Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Sangat percaya


__ADS_3

...🏵️🏵️🏵️...


Sri mengerutkan keningnya, "Apa rencana mu, Santi?"


Santi beranjak dari duduknya, saat pelayan salon tengah memberikan pijatan pada kaki Sri.


"Jadi begini rencana aku, tan ..." Santi membisikkan rencananya di telinga Sri, aku yakin... tante akan menyetujui rencana ku.


"Apa kamu yakin kamu itu masih perawannn? Tante jadi sangsi sama kamu, Santi... kamu mau melakukan hal sejauh ini buat tante dan Maulana." Sri menatap Santi dengan tatapan penuh selidik.


"Aku yakin tante, mana mungkin aku berbohong sama tante. Yang tidak perawannn itu Safinta, tante... dia sudah tidur dengan laki laki lain, aku memang tidak melihatnya secara langsung... tapi aku melihat Safinta tengah memasuki hotel bersama dengan pria bersetelan jas dan rapih, tante." fitnah kejam di tuduhkan Santi pada Safinta.


"Apa kamu punya buktinya? Kamu tidak boleh menuh orang sembarangan tanpa bukti, Santi." ucap Sri.


"Ya ampun tan, aku sebenarnya sangat ingin memberikan bukti itu pada tante, tapi saat itu hape ku ke habisan daya baterai." Santi menjawabnya dengan semelas mungkin, meyakinkan Sri agar percaya pada perkataannya.


🌷🌷🌷


Beberapa hari berikutnya Maulana menjemput Safinta, yang akan berangkat ke kantor.


"Pagi, sayang!" ucap Maulana begitu Safinta ke luar dari gerbang tempat kosnya.


"Kamu nungguin aku dari tadi, ka?" Safinta terkejut dengan kehadiran Maulana di hadapannya.


"Kejutan untuk mu, sayang!" Maulana membukakan pintu mobil untuk Safinta, membiarkan gadisnya itu masuk ke dalam mobil.


Safinta melihat ke bagian tengah mobil yang terdapat beberapa stel jas tergantung rapih.


"Apa kaka baru kembali dari luar kota?" tanya Safinta.


"Kau sangat mengenal ku rupanya... maaf ya, aku tidak memberi tahu mu sebelumnya." Maulana mendudukan dirinya di belakang setir kemudi.


"Iya... aku mengerti itu ka. Bagai mana hasilnya, pasti sangat melelahkan dan memusingkan!" cicit Safinta.


"Lelah ku terbayar, saat melihat senyum indah mu dan orang orang yang aku sayangi!" ujar Maulana.


Maulana sesekali melirikkan pandangannya pada Safinta. Aku tidak percaya jika Safinta berani jalan dengan pria lain, itu pasti hanya rekan kerja atau mungkin bosnya, tapi kan bos Safinta itu pria tua. Sedangkan foto yang mama kirim itu adalah pria matang dan tampak muda.


"Bagai mana dengan pekerjaan mu, sayang?" tanya Maulana.


"Sama seperti biasa ka, cuma pekerjaan ku sekarang lebih berat ka... kadang aku di minta untuk menemani bos baru meeting." ucap Safinta dengan melirik wajah tampan calon imamnya.


Maulana mengerutkan keningnya, "Bos baru? Menemani meeting yang bagai mana maksud mu, sayang?"


"Sekarang perusahaan tempat ku bekerja, di serahkan sama pak Fransisco. Putra tunggal pak Arifin dan bu Ariyani... rencananya untuk merayakannya nanti akan di adakan pesta jamuan malam. Apa kaka bisa menemani ku?"


"Kapan? Jika bisa, pasti aku tidak akan menolak tawaran mu, sayang!" ucap Maulana.

__ADS_1


"Aku belum tahu kapannya sih, ka! Oh iya ka, pak Fransisco itu sangat tegas, dia tidak suka ada ke salahan sedikit pun, bahkan telat 3 menit aja langsung maen pecat karyawan, ka! Parah kan!" ujar Safinta, yang tanpa sengaja malah membawa bos barunya ke dalam pembicaraan mereka.


"Apa sikapnya pada mu baik, sayang? Atau bahkan sebaliknya?" tanya Maulana dengan penuh selidik.


"Bisa di bilang baik, bisa di bilang gak juga."


"Apa kamu punya fotonya, sayang! Mungkin saja aku mengenalnya." ucap Maulana.


"Untuk apa aku menyimpan fotonya, ka! Bos ku kan tidak penting, yang penting ya kaka lah!" ucap Safinta yang memang kurang suka dengan selfi.


"Apa kamu pernah menemaninya meeting di hotel?" tanya Maulana dengan hati hati.


"Iya pernah, sekali seingat ku... belum lama ini."


Maulana mengantar Safinta sampai di depan lobby kantornya, "Jam istirahat aku jemput kamu ya, sayang! Kita makan siang bersama!"


"Aku tidak bisa janji ya, ka!" Safinta mulai membiasakan diri untuk mencium punggung tangan Maulana, sebelum mereka resmi menikah.


Siang itu Maulana datang ke kantor Safinta, tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Ia ingin memastikan bahwa calon istrinya menghabiskan istirahat, dan makan siang bersama dengan siapa.


"Apa kita bisa makan siang bersama, sayang?" Maulana mengirim chat pada Safinta.


"Maaf ka, bukannya aku menolak ajakan kaka. Tapi siang ini, kami satu divisi di ajak makan siang bersama dengan pak Fransisco." chat yang Safinta kirim untuk Maulana.


"Siapa saja yang pergi? Kamu tidak sendiri kan, sayang? Kalian makan siang di mana?" chat yang di kirim Maulana.


"Aku, Zee, Iin, Maya dan pak Fransisco. Aku belum tau ka, kami akan makan siang di mana! Karena pak Fransisco tidak mengatakan apa apa pada kami." balas Safinta.


"Hati hati ya, sayang! Ingat untuk jaga diri! Jaga jarak mu dari pria lain jika kamu tidak mau ada api cemburu." balas Maulana.


"Iya ka, aku tahu batasan ku!" chat Safinta.


Maulana melihat dengan mata kepalanya sendiri, apa yang di katakan Safinta di chat, benar adanya.


Dari tempatnya berada, Maulana dapat melihat seorang pria berbadan tegap, atletis, tampan dan dewasa, berjalan lebih dulu.


Sedangkan Safinta, Zee, 2 orang lainnya yang tidak ia kenal. Berjalan bersama di belakangnya, mereka berempat tampak layaknya anak itik yang mengekor induknya.


Maulana melajukan mobilnya, dan mengikuti laju mobil yang membawa Safinta.


"Sebenarnya ke mana mereka akan makan siang? Tapi harusnya aku percaya pada Safinta. Safinta mana mungkin membohongi ku. Kenapa aku bodoh mempercayai perkataan Santi, ini semua karena mama. Mama terlalu percaya pada Santi." gumam Maulana.


Maulana menghubungi seseorang lewat sambungan teleponnya, dengan menggunkaan handset yang terpasang di lubang telinganya.


"Aku butuh bantuan mu!" ucap Maulana, saat seseorang yang ia hubungi, menjawab sambungan teleponnya.


[ "Bantuan apa, bos?" ] tanya suara seorang pria.

__ADS_1


"Bantu aku untuk menyelidiki seseorang!"


[ "Siapa? Pria atau wanita?" ] tanyanya dengan serius.


"Wanita, aku ingin kau menyelidik apa saja yang ia lakukan, dengan siapa ia berhubungan. Nanti akan aku kirimkan fotonya pada mu!"


[ "Wah wah wah, calon istri mu? Cukup positif juga kau ya jadi pria! Wanita tidak suka di kekang, bos! Wanita juga butuh ke bebasan." ] ucapnya yang mengira jika Maulana akan menyelidiki calon istrinya.


"Aku sangat percaya pada calon istri ku, aku yakin... wanita ku tidak seperti wanita ke banyakan yang suka berbohong." ucap Maulana dengan yakin.


[ "Oh aku pikir kau meminta ku untuk menyelidiki calon istri mu, sangat beruntung kau ya... memiliki istri yang bisa di percaya! Carikan satu untuk ku!" ] ocehan.


"Banyak bicara kau ini!" Maulana langsung memutuskan sambungan telponnya, ia mengirimkan foto Santi pada orang suruhannya.


Maulana bergumam, "Ada gunanya juga... aku meminta mama untuk mengirimkan foto Santi pada ku!"


🌷🌷🌷


Beberapa hari berikutnya, Maulana mengundang Safinta untuk makan malam bersama di rumahnya. Tanpa Maulana tahu, Sri juga mengundang serta Santi untuk makan malam.


Santi berencana untuk menjalankan rencana yang sudah ia susun selama ini. Sedangkan Maulana yang sudah tahu kenyataan dari seorang Santi, juga sudah siap untuk membalas telak Santi. Membuat wanita itu tidak lagi ikut campur dalam hubungannya dengan Safinta.


"Tante, ini aku bawakan kue ke sukaan tante... ini aku yang buat sendiri." ucap Safinta, saat sudah berada di dapur dengan di temani Maulana.


"Kamu tidak perlu repot repot membuatkan tante kue!" seru Sri dengan meminta art, untuk menghidangkan kue yang di bawa Safinta.


"Aku tidak repot ko tan, semoga tante suka dengan kue buatan ku!" ucap Safinta dengan tulus.


"Hem!" cicit Sri dengan malas, bukan wanita ini yang aku tunggu. Di mana lagi Santi, kenapa sampai saat ini belum datang juga!


Sesekali Sri mengarahkan tatapannya ke arah pintu masuk, berharap jika Santi akan datang untuk menjalankan rencana liciknya.


Sri menyeringai saat melihat Safinta yang tengah bersenda gurau dengan Malik, Rara, da Maulana di ruang keluarga.


"Jika di perhatikan, wanita itu tampak tulus... tapi tidak tidak tidak! Seperti apa yang di katakan Santi, wanita itu hanya ingin mengincar harta ku!" gumam Sri dengan menggelengkan kepalanya, meyakini Safinta seperti apa yang di gambarkan Santi.


"Kita mau tunggu siapa lagi, mah? Ini sudah larut lo! Ayo kita mulai saja acara makan malamnya." ajak Malik dengan beranjak dari duduknya.


bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.


Favoritin kalo suka 😊😊


Abaikan jika gak suka 😉

__ADS_1


__ADS_2