Tangisan Seorang Menantu

Tangisan Seorang Menantu
Jangan cemaskan aku!


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


"Jaga bicara mu anak harammm!" cicit Ratih, dengan mengayunkan tangan kanannya ke udara, hendak mendarat di pipi mulusss Safinta.


Grap.


"Bibi berani menampar pipi istri ku?" tanya Maulana dengan penuh penekanan, wajahnya memerah menahannn amarah yang siap meledak kapan saja.


Ratih menghempaskan tangan Maulana dari pergelangan tangannya, dengan wajah pias Ratih berusaha mendapatkan simpati dari Maulana.


"I- ini tidak seperti apa yang kamu lihat, Maulana! I- ini salah paham, istri mu yang memulai segalanya! Istri mu menghina bibi mu ini, nak! Bi- bibi berkata jujur, ka- kamu percaya kan sama bibi?"


"Ada apa ka?" tanya Raya yang baru saja ke luar dari toilet.


Maulana menoleh ke arah Raya, "Tolong bantu kaka kemasi barang barang Safinta dari sini, aku tidak ingin melihat Safinta berada dalam satu ruang dengan wanita ular ini lebih lama lagi, Raya!" titah Maulana.


"Ka, jangan seperti itu. Biar bagai mana pun bibi adalah bibi mu, ka! Tadi juga bibi tidak melakukan apa pun pada ku, ka!" cicit Safinta.


"Kamu tidak perlu membelanya lagi, Safinta." cicit Maulana.


2 orang perawat datang ke ruang rawat di mana Safinta berada, Maulana benar benar memindahkan Safinta ke ruang perawatan lain.


Ratih membawa Dewi ke luar dari rumah sakit, karena luka yang di derita Dewi tidak separah dengan apa yang terjadi pada kaki Safinta.


"Apa kaka akan berada di puncak lebih lama lagi? Sampai ka Safinta mendapatkan izin meninggalkan rumah sakit, ka?" tanya Raya.


"Jika itu memungkinkan. Yang pasti di mana pun ada Safinta, di situ ada aku!" ucap Maulana dengan yakin.


Tanpa terasa dua bulan sudah berlalu, Maulana dan Safinta sudah kembali pada rutinitasnya seperti biasa, di sibukkan dengan pekerjaan, kembali ke rumah melepasss lelah, bercengkrama dengan keluarga.


Sikap Sri pada Safinta juga tidak banyak berubah, terbilang semakin kejam dan tidak manusiawi terlebih jika Maulana sedang tidak di rumah.


Seperti saat ini, Maulana yang kala itu akan pamit untuk melakukan perjalanan bisnis selama 4 hari, harus rela meninggalkan Safinta di rumah, jauh dari pengawasannya.


Setelah makan malam bersama, Maulana berpamitan pada ke dua orang tua dan istrinya sebelum melakukan perjalanan bisnisnya di kota lain.


"Aku berangkat dulu, pah!" cicit Maulana pada sang ayah.


"Semoga urusan mu di kota Semarang berjalan dengan lancar, jika butuh apa apa... kabari papa langsung ya!" pesan sang ayah dengan memeluk sang putra tertuanya.


"Pasti, pah!" Maulana beralih pada sang ibu, membawanya dalam dekapannya, "Aku berangkat, ma!" ucap Maulana.


"Selesaikan pekerjaan mu dengan baik, kau tidak perlu pikirkan hal lain yang bisa mengganggu pekerjaan mu, nak!" ujar Sri.


Maulana menjarak tubuh atletisnya dari sang ibu, "Jangan mulai lagi, mah! Aku akan berangkat kan, setidaknya aku bisa meninggalkan istri ku di rumah dengan tenang, jika mama bersikap baik padanya!" ujar Maulana terus terang.


Sri berusaha meyakinkan Maulana, "Percayakan saja Safinta pada mama, mama akan bersikap layaknya mertua yang menyayangi menantunya! Itu kan yang kau mau? Ada Raya dan papa yang akan menjadi saksinya!" cicit Sri dengan menoleh sejenak pada Malik dan Raya.


"Jika untuk papa dan Raya, aku bisa percaya pada mereka berdua, tapi maaf mah, aku meragukan mama!" cicit Maulana dengan suara pelan, meski tidak enak hati, tapi ia harus jujur di depan ibunya.

__ADS_1


Grap.


Sri mengerutkan keningnya, dengan mengcengramm erat lengan Maulana, "Kamu pikir mama akan apa kan istri mu heh! Apa seburuk itu mama di mata putra mama sendiri? Apa kau baru percaya pada mama jika mama mu ini sudah mati, begitu?" ucapnya dengan mata memerah menahan tangis dan kesal, karena Maulana tidak lagi mempercayai perkataan nya.


Sialannn Safinta, putra ku sendiri tidak bisa percaya pada ku, karena wanita ini, hubungan ku menjarak dari putra kesayangan ku sendiri!


"Mah, jangan berkata seperti itu! Wajarkan jika Maulana meragukan perkataan mu, karena mama sendiri selalu menyudutkan Safinta." cicit Malik.


"Pah!" seru Sri dengan menatap sedih suaminya, dasar suami laknattt, bukannya membela istri, tapi malah membela menantu!


Raya beranjak dari duduknya, berdiri di samping Safinta, "Mah, tanpa mama membela diri. Semua orang yang ada di rumah ini pasti sudah tau... mama tidak memiliki hubungan yang baik dengan kaka ipar." cicit Raya.


Sri menoleh ke arah Raya, "Raya! Memang hubungan yang baik seperti apa yang ada dalam pikiran mu, nak?" tanya Sri pada Raya, dengan hati yang bergemuruh menahan sesak


"Ka! Jangan berkata seperti itu, mama tidak mungkin menyakiti ku, apa lagi kan ---" aduh perut ku kenapa rasanya tidak nyaman sekali!


Safinta menutup mulutnya dengan telapak tangannya, perutnya begitu terasa mual, seakan ingin mengeluarkan apa yang sudah masuk ke dalam perutnya.


"Ada apa sayang? Kamu sakit?" Maulana menatap khawatir Safinta, dengan tangan mengelusss pipi Safinta.


Safinta menggelengkan kepalanya, lalu berlari ke arah kamar kecil yang ada di dapur.


Tap tap tap tap.


Sri menyeringai, "Istri mu tidak sopan, Maulana! Kamu lihat kan! Suami lagi bicara, maen kabur gitu aja!" gerutu Sri menatap sinis Safinta yang hilang di balik kamar kecil yang ada di dapur.


"Mah, jangan memperpanasss keadaan!" gerutu Malik.


Tidak lama terdengar suara Safinta yang muntah muntah.


"Uwweeek uweeek uweeek."


"Kaka ipar, sakit ka?" cicit Raya menatap heran pada Maulana.


Maulana mengerdikkan bahunya, lalu berlari ke arah Safinta berada, di susul dengan Raya dan Malik yang ikut menyusul ke kamar kecil.


Sri menatap penuh tanda tanya pada Safinta, tidak mungkinkan anak itu hamil, aku kan sudah memberikannya pil kontrasepsi. Atau jangan jangan selama ini Safinta tidak meminumnya? Aku harus pastikan, apa yang terjadi pada wanita sialannn itu!


Sri ikut berlari menyusul yang lain, tidak kalah kawatirnya dengan Maulana, "Bagai mana? Apa yang terjadi pada istri mu?" tanya Sri saat sudah berdiri di depan pintu kamar kecil.


"Kami masih menunggu Safinta ke luar dari kamar kecil, mah!" cicit Malik.


Tok tok tok.


"Sayang, buka pintunya! Biarkan aku masuk!" ujar Maulana dengan sesekali melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.


Aku sudah harus berangkat ke bandara, tapi bagai mana dengan Safinta! Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.


"Kaka ipar? Ayo buka pintunya ka! Kaka sakit ya? Aku antar ke rumah sakit ya ka!" cicit Raya dengan rasa khawatir di hatinya, apa kaka ipar salah makan ya? Tapi kan tidak ada yang salah dengan makanannya.

__ADS_1


"Uweeek uweeek uweek." suara Safinta yang mengeluarkan isi perutnya.


Ceklek.


Safinta ke luar dari kamar kecil, dengan peluh yang sebesar biji jagung nampak di dahinya. Tampak wajahnya yang lesu.


"Kamu sakit, sayang? Biar ku antar kamu dulu ke rumah sakit, baru setelah itu aku ke bandara!" cicit Maulana dengan langsung menangkup pipi Safinta, menatapnya dengan rasa kawatir.


"Mana bisa begitu, Maulana! Waktunya mana mungkin ke buru! Kamu berangkat saja ke bandara, biar Safinta mama dan papa yang urus!" cicit Sri.


Safinta menganggukkan kepalanya, meyakinkan suaminya dengan tatapan yang hangat, tangan Safinta merekat pada pinggang Maulana.


"Aku tidak apa apa ka! Ini hanya masuk angin biasa, kaka pergi lah. Jangan sampai kaka ke tinggalan pesawat karena aku!" ujar Safinta.


"Aku titip Safinta pada kalian! Aku berangkat, mah, pah!" Maulana mencium punggung tangan ke dua orang tuanya secara bergantian.


"Kamu jangan khawatirkan Safinta, di sini ada kami semua yang akan menjaganya!" tutur Malik dengan tulus, yang sudah menyayangi dan menganggap Safinta selayaknya putrinya sendiri.


Cup cup.


Maulana mengecup kening Safinta.


"Maaf, aku tidak bisa mengantar mu ke rumah sakit sayang!" ucap Maulana dengan wajah sesal.


"Jangan cemaskan aku! Kaka hati hati ya! Jika sudah sampai, jangan lupa kabari aku!" ucap Safinta sebelum akhirnya Maulana meninggalkan rumah.


"Kalian tunggu sebentar ya! Biar papa ambil kunci mobilnya dulu!" cicit Malik yang hendak melangkah meninggalkan Safinta, Raya dan Sri. Namun langkah terhenti saat mendengar ocehan sang istri.


"Ngapain ngambil kunci mobil, pah?" tanya Sri dengan kening mengkerut.


Malik menatap istrinya dengan heran, "Lo! Bukannya mama sendiri yang bilang akan mengantar Safinta ke rumah sakit, bersama dengan mama dan papa?"


Dengan mudahnya Sri memungkiri perkataannya, "Kapan? Mama tidak ingat! Lagi pula Safinta sudah baik baik saja!" Sri menatap tajam Safinta, "Jangan manja kamu ya! Menyusahkan saja jika harus ke rumah sakit malam malam begini!"


"Aku sudah tidak apa apa, pah! Aku hanya butuh istirahat! Aku ke kamar duluan pah, mah, Raya!" Safinta melangkah menuju kamarnya, dengan memendam rasa kecewa pada ibu mertuanya.


Kamu tidak apa apa Safinta, kamu akan baik baik saja, kamu bisa ke dokter sebelum besok berangkat ke kantor, iya aku harus pastikan jika aku ini hamil atau tidak. Karena seingat ku... aku sudah telat 1 bulan dari tanggal datang bulan ku.


Raya menatap Sri dengan rasa penuh kecewa, "Mama benar benar deh! Gak pernah berubah! Ingat mah! Mama punya seorang putri, putri mama kelak akan menikah, tinggal bersama dengan mertuanya, apa mama mau! Aku di perlakukan sama seperti apa yang sudah mama lakukan pada kaka ipar? Aku benci mama!" Raya berlalu meninggalkan Sri.


"Apa yang di katakan Raya itu, benar mah! Mama harus menyadari, suatu saat Raya pasti akan menikah, tinggal bersama dengan mertuanya. Bersikap baik lah mah pada Safinta!" pinta Malik dengan menyentuh bahu Sri.


Sri melangkah menuju kamarnya, apa perduli ku, memang siapa yang akan tinggal di rumah mertuanya? Raya tidak akan aku izinkan tinggal di rumah mertuanya!


Bersambung.....


...💔💔💔💔...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa jempol bergoyang buat like.

__ADS_1


Favoritin kalo suka 😊😊


Abaikan jika gak suka 😉


__ADS_2