamu sudah siap, sayang?" tanya Maulana dengan menggulung lengan bajunya hingga sampai ke siku.
"Sudah ka, ayo... tidak enak jika membuat yang lain menunggu kita, ka!" cicit Safinta dengan menyampirkan tas di bahunya.
"Biar aku yang bawakan!" Maulana mengambil alih koper kecil yang di bawa Safinta, koper yang berisikan beberapa helai baju mereka berdua.
Sri, Maulana dan Raya sudah menunggu di depan mobil. Menunggu sepasang pengantin baru yang belum memperlihatkan batang hidungnya.
Sri menatap tajam dengan apa yang di bawa Maulana, lalu menatap dengan sinis Safinta, tangannya menyilang di depan dada, "Kamu pikir kamu siapa? Menyuruh anak ku untuk membawakan koper kalian!" cicit Sri saat ke duanya sudah berada di dekatnya.
Safinta tertegun mendengar apa yang di ucapkan ibu mertuanya, astaghfirullah... apa lagi ke salahan ku kali ini, di mata ibu mertua ku?
Maulana melirik ke arah Safinta, ia mengelusss bahu Safinta, dan memintanya untuk naik ke mobil dengan tatapan matanya.
"Apa sih, mah! Jangan mempermasalahkan ini! Ini aku yang ingin membawanya!" Maulana memasukkan koper yang ia bawa ke dalam bagasi mobilnya.
Malik menggelengkan kepalanya, "Mah! Tadi papa bilang apa?" tegur Malik.
Raya menatap tidak suka dengan sikap mamanya yang masih memusuhi Safinta.
"Ihs mama ini... kaya kalo belanja, mau bawa barang belanjaan mama sendiri aja, pasti nyuruh papa buat bawain belanjaan mama!" sindir Raya.
__ADS_1
Sri melirik tajam Raya, "Kamu ini bicara apa sih! Bukannya belain mama, kamu malah nyudutin mama!" ucap Sri dengan ketus.
"Pah, aku duluan aja lah masuk dalam mobil... gatel telinga aku dengerin ocehan mama!" Raya berlalu meninggalkan yang lain.
"Liet tuh, anak kamu pah! Kamu sih, terlalu memanjakannya, jadi kurang ajarrr kan itu anak sama aku!" gerutu Sri.
"Bukan papa yang memanjakannya, mah.. tapi mama yang tidak memiliki banyak waktu luang untuk Raya." protes Malik.
"Sudah lah mah, bukannya kita ini akan menghabiskan sisa waktu libur di puncak? Bukan untuk berdebat di sini kan!" cicit Maulana dengan merangkul dan mengelusss lengan sang ibu.
"Kau benar... tapi lihat itu istri dan adik mu... sama sama menyebalkan." sungut Sri.
"Mah, Raya dan Safinta tidak seburuk seperti yang ada di pikiran mama. Aku harap mama bisa menjauh dari Santi." Maulana menggiring Sri hingga masuk ke dalam mobil yang akan di kemudian Malik.
Sri mengerutkan keningnya, "Apa maksud mu, sayang? Santi itu orang baik... dia tidak sekali pun membuat mama marah, naik darah!"
"Sudah lah... nanti juga mama akan tau sendiri bagai mana sifat aslinya seorang Santi, orang yang mama nilai baik." Maulana menutup pintu mobil, di saat Sri sudah mengenakan sabuk pengaman untuk dirinya.
"Ka, bawa mobilnya jangan ngebut... jangan terlalu lelet juga kaka mengemudinya ya! Aku juga kan ingin menghabiskan waktu dengan kaka ipar ku!" ucap Raya yang duduk menyandar pada sandaran mobil.
"Papa, hati hati bawa mobilnya! Jika lelah, kita bisa menepi di res area." pesan Maulana.
"Iya iya, kamu ini bawel sekali sama seperti mama mu!" ujar Malik.
"Kamu lupa pah, Maulana itu terlahir dari rahim ku! Jelas jika ia mewarisi gen bawel seperti ku!" cicit Sri.
Raya mengelusss dadanya dengan tangan kanannya, "Untungnya aku tidak mewarisi gen bawel mama."
"Raya!" seru Sri.
Mobil yang di kemudian Malik melaju lebih dulu, meninggalkan pelataran parkir kediamannya.
Safinta memperhatikan Maulana, yang kini mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengikuti mobil sang ayah yang melaju di depannya.
"Kenapa tidak sebaiknya kita satu mobil dengan mama, papa dan Raya, ka? Kenapa kita harus beda mobil? Sedangkan tujuan kita sendiri itu sama! Kalo kita satu mobil kan, kaka dan papa bisa bergantian mengemudinya." cicit Safinta dengan bawelnya.
Maulana menoleh sesaat, melihat ke tulusan dari setiap kata yang ke luar dari setiap bibir Safinta, "Jadi pikiran mu seperti itu, sayang?"
__ADS_1
"Ehem, aku juga bisa mengobrol dengan mama dan Raya selama dalam perjalanan kan ka! Jadi aku juga bisa mendalami sifat ke duanya." cicit Safinta.
"Baik lah, besok pulangnya kita akan satu mobil dengan mereka ya!" Maulana menyetujui usulan Safinta.
"Terima kasih dan maaf ya ka, karena aku... mama jadi marah." Safinta tertunduk lesuuu, saat ingat ucapan sang mama mertua sesaat sebelum mereka berangkat.
Maulana mengerutkan keningnya, "Maaf untuk apa? Mama kan memang suka marah marah tidak jelas, tapi hatinya baik ko. Mama saja yang belum menyadari, betapa beruntungnya ia memiliki seorang menantu seperti mu, sayang!"
"Kapan mama akan membuka hatinya untuk bisa menerima ke hadiran ku, ka? Jika setiap yang aku lakukan selalu salah di mata mama." terpancar ke sedihan di setiap kata yang terucap dari bibir Safinta.
"Sabar ya sayang... dengan seiring berjalannya waktu... dengan usaha mu yang berusaha untuk dekat dengan mama, pasti mama akan tergerak hatinya untuk menerima mu." Maulana mengelusss lembut rambut sang istri.
Hingga mobil yang di kemudian ke duanya kini memasuki daerah puncak, hawa dingin mulai menusuk kulit, meski jam menunjukkan pukul 3 sore.
Perjalanan yang harusnya bisa di tempuh lebih cepat, namun karena jalan macet. Membuatnya begitu terasa lama dan jauh untuk sampai di tempat tujuan. Namun Safinta dan Maulana menikmati perjalanan mereka. Perjalanan pertama dengan berstatuskan suami istri.
Maulana dan Malik, sama sama mengerutkan keningnya. Saat ke duanya melihat ada mobil yang sudah terparkir lebih dulu, di dalam villa mereka yang cukup besar dan megah, dengan area parkir yang tidak kalah besar.
Raya membatin lewat kaca spion mobil, ini pasti kerjaan mama.
Malik menggelengkan kepalanya, menataap sang istri, "Ini yang mama rencanakan tadi di kamar?" tuduh Malik.
"Ada apa, ka? Ayo kita turun!" tanya Safinta, saat melihat Maulana belum kunjung ke luar dari dalam mobil.
Maulana meraih ke dua tangan Safin, menatap hangat dan penuh harap pada sang istri, "Dengarkan aku baik baik, kamu cukup percaya dengan apa yang aku katakan, jangan pergi meninggalkan area villa tanpa aku atau pun Raya."
Safinta mengerutkan keningnya, "Emang ada apa, ka? Apa yang kaka takuti? Kaka bisa jelaskan pada ku kan?"
bersambung.....
...💔💔💔💔...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.
Favoritin kalo suka 😊😊
Abaikan jika gak suka 😉
__ADS_1